Organisasi Pergerakan Nasional
D. Masa dan organisasi pergerakan nasional lainnya
Di mana pun juga setiap pergerakan ada yang bersifat radikal dan ada pula yang bersifat mode- rat. Demikian pula halnya organisasi pergerakan nasional Indonesia pada zaman penjajahan. Ada organisasi pergerakan yang bersifat radikal (keras dan tidak mau bekerja sama) dan yang bersifat mo- derat (lunak dan mau bekerja sama). Organisasi per- gerakan mana saja yang termasuk radikal dan mana yang termasuk moderat?
1. Masa radikal
Setelah Perang Dunia I berakhir, partai dan organisasi pergerakan nasional mulai bersikap ra- dikal. Pada masa ini, partai-partai dan organisasi pergerakan bersikap nonkooperatif. Artinya, me- reka tidak mau bekerja sama dengan pemerintahan kolonial Belanda.
Organisasi-organisasi pergerakan pada masa itu menjadi bersifat radikal karena:
Dalam Perang Dunia I, Belanda memang ber- sikap netral. Namun demikian, situasi perang mempersulit hubungan antara negeri Belanda dengan Indonesia. Situasi itu menjadi salah sa- tu sebab pergerakan yang ada menjadi radikal.
Masuk dan berkembangnya aliran sosialisme ke Indonesia lewat ISDV (Indische Sociaal Demo- kratische Vereeniging). ISDV adalah organisasi bu- ruh yang bersifat marxistis.
Organisasi-organisasi pergerakan nasional yang berkembang pada masa radikal adalah Per- himpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indone- sia (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI).
a. Perhimpunan Indonesia
Pada tahun 1908, para pelajar Indonesia yang belajar di negeri Belanda mendirikan sebuah orga- nisasi yang bersifat sosial. Organisasi tersebut di- namakan Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Organisasi ini bertujuan untuk memajukan ke- pentingan-kepentingan bersama dari orang-orang pribumi dan non pribumi bukan Eropa.
Dalam perkembangan selanjutnya, Perhim- punan Hindia yang semula berupa organisasi yang bersifat sosial berubah menjadi organisasi yang bersifat politik. Perubahan itu terjadi ketika man- tan pemimpin Indische Partij masuk menjadi ang- gota Perhimpunan Hindia pada tahun 1913. Nama Perhimpunan Hindia pun mengalami perubahan pada tahun 1922 menjadi Perhimpunan Indonesia. Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah yang diberi nama Hindia Putera dan majalah Indone- sia Merdeka. Melalui majalah tersebut, mereka yang tergabung dalam PI menyebarluaskan cita-cita, tujuan, serta kegiatan-kegiatannya. Dengan demi- kian, keberadaan PI dapat dikenal oleh masyarakat luas.
Sumber:
Lukisan Sedjarah. 1956
Gambar 2.2.9
Para pemimpin Perhimpunan Indonesia. Dari kiri ke kanan: G. Mangunkusumo, Mohammad Hatta, I. Kusuma
Sumantri, R. Sastromuljono, dan R.M. Sartono.
Kegiatan Perhimpunan Indonesia meliputi:
Melakukan propaganda ke tanah air untuk me- wujudkan kemerdekaan Indonesia. Cita-cita tersebut disebarluaskan melalui majalah Indo- nesia Merdeka. Propaganda tersebut ditujukan kepada perkumpulan pelajar yang ada di ber- bagai kota, seperti Solo, Surabaya, dan Ban- dung. Kegiatan ini terutama dilakukan oleh para alumni yang baru kembali dari Belanda.
Melakukan propaganda kepada bangsa lain de- ngan tujuan untuk menarik simpati dan du- kungan moral. Caranya antara lain:
y Mengirimkan utusan untuk menghadiri kongres Liga Demokrasi Untuk Perdamaian yang berlangsung di Paris pada tahun 1926. Mohammad Hatta sebagai utusan Perhim- punan Indonesia dalam kongres tersebut mengatakan bahwa tujuan dari PI adalah mencapai Indonesia merdeka.
y Ikut menjadi anggota Liga Anti Imperialis- me dan Kolonialisme yang bermarkas di Brussel.
