• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEPATAN MPR RI

D. MASA DEPAN KETETAPAN MPR

Pertanyaan kelima, apakah setelah diamandemen UUD NRI 1945 melarang MPR untuk membuat ketetapan yang bersifat mengatur, sama seperti sebelum diamandemen tidak diatur secara eksplisit. Kehadiran Ketetapan MPR maupun MPRS bisa ditafsirkan sebagai kebutuhan untuk menjembatani antara ketidaklengkapan maupun ketidakjelasan norma yang diatur dalam UUD dan akan diterjemahkan dalam undang-undang. Menunggu substansi yang akan diatur tersebut bisa ditegaskan dalam UUD, bukan saja membutuhkan waktu yang relatif lama, sekaligus juga tidak muduh untuk mendapatkan kesepakatan untuk secara politis, menjadi resultante dalam perumusan kosntitusi seperti yang diteorikan oleh KC Wheare.171

Sampai sekarang misalnya ada pasal-pasal dalam UUD NRI 1945 yang menimbulkan kontroversi dalam penterjemahannya dalam tingkat undang-undang. Misalnya Pasal 18 ayat 3, yang berbunyi : “Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.” Secara sederhana bisa dimaknai bahwa kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) adalah snagta kuat karena dipilih secara langsung oleh rakyat. Di dalam

171 KC Wheare, 1966, Modern Constitution Second Edition, London : Oxford University Press

125 praktek terutama terlihat dalam pengaturan pada Undang-Undang tentang Pemerintah Daerah, DPRD selalu diposisikan bersama-sama dengan gubernur atau bupati/walikota sebagai satu tim penyelenggara pemerintah daerah. Logikanya DPRD tidak bisa berlaku sebagai lembaga legislatif yang mengontrol secara kuat pada ekskutif yang dipimpin oleh gubernur atau bupati/walikota. Jika fungsinya hanya menjadi bagian dari eksekutif dalam pemerintahan daerah, tidak perlu dicantumkan dalam konstitusi harus dipilih melalui Pemilu.

Apalagi jika dikaitkan dengan Pasal 18 ayat 5 UUD NRI 1945, yang berbunyi

“Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.” Dengan otonomi seluas-luasnya, maka posisi pemerintah daerah hanya beda tipis dengan pemerintah pusat, yang memerlukan fungsi lembaga legislatif mandiri seperti DPR RI. Jika ada yang menimbulkan kontroversi semacam ini bisa dijembatani oleh peraturan regelling yang dibuat MPR dan posisinya diantara UUD dan undang-undang akan membantu menyelesaikan dinamika yang terjadi dalam dinamika penyelenggaraan pemerintahan.

Pasal lain yang mirip persoalannya, misalnya Pasal 18 ayat 4 UUD NRI 1945, yang berbunyi :”Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih secara demokratis.” Akibat pasal ini telah terjadi kegaduhan yang luar biasa karena DPR pernah menafsirkan pasal tersebut dengan mengatur pemilihan gubernur, bupati, dna walikota melalui DPRD. Ternyata terjadi pro kontra yang cukup keras di masyarakat, sehingga presiden mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) yang mengembalikan ke pemilihan langsung oleh rakyat. Kontroversi seperti ini tidak akan terjadi jika MPR menjembatani membuat ketentuan yang mengatur lebih lanjut menganai apa yang dimaksud dengan pemilihan secara demokratis tersebut.

Dalam Aturan Tambahan Pasal 1 UUD NRI 1945 memang diatur “Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap materi dan status hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat 2003,’’ namun tidak ada larangan secara eksplisit bahwa ke depan MPR tidak boleh mengeluarkan ketetapan yang bersifat mengatur. Ketetapan I/MPR/2003 tentang Peninjauan terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS/MPR RI Tahun 1960-2002, hanya menegaskan mana Ketetapan MPR dan MPRS yang sudah tidak berlaku lagi, yang masih berlaku tanpa syarat apapun, dan masih berlaku dengan syarat. Namun tidak ada ketentuan bahwa setelah itu MPR tidak bisa lagi membuatan ketetapan yang bersifat mengatur.

126 Menurut Hajriyanto Y. Thohari172, setelah keluar UU 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, keberadaan Ketetapan MPR semakin kongkret. Ketetapan MPR termasuk bagian integral dari hukum dasar yang posisinya di atas undang-undang.

Maka secara hierarkis dicantumkannya Ketapan MPR di bawah Undang-Undang dan di atas Undang-Undang/Perppu dengan prinsip berjenjang itu, MK harus juga menguji undang-undang terhadap Ketetapan MPR. Artinya, di negeri ini tidak boleh ada undang-undang-undang-undang yang bertentangan dengan Ketetapan MPR. Ini sesuatu yang baru yang harus mendapatkan perhatian MK dalam melaksanakan fungsinya menguji nundang-undang. Akhirnya, baik DPR, pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya, maupun MK harus kembali membuka dan membaca Ketetapan MPR. Baik ketetapan yang sudah ada maupun yang akan ada di kemudian hari.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Pertanyaan kelima dan keenam sekaligus bisa dijawab dalam kesimpulan bahwa tafsir kata menetapkan baik dalam UUD 1945 sebelum maupun sesudah amandemen, bisa dimaknai sebagai kewenangan MPR untuk membuat ketetapan yang bersifat mengatur.

Logikanya karena MPR berwenang untuk mengubah, memperbaiki, bahkan mengganti undang-undang dasar yang bersifat mengatur maka tidak ada halangan untuk menetapkan produk yang berbentuk Ketetapan atau Peraturan MPR uang bersifat mengatur.

