• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Sipil dalam Sistem Pemerintahan

Dalam dokumen 20101104214711 Otonomi Daerah Masalah Pe (Halaman 89-95)

BAB III. OTONOMI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

F. Masyarakat Sipil dalam Sistem Pemerintahan

Masyarakat sipil (civil society) merupakan isu yang mengemuka pada saat lembaga negara tidak berdaya mengelola aset dan kepentingan publik dan banyak melakukan praktek manipulasi. Konsep masyarakat sipil satu diantaranya didasarkan pada analisis Gramsci tentang kepentingan konfliktual dalam keberbedaan antara negara dan masyarakat sipil. Masyarakat sipil berbeda dengan negara atau masyarakat politik, kewajiban negara ialah menjamin warganya dalam mendapatkan hak-haknya. Sedangkan masyarakat sipil menjalankan fungsi kontrol atas peran negara tersebut.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara, secara ideal harus dikontrol oleh masyarakat sipil. Masyarakat ini adalah pemberi mandat kepada mereka yang duduk dalam lembaga negara untuk menyelenggarakan negara yang bertujuan membangun masyarakat yang berkeadilan dan menjamin masyarakat mendapatkan hak-haknya. Pemerintah dalam sistem negara mod-ern secara ideal berfungsi sebagai penyeimbang berbagai kekuatan yang ada dalam negara dan mengatur rakyatnya agar masing-masing dapat menjalankan kehidupannya dengan layak sebagai warga negara, atau dengan kata lain menjalankan peran sebagai “pelayan rakyat” karena rakyatlah pemberi mandat dan yang membayar untuk belanja aparat melalui pembayaran pajak.

Kenyataan yang terjadi seringkali sebaliknya. Pemerintah kerap melakukan manipulasi sistem sehingga orientasi pembangunan bukan lagi berpijak pada asas keadilan dan pemerataan. Orientasi pemerintahan lebih diarahkan pada kepentingan elit yang berkuasa, tidak lebih. Karenanya, upaya yang harus ditempuh adalah mem-perkuat peran masyarakat sipil dan revitalisasi sistem pemerintahan agar lebih mengikutsertakan rakyat dalam berbagai proses pengambilankeputusan.

Secara umum, pola pendekatan dari atas-ke bawah merupakan tradisi yang dijalankan pemerintahan Orde Baru dalam rangka mendorong gerak roda pembangunan. Di satu sisi pola pendekatan dari atas ke bawah memberikan keuntungan bagi pengambil kebijakan, memudahkan bagi pemerintah mengoordinasi, mengontrol, dan mengevaluasi tingkat keberhasilan pembangunan yang diterapkan. Sisi negatifnya adalah pola pendekatan pem-bangunan dari atas ke bawah menghendaki keseragaman (homogenitas) dan tidak menempatkan kemajemukan (pluralitas) merupakan fakta yang mesti diperhatikan, serta menempatkan masyarakat menjadi obyek daripada subyek. Akibatnya masyarakat menjadi pasif daripada partisipan aktif. Selajutnya, pola tersebut juga berpengaruh terhadap pendekatan pembangunan pemberdayaan masyarakat.

Pola pendekatan atas ke bawah menyebabkan ketidak-sinambungan antara keinginan pemerintah di sisi atas dengan aspirasi masyarakat di sisi bawah. Pemerintah memiliki otoritas dan sumber daya untuk memaksa dan sebaliknya masyarakat tidak memiliki sarana dan fasilitas seperti yang dimiliki pemerintah untuk menyampaikan dan memaksakan keinginan terhadap pemerintah. Akibat hubungan yang tidak imbang ini, masyarakat menjadi peserta pasif dari pembangunan.

Lembaga legislatif yang berfungsi mengontrol pemerintah, mempunyai peran strategis sebagai mediator dan katalisator partisipasi masyarakat terhadap pemerintah. Legislatif menjadi penyambung suara rakyat dari bawah untuk disampaikan kepada pemerintah dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan pembangunan. Efektifitas lembaga legislatif menyuarakan aspirasi kepada pemerintah seringkali terhambat dikarenakan kooptasi baik yang bersumber dari lembaga eksekutif maupun partai politik. Mekanisme pemilihan anggota legislatif yang harus melalui partai politik, menjadi kendala tersendiri bagi anggota legislatif untuk secara aktif menangkap dan menyuarakan aspirasi masyarakat. Anggota legislatif dibatasi oleh kebijakan partai politik. Hal ini tentunya menyebabkan dilema bagi anggota legislatif yang secara langsung memperjuangkan aspirasi rakyat.

