• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Dan Tantangan Dalam Proses Pelayanan

Dalam dokumen GELANDANGAN DAN PENGEMIS (Halaman 117-144)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Masalah Dan Tantangan Dalam Proses Pelayanan

pengemis ini tidak lepas dari tantangan dan hambatan. Karakteristik kelompok ini yang unik serta jumlahnya yang terus bertambah dengan berbagai bentuk aktivitas untuk memperoleh uang di kota-kota besar, merupakan sebuah tantangan dalam upaya penanganannya. Beberapa poin

107118 penting dalam bagian ini membahas masalah dan tantangan pelayanan rehabilitasi sosial bagi gepeng terkait beberapa bagian, diantaranya:

1. Masalah kelembagaan termasuk kerangka hukum dan investasi Kewenangan pemerintahan daerah dalam pelayanan sosial sangat erat kaitannya dengan kultur budaya dan politik dalam penanganan masalah sosial di Indonesia. Terkait kewenangan rehabilitasi gelandangan berhubungan dengan kewenangan pemerintah pusat dan daerah pada bidang sosial diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan penjabaran mengenai urusan pemerintahan konkuren. Urusan pemerintahan konkuren terdiri dari urusan pemerintahan wajib dan urusan pemerintahan pilihan. Urusan pemerintahan wajib dibagi atas urusan pemerintahan wajib yang terkait pelayanan dasar dan urusan pemerintahan wajib yang tidak terkait pelayanan dasar. Urusan pemerintahan konkuren ini menjadi bagian dari urusan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Dalam prakteknya hal ini bukanlah persolan yang mudah untuk mengimplemantisikan program. Masih ada ego sektoral antara pemerintah pusat dan daerah baik di provinsi maupun di kota/kabupaten dalam penanganan masalah sosial kelompok gelandangan pengemis ini. Sebagai contoh di Provinsi DKI Jakarta yang merupakan pusat ibukota negara, jumlah gepeng cukup signifikan dan sebagian besar mereka bukanlah penduduk dari provinsi ini. Untuk menyelesaikan masalah ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengupayakan kerjasama dengan provinsi-provinsi lain darimana sebagian besar gepeng berasal, seperti Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat dan sebagian Sumatera, namun hasilnya belum maksimal. Selain itu, masih ada tumpang tindih terkait kewenangan pemerintah daerah dengan pemerintah pusat, termasuk peran Balai sebagai layanan rehabilitasi sosial lanjutan, masih terdapat gap antara kewenangan

108 119 pemerintah pusat maupun daerah, khususnya dalam pelayanan yang sifatnya direct services dan khususnya dalam hal koordinasi.

2. Masalah model intervensi

Adanya perbedaan pelayanan rehabilitasi sosial antara peran balai/panti dan LKS. Balai sosial pelayanan rehabilitasi sosial bagi eks gelandangan dan pengemis merupakan salah satu UPT milik Kementerian Sosial yang menyelenggarakan rehabilitasi sosial lanjutan bagi PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial). Rehabilitasi sosial lanjut merupakan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan keberfungsian sosial PPKS dalam hal ini gelandangan dan pengemis, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang dilaksanakan di dalam dan di luar balai/loka rehsos. Pengembangan keberfungsian sosial ini lebih fokus kepada meningkatkan kapabilitas sosial dan tanggung jawab sosial. Kegiatan rehabilitasi sosial tingkat lanjut dilakukan melalui bimbingan sosial, dukungan sosial, dukungan keluarga, dan bantuan sosial untuk mengembalikan fungsi sosial PPKS. Sebagai salah satu UPT Kemensos, Balai ini mendapatkan dukungan dana dari APBN dengan sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk melakukan pelayanan rehabilitasi sosial, termasuk dukungan tenaga professional seperti pekerja sosial, perawat, maupun piskolog. Kondisi yang sama juga terjadi pada panti yang merupakan milik pemerintah provinsi, yang secara pendanaan dibiayai oleh APBD maupun mendapatkan dukungan dari APBN terkait program tertentu.

3. Masalah infrastruktur program termasuk kesiapan SDM (Sumber Daya Manusia)

Kendala selama memberikan pelayanan terutama pada saat penerimaan PPKS dari hasil operasi justisi. Petugas Panti sering dihadapkan pada permasalahan saat melakukan asesmen karena mereka tidak memiliki tanda pengenal. Kendala lainnya saat memberikan pelayanan yaitu jumlah petugas tidak sebanding dengan jumlah penerima manfaat, serta terbatasnya ruangan pelayanan sehingga pelayanan yang diberikan menjadi

109120 kurang optimal. Kendala yang dihadapi terkait sumber daya manusia seperti contoh yang terjadi di salah satu panti di Jawa Timur.