Keberadaan Ketetapan MPR di tengah sistem Ketatanegaraan Indonesia tidak memberi komplikasi beban apapun, bahkan bisa menjadi solusi beberapa persoalan ketatanegaraan.

Suatu contoh kehdiran Ketetapan MPR bisa menjadi jembatan antara UUD dengan UU, sebagaimana kasus dalam pengaturan kewenangan pemerintah daerah, terutama yang menyangkut fungsi dan posisi DPRD. Masih banyak lagi kontroversi perundang-undangan yang bisa diterobos dengan ketetapan MPR, seperti pengaturan soal Pemilu, sumber daya alam, koperasi, dan sebagainya.

Ke depan Ketetapan MPR masih dibutuhkan dalam hierarkhi tata perundang-undangan kita, untuk mencari solusi yang lebih cepat dan lebih sederhana, dalam menyelesaikan konfllik yang mendesak, dan menghindarkan kegaduhan yang tidak perlu.

Berbagai konsekuensi yang lahir dari keberadaan Ketetapan MPR yang telah menghadirkan berbagai tafsir, bisa diselesaikan dengan melalui amandemen UUD NRI 1945 itu sendiri, atau memperkuat MPR dengan menyusun Undang-Undang terpisah, tidak bercampur dengan DPR, DPD, atau bahkan dengan DPRD seperti yang tercakup dengan UU tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD-3) yang masih ada pada saat ini. Gagasan untuk

172 Hajriyanto Y Thohari, “Eksistensi Ketetapamn MPR Pasca UU No 12 Tahun 2011”, Berita Sore, 16 November 2011

127 mengembalikan GBHN dengan media ketetapan MPR, akan semakin mengokohkan posisi MPR dan ketetapan yang dihasilkan, karena konstruksinya tidak berbeda jauh dangan UUD 1945 sebelum dimandemen. Sekaligus menjamin kepastian Ketetapan MPR itu sendirri.

Widayati173 menyarankan agar depan:

- MPR agar melakukan perubahan UUD NRI Tahun 1945, pasal-pasal yang berkaitan dengan keanggotaan dan kewenangan MPR diubah : (a) Pasal 2 ayat 1 perlu diubah agar keanggotaan MPR mewakili seluruh elemen masyarakat, dengan perumusan:

“Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan umum, dan utusan golongan yang diatur lebih lanjut dengan undang-undang.” (b) Pasal 2 ayat 2 diubah dengan perumusan: “Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam satu tahun di ibukota negara,”

dan (c). Pasal 3 ditambah satu ayat, ditempatkan pada ayat 2, dengan perumusan: “Majelis Permusyawaratan Rakyat berwenang menetapkan Peraturan Negara.”

- Melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011, pasal yang berkaitan dengan jenis dan hierarki peraturan perundangundangan, khususnya yang menyangkut Penjelasan Pasal 7 ayat (1) huruf b yang membatasi Ketetapan MPR yang termasuk dalam jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan, yaitu Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR sebagaimana yang dimaksud di dalam Pasal 2 dan Pasal 4 Ketetapan MPR Nomor I/ MPR 2003 dihapuskan, agar produk hukum yang dibentuk oleh MPR masuk dalam jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan.

Pro-kontra posisi Ketetapan MPR ini ke depan akan lebih produktif jika didekati dengan kepentingan manfaat seperti azas hukum yang baik yang disebut oleh Gustav Radbruch. Selain komitmen terhadap keadilan dan kepastian hukum. Masalah-masalah yang menyangkut prosedur, konsekuensi, sensitivitas politis, dan sebagainya harus dicarikan jalan keluar, agar hadir produk hukum yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar bertumpu pada perbedaan pendapat, yang memang bersumber dari kekurangan maupun kelemahan produk hukum itu sendiri, termasuk UUD NRI 1945, sebagai hasil dari beberapa kali amandemen terhadap UUD 1945. Ketetapan MPR sudah melalui dinamika sajarah yang panjang, hingga sampailah saatnya untuk menimbang kemanfaatannya, dan sekaligus menutup celah kelemahan dan kekurangannya di masa lalu.

173 Widayati Absori, & Aidul Fitriciada Azhari, 2016, “Rekonstruksi Kedudukan Ketetapan MPR dalam Sistem Ketatangeraan”, Jurnal Media Hukum, Vol. 21 No.2 Desember 2014

128 DAFTAR PUSTAKA

Asshiddiqie, Jimly, 2009, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, Jakarta: BIP, hal 467 Bambang Sadono, Menepatkan Posisi MPR RI, Media Indonesia 17 September 2016

Hajriyanto Y Thohari, Eksistensi Ketetapamn MPR Pasca UU No 12 Tahun 2011, Berita Sore, 16 November 2011

KC Wheare, 1966, Modern Constitution Second Edition, London: Oxford University Press

Maria Farida, Status TAP MPR tentang HM Soeharto Pasca Amandemen UUD, Hukumonline, Selasa (16/05/2006)

Mahfud MD, Moh, 2017, Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada

Sri Sumantri, Status Katetapan MPR tentang HM Soeharto Pasca Amandemen UUD, Hukumonline, Selasa (16/05/2006)

Yusril Ihza Mahendra, Kerumitan Politik Hukum di Bidang Ketatanegaraan Pasca Amandemen UUD 1945, disampaikan pada Seminar “Membangun Indonesia Melalui Pembangunan Hukum Nasional” di Jakarta, 8 Desember 2011

Widayati, Absori, & Aidul Fitriciada Azhari, 2016, Rekonstruksi Kedudukan Ketetapan MPR dalam Sistem Ketatangeraan, Jurnal Media Hukum, Vol. 21 No.2 Desember 2014

129

04. MPR, KEDAULATAN RAKYAT, DAN REFORMASI YANG

BELUM SELESAI