Pada kongres Liga Demokrasi tersebut, juga ha- dir tokoh-tokoh pergerakan nasional dari negara lain, salah satunya adalah Nehru. Dalam kesem- patan yang baik itu, Nehru dan Mohammad Hatta saling bertemu dan bertukar pikiran. Dengan ada- nya dukungan dari berbagai pihak yang cinta akan perdamaian dan kemerdekaan, Indonesia berhasil menggolkan resolusi dalam kongres tersebut. Isi resolusi itu ialah bahwa pergerakan kemerdekaan adalah suatu tuntutan hidup bagi bangsa Indone- sia dan juga merupakan suatu hal yang penting bagi perikemanusiaan.
Dalam kongres tersebut, Mohammad Hatta ju- ga bertemu dengan Semaun dari ISDV. Mereka se- pakat mengadakan kerja sama untuk mencapai Indonesia merdeka. Hal ini membuat pemerintah Belanda di Indonesia curiga karena komunis baru saja mengadakan pemberontakan. Oleh sebab itu, pada tahun 1927, Belanda mengadakan penangkap- an terhadap tokoh-tokoh perhimpunan Indonesia, seperti Mohammad Hatta, Natsir Datuk Pamoen- tjak, Abdoel Madjid Djojodiningrat, dan Ali Sas- troamidjojo. Pada tahun 1927, mereka diadili di Den Haag, Belanda. Karena tidak terbukti bersalah, ak- hirnya mereka dibebaskan.
Tokoh-tokoh Perhimpunan Indonesia, antara lain R.N. Noto Suroto, Sutan Kasayangan, Ahmad Subardjo, Mohammad Hatta, Natsir Pamoentjak, Abdoelmadjid Djojoadiningrat, Ali Satroamidjoyo, A. Mangunkusumo, Iwa Kusuma Sumantri, R. Sas- tromuljono, R.M. Sartono.
b. Partai Komunis Indonesia
Paham marxisme masuk ke wilayah Nusanta- ra dibawa oleh H.J.F.M. Sneevliet. H.J.F.M. Snee- vliet adalah salah satu pemimpin buruh di negeri Belanda dan sekaligus menjadi anggota Sociaal De- mocratische Arbeitderspartij (SDAP) atau Partai Buruh Sosial Demokrat. Di Indonesia, ia mula-mula be- kerja sebagai anggota staf redaksi surat kabar Soe- rabajaasch Handelsbald. Pada tahun 1913, Sneevliet pindah ke Semarang. Bagi Sneevliet, tinggal di Se- marang adalah sesuatu yang menguntungkan ka- rena Semarang adalah pusat Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (VSTP). VSTP adalah serikat bu- ruh yang tertua di kawasan nusantara. Sebagai pe- mimpin sosialis yang berpengalaman, ia berhasil
membawa VSTP ke arah yang lebih radikal. Pada tanggal 9 Mei 1914, Sneevliet dan tokoh- tokoh sosialis lainnya (J.A Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bergsma) mendirikan Indische Sociaal- Democtratische Vereniging (ISDV). Sneevliet dan kawan-kawan merasa bahwa ISDV tidak berkem- bang karena tidak berakar di dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, ISDV memengaruhi ang- gota Sarekat Islam untuk menjadi anggota ISDV. ISDV berhasil melakukan infiltrasi (penyusupan) ke dalam Sarekat Islam. Sneevliet dan kawan- kawan berhasil menjadikan pemimpin muda Sa- rekat Islam menjadi pemimpin ISDV. Semaun dan Darsono adalah tokoh-tokoh Sarekat Islam yang kemudian menjadi pemimpin ISDV.
Tahun 1919 merupakan masa sulit bagi para anggota golongan Eropa di dalam ISDV. Karena tin- dakan keras pemerintah kolonial, banyak anggota ISDV dipenjarakan dan diusir dari Hindia Belanda. Karena kehilangan pimpinan serta kegagalan-kega- galan gerakan mereka, peranan golongan Eropa di dalam ISDV menjadi berkurang. Muncullah akti- vis-aktivis bangsa Indonesia di ISDV.
Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV diubah menjadi Partai Komunis Hindia. Pada bulan Desember di- ubah lagi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Kekuatan utama PKI terletak pada anggota-anggo- tanya, yaitu dari kalangan buruh.
Disamping itu, PKI juga berpropaganda dengan slogan-slogan yang menarik untuk semua lapisan masyarakat. Slogan-slogan PKI tersebut, seperti
“lebih banyak kekayaan untuk yang kaya, tiada pajak untuk si miskin, lebih banyak mesjid untuk ulama/santri”.
Meskipun demikian, PKI tidak memperoleh ke- sempatan untuk mengorganisasikan secara bebas cita-cita perjuangannya. Oleh karena itu, untuk memperoleh dukungan massa, PKI harus bersifat keras karena sikap yang lemah kurang menarik massa.
Gambar 2.2.10
ISDV memengaruhi anggota Sarekat Islam muntuk menjadi anggota ISDV. Anggota ISDV dalam Sarekat Islam menimbulkan perpecahan di dalam Sarekat Islam.
Sumber:
Walaupun PKI belum merasa kuat, pada tahun 1926, PKI mengadakan pemberontakan. Pembe- rontakan itu dapat dipadamkan oleh Belanda. Para pemberontak komunis tersebut dibuang ke Digul, di antaranya adalah Ali Arkhaam dan Sarjono. Se- mentara itu, Muso dan Alimin melarikan diri ke luar negeri. Karena pemberontakan itu, PKI kemu- dian dilarang oleh pemerintah Belanda.
Tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesi (PKI), an- tara lain Semaun, Alimin, Darsono, Muso, Ali Ar- khaam, dan Sugono.
c. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927. Pendirian Partai Nasional Indonesia disponsori oleh Algemeene Studie Club. Rapat pembentukan partai ini dihadiri oleh
Soekarno, Cipto Mangunkusumo, Soejadi, Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr. Budiarto, dan Mr. Sunario. Menurut Soekarno, ideologi yang melan- dasi gerakan nasional adalah nasionalisme, islamis- me, dan marxisme. Ketiga ideologi tersebut (yang kemudian dikenal dengan Nasakom) merupakan alat pemersatu bangsa.
Tokoh-tokoh pendiri PNI, antara lain: Ir. Soe- karno (Ketua), dr. Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr. Budiarto, Mr. Su- nario, dan Sartono.
Dalam anggaran dasarnya, PNI menyatakan bahwa tujuan PNI adalah bekerja untuk kemerde- kaan Indonesia. Tujuan ini akan dicapai dengan asas percaya pada diri sendiri. Caranya ialah dengan memperbaiki ekonomi, politik, dan sosial-budaya yang telah dirusak oleh pihak kolonial Belanda de- ngan kekuatan sendiri. Tindakan yang dilakukan, antara lain mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik- poliklinik, bank-bank nasional, perkumpulan ko- perasi, dan lain-lain. Itulah sebabnya PNI tidak mau ikut dalam dewan-dewan yang diadakan oleh pemerintah. PNI mengambil sikap nonkooperatif terhadap pemerintah Belanda. Ditekankan juga
bahwa untuk mencapai kemerdekaan perlu ada persatuan bangsa.
PNI berhasil menjadi partai yang populer di kalangan masyarakat bawah. Untuk menggalang kekuatan nasional diperlukan suatu federasi partai politik. Federasi partai politik terwujud pada tahun 1927, dengan terbentuknya Permufakatan Perhim- punan-Perhimpunan Politik Indonesia (PPPKI). Anggota PPPKI terdiri dari PNI, PSII, Boedi Oetomo, Pasundan, Serikat Sumatra, Serikat Betawi, Indo- nesische Studieclub dan Algeemene Studieclub. Namun, federasi ini mengalami perpecahan pada tahun 1929. Ketegasan sikap dan kegiatan PNI meng- akibatkan pemerintah Belanda menganggap partai ini berbahaya. Oleh karena itu, gerak-gerik PNI se- lalu diawasi. Pemimpin-pemimpinnya seringkali mendapat peringatan keras dari pihak Belanda, agar tidak melakukan kegiatan yang merongrong kewibawaan Belanda.
