Sanitasi dan Pengelolaan Air Limbah
PENGEMBANGAN KAWASAN
3.8 Master Plan Penanganan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN)
Secara garis besar Master Plan PTPIN ini terdiri dari tiga tahap, yaitu: Tahap A yang terdiri dari upaya-upa-ya penguatan pertah-anan laut yang sudah ada (eksisting); Tahap B terdiri dari pengem-bangan tanggul laut luar dan reklamasi la-han; dan Tahap C yang menggambarkan ren-cana pengembangan di bagian timur Teluk Jakarta.
Jenis Nelayan NelayanSatuts Tahun
2004 2005 2006 2006 2008
Nelayan Penetap Pemilik 3.475 3.140 2.826 2.441 1.060
Pekerja 12.953 11.877 10.690 9.586 9.358
Jumlah 16.428 15.017 13.516 12.027 10.418
Nelayan Pendatang Pemilik 2.241 2.028 1.827 1.662 1.708
Pekerja 7.623 6.875 6.191 5.545 8.089 Jumlah 9.873 8.903 8.018 7.207 9.797 Jumlah Pemilik 5.716 5.768 4.653 4.103 2.768 Pekerja 20.585 18.725 16.881 15.131 17.447 Jumlah Nelayan 26.301 23.920 21.534 19.234 20.215 Tabel 3.3 Jumlah Nelayan di Jakarta Utara Tahun 2004‐2008
Memperkuat dinding/tanggul laut saat ini Menghentikan pengambilan air tanah Mempercepat upaya air bersih dan sanitasi mulai 2014
Membangun tanggul laut luar dan reklamasi lahan
Koneksi timur -barat Mulai 2014- selesai 2022
Setelah 2022: Perluasan Pelabuhan (termasuk bandara) Menutup danau bagian timur
Gambar 3.31 Tiga Tahapan implemetasi
PTPIN
Program ini direncanakan akan memberikan keamanan banjir terutama untuk wilayah Ja-karta Utara baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Komponen utama sistem air yang dirancang untuk wilayah pesisir ini terdiri atas sistem polder di utara Jakarta, sun-gai-sungai dan kanal-kanal yang mengalir ke waduk retensi, dan sistem pengelolaan air di wilayah Garuda Megah.
Solusi lepas-pantai (offshore) dirasakan sebagai solusi yang paling tepat mengingat kondisi saat ini. Di samping itu, solusi ini memberikan banyak kemungkinan untuk menciptakan nilai tambah untuk kota ini dan pembiayaan melalui reklamasi lahan. Model pelaksanaan ini dibuat bertahap: penguatan garis pantai saat ini akan sudah dimulai pada tahun 2014 yaitu Tahap A yang merupakan solusi jangka pendek. Pengembangan tanggul laut dibagi dalam dua tahap yaitu Tahap B dan C, yang merupakan rencana jangka panjang.
Tahap A sebenarnya ditujukan untuk menjawab permasalahan nyata yang dihadapi saat ini sehingga kegiatan pada tahap ini difokuskan pada penanggulangan banjir pesisir serta peningkatan kualitas lingkungan seperti pengendalian pencemaran air, sanitasi, penanga-nan pemukiman kumuh.
Gambar 3.32 Tiga Tahapan Imple-mentasi PTPIN
Tahap A
Tahap A fokus kepada peningkatan tanggul pesisir yang telah ada dengan Rencana kerja dari tahun 2014 –2018. Meningkatkan perlindungan pantai yang ada saat ini merupakan upaya paling prioritas. Seperangkat upaya paling prioritas ini mencakup:
• Memperlambat penurunan muka tanah (dengan menyediakan alternatif selain penyedotan air tanah). • Memperkuat dan mempertinggi tanggul laut dan sungai.
• Meningkatkan sistem drainase perkotaan. • Mengembangkan sistem polder dan pompa.
• Mencegah air sungai di hulu memasuki daerah rendah Jakarta. • Mempercepat sanitasi air ke dalam Tahap A.
Bagian tanggul laut di Pluit and Ancol sedang mengalami ancaman yang serius, dengan demikian pelaksanaannya sudah dimulai pada 2014. Ketinggian perancangan untuk bagian tanggul ini telah memperhitungkan laju
penu-runan muka tanah saat ini yang diharapkan akan dapat memberikan keamanan hingga tahun 2022.
Jika pelaksanaan upaya-upaya jangka panjang ditunda, maka profil tanggul tetap dapat memberikan dasar yang memadai untuk lebih mempertinggi tanggul di masa mendatang serta memberikan keamanan tambahan un-tuk 5 – 10 tahun lagi.
