PENYERBUAN AS ATAS IRAK 2003-2007
C. Masalah Saddam Hussein Dianggap Pemimpin Diktator
Apakah layak sekiranya Saddam Hussein dianggap sebagai pemimpin
diktator? Masalah ini menjadi dilematis jika kita tidak pandai menganalisis secara
tajam dan komprehensif. Layaknya pisau bermata dua yang siap menikam kita
jika kita menelaah sebuah kasus hanya berdasarkan bukti-bukti yang tidak jelas
arahnya, mengakibatkan kita terjerembab dalam kubangan subyektivitas. Maka
dari itu sebagai akademisi, sejatinya, ketika menemukan sebuah kasus jangan
hanya melihat dari satu sisi saja, tetapi kita tilik dari pelbagai sisi, dari yang pro
hingga kontra, simpati dan antipati, mendukung serta mengecam, dst.
Saddam Hussein kecil merupakan petarung antar gangnya yang banyak
ditakuti musuh-musuhnya. Kehidupan keras yang membuatnya jadi begini, dari
kecil ia hidup dalam kesengsaraan di mana ia tinggal bersama ayah tirinya yang
35
dikenal lumayan kejam dalam mengurus Saddam kecil. Hingga ketika itu, Saddam
sampai memohon kepada ayah tirinya agar menyekolahkannya. Sang ayah
bernama Hassan al-Ibrani yang juga merupakan pamannya dikenal sangat keras
memperlakukan Saddam. Hingga dipastikan kurang begitu bersahabat layaknya
orang lain dengan musuh meskipun dengan anak tirinya sendiri, suka
memaki-maki hingga menolak permintaan itu. Saddam lalu nekat meninggalkan rumah
pada malam hari menuju pamannya yang lain yang menyayanginnya.
Khairullah Tuflah adalah pamannya yang berasal dari daerah Tikrit. Di
mana itu adalah tempat tinggal dari paman Saddam yang menyayanginya. Dengan
tempat tinggal barunya itu jelas di sana Saddam mendapatkan apa yang ia
inginkan untuk melanjutkan sekolahnya.36 Sehingga sifat yang kurang
mengenakan yang dimiliki Saddam memang faktor lingkunganlah yang sangat
menentukan. Ketertindasan, kezaliaman, dan intimidasi menjadi suatu hal yang
biasa dialami Saddam. Mungkin berangkat dari itu semua Saddam mengalami apa
yang disebut sindrom, trauma, shock yang begitu mendalam hingga ia melampiaskan dendam kesumatnya itu kepada orang lain setelah ia berkuasa.
Salah seorang pengamat Timur Tengah yang begitu kenamaan dalam
bidangnya yaitu Bernard Lewis dalam bukunya The Crisis of Islam, mengemukakan bahwa selama ini Saddam merupakan pemimpin yang gemar
mempropagandakan serta menautkan antara masa lalu dengan masa sekarang,
antara Perang Qadisiya (637 M) dan peristiwa Karbala (680 M). Perang Qadisiya
dimenangkan oleh pasukan Muslim Arab. Muslim Iran melawan tentara Syah
36
June Cahyaningtyas, Saddam The Untold Story, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2007), h. 12.
Persia yang belum memeluk Islam dan menurut orang Islam masih menyembah
berhala-berhala maka ia layak disebut kafir.
Kemudian kedua belah pihak mengklaimnya sebagai kemenangan mereka,
bagi Saddam Hussein merupakan kemenangan pasukan Arab atas Persia.
Sementara bagi Ayatullah Khomeini, kemenangan Muslim atas orang-orang kafir.
Hingga sama-sama mengklaim maka perseteruanpun terjadi, mengakibatkan salah
satu penyebab terjadinya Perang Teluk I pada 4 September 1980 antara Irak dan
Iran merupakan propaganda dan skenario Saddam untuk menguasai minyak di
Iran.37 Banyak alasan Saddam ketika sedang memasuki masa-masa keemasannya,
ia pun ketika mengagresi Kuwait pada Perang Teluk II beralasan sama dengan
melihat masa klasik (lalu) bahwa Kuwait di zaman Mesopotamia hingga Dinasti
Abbasyiah merupakan bagian dari negara Irak yang berpusat di Baghdad. Padahal
banyak pengamat menyatakan itu hanya rekayasa politik agar kilang minyak yang
berada di Kuwait itu menjadi miliknya.