“Kita di panti mengalami kendala terkait jumlah tenaga baik pekerja sosial maupun pendamping sosial. Sehingga seringkali petugas melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Ditambah lagi persoalan terbatasnya insturuktur untuk pelatihan karena terbatasnya anggaran dan pegawai merangkap tugas” (informan PS di Panti P).

Kondisi ini juga tejadi di lembaga lain, diantaranya panti sosial milik pemerintah di DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara maupun di Jawa Barat, dimana jumlah SDM sangat terbatas khususnya pekerja sosial maupun tenaga professional lainnya seperti psikolog maupun pembimbing keterampilan. LKS juga mengalami kendala yang sama. Sebagian besar LKS belum mempunyai pekerja sosial professional, sehingga mereka hanya mengandalkan pendamping sosial yang jumlahnya juga terbatas, sehingga mereka harus rangkap tugas di lapangan maupun pekerjaan administratif.

Masih minimnya keterampilan atau terbatasnya pelatihan bagi pekerja sosial maupun pendamping. Seperti contoh di Provinsi Sulawesi Selatan, para pendamping pernah dibekali pelatihan sebagai pendamping tetapi kegiatan ini tidak rutin. Namun demikian, peran pendamping setidaknya cukup membantu karena mereka menjadi penghubung bila ada warga binaan yang memerlukan pelayanan Kesehatan dan membutuhkan pelayanan administrasi kependudukan. Provinsi DKI Jakarta juga mengalami kondisi masih terbatasnya pelatihan bagi pekerja sosial dan tenaga sosial di Panti. Keterbatasan peran pekerja sosial dalam penanganan gelandangan dan pengemis disampaikan oleh salah satu pekerja sosial.

“Pekerja sosial belum banyak berkiprah dalam penanganan PMKS gepeng. Selama ini kita masih ada program yg diutamakan seperti lansia, anak dan disabilitas, sehingga belum fokus pada penanganan bagi gepeng” (informan MR)

Dalam melaksanan pelayanan sosialnya, pekerja sosial dihadapkan pada kendala seperti kesulitan untuk mengubah perilaku mereka dari pola

110 121 hidup di jalanan ke dalam kehidupan disiplin di lembaga. Hal tersebut perlu waktu dan harus dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi pola kebiasaan sehari-hari (contoh pada perilaku membersihkan diri). Masih adanya keinginan untuk “turun ke jalan” karena biasanya dari mengamen atau mengemis sampai siang hari bisa menghasilkan dan bisa membeli makanan yang diinginkan sementara di lembaga mereka mendapatkan makan yang telah tersedia. Kasus di Panti Sosial Bina Karya Pasuruan, saat informan mengalami kesulitan dalam kasus-kasus anak yang dieksploitasi menjadi pengamen, “Boss Pengamen” berupaya mengeluarkan warga binaan.

Masalah lain yang juga harus dihadapi adalah perilaku mereka yang telah terbiasa mengisap lem. Selain itu, pekerja sosial juga kadang-kadang harus berhadapan dengan warga binaan mantan residivis atau yang mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dalam hal ini Pekerja Sosial berupaya untuk melakukan bimbingan keluarga. Pembinaan lanjut juga dilakukan oleh Pekerja Sosial. Pekerja Sosial memantau kondisi warga binaan satu bulan setelah terminasi dengan memonitor perkembangan warga binaan, termasuk kehidupan sosial dan kemandirian mereka. Apakah mereka dapat berlanjut menjalankan usaha sebagaimana kesepakatan saat terminasi, pelayanan apa yang dibutuhkan, dan kendala yang dihadapi oleh mantan warga binaan. Semua ini akan menjadi bahan evaluasi untuk pelayanan lembaga.

4. Masalah-masalah kultural, politik, dan birokrasi

Koordinasi dan kolaborasi antar instansi terkait sangat terkait dengan kultur birokrasi dalam pelakasanaan program yang ada di Indonesia.

