A. Profil Suku Using
3. Masyarakat Using dan Kekayaan Khazanah Budaya
Masyarakat Using dalam status sosial tidak lagi bermasalah, hal ini disebabkan masyarakat Using kini berkembang menjadi masyarakat yang terbuka. Peristiwa demi peristiwa konflik menjadikan masyarakat Using menjadi dewasa dalam menyikapi setiap pengaruh budaya di dalam maupun dari luar budayanya.
Dalam situasi yang demikian ini, para kiai dengan gerakan sosial keagamaan Islam penggerak sosial budaya Using menuju
keseimbangan identitasnya di tengah pengaruh budaya global sekarang ini.
Keberadaan suku Using sebagai kearifan lokal yang unik merupakan penduduk asli Banyuwangi, munculnya suku Using ini diketahui akibat runtuhnya kerajaan Majapahit. Predikat Using dilekatkan kepada masyarakat Blambangan karena kecenderungan mereka menarik diri dari pergaulan dengan masyarakat pendatang pasca perang Puputan Bayu. Sesekali memang interaksi terjadi antara masyarakat asli dan pendatang dalam interaksi tersebut, masyarakat asli acapkali menggunakan istilah “Sing” atau “Hing”
yang berarti tidak. Dari sanalah penamaan Wong Using berasal.
Sementara masyarakat asli menyebut kaum pendatang dengan istilah “Wong Kiye”. Selain perkataan “tidak” yang mencirikan penolakan interaksi dengan pendatang, masyarakat Using juga menggunakan peristilahan yang kasar seperti “Asu, Celeng, Luwak, Bajul atau Bojok.88
Budaya Using yang muncul di permukaan dan menjadi identitas kulturalnya merupakan hasil dari sintesis multi budaya.
Dengan cerdas masyarakat Using mengolah budaya-budaya dari suku dan agama yang singgah atau yang hadir di bumi Blambangan yang sekarang menjadi kabupaten Banyuwangi. Bentuk budaya yang baru inilah kemudian menjadi ciri khas budaya masyarakat suku Using, lewat budaya tersebut menjadi akan kekayaan khazanah budaya Nusantara.
Pengolahan budaya tersebut terjadi pada budaya-budaya yang bersumber dari agama Islam. Interaksi Using dengan Islam dalam rentang waktu yang lama dan intens telah meniscayakan terjadinya proses saling mempengaruhi. Beberapa ragam budaya Using muncul sebagai bentuk-bentuk dipengaruhi oleh agama Islam, ragam bentuk budaya tersebut tidak hanya dalam unsur kesenian saja, namun juga terlihat dalam unsur budaya yang lain seperti bahasa, ritual dan tradisi-tradisi yang lagi berkembang pesat di Banyuwangi yakni tradisi endog-endogan. Adapun tradisi masyarakat Using yang
88 Murdiyasti, Anastasia Dkk. Eksekutiv Summary “Kebijakan Akselerasi Pengembangan Kawasan Wisata Using”, (Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember, 2013), h. 5.
dianggap dekat dengan dunia mistis antara lain, selametan setiap hari senin dan kamis di makam Buyut Cili yang dilakukan oleh orang yang akan mempunyai hajat dan wajib membawa makanan pecel itik yang kemudian dimakan bersama warga masyarakat lain sekitar makam.89 Selain itu juga ada banyak khazanah kebudayaan dalam tradisi yang masih dijalankan di Banyuwangi, adapun tradisinya antara lain:
Gambar 3. 1: Barong Ider Bumi.90
Pertama Barong Ider Bumi adalah sebuah ritual Barong yang diarak mengelilingi desa dengan tujuan menghilangkan pagebluk dan awal mulanya Barong tersebut pembuatannya disuruh arwah Buyut Cili yang merasuki tubuh warga desa.
89 Evan Permana, “Proposal Film Dokumentar Seri Kebudayaan Using dalam Program Budaya Tribute To East Java Heritage”, (Surabaya: Institute Teknologi Sepuluh November, 2009), h. 11.
90 Diakses pada tanggal 15 Desember 2018 dari
http://Travel. Kompas.com/Read/2017/06/29/090400327/Barong.ider bumi, ritual, bersih kampung, di desa Kerimen Banyuwangi.