Apalagi ketika Saddam Hussein menjadi presiden Irak yang kuat ia pernah
melakukan hal-hal yang sangat menyakitkan yaitu detribalisasi kejam terhadap
suku Kurdi. Suku Kurdi yang berada di Irak Utara merasa tidak pernah aman,
lantaran ancaman dan teror pemerintah Saddam Hussein. Kendaraan tank dan
helikopter berarakan berdatangan. Seperti angin gunung bertiup dingin menyapu
wilayah Zakhu, begitulah yang terjadi kemudian. Kedatangan mesin perang itu
menebarkan hawa dingin ke seluruh Zakhu, sebuah kota yang dihuni 70.000 jiwa
suku Kurdi di perbatasan Suriah dan Turki. Dalam beberapa jam, ratusan wanita,
anak-anak, dan orang tua histeris sambil berlarian meninggalkan desa mereka
37
yang terletak di Zakhu Selatan. Mereka tidak menyangka bahwa angin dingin
yang berembus itu adalah gas mematikan yang disebarkan oleh tentara Irak.
Khalil Ibrahim (30 tahun) mengaku bahwa ia adalah orang Kurdi dan bekas
tentara Irak yang desersi, buru-buru berlari ke rumahnya. Ia mendapati istrinya
sedang menangis sambil memeluk ketujuh anaknya. Tanpa pikir panjang, Khalil
Ibrahim, anak, istri, dan kerabat lainnya segera meninggalkan kampungnya berlari
mencari selamat ke daerah pegunungan untuk menghindarkan diri dari serangan
tentara Irak. Khalil Ibrahim beserta keluarganya seperti para pengungsi lainnya,
terbawa arus mencari selamat.
Eksodus besar-besaran yang terjadi pada tahun 1991 itu merupakan eksodus
kedua orang-orang Kurdi dari Irak Utara. Pertama terjadi pada tahun 1988, hari
itu, Jum‟at 16 Maret 1988. Pesawat-pesawat tempur Irak membombardir Halabja. Sebuah kota yang berada di Provinsi Sulaymaniya, sekitar 260 kilometer timur
laut Baghdad. Letak Halabja dekat perbatasan Iran, sekitar 11 kilometer.38 Ini
memunculkan hipotesa kuat bahwa ambisi kekuasaan Saddam sebagai diktator
dibaluti dengan kekejaman.
Tetapi bagaimanapun harus kita ketahui bahwa banyak sumbangan Saddam
terhadap Irak di antaranya memiliki berkah minyak yang banyak dan program
NBC yang luar biasa. Semua itu ia lakukan demi kesejahteraan rakyatnya baik
yang tentara maupun rakyat sipil. Dalam koran Kompas diceritakan, untuk memenuhi kebutuhan dan sumber air di Irak, presiden Saddam Hussein
membangun sebuah dam cukup luas di wilayah Mosul, Irak Utara. Dam yang
disebut Sadd Saddam atau Dam Saddam itu kini menjadi sebuah panorama wisata
38
yang berada di Irak Utara. Hingga semuanya itu bisa bermanfaat bagi seluruh
rakyatnya.39
Dengan berbagai kecaman dan anggapan Saddam sebagai pemimpin
diktator di mata Barat dan AS khususnya tetapi ini semua itu tidak
menyurutkannya. Saddam bisa membuktikan bahwa anggapan dan dugaan
sementara yang dialamatkan kepadanya itu tidak sepenuhnya benar.
Sejatinya Saddam masih bisa memberikan sumbangsih bagi negaranya, dan
tidak sedikit pula banyak yang merindukan kepemimpinannya walau seolah-olah
ia kejam. Tetapi menurut para pendukungnya itu semua akibat adanya intervensi
asing yang gemar mempropagandakan kemelut yang terjadi di Irak. Dengan
begitu, pemimpin Irak yang saat itu berkuasa menjadi sasaran empuk bagi asing
untuk melakukan pengalihan isu yang berkembang. Hemat penulis masalah demi
masalah yang terjadi antara Irak dan Saddam ini merupakan peristiwa dilematis
yang sejatinya kebenaran dan keburukannya kita kembalikan kepada rakyat Irak.