Mengembangkan koordinasi dan kolaborasi layanan antar instansi dalam pelayanan rehabilitasi sosial bagi kelompok gepeng merupakan sebuah tantangan tersendiri. Kelompok ini mempunyai permasalahan yang cukup kompleks karena secara umum mereka tinggal berpindah-pindah dan merupakan kelompok urban di perkotaan. Sebagai salah satu kelompok marginal di perkotaan, mereka seringkali mengalami kesulitan akses, baik akses penddikan, kesehatan maupun akses terhadap bantuan sosial. Namun

111122 demikian, koordinasi dan kolaborasi antar instansi terkait masih terbatas, selain itu juga terdapat keterbatasan kelompok ini dalam mengakses layanan. Seringkali persoalan data tentang kelompok ini menjadi kendala dalam penanganan masalah. Sebagai contoh, salah satu penerima manfaat di panti di DKI Jakarta yang dirujuk ke PSBK ternyata mereka selain gepeng juga mempunyai persoalan dengan masalah kejiwaan. Namun demikian kesulitan akses kesehatan untuk terapi mental dari Dinas Kesehatan juga kadang menjadi kendala. Termasuk ketika akan merujuk mereka ke RS Jiwa dikarenakan datanya yang tidak lengkap. Contoh lainnya, akses bantuan sosial juga seringkali tidak bisa diperoleh kelompok ini karena mereka belum memiliki identitas kependudukan, sehingga ini tidak hanya menjadi masalah dinas sosial di daerah tersebut, namun juga butuh dukungan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk memastikan identitas kependudukannya.

5. Masalah Sustainability

Untuk memastikan sustainability program, hal ini tidak terlepas dari pendanaan. Keterbatasan dana terkait untuk proses pendampingan dan pelatihan keterampilan termasuk untuk tindak lanjut penerima manfaat setelah rehabilitasi. Ini menjadi salah satu kendala dalam proses pelayanan rehabilitasi sosial lanjut bagi gelandangan dan pengemis. Selain itu, kondisi pandemi Covid 19 juga mengakibatkan adanya pemotongan dana baik APBN maupun APBD yang mengakibatkan terjadinya pengurangan dana untuk pelatihan dan bimbingan keterampilan. Hal ini mengakibatkan beberapa panti tidak bisa menyelenggarakan kegiatan bimbingan pelatihan keterampilan, karena dana difokuskan untuk pemenuhan dasar khususnya untuk permakanan. Selain itu, seringkali program yang dilaksanakan juga masih belum dilakukan secara terus menerus, tergantung dari political will masing-masing provinsi. Misalkan, ada kecenderungan program di LKS maupun Panti masih tergantung dana, atau instruksi dari pemerintah pusat, sehingga programnya tidak bisa berjalan secara terus menerus. Jika program dari pemerintah pusat selesai, maka tindak lanjut oleh pemerintah

112 123 daerah kurang maksimal. Atau sebaliknya, beberapa program di daerah bagus hasilnya, namun kurang pembinaan dari pemerintah pusat.

Berbeda halnya dengan LKS, yang merupakan lembaga milik masyarakat, dimana lembaga ini diselenggarakan oleh komunitas dan anggarannya merupakan swadaya masyarakata atau bergantung pada donator maupun dukungan dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dalam hal ini LKS mempunyai keterbatasan infrastruktur, pendanaan maupun dalam proses pelayanan rehabilitasi sosial. Salah satunya adalah pada tidak tersedianya petugas khusus (Pekerja Sosial atau tenaga ahli lainnya). Namun demikian, pelayanan tetap harus berlangsung sejalan dengan bertambahnya warga binaan yang membutuhkan pelayanan dan bimbingan walau mengalami keterbatasan.

Hambatan tersebut menjadi tantangan bagi LKS untuk tetap berupaya memberikan pelayanan dengan cara melakukan pendampingan secara intensif bagi warga binaan. LKS tetap berupaya semaksimal mungkin agar warga binaan dapat menjalankan kehidupan secara “normal” tidak menggelandang di jalanan serta memiliki tujuan dalam hidup mereka.

Terbatasnya anggaran untuk pelayanan, sementara warga binaan yang membutuhkan pelayanan semakin bertambah, hal ini menimbulkan pertanyaan bagi Pengurus LKS. “Apa yang akan dilakukan setelah penerima manfaat memperoleh pelayanan di LKS?”

