berdasarkan hasil penilaian.
Tim menemukan dilema etis saat melakukan penelitian dengan anak-anak di lembaga pemasyarakatan. Diskusi dengan anak-anak mengungkapkan bahwa petugas juga melakukan kekerasan terhadap anak. Namun, sebagai bagian dari desain studi, petugas ini harus dilibatkan dalam studi selama FGD dan KII. Yang terpenting, prosedur rujukan tidak dapat dilaksanakan karena intervensi apa pun untuk anak-anak yang tinggal di Lapas terbatas pada layanan yang tersedia di sana: bahaya atau masalah kesehatan hanya bisa dilaporkan kepada staf. Mengikuti rujukan, staf memutuskan apakah mereka akan memanggil bantuan profesional eksternal atau tidak. Sebagai cara untuk mengakali keterbatasan ini, tim melaporkan setiap kekerasan yang dilaporkan terjadi pada anak-anak di dalam Lapas kepada mitra LSM setempat untuk ditindaklanjuti melalui program dan upaya advokasi mereka.
Waktu pengumpulan data yang singkat meminimalkan pembangunan hubungan baik dengan anak-anak. Interaksi dengan anak-anak berlangsung singkat dan sebagian besar terjadi dengan responden yang dipilih secara acak. Meskipun semua anak mengetahui kegiatan penelitian tersebut, peneliti tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjelaskan penelitian tersebut kepada semua anak. Meski tidak ada keluhan dari anak-anak yang tidak berpartisipasi, ada pertanyaan dan rasa ingin tahu. Peneliti menjelaskan keterbatasan dan sifat acak dari penelitian tersebut dan mengajak anak-anak lain untuk mengikuti permainan debriefing setelah survei.
Saat peneliti merasa bahwa aktivitas penelitian itu sendiri telah menyebabkan atau mem-perburuk dampak negatif.
Beri isyarat kepada partisipan bahwa aktivitas akan dihentikan dan, jika relevan, peneliti akan menghentikan perekaman (misalnya, “Saya rasa akan lebih baik kalau wawancaranya kita hentikan dulu sampai di sini. Saya matikan alat perekamnya, ya?”).
Masalah lain yang mungkin muncul selama pengumpulan data
A
Jika peneliti bukan terapis terlatih, mereka tidak boleh mendesak partisipan untuk memberikan informasi pribadi lebih lanjut yang mungkin menyebabkan kegalauan yang lebih parah. Peneliti juga tidak boleh berusaha memberikan nasihat. Sebaliknya, peneliti harus fokus untuk meminimalisasi efek negatif dari kegiatan pengumpulan data. Peneliti dalam situasi ini perlu mempertimbangkan pendekatan berikut: menga-firmasi perasaan partisipan (“saya mengerti bahwa ini mungkin sulit untuk dibicara-kan”), mendengarkan dengan penuh perhatian, meminta maaf karena membuat kesal atau menyinggung individu, terus menggunakan bahasa yang mengayomi, menghibur, dan mendukung, dan menanyakan partisipan apakah ada orang dekat yang mungkin bisa membuat mereka merasa nyaman.
Dalam beberapa situasi, anak mungkin memberi isyarat bahwa mereka siap untuk melanjutkan aktivitas, tetapi peneliti harus menggunakan penilaian terbaik mereka, dipandu oleh prinsip-prinsip penelitian yang tercakup di atas, untuk menentukan apakah sesi memang perlu/bisa dilanjutkan. Beberapa penelitian yang mengeksplorasi topik sensitif dengan orang dewasa menemukan bahwa bagi banyak partisipan, wawan-cara atau diskusi itu sendiri bisa menjadi pengalaman melegakan (katarsis) karena partisipan dapat berbagi hal-hal yang mungkin tidak dapat mereka bagikan dengan orang lain (Elmir dkk. 2011; Crowther dan Lloyd-Williams 2012). Namun, pengalaman melegakan (katarsis) ini tidak boleh diasumsikan dan dijadikan dasar untuk tidak mempersiapkan langkah-langkah pencegahan dan pengurangan risiko emosional dalam mewawancarai partisipan.
Gunakan bahasa yang mengayomi, menghibur, dan mendukung, dan temu-kan cara untuk meyakintemu-kan anak bahwa insiden tersebut butemu-kan kesalahan mereka dan bahwa mereka telah melakukan hal yang benar dengan membahas masalah tersebut (International Rescue Committee dan UNICEF 2012)
Hindari meminta anak mengungkapkan informasi detail tentang pelece-han, kecuali jika peneliti secara khusus dilatih untuk melakukannya untuk tujuan penelitian. Periset harus bertanya kepada anak tersebut apakah ada orang dewasa yang dipercaya anak untuk membicarakan tentang kejadian tersebut dan apakah anak terse-but telah melakukannya. Jika ini adalah pertama kalinya anak mengungkapkan insiden tersebut, peneliti sebaiknya mendorong mereka untuk berbicara dengan orang dewasa tepercaya tentang insiden tersebut, atau peneliti sebaiknya menawarkan untuk berbic-ara dengan orang dewasa terpercaya atas nama anak tersebut. Jika anak mempercayai peneliti untuk berbicara dengan orang dewasa tepercaya, ini mungkin saat yang tepat untuk mendiskusikan protokol rujukan dengan anak dan menunjukkan siapa yang akan diberi tahu, dalam jangka waktu berapa lama, dan tindak lanjut seperti apa yang mungkin akan terjadi.
