• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marry Fallot, Islam Booming di Eropah, Mualaf Perancis Menepis Paranoid

Dalam dokumen KisahNyataSejutaMualaf (Halaman 125-129)

Seorang gadis berkulit putih tampak sedang berbicara melalui telepon genggamnya. Wanita berwajah khas Prancis itu tak ada bedanya dengan wanita muda lain yang sedang mencicipi kopi di sebuah kafe di pinggir jalan Paris.

Mary Fallot adalah gadis berkebangsaan asli Prancis. Ia lahir dan dibesarkan di negara yang dikenal sebagai kiblat mode dunia itu. Yang berbeda, Fallot ternyata beragama Islam. Terlihat jilbab mungil menyelimuti kepala wanita yang telah memeluk Islam tiga tahun lalu itu.

Namun, fenomena berbondong-bondongnya wanita kulit putih berkebangsaan Prancis yang masuk Islam, justru menggusarkan sejumlah kalangan. ''Fenomena ini sedang booming dan itu mengkhawatirkan kami,'' kata Kepala Badan Intelijen Dalam Negeri Prancis, Pascal Mailhos.

Pandangan Mailhos ini ternyata banyak penganutnya. Badan yang khusus menangani kegiatan antiteroris di negara-negara Eropa, melihat fenomena maraknya penduduk Eropa masuk Islam, membuat mereka bekerja ekstra mengawasi wanita seperti Fallot. Sebab, di mata polisi Eropa, sosok seperti Fallot merupakan figur yang berpotensi membahayakan keamanan.

Kalau sebelumnya polisi hanya perlu mengawasi kemungkinan ancaman dari orang muda berparas Timur Tengah yang memang selama ini kerap diidentikkan sebagai pelaku bom manusia, kini mereka juga harus mengawasi wanita berparas Eropa. ''Sangat mungkin bagi teroris memanfaatkan lengahnya pengawasan terhadap wanita Eropa itu,'' kata Magnus Ranstrop, peneliti teroris dari Universitas Pertahanan Nasional Swedia.

Memang, ketakutan berlebihan yang tak beralasan sedang menjangkiti sebagian besar warga Eropa. Mereka khawatir cara kematian Muriel Degauque, warga Belgia yang masuk Islam, karena meledakkan dirinya dalam serangan ke tentara Amerika Serikat (AS) di Irak, akhir tahun kemarin, akan ditiru.

Bom manusia oleh Degauque ini, mereka generalisasi bahwa mualaf --sebutan bagi yang baru masuk Islam-- berpotensi melakukan hal serupa. Sementara, sebagian besar dari mualaf di Prancis adalah wanita.

Bagaimana Fallot menanggapi paranoid pihak keamanan Prancis itu? Wanita muda ini menolak semua anggapan tak berdasar tersebut. Ia masuk Islam bukan karena keterpaksaan. Tak adanya penjelasan rinci atas beberapa pertanyaan mendasar dari agama yang dianut sebelumnya, membuat ia tertarik masuk Islam. ''Bagi saya, Islam menyampaikan cinta, toleransi, dan kedamaian,'' katanya tulus.

Meski Fallot mengakui ada di antara mualaf yang berpola pikir radikal. Tapi, dari mereka itu yang kemudian melakukan tindakan kekerasan, bisa dihitung dengan jari. Ia menyebut seperti Richard Reid dan John Walker Lindh, warga AS yang tertangkap di Afghanistan.

Terlepas dari itu, pemeluk Islam di Eropa tumbuh bak jamur di musim penghujan setelah peristiwa ledakan World Trade Center (WTC). Meski, tidak ada peneliti yang menghitung berapa jumlah pasti penduduk Eropa yang beralih ke Islam setiap tahunnya.

Data PBB menunjukkan, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat 100 persen pada 1999 dibanding tahun sebelumnya, menjadi 13 juta atau dua persen dari seluruh penduduk Eropa. Sebanyak 3,2 juta di Jerman, dua juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan sisanya tersebar di negara Eropa lainnya, terutama kawasan Balkan.