113

123 Tabel 4. Sumber Permasalahan Layanan Rehabilitasi Sosial Gepeng

MasalahProvinsi DKIProvinsi JabarProvinsi JatengProvinsi JatimProvinsi SumateraUtara Provinsi Sulawesi Selatan Kelembagaantermasuk kerangka hukumdan investasi - Perbedaaan pendekatandalam pelayanan rehsosbagi eks gepeng antara Panti dan LKS; - Adanya masalah dalampenegakan hukum Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang ketertiban Umum, dimana pasal 40 diaturmengenai larangan untuk mengemis, tetapi juga melarang orang memberiuang atau barang kepada pengemis, namun penegakan hukumnya masihsangat lemah. - Panti dan LKS, tapitidak ada koordinasi antar lembaga dalampenanganan gepeng. - Masih lemahnya penengakan hukum didaerah, misalnya, PerdaProvinsi Jawa TengahNomor 4 Tahun 2019tentang Penyelenggaraan ketenteraman, ketertibanumum, dan perlindungan masyarakat, dimana Satpol PP mempunyai kewenangan untuk melakukan penertiban terhadap geladangan danpengemis di jalanan melalui operasi yustisi. Namun demikian seringkali operasi yustisiini sulit ditegakkankarena masih adanya pengemis di jalanan khususnya pada waktu tertentu (hari jumat,Ramadhan, hari raya Idul Fitri) dimana banyak orang bersedekah di jalanan. - Tidak adanyaperaturan yang mengikat wargabinaan di dalamProgram Desaku Menanti untukteribat dalamkelanjutan program; - Beban bagi keberlanjutanprogram Desaku Menanti bagi Pemkot Malang cukup besar, sebaiknya dikelolaoleh Pemprov. - Secara instrumenhukum dankelembagaanProvinsi SumateraUtara memiliki keduanya. Pertama,terdapat PeraturanDaerah (Perda)Nomor 4 Tahun 2008 tentang Penanganan Gelandangan Dan Pengemis Di Kota Medan, meskipun Perda ini terkesanhanya mengaturmasalah gelandangandan pengemis untukKota Medan saja dari sisi judulnya adalahPerda;- Kedua, secara kelembagaankhususnya mengenairehabilitasi sosial sudah ada UnitPelaksana Teknis(UPT) Layanan SosialGepeng di Binjai danPinangsori, namun belum adakesinambungan/sinergi antara kebijakanPemerintah Provinsi - Hanya ada LKS, tidakada panti milikpemerintah; - Regulasi yang ada seperti perda sudah cukup lama dan perludiperbaharui disesuaikan dengankondisi saat ini. (Peraturan Daerahkota Makassar nomor2 tahun 2008 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis danpengamen di kota Makassar).

114

124 SUMUT dengan Pemerintah Kab/Kota di SUMUTterkait penangananmasalah Gepeng terutama dari sisi Kebijakan/PerdaKab/Kota danpenanganan rehabilitasi sosialnya.

Masalah kultural, politik, dan birokrasi - Sebagian besar PM pekerja keras mencari nafkah ke kota tanpa keterampilan(tipe pemulung), pengemis(mental meminta), korban Perdagangan Orang (Open Booking Online), ODGJ(mental problem); - Program terkait penanganan kemiskinantermasuk gepeng masihbased on political will tergantung pada visi misipimpinan daerah dalammengatasi kemiskinan, ada tidaknya dalam programdaerah. - Kebiasaan hidup dijalanan, semua serbaingin “instan”;- Kesulitan mengubahperilaku disiplin dari lembaga. - Program nya masihberdasarkan political will, contohnya - Gubernur Ganjar Pranowo sangat konsen dengan issue masalahsosial, sehingg semuakab/kota tidak bolehmenolak PPKS yang membutuhkan pelayanan, walau bukan KTP Jateng, selama masih WNI harus dibantu. Kondisi inisangat bagus, namun belum menjadi sebuahsistem atau regulasi sehingga bisa jadi ketika pimpinanberganti akan berganti kebijakan - Kehidupan serbainstan semakinberkembangdengan adanyainovasi menjadi lokasi wisata;- Kebijakan Pemkot Malang dalammengembangkat Progran Desaku Menanti, lebih pada pengembanganfaktor ekonomi bukan mempersiapkanpsikososial wargabinaan;- Inovasi Pemda Kota Malang pada Program Desaku Menanti menjadi lokasi Wiata“KampungTopeng” tanpa mempersiapkanmental kondisi warga binaan - Pemerintah daerahbelum fokus pada penanganan masalahsosial terbukti dengan kebijakan penanganan Gepeng masih tertuang pada Perda yang terbitpada Tahun 2008 dan sampai saat ini belum ada peraturanterbaru, sehinggapenanganan Gepeng masih bersifat parsial; - Pembangunan yang belum merata dankesenjangan distribusi kesejahteraan di tingkat Kab/Kotamembuat masyarakat berusaha mencari penghidupan menjadi Gepeng di Kota-Kota besar yang berada di SUMUT. - Pergantian pimpinan/pengambilkebijakan; - Belum secara intensif memberikan bimbingan perubahan perilaku dan ketrampilan, satpol PP hanya melakukan Razia dan efek jera.

