INDIGO INTERDIMENSIONAL
MATA INDIGO – GADIS DI KAMPUS BARU PART 3
Tak bisa hatiku menafikan cinta Karena cinta tersirat bukan tersurat Meski bibirku terus berkata tidak Matamu terus pancarkan sinarnya
Irama lagu dari Zigas yang upbeat dengan nuansa rock terdengar dari sound system. Hari itu Aku sukses menculik Yowan ke Mr. B*rg*r di Jl. Jend. Sudirman Y*gya. Letaknya di dekat Gr*med*a Pusat di daerah G*ndok*suman. Supaya lebih dapat suasana nya Aku ajak dia duduk di lantai 2 (di atas H*ll*nd Bakery).
Pemandangan kelap-kelip cahaya malam kota Y*gya secara maksimal dapat di nikmati di sana. Membuat yang duduk jadi betah berlama-lama. Apalagi suasana di lantai 2 waktu itu tidak terlalu ramai. Kesan nya lebih privasi dan intim. Pokoknya malam itu status Yowan sebagai pacar orang total kuabaikan.
Kesempatan yang belum tentu datang kembali sekali dalam seumur hidup itu pun coba kumanfaatkan untuk mengenal Yowan lebih dalam. Ternyata dulu Yowan bersekolah di SMA S*nt* M*ria (St*m*). St*m* adalah salah satu sekolah homogen khusus cewek di kota Y*gya. Persamaan pernah bersekolah di sekolah homogen itu yang coba Aku kulik. “Memangnya kamu nggak bosen Yow, pas SMA dulu teman nya cewek semua?”. Sambil bertanya Aku tatap mata manisnya yang kadang bergulir indah itu.
“Ya kadang-kadang bosen juga Yus. Cewek semua gitu loh. Emang kamu nggak bosen apa cowok semua?”.
“Bosen lah. Banget. Mangkanya Aku cuma 3 tahun sekolah di sana. Nggak lama-lama”, jawab ku kalem.
“Ya iya lah Yus, masak mau tinggal kelas….”. Aku lihat Yowan mulai gemas kepada ku. Sedikit bumbu humor yang kutaburkan berhasil membuat suasana makin cair
Sudahkah kau mengerti semua ini
Setulus hati sepenuh jiwa Dirimu satu mimpiku
Lagu Satu Mimpiku dari The Groove semakin menghangatkan suasana, seiring dengan obrolanku dengan Yowan yang makin intens. Ternyata Yowan ngekos semenjak SMA. Sekarang dirinya ngekos di Jalan Perkutut di daerah dekat kampus.
“Kalau kamu tinggal sama siapa Yus?”, Yowan bertanya pada ku.
“Tinggal sama Kakek Nenek, di daerah P*gung, belakang MM UG*. Ayah Ibu mu tinggal dimana Yow?”, Aku balas bertanya.
“Ayah Ibu ku tinggal nya di pekalongan Yus. Ada sama adik di sana”.
“Lho kamu orang Pekalongan ternyata?”. Aku memasang mimik muka heran ke arahnya. “Iya, memang kenapa Yus?”.
“Masak kamu dari Pekalongan? Kamu serius?”, tanyaku dengan nada tidak percaya
“Beneran Yus? Aku dari Pekalongan. Emang ada yang salah?”. Wajah Yowan tampak tak kalah heran.
“Kirain kamu dari kahyangan Yow, soalnya kamu kayak bidadari sih….”. Seketika aku lihat ada semu merah di pipi Yowan, yang diikut dengan sikapnya yang salah tingkah. Seperti mau tertawa tapi ditahan. Kemudian tersenyum-senyum sendiri. Aku menikmati tingkah Yowan yang seperti itu. Salah tingkahnya itu malah membuat Yowan semakin terlihat manis.
“Nggak kok Yus. Aku cuma cewek biasa. Kamu nggak lihat dipunggungku ada sayap nya kan….”. Jawab Yowan pelan. Seolah ingin membalas gombalanku. Hati ku jadi agak ge-er dibuatnya. Kalau Yowan mge-erespon, bge-erarti rayuan maut ku bge-erhasil. Padahal gombalan barusan itu termasuk jurus lama. Ternyata masih cukup efektif untuk digunakan.
“Kalo hantu, arwah atau roh gitu kamu pecaya nggak Yus?”. Tiba-tiba Yowan mengubah topik pembicaraan. Tapi Aku sudah mengerti kemana arah pembicaraan itu. Oohhh… Yowan, seandainya engkau tahu apa yang sudah kualami sampai sejauh ini.
“Sangat percaya Yow, karena……”. Aku sengaja tidak langsung menjawab supaya Yowan penasaran. Sempat Aku diam beberapa saat.
“Karena?”, tanya Yowan kepadaku. Seakan mengingatkanku untuk segera menjawab. “Karena sejak kecil Aku bisa melihat mereka Yow”. Aku melihat reaksi pupil mata Yowan membesar. Sempat Aku dengar dirinya terpekik kaget. Melihatku seakan tidak percaya.