Ternyata, para pemimpin PNI tidak mengindah- kan peringatan-peringatan pemerintah Belanda. Pada tahun 1929, pemerintah Belanda menangkap sejumlah pemimpin PNI, antara lain Soekarno, Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkupraja. Pada tahun 1930, mereka dijatuhi hukuman oleh peng- adilan negeri Bandung. Dalam proses peradilan, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan ber- judul “Indonesia Menggugat”.
Pada tahun 1931, berdasarkan Kongres Luar Biasa di Jakarta, PNI dibubarkan. Sebagai gantinya didirikan partai baru, yaitu Partindo yang dipim- pin oleh Sartono. Di samping itu, juga muncul partai baru, yaitu Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI baru yang dipimpin oleh Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Kedua partai ini dianggap berbahaya oleh pemerintah Belanda. Bahkan, Mo- hammad Hatta dan Sutan Syahrir ditangkap dan diasingkan ke Digul, kemudian dibuang ke Bangka. Soekarno masuk menjadi anggota Partindo pada tahun 1932. Akan tetapi, dua tahun kemudian ia ditangkap dan diasingkan ke Ende (Flores). Dari Flo- res, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu.
Dengan penangkapan tokoh-tokoh tersebut, ter- bukti bahwa sikap pemerintah Belanda terhadap organisasi bumiputra semakin bertambah keras. Dengan demikian, kegiatan politik sulit dilakukan. Belanda selalu menangkap para pemimpin yang dianggap membahayakan. Akhirnya, kedua partai itu dibubarkan.
2. Masa moderat
Sejak tahun 1930, partai-partai di Indonesia mulai mengubah taktik perjuangannya. Partai- partai tersebut mulai bersikap moderat dan koo- peratif. Partai-partai dan organisasi pergerakan bersedia bekerja sama dengan pemerintah Belanda
Gambar 2.2.11
Soekarno dan kawan-kawan dari PNI beserta pembela di pengadilan kolonial di Bandung. Mereka diadili karena
dituduh pemerintah Belanda akan mengadakan pemberontakan.
untuk mencapai tujuan perjuangan. Mengapa par- tai-partai dan organisasi pergerakan bersikap moderat dan kooperatif terhadap pemerintah Be- landa?
Menjelang akhir tahun 1930-an di tanah air ter- jadi krisis dalam pergerakan nasional. Faktor pe- nyebab krisis pergerakan tersebut, antara lain sebagai berikut.
Pengaruh krisis ekonomi 1929/1930 yang meng- akibatkan pemerintah bertindak keras untuk menjaga ketertiban dan keamanan.
Pembatasan hak berkumpul dan berserikat.
Banyak pemuka-pemuka pergerakan nasional diasingkan sebagai akibat kerasnya pemerintah kolonial.
Tanpa melalui proses pengadilan, gubernur jen- deral dapat menyatakan suatu pergerakan atau kegiatannya bertentangan dengan keamanan dan ketertiban.
Dengan demikian, organisasi-organisasi perge- rakan dan partai-partai yang ingin mempertahan- kan kelangsungan hidupnya harus menyesuaikan diri dengan peraturan atau kebijaksanaan peme- rintah. Oleh karena itu, partai-partai yang ada ter- paksa mengurangi sikap kerasnya terhadap pe- merintah. Perbedaannya dengan partai-partai ra- dikal sebelum tahun 1930-an terletak pada cara mencapai tujuan. Partai-partai moderat lebih menggunakan cara kerja sama dengan pihak peme- rintah untuk mencapai tujuan. Kedua kelompok ini sama tujuannya, yaitu Indonesia merdeka.