Dan tak dapat disangkal, lebih banyak wanita yang masuk Islam ketimbang pria. Pandangan selama ini, wanita Eropa masuk Islam karena menikah dengan lelaki Muslim. ''Kenyataan wanita lebih banyak masuk Islam tak terbantahkan lagi,'' kata Haifa Jawad, dosen di Universitas Birmingham, Inggris. Fallot sendiri hanya tertawa ketika teman-temannya mengatakan, ia masuk Islam karena kekasihnya orang Islam. ''Mereka tidak percaya kalau saya melakukannya atas kehendak sendiri,'' terang Fallot.

Ia merasakan sangat dekat dengan Tuhan setelah masuk Islam. Islam itu sederhana, lebih teliti, dan mudah karena semua ajarannya telah dijelaskan secara eksplisit. Di Islam, ia menemukan suatu pola pikir hidup, aturan yang dapat diikutinya.

Alasan itu menjadi dasar bagi banyak wanita yang pindah ke Islam. ''Banyak dari wanita itu mengeluhkan atas rusaknya moral masyarakat Barat,'' kata Jawad. ''Mereka merasa memiliki atas apa yang ditawarkan Islam.'' Mereka juga tertarik atas pola hubungan antara pria dan wanita. ''Ada lebih banyak ruang untuk keluarga dan peran ibu dalam Islam. Dan ternyata wanita tidak menjadi objek seks belaka,'' kata Karin van Nieuwkerk yang mempelajari perilaku masuk Islamnya wanita Belanda.

Sarah Joseph, pendiri majalah gaya hidup Emel, mengatakan hal senada. Ia juga menolak anggapan wanita yang masuk Islam karena tidak ingin terpengaruh gerakan feminis Barat, tak sepenuhnya benar. Prof Stefano Allievi, pengajar di Universitas Padua, Italia, mengatakan, keputusan mereka masuk Islam mempunyai arti politik. ''Islam menawarkan spiritualitas politik, ide tentang misi suci,'' katanya.

Setelah memutuskan masuk Islam, mereka melaksanakan ajarannya secara bertahap. Semisal Fallot, ia merasa belum siap langsung mengenakan jilbab. Ia mengenakan pakaian yang lebih panjang dan longgar di awal keislamannya. Para mualaf ini, lebih taat dari yang terlahir dalam keadaan Islam.

Di awal keislaman seorang mualaf, menjadi momentum yang sangat sensitif. ''Mereka sangat ingin dan siap melaksanakan semua yang diajarkan,'' kata Batool al-Toma, pelaksana program 'Muslim Baru' di Islamic Foundation Leicester, Inggris.

''Mereka ingin membuktikan sesuatu atas keyakinannya itu dengan sebuah pengorbanan,'' tambah Ranstorp yang bisa jadi pengorbanan itu dalam bentuk aktivitas di luar kewajaran. Ia mencontohkan Degauque yang sebelumnya adalah pengguna narkoba, telah menjadi korban dari orang yang memanfaatkan semangat pembuktian dirinya itu. ( has/berbagai sumber/Mualaf.Com)

Mei Lan (Intan Nur Sari) : Bermimpi Membaca Al-Qur'an

Sejak kecil saya bagaikan hidup di dua muara. Papa dan sanak keluarganya beragama Budha Konghucu. Sedangkan, dari pihak keluarga mama beragama Kristen Protestan. Mama sendiri, miskipun rajin ke gereja, tetapi di KTP-nya beragama Budha Konghucu. Barangkali atau mungkin sebagai istri orang Tionghoa, mama harus ikut agama suami.

Saya sendiri, sejak kelas V SD mulai aktif ikut kebaktian di gereja yang terletak di sekitar Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Hal itu saya lakukan karena dorongan mendiang oma (nenek dari pihak mama). Beliau amat khusyu menjalani kehidupannya sebagai seorang Kristen yang saleh. Amat berbeda dengan kehidupan keluarga besar papa. Mereka, meskipun beragama Budha, namun tampak kurang begitu mempedulikan agamanya. Dalam lingkungan kelurga yang seperti itulah, saya dan adik saya, Grace, dibesarkan. Yang mengherankan, adik saya itu sejak kecil tidak pemah mau diajak ke gereja. Bahkan, ia memiliki kitab suci Al-Qur'an terjemahan terbitan Departemen Agama RI. Sebab itulah, is paling dibenci oleh pihak keluarga mama.