“Kamu beneran bisa liat Yus? Kamu Indigo juga?”. Aku merepon nya dengan mengangguk
“Kamu nggak ngomong kayak gini gara-gara kamu dah tau reputasiku di kampus kan Yus?”. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Untuk hal seperti itu, membuktikan dengan ucapan adalah hal yang bodoh. Jadi lebih baik kita buktikan saja. Tanpa bicara panjang lebar, aku mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari tas ku. Menulis sesuatu lalu membalik kertas itu di hadapan Yowan, sehingga Yowan tidak bisa melihat apa yang kutulis barusan.
“Coba Yow, sekarang kamu coba jelaskan ke Aku. Makhluk apa saja yang kamu lihat di sini?”. Mata Yowan sempat sesaat mengeryit, tetapi kemudan tidak ragu untuk menjawab tantanganku. Sesaat kemudian dia menghela napas dan melihat sekeliling.
“Dua meja di depan kita ada nenek-nenek tua sedang duduk di kursi situ, tapi wajahnya melihat ke arah jalan di bawah. Di dekat tangga ada makhluk pendek, perutnya gendut, muka nya seperti muka anak kecil, terus di kepalanya kayak ada tanduk kecil juga, kaki nya 2 tapi kayak kaki kuda. Terus di pojokan ada kayak laki-laki tapi kepalanya patah. Kayaknya dia meninggal gara-gara kecelakaan di jalan depan”. Yowan menjelaskan dengan sangat rinci. Sambil tersenyum aku membalik kertas yang ada di depan Yowan, sehingga Yowan dapat melihat apa yang Aku tulis.
NENEK TUA
MAKHLUK PENDEK BERKAKI KUDA LELAKI KEPALA PATAH
sulap jalanan ala Deni Dharko atau Chris Angle secara live. Aku turut merasakan rasa senang dan kegembiraan yang Yowan rasakan. Bercampur dengan rasa kagum dan excited.
“Tapi bisa saja ini kebetulan kan Yus. Siapa tahu kamu bukan indigo tapi cuma baca pikiran. Soalnya kok ini mirip-mirip sama sulap Rommy Rafael atau Deddy Cobuzier ya?". Rupanya nona manis yang satu ini belum puas dengan pembuktian ku. Aku kemudian menyerahkan bolpoin yang ada di tanganku kepada Yowan.
“Oke Yow, kita lakukan sekali lagi. Tapi sekarang kamu yang tulis di kertas itu. Tulis satu kata yang ada dalam pikiran kamu, yang bisa menjelaskan tentang 2 beringin yang ada di masing-masing alun-alun kraton Y*gya. Alun-alun Kidul dan Alun-alun Lor”. Yowan lalu menulis sesuatu, kemudian tanpa menunjukkan apa yang barusan ditulisnya Yowan menutup kertas itu di hadapanku. Aku menunggu sebentar untuk memastikan dia tidak ingin mengubah atau menambahkan tulisannya.
“Kalau Aku bukan Indigo, pasti Aku tidak akan pernah tahu kalau 2 beringin yang ada di alun-alun itu adalah portal Yow”. Aku melihat ekspresi Yowan makin terkejut mendengarnya. Hanya saja kali ini dalam ekspresinya ada keyakinan dan tidak ada lagi keraguan.
Bagi yang memiliki Mata Ketiga seperti diriku dan Yowan pasti mengerti, kalau 2 pohon beringin yang ada di alun-alun kraton itu adalah semacam portal yang digunakan untuk melakukan perpindahan secara gaib atau teleportasi. Raja Kraton Y*gya alias Sultan pada jaman dahulu terlibat konsesi gaib dengan penguasa Laut Selatan dan penguasa Merapi sehingga mengharuskan mereka untuk secara rutin menjalin komunikasi atau sowan. Tidak hanya secara spiritual tetapi juga secara fisik. Padahal jarak Pantai Selatan dan Gunung Merapi sangat jauh sekali.
Supaya jarak bukan hal yang menjadi halangan dan berkat karunia kesaktian yang tinggi serta seizin dari Yang Maha Kuasa maka terciptalah gerbang portal gaib dalam bentuk 2 beringin kembar yang berada di alun-alun kraton. Beringin kembar yang ada di alun-alun selatan adalah portal untuk pergi ke laut selatan dan jika kembali maka akan keluar dari pohon beringin yang ada di alun-alun utara.
Sedangkan beringin yang ada di alun-alun utara adalah portal untuk pergi ke Gunung Merapi dan jika kembali akan keluar di pohon beringin yang ada di alun-alun selatan. Supaya bisa menggunakan portal itu memang harus memiliki pikiran yang bersih, hati yang tulus dan kemauan yang kuat. Tidak lupa, tentu saja harus memiliki darah keturunan
langsung dari penguasa kraton asli alias Sultan itu sendiri.