123 Tabel 4. Sumber Permasalahan Layanan Rehabilitasi Sosial Gepeng

MasalahProvinsi DKIProvinsi JabarProvinsi JatengProvinsi JatimProvinsi SumateraUtara Provinsi Sulawesi Selatan Kelembagaantermasuk kerangka hukumdan investasi - Perbedaaan pendekatandalam pelayanan rehsosbagi eks gepeng antara Panti dan LKS; - Adanya masalah dalampenegakan hukum Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang ketertiban Umum, dimana pasal 40 diaturmengenai larangan untuk mengemis, tetapi juga melarang orang memberiuang atau barang kepada pengemis, namun penegakan hukumnya masihsangat lemah. - Panti dan LKS, tapitidak ada koordinasi antar lembaga dalampenanganan gepeng. - Masih lemahnya penengakan hukum didaerah, misalnya, PerdaProvinsi Jawa TengahNomor 4 Tahun 2019tentang Penyelenggaraan ketenteraman, ketertibanumum, dan perlindungan masyarakat, dimana Satpol PP mempunyai kewenangan untuk melakukan penertiban terhadap geladangan danpengemis di jalanan melalui operasi yustisi. Namun demikian seringkali operasi yustisiini sulit ditegakkankarena masih adanya pengemis di jalanan khususnya pada waktu tertentu (hari jumat,Ramadhan, hari raya Idul Fitri) dimana banyak orang bersedekah di jalanan. - Tidak adanyaperaturan yang mengikat wargabinaan di dalamProgram Desaku Menanti untukteribat dalamkelanjutan program; - Beban bagi keberlanjutanprogram Desaku Menanti bagi Pemkot Malang cukup besar, sebaiknya dikelolaoleh Pemprov. - Secara instrumenhukum dankelembagaanProvinsi SumateraUtara memiliki keduanya. Pertama,terdapat PeraturanDaerah (Perda)Nomor 4 Tahun 2008 tentang Penanganan Gelandangan Dan Pengemis Di Kota Medan, meskipun Perda ini terkesanhanya mengaturmasalah gelandangandan pengemis untukKota Medan saja dari sisi judulnya adalahPerda;- Kedua, secara kelembagaankhususnya mengenairehabilitasi sosial sudah ada UnitPelaksana Teknis(UPT) Layanan SosialGepeng di Binjai danPinangsori, namun belum adakesinambungan/sinergi antara kebijakanPemerintah Provinsi - Hanya ada LKS, tidakada panti milikpemerintah; - Regulasi yang ada seperti perda sudah cukup lama dan perludiperbaharui disesuaikan dengankondisi saat ini. (Peraturan Daerahkota Makassar nomor2 tahun 2008 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis danpengamen di kota Makassar).

115

125 menyebabkan perilaku warga binaan serbainstan semakin“berkembang” tanpa memikirkankehidupan di masa depan.