Ketika seorang anak mengungkapkan masalah sensitif yang dapat menyebabkan tekanan, seperti pelecehan seksual atau kondisi kerja yang berbahaya.
B
Jika anak tidak ingin berbicara dengan orang dewasa lain tentang insiden tersebut, peneliti perlu berunding dengan koordinator lapangan/ketua tim untuk memutuskan apakah informasi tersebut harus diungkapkan dan kepada siapa saja. Jika keputusann-ya adalah mengungkapkan insiden tersebut, anak perlu diberi tahu sebelum pengung-kapannya, dan perhatian khusus perlu diberikan untuk melindungi anak dari potensi konsekuensi negatif dari pengungkapan tersebut. Panduan tentang bagaimana mem-buat keputusan ini perlu disediakan dalam rencana pencegahan dan mitigasi risiko protokol penelitian, idealnya merujuk pada tinjauan hukum dan kebijakan setempat tentang pelaporan wajib dan didasarkan pada konsultasi dengan informan kunci setempat. Namun, keputusan sebaiknya dibuat berdasarkan kasus per kasus sesuai dengan prinsip kepentingan terbaik anak, dan harus disesuaikan berdasarkan tingkat keparahan insiden, risiko reaksi balasan, risiko konsekuensi negatif lainnya (misalnya perpisahan dari keluarga), dan ketersediaan, serta akses ke, layanan yang sesuai.
Jika anak dan terutama remaja mengungkapkan perilaku terlarang atau mungkin terlibat dalam perilaku terlarang/kriminal atau berbahaya selama penelitian. Seorang remaja mun-gkin, misalnya, merokok di depan pewawancara atau mungkin menggambarkan telah melakukan pelanggaran seperti pencurian. Dalam banyak kasus, pengungkapan ini secara langsung berkaitan dengan topik penelitian, sedangkan dalam kasus lain tindakan atau pengungkapan tersebut mungkin bersifat insidental. Dalam kasus ini, peneliti perlu meng-ingat prinsip kerahasiaan dan mungkin sebaiknya terus menjaga kerahasiaan yang ketat kecuali jika perilaku yang diungkapkan anak menunjukkan risiko akut yang membahaya-kan partisipan atau orang lain.
C
Baik dalam kegiatan individu maupun kelompok, anak dapat memberikan informasi priba-di atau sensitif tentang mereka senpriba-diri atau orang lain selama atau bahkan setelah kegiatan.
Informasi tersebut dapat digunakan oleh partisipan lain atau orang lain dengan cara yang dapat membahayakan anak tersebut.
D
Dalam kasus seperti itu, peneliti perlu memastikan bahwa semua partisipan setuju bahwa semua informasi pribadi dan sensitif yang diperoleh selama proses penelitian bersifat rahasia dan mereka tidak akan menyebarkan informasi apa pun kepada siapa pun dalam keadaan apa pun. Poin khusus ini dapat ditulis atau dicatat sebagai bagian dari informed consent dan ditegaskan kembali sebagai pengingat selama proses pe- ngumpulan data.
Selama kegiatan kelompok, peneliti perlu mengingatkan partisipan bahwa mereka sebaiknya berbagi informasi pribadi yang sensitif hanya jika mereka merasa nyaman.
Peneliti perlu mendorong partisipan untuk tidak berbagi informasi sensitif tentang diri mereka sendiri, mengganggu partisipan lain yang berbagi informasi sensitif, dan mem-berikan pilihan bagi semua partisipan untuk tidak menjawab pertanyaan jika hal itu akan menuntut mereka membagikan informasi sensitif. Jika partisipan tetap ingin berbagi informasi pribadi tambahan tentang diri mereka sendiri, peneliti dapat men-yarankan agar mereka membuatnya anonim (lewat tulisan untuk peneliti atau dengan berbicara secara pirivat dengan peneliti).
Untuk wawancara individu, peneliti perlu dengan hati-hati merancang pengambilan sampel dengan mempertimbangkan kemungkinan kebocoran privasi jika orang lain misalnya mengetahui jawaban partisipan atas pertanyaan sensitif setelah penelitian berlangsung. Misalnya, sebuah studi tentang kekerasan dalam rumah tangga hanya merekrut satu partisipan dalam setiap rumah tangga untuk meminimalkan kemungk-inan bahwa orang lain dalam rumah tangga tersebut mengetahui bahwa partisipan telah ditanyai tentang tentang kekerasan dalam rumah tangga dan mungkin saja sudah bercerita tentang pengalaman mereka ke pihak luar (Kishor dan Johnson 2005).