Gambar 3.2:
Tari Seblang 91
Kedua Tari Seblang adalah upacara bentuk tarian dengan iringan gamelan dan paduan suara karena mengandung unsur kesenian dan penari Seblang tidak sadar diri atau kemasukan unsur kekuatan gaib.
91 Diakses pada tanggal 15 Desember 2018 dari
http://travel. Kompas.com/Read/2017/09/12/170432527/Seblang. Rityual-TARI-Mistis-Berusia-Ratusan-Tahun-di-Banyuwangi.
Gambar 3.3:
Iring-iringan Visualisasi Dewi Sri (Dewi Padi)
Ketiga Upacara kebo-keboan yaitu ritual yang diselenggarakan dalam kegiatan bersih desa dengan tujuan dalam menolak balak dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan keselamatan dan kemakmuran desa.92 Adapun urutan pelaksanaan adat kebo-keboan sebagai berikut:
a. Ritual kebo-keboan ini diawali dengan visualisasi Dewi Sri yang ditandu oleh beberapa pengawal dengan pakaian khas, laki-laki bertubuh kekar dengan dandan dan bertingkah aneh seperti kerbau serta ada petani yang membawa hasil panennya berjalan kea rah emopat penjuru desa. Masing-masing ditempatkan sesaji simbol tolak balak. Dibelakang gerombolan kerbau, sebuah kereta terbuat dari berbagai hasil bumi juga ikut berjalan pelan dan ditumpangi Dewi Sri dengan dikelilingi sosok perempuan cantik serta empat perempuan tua dengan membawa peralatan sawah.
92 Ayu Sutarto dan Setya Yuana Sudika, “Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur,”
(Jember: Biro Mental Spiritual Pemerintahan Jawa Timur bekerjasama dengan Kopyawisda Jatim-Jember, 2008), h. 141.
Gambar 3.4:
Kebo-keboan yang kesurupan tapi bisa tunduk pada Dewi Sri.
b. Pada akhir perjalanan di pusat kampung, Dewi Sri membagikan benih pagi sebagai simbol keberuntungan dan berkah bagi para petani. Ketika kebo-keboan kesurupan, mereka akan tunduk dan takluk pada sosok Dewi Sri.
c. Kebo – keboan diakhiri dengan prosesi membajak sawah, sepasang manusia kerbau menarik bajak di tengah sangah berlumpur. Lalu benih biji pagi disebar. Warga langsung berebut biji yang baru disebar karena diyakini memberikan kesuburan.
Gambar 3.5:
Warga berebut benih yang sudah ditaburkan
d. Berebut benih ini sangat unik, karena saat penonton mengambil bibit padi tersebut, para kerbau mengamuk dan terus menyeruduk sampai para warga tadi bermandikan lumpur.
Upacara ini digelar setahun sekali pada bulan Muharam atau Syuro (penanggalan Jawa). Bulan ini diyakini memiliki kekuatan magis. Konon, ritual ini muncul sejak abad ke 18. Di Banyuwangi, kebo-keboan dilestarikan di dua tempat yakni di desa Alasmalang, kecamatan Singojuruh dan di desa Alian, Kecamatan Rogojampi.
Adapun maksud upacara kebo-keboan ini adalah bermaksud untuk meminta kesuburan tanah, panen melimpah dan terhindar dari malapetaka baik yang akan menimpa tanaman maupun manusia yang mengerjakannya.93
93 Diakses pada 15 Desember 2018 dari http://www.majalah/gempur.com/2012/11/ritual-osing-kebo-keboan-di Banyuwangi.
Gambar 3.6:
Tari Gandrung
Keempat Tari Gandrung adalah tradisi kesenian budaya tradisional Banyuwangi yang diturunkan oleh nenek moyang dan masih dilestarikan hingga saat ini. Kata Gandrung sendiri diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahtraan bagi masyarakat bumi Blambangan. Tari Gandrung dipertunjukkan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.94
Beberapa khazanah budaya khas Banyuwangi yang sudah di paparkan di atas, merupakan bentuk kekayaan budaya Nusantara yang dimiliki dan telah dilestarikan dari tahun ke tahun, tanpa mengurangi nilai-nilai kultural pesan yang disampaikan dalam proses pelaksaan.
94 Diakses pada 15 Desember 2018 dari
http://travel. Kompas.com/Read/2018/06/30/173358227/JULI-2018-Tari gandrung di-Banyuwangi.