Setelah remaja, saya aktif di Gembala Remaja (organisasi remaja gereja) daerah Gunung Sahari. Sebetulnya, itu hanya sekadar untuk mengisi waktu saja, di samping karena ajakan keluarga mama. Kurang lebih 3 tahun saya aktif di organisasi itu. Setiap minggu saya selalu mengikuti Pembacaan Alkitab. Sedangkan, pada selasa sore saya mengikuti Perkabaran Injil, semacam diskusi atau debat tentang berbagai masalah keagamaan.

Karena aktivitas saya itu, pada pertengahan tahun 1989 saya termasuk di antara 10 orang jemaat yang ikut dibaptis. Sebetulnya pada waktu itu saya tidak siap untuk dibaptis, karena sampai sejauh itu hati kecil saya masih belum meyakini kebenaran Kristen. Dalam acara debat yang sering diadakan untuk Gembala Remaja, saya sering menunjukkan beberapa kejanggalan yang saya jumpai dalam Alkitab (Injil). Terutama yang menyangkut kisah dan sejarah.

Meninggalkan Gereja

Seiring dengan hasrat saya untuk mencari kabenaran, maka ketika duduk di kelas II SMP, saya mulai rutin mengikuti pelajaran agama (Islam) di kelas, meskipun guru agama pada waktu itu membebaskan siswa non-muslim untuk tidak mengikutinya. Kebiasaan itu terus saya lanjutkan sampai saya bersekolah di sebuah SMEA swasta di Jakarta Utara. Saya mulai membandingkan beberapa hal antara Islam dan Kristen. Waktu itu, dengan nalar yang masih sederhana saya menyimpulkanbahwa Kristen dan Islam sebagai sesuatu yang "serupa tapi tak sama".

Mungkin kesimpulan itu tidak tepat. Tetapi begitulah, saya melihat ada beberapa kesamaan, misalnya tentang sejarah nabi-nabi. Dalam Injil terdapat kisah para rasul. Begitupun dalam Al-Qur'an. Kebetulan pada saat yang bersamaan materi pelajaran yang saya terima di gereja dan di sekolah hampir lama, yakni pembahasan tentang sejarah nabi. Bedanya, di gereja menurut versi Injil, sedangkan di sekolah versi AlQur'an. Sehingga, jika guru agama di sekolah melempar pertanyaan, saya sering menjawabnya. Tentu saja, itu membuat kawan-kawan saya heran.

Tetapi, ada sesuatu yang sangat mendasar yang membedakan antara Kristen dan Islam, yaitu konsep ketuhanannya. Kristen menjabarkan pengertiaan keesaan Tuhan pada konsep Trinitas. Terus terang, ini sesuatu yang amat rumit untuk dijelaskan.

Bagaimana mungkin menjelaskan wujud Tuhan Yang Esa dalam tiga oknum yang terpisah (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus). Sedangkan, Islam memiliki konsep ketuhanan yang amat sederhana, tetapi jelas dan tegas. Tauhid sebagai konsep ketuhanan kaum muslimin menegaskan bahwa Allah adalah Esa. la tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Dan, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Penjelasan konsep tauhid oleh guru agama di SMEA tempat saya sekolah itu, menurut saya lebih masuk akal ketimbang penjelasan konsep trinitas yang disampaikan pendeta di gereja. Sejak itu saya menjadi malas pergi ke gereja. Itu terjadi pertengahan 1990, tidak lama setelah oma yang saya cintai meninggal dunia. Terus terang, saya semakin rajin ke gereja karena dorongan beliau. Dan setelah beliau wafat, rasanya tidak ada lagi ikatan batin yang menghubungkan saya dengan gereja.

Setelah itu, saya menarik diri dari semua kegiatan gereja. Mama pun, karena faktor kesehatannya mulai jarang mengikuti kebaktian. Dalam kondisi seperti itu, saya lebih banyak berdiam diri di rumah. Pada suatu hari, teman main saya memperkenalkan saya dengan seorang pemuda. Nama-nya Harris. Dari wajahnya saya menduga ia peranakan Tionghoa.