Masalahinfrastruktur program(termasukkesiapan SDM) - Perbedaan pelayananrehabilitasi sosial bagi gepeng antara LKS dan Panti karena perbedaananggaran maupun infrasturktur yang ada(Panti/Balai, secara pemenuhan dasar untukmakan, pakaian dantempat tinggal sementara tersedia, sedangkan di LKS, pemenuhan dasartergantung dari pendapatan masing-masing PM); - Keterbatasan SDMProfesional (peksos, psikolog, tenaga medis); - Terbatasnya pelatihanmaupun bimbingan teknis bagi pendamping sosial baik yang di panti maupun LKS; - Untuk masalah usulan pembuatan NIK bagi Gepeng tidak serta merta diberikan karena terkait dengan konsekuensi lainnya seperti lonjakanjumlah penduduk di - Terbatasnya tenaga pelayanan professional, sehingga mengandalkan padaPendamping. - Terbatasnya pemahamanPendampingterhadap pelayananberbasis peksos. - Terbatasnya tenaga peksos, tidaksebanding dengan jumlah warga binaan. - Fasilitas panti milikpemerintah sudahtersedia, namun secara SDM masih terbatas dan terbatas pula jenis layanannya; - Belum ada lembagamasyakarat/LKS yang fokus pada penanganangepeng sebagai mitra kerja pemerintah. - Keterbatasan Pekerja Sosial danhanya mengandalkan pengurus harian terhadappelayanan di LKSInsan sejahtera;- Terbatasnya tenaga peksos(khususpelayanan) di UPTsehingga Peksos melakukan double Job,/rangkap tugas,danmengandalkan Pendampingsebagai pengasuhkelompok wargabinaan. - Program layanan monoton karenahanya fokus pada penyiapan PM untukmendapatkanmodal/uang. Belumada program layanan terkait rehabilitasi sosial secara khusus;- Program layanan vokasi di UPT/Panti tidak diversifikasi sesuai kebutuhan dunia kerja, masihmengutamakan vokasi yang bersifat agraris/pertaniandan peternakan; - Belum tersedia layanan kesehatandan konseling keluarga; - Belum tersedia SDMprofessional yangmenjadi bagian langsung darilayanan seperti Pekerja Sosial, Dokter, Psikolog); - SDM dalam - Keterbatasan tenaga professional seperti pekerja sosialataupun SDM yangmemiliki kompetensi untuk mendampingi warga binaan dalammengembalikankeberfungsiansosialnya; - Perbedaan pelayananrehabilitasi sosial antara LKS dan Panti gepeng perbedaan anggaran maupun infrastruktur yang ada. Kondisi ini menyebabkan keterbatasanpelayanan yg diberikan oleh LKS; - Sarana dan prasarana yang kurang memadaiuntuk suatu proses rehabilitasi sosial. Dimana diperlukansarana untuk dapatmemberikan Latihandan ketrampilanataupun bimbingan 123 Tabel 4. Sumber Permasalahan Layanan Rehabilitasi Sosial Gepeng MasalahProvinsi DKIProvinsi JabarProvinsi JatengProvinsi JatimProvinsi SumateraUtara Provinsi Sulawesi Selatan Kelembagaantermasuk kerangka hukumdan investasi - Perbedaaan pendekatandalam pelayanan rehsosbagi eks gepeng antara Panti dan LKS; - Adanya masalah dalampenegakan hukum Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang ketertiban Umum, dimana pasal 40 diaturmengenai larangan untuk mengemis, tetapi juga melarang orang memberiuang atau barang kepada pengemis, namun penegakan hukumnya masihsangat lemah. - Panti dan LKS, tapitidak ada koordinasi antar lembaga dalampenanganan gepeng. - Masih lemahnya penengakan hukum didaerah, misalnya, PerdaProvinsi Jawa TengahNomor 4 Tahun 2019tentang Penyelenggaraan ketenteraman, ketertibanumum, dan perlindungan masyarakat, dimana Satpol PP mempunyai kewenangan untuk melakukan penertiban terhadap geladangan danpengemis di jalanan melalui operasi yustisi. Namun demikian seringkali operasi yustisiini sulit ditegakkankarena masih adanya pengemis di jalanan khususnya pada waktu tertentu (hari jumat,Ramadhan, hari raya Idul Fitri) dimana banyak orang bersedekah di jalanan. - Tidak adanyaperaturan yang mengikat wargabinaan di dalamProgram Desaku Menanti untukteribat dalamkelanjutan program; - Beban bagi keberlanjutanprogram Desaku Menanti bagi Pemkot Malang cukup besar, sebaiknya dikelolaoleh Pemprov. - Secara instrumenhukum dankelembagaanProvinsi SumateraUtara memiliki keduanya. Pertama,terdapat PeraturanDaerah (Perda)Nomor 4 Tahun 2008 tentang Penanganan Gelandangan Dan Pengemis Di Kota Medan, meskipun Perda ini terkesanhanya mengaturmasalah gelandangandan pengemis untukKota Medan saja dari sisi judulnya adalahPerda;- Kedua, secara kelembagaankhususnya mengenairehabilitasi sosial sudah ada UnitPelaksana Teknis(UPT) Layanan SosialGepeng di Binjai danPinangsori, namun belum adakesinambungan/sinergi antara kebijakanPemerintah Provinsi - Hanya ada LKS, tidakada panti milikpemerintah; - Regulasi yang ada seperti perda sudah cukup lama dan perludiperbaharui disesuaikan dengankondisi saat ini. (Peraturan Daerahkota Makassar nomor2 tahun 2008 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis danpengamen di kota Makassar).