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah, tetapi pada kenyataannya Indonesia merupakan satu di antara negara berpenduduk miskin, lebih dari 30% dari total penduduk. Kemiskinan membuat masyarakat teralienasi dari proses politik, sehingga kelompok masyarakat ini sangat rentan terhadap hegemoni kekuasaan. Menurut Gramsci, hegemoni merupakan dominasi baru dimana paksaan bukan lagi sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial yang memadai; karena dengan hegemoni memungkinkan kelas buruh atau kelas yang tersubordinat lainnya dibuat memihak dan tunduk kepada sistem yang ada (Fakih, 1996). Bagi Gramsci, hegemoni merupakan bentuk kontrol dan kekuasaan yang sangat penting. Dengan demikian kekuasaan hegemonik lebih merupakan kekuasaan melalui “persetujuan”, yang

mencakup beberapa jenis penerimaan intelektual atau emosional atas tatanan sosial politik yang ada. Dalam hegemoni tidak ada lagi paksaan kekuasaan yang dalam hal ini dilakukan oleh negara yang pada umumnya sangat memihak kapitalis. Sebenarnya, konsep hegemoni adalah bentuk kekuasaan dominan yang digunakan untuk membentuk kesadaran kelompok subordinat. Bagaimana hegemoni bekerja dan bagaimana ideologi hegemonik dimasukkan ke dalam kesadaran masyarakat, merupakan hal yang sangat rumit. Hanya ada kelompok masyarakat yang dapat memahami dan dapat menolak hegemoni, yaitu kelompok masyarakat yang dinamakan masyarakat sipil (civil society).

Gerakan sosial yang digunakan oleh masyarakat sipil menurut Gramsci dikategorikan sebagai gerakan masyarakat yang terorganisasi. Masyarakat sipil berbeda dengan negara atau masyarakat politik. Masyarakat sipil adalah lingkup privat dari individu. Masyarakat sipil terdiri dari berbagai bentuk organisasi voluntir dan merupakan dunia politik utama, di mana semuanya berada dalam aktivitas ideologis dan intelektual yang dinamis maupun konstruksi hegemoni. Selain itu, masyarakat sipil bagi Gramsci adalah konteks di mana seseorang menjadi sadar, dan di mana seseorang pertama kali ikut serta dalam aksi politik. Dengan demikian, masyarakat sipil adalah suatu agregasi atau percampuran kepentingan, di mana kepentingan sempit ditransformasikan menjadi pandangan yang lebih universal sebagai bentuk ideologi dan dipakai atau diubah, serta di mana aliansi dibentuk. Dalam konteks ini, bagi Gramsci masyarakat sipil adalah suatu dunia di mana rakyat membuat perubahan dan menciptakan sejarah.

Dengan konsep masyarakat sipil Gramsci, maka termasuk didalamnya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Organisasi Non-Pemerintah, kelompok-kelompok profesi dan pers. Kelompok-kelompok ini menyuarakan kepentingan rakyat yang termanipulasi oleh sistem. Metode gerakan yang dilakukan bermacam-macam, LSM misalnya melakukan advokasi dan katalisasi isu dengan memberikan pendidikan alternatif bagi masyarakat yang didampingi seperti masyarakat miskin kota, petani dan berbagai

kelompok masyarakat yang terpinggirkan dan termarjinalisasi dalam pembangunan.

Pers melakukan tranformasi sosial melalui penyebaran informasi kepada masyarakat melalui media massa. Kekuatan pers yang disebut sebagai fourth estate atau kekuatan keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif melakukan tugasnya untuk membongkar berbagai kenyataan agar tidak dimanipulasi oleh sistem. Kelompok profesional juga menyuarakan kepentingan rakyat dan bukan tunduk pada kepentingan hegemonik tertentu, tetapi mengembangkan konsepsi dunia dan sistem hubungan manusia, ekonomi dan spiritual yang kompleks yang membentuk kehidupan sosial global yang lebih beradab.

Gramsci menempatkan upaya memunculkan kesadaran kritis sebagai unsur sentral dari konsep pendidikan dan strategi untuk mencapai transformasi sosial dan perubahan. Dengan kata lain, upaya memunculkan kesadaran dianggap merupakan bagian penting dari seluruh proses trasformasi sosial. Maka, penciptaan gerakan kontra-hegemoni merupakan prakondisi bagi transformasi sosial. Dan kelompok yang paling mungkin karena terlepas dari kooptasi hegemoni dalam melakukan perlawanan terhadap sistem adalah masyarakat sipil. Masyarakat sipil merupakan komponen penting bagi kontrol terhadap kekuasaan agar pemerintahan dapat menjalankan fungsi dan tugasnya, yakni mensejahterakan rakyat.