Mimpi Membaca Al-Qur'an

Kurang lebih seminggu setelah perkenalan dengan Harris, saya bermimpi didatangi seorang tua yang berjubah putih. Dalam mimpi itu saya mengenakan jilbab (kerudung panjang yang menutupi leher dan dada), sedangkan Harris, mengenakan kopiah hitam. Kami duduk bersila berdampingan. Tanpa

berbicara sepatah pun, orang tua berjubah itu pun memberikan saga sebuah buku yang ternyata adalah Kitab Suci AlQur'an. Dengan bahasa isyarat ia menyuruh saya untuk membacanya. Aneh, ternyata saya begitu lancar membacanya. Saya terus membaca, sampai akhirnya saya terjaga dari tidur. Hari masih gelap, karena belum masuk waktu subuh.

Saya tersentak kaget. Mimpi itu begitu aneh. Bagaimana mungkin saya dapat begitu lancar membaca Al-Qur'an? Semula saya tidak ingin menceritakan mimpi itu kepada siapa pun. Tetapi setelah beberapa hari, hati ini amat resah. Saya tidak tahan untuk berdiam diri. Akhirnya, saya ceritakanlah mimpi saya itu kepada seorang tetangga sebelah runah.

Tanpa saya duga ia mengatakan bahwa dalam waktu yang tidak begitu lama saya akan masuk Islam. "Apa iya?" kata saya dalam hati. Sedangkan, saya belum punya niat untuk masuk Islam. Selama beberapa hari saya dilanda kebimbangan. Beberapa hari kemudian Harris datang bertandang. Saya iebih banyak berdiam diri. Akhirnya, ia menanyakan apakah saya masih sering ke gereja. Saya menjawab saja sekenanya kalau saya lagi malas ke gereja. Lalu, tanpa saya duga ia menyarankan agar saya masuk Islam saja.

Tentu saja saya amat heran. "Lho, kamu kan Kristen, kok menyarankan saya masuk Islam?" tanya saya tidak percaya. Justru ia yang kaget. "Siapa bilang saya Kristen, saya Islam kok?" katanya sambil mengeluarkan KTP-nya. Baru pada malam itu saya mengetahui kalau Harris yang saya sangka peranakan Tionghoa itu, ternyata orang Jawa, dan beragama Islam. Habis wajahnya mirip orang Cina, sih.

Saya merasa antara mimpi dan saran Harris merupakan suatu mata rantai petunjuk dari Yang Maha kuasa. Akhirnya, saya ceritakanlah mimpi aneh itu kepada Harris. Ternyata, komentar Harris sama dengan komentar tetangga tadi. Seminggu setelah itu, usai pelajaran agama di sekolah, langsung saya utarakan niat saya kepada bapak guru agama bahwa saya ingin masuk Islam. Harris pun saya beritahu. la pun banyak membantu mengurus proses keislaman saya di KUA (Kantor Urusan Agama).

Mama sebagai orang yang paling dekat dengan saya, tentu saja saya beritahu. Mama tidak keberatan. la bahkan menasihati saya setelah menjadi orang Islam agar benar-benar melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Sebab, menurut mama, orang memilih suatu agama bukan untuk main-main. Tetapi kepada papa, saya memang sengaja tidak memberitahu.

Singkat cerita, pada hari Kamis pertengahan Agustus 1992, bertempat di kantor KUA Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, saya berdua dengan adik saya, Grace, mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan disaksikan bapak guru agama SMEA Yanindo, Pak Syaiful (Pengurus Masjid An-Nur Ancol), beberapa orang kawan sekolah, dan tentunya Harris yang sekarang menjadi "teman dekat" saya.

Kini, setelah menjadi muslimah saya mempunyai nama hijrah Intan Nur Sari. Sekarang ini saya sedang mengikuti bimbingan membaca A1-Qur'an di TPA Masjid An-Nur Ancol, Jakarta Utara. Mohon doa dari ikhwan/akhwat seiman di tanah air agar saya dan adik saya diberikan kekuatan iman dan Islam dalam mempertahankan keyakinan kami ini.

Sumber: "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com/

Dalam dokumen KisahNyataSejutaMualaf (Halaman 125-129)