116

126 wilayah DKI Jakarta dantanggung jawabkehidupannya; - Dinas Sosial aktifmenjangkau Kerjasama dengan BLK atau perusahaan swasta untuk mengakomodir wargabinaannya, meskipun perludihitung presentasi penerimaannya, UPT/Panti masihbekerja merangkap sebagai pendamping. kepada warga binaan; - Pendamping tidakmendapatkan update pengetahuan danketerampilan dalam membantu warga binaan yang didampingi; - Masih ada LKS belumterakreditasi sebagailembaga pelayanansosial yang menangani gepeng.

Masalah modelintervensinya - Perbedaan modelintervensi antara panti danLKS Berbasis (Panti) ada durasi waktu, alur, bimbingan keterampilandan lainnya, namun untukbinjut (bimbingan lanjut) masih belum maksimal. LKSmenggunakan pendekatan berbasis komunitas, dimana tidak ada durasi waktu pelayanan, alurnya tergantungpendamping/pimpinan yayasan, namun lebih fokus pendampinganindividu/keluarga; - Belum ada case conferenceuntuk kasus setiap penerima manfaat, sehingga model intervensi per-individu sulit untuk dilakukan pendalamansampai tuntas (baik di panti maupun LKS). - Model intervensi di LKS. Mengandalkan pada pengalamanPendamping (mantan Gepeng); - Model intervensi di LKS bervariasi karena berbagai jenis PPKS yang dihadapi, sehingga mengalami kesulitan dengan berbagai kasus yang dihadapi. - Model intervensi di panti mengikuti situasidan kondisi penerima manfaat, kesiapanpetugas, sehingga masih berdasarkanpendekatan personal by issue;- Model intevensi belumintegrated dengan lembaga pemerintahlainnya, dalam hal ini harus lebih diperkuat koordinasi antara OPD (Organisasi pemerintah Daerah); - Programpelatihan/bimbingan keterampilan belumdibarengi dengan penguatan keluarga/pemberdayaan karena keterbatasan modal(tidak ada bantuanmodal usaha); - Keberlangsungan UPT Mengandalkan pada APBD; - Keberlangsungan LKS mengandalkan pada anggarandonasi terbatas anggaran dari PBDKota Malang. - Belum terdapatmodel intervensi yang terencana dari mulai awal(assessment) sampai dengan terminasi layanan;- Waktu layananditargetkan 2 tahun tanpa ada catatanperkembangan PM; - Target layanan bagi PM hanya berfokuspada materi/ memiliki tabunganyang cukup setelahmenerima layanansebagai modalsetelah keluar dari layanan. - Dalam proses rehabilitasi sosial, LKStidak mengikuti runtutan proses rehabilitasi dalampraktik pekerjaansosial. LKS lebihmelakukan sesuaikebutuhan yang ada.

123 Tabel 4. Sumber Permasalahan Layanan Rehabilitasi Sosial Gepeng

MasalahProvinsi DKIProvinsi JabarProvinsi JatengProvinsi JatimProvinsi SumateraUtara Provinsi Sulawesi Selatan Kelembagaantermasuk kerangka hukumdan investasi - Perbedaaan pendekatandalam pelayanan rehsosbagi eks gepeng antara Panti dan LKS; - Adanya masalah dalampenegakan hukum Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang ketertiban Umum, dimana pasal 40 diaturmengenai larangan untuk mengemis, tetapi juga melarang orang memberiuang atau barang kepada pengemis, namun penegakan hukumnya masihsangat lemah. - Panti dan LKS, tapitidak ada koordinasi antar lembaga dalampenanganan gepeng. - Masih lemahnya penengakan hukum didaerah, misalnya, PerdaProvinsi Jawa TengahNomor 4 Tahun 2019tentang Penyelenggaraan ketenteraman, ketertibanumum, dan perlindungan masyarakat, dimana Satpol PP mempunyai kewenangan untuk melakukan penertiban terhadap geladangan danpengemis di jalanan melalui operasi yustisi. Namun demikian seringkali operasi yustisiini sulit ditegakkankarena masih adanya pengemis di jalanan khususnya pada waktu tertentu (hari jumat,Ramadhan, hari raya Idul Fitri) dimana banyak orang bersedekah di jalanan. - Tidak adanyaperaturan yang mengikat wargabinaan di dalamProgram Desaku Menanti untukteribat dalamkelanjutan program; - Beban bagi keberlanjutanprogram Desaku Menanti bagi Pemkot Malang cukup besar, sebaiknya dikelolaoleh Pemprov. - Secara instrumenhukum dankelembagaanProvinsi SumateraUtara memiliki keduanya. Pertama,terdapat PeraturanDaerah (Perda)Nomor 4 Tahun 2008 tentang Penanganan Gelandangan Dan Pengemis Di Kota Medan, meskipun Perda ini terkesanhanya mengaturmasalah gelandangandan pengemis untukKota Medan saja dari sisi judulnya adalahPerda;- Kedua, secara kelembagaankhususnya mengenairehabilitasi sosial sudah ada UnitPelaksana Teknis(UPT) Layanan SosialGepeng di Binjai danPinangsori, namun belum adakesinambungan/sinergi antara kebijakanPemerintah Provinsi - Hanya ada LKS, tidakada panti milikpemerintah; - Regulasi yang ada seperti perda sudah cukup lama dan perludiperbaharui disesuaikan dengankondisi saat ini. (Peraturan Daerahkota Makassar nomor2 tahun 2008 tentang pembinaan anak jalanan, gelandangan, pengemis danpengamen di kota Makassar).