Untuk dapat melaksanakan pembangunan tanggul Ta-hap A di wilayah pesisir yang berpenduduk padat−den-gan bangunan yang bersisian denpadat−den-gan tanggul laut dan juga yang berada di atas tanggul laut− membutuhkan perencanaan perkotaan yang rinci, penyelesaian sosio-ekonomi yang hati-hati serta pelibatan masyarakat. Beberapa tipologi tanggul telah dikembangkan untuk memenuhi persyaratan setempat di antaranya: tanggul dasar, tanggul reduksi, tanggul hijau, tanggul daratan, dan tanggul pantai. Tanggul dengan reklamasi lahan juga telah dikembangkan. Dengan demikian tersedia banyak pilihan penyelesaian.
Pengelolaan polder. Secara keseluruhan tujuh polder akan dibangun dalam Tahap A. Untuk menciptakan satuan yang dapat dikelola secara hidrolik, sejumlah tanggul keliling akan dibangun. Untuk mempertahankan lahan yang berada di dalam polder ini tetap kering, pompa waduk dan pompa drainase dibutuhkan untuk memompa keluar air hujan dan air yang mengalir dari hulu. Sebagian besar polder akan mengalirkan airnya ke dalam danau retensi di belakang dalam Garuda Megah. Pompa-pompa Sunter bawah dan Ancol akan disesuaikan sehingga pompa-pompa tersebut dapat mengalirkan airnya secara langsung ke laut di Tanjung Priok.
Tahap A kerap dikaitkan dengan reklamasi 17 pulau di pesisir utara Jakarta, padahal proses reklamasi tersebut sudah dimulai sejak tahun 1995 dengan diterbitkannya Keputusan Presiden
No. 52 tahun 1995 dan Perda No. 8 Tahun 1995 Tentang Reklamasi Pantura. Pembahasan mengenai reklamasi tidak terdapat dalam Master
Plan PTPIN Tahap A. Namun dalam implementasi, pemegang ijin reklamasi perlu berkoordinasi lebih lanjut agar upaya mereka terintegrasi dengan proses implementasi PTPIN Tahap A dan persiapan Tahap B . Reklamasi pada Tahap B adalah reklamasi pada Garuda Megah
New pumping stations DPU New pumping stations NCICD Pumping stations out of service Strengthening current sea wall Strengthening current river dikes Resettlement
Gambar 3.33 Rencana Tahap A
Gambar 3.34 Master Plan Tahap A
Tahap B
Dari sisi elemen pertahanan terhadap banjir, Tahap B difokuskan pada upaya membangun tanggul laut luar barat dan waduk besar yang diperkirakan akan dibangun dalam kurun waktu 2018 sampai 2025.
Diperkirakan bahwa penurunan muka tanah tidak akan melambat dalam beberapa tahun mendatang karena akan butuh waktu untuk mengembangkan dan melaksanakan alterna-tif lain dari pemanfaatan air tanah. Muka air laut akan naik, kanal-kanal dan sungai-sungai berangsur-angsur akan berhenti mengalirkan airnya secara gravitasi ke laut. Pompa-pompa drainase besar dibutuhkan, khususnya di bagian tengah Jakarta dimana laju penurunan muka tanahnya tinggi. Stasiun-stasiun pemompaan membutuhkan danau-danau untuk pe-nyimpanan sementara debit sungai yang mencapai puncaknya. Keperluan adanya danau-danau (waduk) penyimpanan yang berukuran besar merupakan salah satu alasan utama untuk menciptakan waduk lepas-pantai. Hal ini dirasakan lebih baik daripada mencari lokasi bagi danau-danau penyimpanan di dalam kota Jakarta.
Lokasi tanggul laut luar (Tahap B) ditentukan terutama oleh kapasitas penyimpanan waduk raksasa yang dibutuhkan yakni berada di antara garis pantai saat ini dan tanggul laut. Ini akan menyediakan tempat yang cukup untuk perluasan reklamasi lahan pada masa men-datang dan juga untuk penyimpan pasokan air yang besar.
Setelah seluruh rencana dalam program PTPIN ini selesai, persiapan untuk membangun Ta-hap B—tanggul laut bagian barat— diperkirakan harus dimulai. Persiapan akan memakan waktu 4 sampai 6 tahun, yang artinya pekerjaan konstruksi dapat dimulai antara tahun 2018 dan 2020. Bila mengikuti jadwal ini maka tanggul laut luar akan selesai tahun 2026.
Selain konstruksi tanggul laut luar, ada banyak aktivitas yang harus dilakukan untuk mendu-kung pembangunan, di antaranya pemipaan untuk pasokan air dan manajemen air.
Gambar 3.35 Penampang Melintang