G. Sistem Partisipatif dan Penguatan Peran Masyarakat Sipil

Partisipasi merupakan proses anggota masyarakat sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka (Sumarto, 2004).

Sistem partisipatif merupakan arah baru pembangunan yang berisi strategi memadukan pertumbuhan dengan pemerataan. Arah baru pembangunan diwujudkan dalam bentuk (1) upaya pemihakan diwujudkan dalam pemihakan kepada yang lemah dan pem-berdayaan masyarakat; (2) pemantapan otonomi dan desentralisasi;

dan (3) modernisasi melalui penajaman arah perubahan struktur sosial ekonomi masyarakat.

Penguatan kelembagaan tersebut dilakukan melalui pem-bangunan yang partisipatif untuk mengembangkan kapasitas masyarakat dan kemampuan aparat dalam menjalankan fungsi lembaga pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat (good governance). Prinsip pembangunan yang partisipatif yang kini diterapkan sebagai manajemen pembangunan nasional pada tingkat implementatif telah mengembangkan suatu model pembangunan yang berbasis pada rakyat. Mekanisme ini mencakup perencanaan pembangunan, yaitu melalui mekanisme perencanaan alir bawah (bottom-up) yang kemudian dimanifestasikan dalam kebijakan di tingkat pemerintah daerah (Sumodiningrat, 1999).

Kebijakan pembangunan partisipatif ini bertujuan untuk me-nentukan arah dan bentuk pembangunan yang benar-benar menyentuh kepentingan dan kebutuhan rakyat. Untuk itu dibutuhkan kapasitas masyarakat yang memadai agar dapat memahami kepentingannya. Pembangunan partisipatif ini dapat terealisasi apabila baik pemerintah maupun masyarakat dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang berdimensi kerakyatan.

Untuk merealisasikan partisipasi masyarakat dalam pembangunan diperlukan pemberdayaan masyarakat. Kebijakan ini penting untuk diambil mengingat selama lebih dari 30 tahun, masyarakat tidak terlibat secara aktif dalam pembangunan. Masyarakat telah terbiasa dengan peran pemerintah yang dominan dalam pembangunan sehingga masyarakat pada saat ini mengalami kegagapan apabila harus menentukan apa yang menjadi kepentingan mereka.

Kebijakan pemberdayaan dapat dipilah dalam tiga kelompok. Pertama, kebijakan yang secara tidak langsung mengarah pada sasaran, tetapi memberikan dasar tercapainya suasana yang mendukung kegiatan sosial ekonomi rakyat. Kedua, kebijakan yang secara langsung mengarah pada peningkatan kegiatan ekonomi produktif kelompok sasaran tertentu. Ketiga, kebijakan khusus yang menjangkau masyarakat miskin melalui upaya khusus.

menjawab berbagai kompleksitas dan tuntutan masyarakat. Pemberdayaan bertujuan untuk memaksimalkan, menjadikan sesuatu yang masih bersifat potensial menjadi nyata. Pemberdayaan terhadap masyarakat dapat dicapai dengan mengupayakan masyarakat memiliki kemampuan untuk memaksimalkan potensi politik, sosial, ekonomi dan kultural yang ada pada mereka menjadi riil ekonomi secara mandiri, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup secara ekonomi dan sosial.

Program pertumbuhan ekonomi yang dijalankan di masa Orde Bru lebih dari 30 tahun disadari tidak dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Untuk itu diperlukan strategi yang memadukan antara pertumbuhan dan pemerataan, yang didasarkan pada tiga arah: a) pemihakan dan pemberdayaan masyarakat, b) pemantapan ekonomi dan pendelegasian wewenang dan pengelolaan pembangunan di daerah dan peranserta masyarakat, c) modernisasi melalui penajaman dan pemantapan arah perubahan struktur sosial ekonomi dan budaya yang bersumber pada peran lokal.

Pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis pada keikutsertaan atau keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam pembangunan masa depan yang bersumber pada pemberdayaan masyarakat. Untuk itulah peningkatan kapasitas masyarakat berarti mengupayakan penguatan peran masyarakat sipil. Penguatan peran masyarakat sipil merupakan keharusan karena pembangunan manusia dalam pembangunan di Indonesia terutama sejak rezim Orde Baru tidak pernah menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Padahal, pembangunan merupakan upaya memanifestasikan kemampuan manusia dalam menentukan yang terbaik bagi dirinya. Pembangunan lebih menyangkut pengembangan daya kreasi dan kepercayaan diri, serta kesungguhan partisipasi masyarakat.

Dalam dokumen 20101104214711 Otonomi Daerah Masalah Pe (Halaman 89-95)