117

127 - Belum ada mekanisme terminasi dan binjut yang mendukung,sehingga ada beberapa PM yang tinggal lebih dari 2 tahun di Panti.

Masalahsustainability - Pelayanan di panti masih cenderung berdasarkan tahun anggaran, sehingga jika ada perubahananggaran atau aktivitas di tahun berikutnya bisamengalami perubahanpendekatan maupun layanannya; - Terminasi yang dilakukanbelum komprehensif karena pihak panti hanya melakukan pelatihan tanpa ada pemberdayaan usaha maupun bantuan modal usaha atau akses pekerjaan yang layak;- Ada kecenderungan program di LKS maupun Panti masih tergantungdana, atau instruksi dari pemerintah pusat, sehingga konsistensi program nya tidak bisa berjalan secaraterus menerus. Jika program dari pemerintahpusat selesai, maka tindaklanjut oleh pemerintah daerah kurang maksimal. - Kebingungan LKSdalam menindaklanjutieks penerima layananatau pasca pelayanan; - Keterbatasan anggaranmenyebabkan keberlangsungan pelayanan di LKS tidakmaksimal. - Pelayanan rehabilitasi sosial bagi gepeng masih sangat tergantung APBD, sehingga sustainabilityprogram belummaksimal; - Ada andil perusahaan sebagai bagian CSR, tapi pengelolaannyaharus dilakukan penguatan danpengembangan bagikelompok dampingan. - Tidak adanyamonitoring dan Pembinaan dari KEMSOS atas keberlangsungan Program Desa Ku Kumenanti; - Pemda Kota Malang belum siapmenindaklanjutiprogram karenaterbatasnya APBDKota Malang maupun Dinas Sosial KotaMalang. - Belum terdapattargetpengembangan/ perubahan mekanisme danprogram layanan dari manajemen maupundari Dinas Sosial sendiri dan ini berpengaruh terhadap proyeksi kebutuhan anggarankhususnya layananrehabilitasi sosial Gepeng; - Belum ada rencana kerjasama antara Dinas Sosial dan atau UPT/Panti dengan stakeholder lain seperti Dinas Tenaga Kerja/BLK, dunia usaha maupun lembaga filantropi dalam pengembanganprogram layanan dalam UPT/Panti serta kelanjutanlayanan setelahterminasi; - - Pelayanan yang diberikan oleh LKScenderung sama sepanjang waktu. Tidakada inovasi baru yang disesuaikan dengankondisi saat ini;- Koordinasi antar stakeholder belum optimal;- Keterbatasan anggaran untuk rehabilitasi sosial PPKS gepengberpengaruh besar pada proses pelayanan; - Fasilitas pelayananrehabilitasi sosial masihmengandalkan LKS. Belum ada panti yang disediakan untuk gepeng;- Masalah gepeng belummenjadi prioritas daerah.

123 Tabel 4. Sumber Permasalahan Layanan Rehabilitasi Sosial Gepeng

MasalahProvinsi DKIProvinsi JabarProvinsi JatengProvinsi JatimProvinsi SumateraUtara Provinsi Sulawesi Selatan

MasalahProvinsi DKIProvinsi JabarProvinsi JatengProvinsi JatimProvinsi SumateraUtara Provinsi Sulawesi Selatan

Dalam dokumen GELANDANGAN DAN PENGEMIS (Halaman 117-144)