Partai-partai dan organisasi-organisasi yang berkembang pada masa moderat adalah Partai In- donesia Raya (Parindra), Gerakan Rakyat Indone- sia (Gerindo), dan Gabungan Politik Indonesia (Gapi).
a. Partai Indonesia Raya (Parindra)
Parindra merupakan gabungan (fusi) dari Per- satuan Bangsa Indonesia (PBI), Boedi Oetomo, Seri- kat Madura, dan Indonesische Studieclub. Kesepakatan di antara partai-partai dan perkumpulan untuk bergabung terjadi pada tahun 1935 di Solo. Tahun tersebut dianggap sebagai hari kelahiran Parindra. Untuk mendukung lancarnya kegiatan Parindra, Surabaya ditetapkan sebagai pusat kegiatannya. Beberapa waktu kemudian, ikut pula bergabung Serikat Sumatera, Serikat Celebes, Serikat Ambon, Kaum Betawi, dan Kaum Banten.
Tokoh-tokoh Parindra, antara lain Sutomo, Wuryaningrat, dan Mohammad Husni Thamrin. Parindra dipimpin oleh Sutomo, kemudian dilan- jutkan oleh Wuryaningrat.
Tujuan Parindra adalah mencapai Indonesia Raya melalui upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan kebangsaan (nasionalisme). Sikap Parin- dra terhadap pemerintah Belanda tergantung pada situasi dan kondisi.
Usaha-usaha Parindra untuk mewujudkan tu- juannya, adalah sebagai berikut.
Meningkatkan kesejahteraan rakyat di bidang ekonomi dan sosial. Misalnya, mendirikan Ru- kun Tani Indonesia, Rukun Pelayaran Indone- sia, dan mendirikan Bank Nasional di Surabaya.
Menganjurkan swadesi (salah satu ajaran Gan- dhi), yaitu menganjurkan untuk memakai ba- rang produksi sendiri.
Mendirikan organisasi kepramukaan “Surya Wirawan”.
b. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerindo didirikan di Jakarta pada tahun 1937. Pendirinya adalah A.K. Gani, Mohammad Yamin,
Amir Syarifudin, Sanusi Pane, dan Sipakuntar. Dasar partai Gerindo mirip Partindo. Tujuan Gerindo ada- lah mencapai kemerdekaan di bidang politik, eko- nomi, dan sosial.
c. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)
Gapi yang merupakan suatu federasi berbagai organisasi politik didirikan pada bulan Mei 1939. Faktor pendorong didirikannya Gapi adalah peno- lakan Petisi Sutarjo pada tahun 1938 oleh peme- rintah kolonial Belanda. Alasannya adalah bahwa bangsa Indonesia belum matang untuk memikul tanggung jawab memerintah diri sendiri. Peno- lakan ini juga dipandang oleh tokoh-tokoh perge- rakan nasional sebagai keputusan yang sangat menyakitkan karena tidak melalui suatu persi- dangan Dewan Rakyat (Volksraad). Oleh karena itu, muncul ide dari Mohammad Husni Thamrin untuk membentuk suatu konsentrasi perjuangan, yaitu Gapi. Anggota Gapi terdiri dari Parindra, Gerindo, Pasundan, Persatuan Minahasa, PSII, dan Perhim- punan Katolik Indonesia serta Partai Islam.
Tujuan perjuangan Gapi adalah:
Persatuan kebangsaan atas dasar demokrasi politik, ekonomi, dan sosial.
Pembentukan parlemen yang dipilih secara be- bas dan umum serta wakil-wakil rakyat yang duduk di parlemen bertanggung jawab kepada rakyat.
Pengangkatan lebih banyak orang Indonesia dalam berbagai jabatan negara.
Semboyan perjuangan Gapi adalah “Indone- sia Berparlemen”. Gapi menuntut adanya suatu De- wan Perwakilan Rakyat yang didasarkan pada prin- sip-prinsip demokrasi. Dalam kongresnya, tang-gal 23-25 Desember 1939, Gapi memutuskan:
membentuk kongres rakyat;
menetapkan bendera merah putih sebagai ben- dera nasional dan lagu Indonesia Raya sebagai lagu persatuan Indonesia;
mengefektifkan penggunaan bahasa Indonesia bagi seluruh rakyat.
Tokoh-tokoh Gapi, antara lain adalah Moham- mad Husni Thamrin, Abikusno Tjokrosujoso, dan Mr. Amir Syarifudin.