Hanya saja portal ini sudah lama sekali tidak digunakan. Mungkin terakhir kali digunakan pada jaman sebelum masa Sultan Agung silam. Walaupun sudah tidak pernah digunakan, mengenai pohon beringin sebagai portal manifestasinya masih lestari sampai saat ini ke dalam bentuk permainan MASANGIN (Masuk di antara 2 beringin). Orang saat ini percaya jika berhasil masuk di antara 2 beringin itu dengan mata tertutup maka keinginan dan impian nya didambakan akan terwujud. Padahal permainan itu hanya perlambang fungsi sesungguhnya dari beringin itu pada masa lalu.
Yowan perlahan-lahan membalik kertas yang sudah ditulisnya di depanku. Matanya tampak berbinar-binar. Kepalanya menggeleng pelan.Seolah antara kagum atau tidak percaya. Kertas itu sudah terbalik penuh dihadapanku, dan Aku bisa melihat apa yang Yowan tulis :
PORTAL
Aku tersenyum melihat tulisan Yowan. Tepat seperti dugaanku.
“Kamu dapat kemampuan itu dari mana Yus? Apa kamu latihan supaya bisa punya indra keenam?”. Yowan mulai berani bertanya padaku.
“Bukan Yow, bisa dibilang ini kemampuan dari lahir. Aku dulu waktu bayi pernah mati suri. Tapi baru sekitar umur 6 tahun kayaknya kemampuan Indigo ku baru benar-benar aktif. Kalau kamu sendiri bagaimana?”.
“Oya? Wah berarti bisa dibilang kemampuan mu lebih tinggi Yus. Kalau Aku sebenarnya juga bisa dibilang dari lahir. Cuma itu karena Papa ku sama Mama ku memang dua-dua nya Indigo. Indigo ku ini karena turunan Yus”. Yowan lalu mulai menceritakan sedikit tentang keluarga nya.
Ternyata Ayahnya adalah seorang paranormal profesional sedangkan Ibu nya lebih dikenal sebagai seorang peramal. Yowan anak kedua dari 3 bersaudara. Entah kenapa karunia Indigo itu jatuh hanya kepada dirinya. 2 Saudara nya yang lain tidak memiliki kemampuan seperti Yowan.
“Untungnya dari Aku kecil Papa Mama ku dah kasih tau Yus, kalo Aku memang beda. Papa sama Mama selalu bilang kalo apa yang Aku lihat memang ga semua orang bisa liat”. Yowan menceritakan sedikit tentang masa kecilnya sebagai Indigo
“Kamu nggak takut bisa lihat mereka Yow?”, tanyaku kemudian
“Awalnya sih takut. Bentuknya kan serem-serem. Tapi untungnya didampingin terus, terutama sama papa. Jadi lama-lama biasa. Malah dari kecil dah diajarin kemampuan macem-macem sama Papa”. Menarik rasanya mendengar cerita Yowan. Cara Yowan dibesarkan sebagai Indigo berbeda dengan Ayah Ibu ku yang cenderung mengingkari kemampuanku. Malah sepertinya orang tua Yowan mendukung kemampuan anak nya. “Memangnya kamu diajarin apa saja sama Papa mu Yow?”. Aku jadi agak penasaran mendengar cerita Yowan.
“Macem-macem sih. Mulai dari yang dasar-dasar kayak pernapasan, tenaga dalam, ilmu penarikan, sampe yang ekstrim juga diajarin”. Aku malah melongo mendengarnya. Pernapasan, tenaga dalam sampai ilmu penarikan bagi Yowan hanya ilmu tingkat dasar. Sedangkan Aku malah belum pernah sama sekali tahu atau belajar yang seperti itu. Apalagi Yowan mengaku juga diajari ilmu yang ekstrim.
“Ekstrim itu kayak yang bagaimana maksudnya?”. Ekspresi Yowan agak berubah mendengar pertanyaan ku. Binar di mata nya agak redup. Nada bicaranya yang hangat juga mendadak berubah menjadi lebih dingin dan misterius. Agak lama dia menjawab “Tau Ajian Kala Netra Yus?”, tiba-tiba Yowan bertanya padaku. Aku hanya menggelengkan kepala. Benar-benar No Idea what is that. Aku lihat Yowan tertunduk sesaat. Senyum tipis yang misterius tiba-tiba mengembang dari bibirnya. Pelan mata nya menatap pada ku.
“Lebih baik kamu nggak usah tau ya Yus?”. Yowan menatapku dengan pandangan yang menyiratkan kesan mistis. Membuatku jadi tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Hati kecilku sebenarnya penasaran, dan salah satu kejelekanku adalah tidak bisa menutupi rasa kebingunganku. Rupanya ekspresi kebingunganku ini dipahami oleh Yowan.
“Maaf ya Yus kalo kamu jadi bingung. Maksudku mending nggak usah dibahas. Aku juga pengen nya kalo bisa seumur hidup jangan sampe menggunakan ilmu itu. Soalnya kalo sampai ilmu itu keluar, Aku bakal jadi bagian dari alam sana”. Yowan bicara agak sedikit menewarang. Aku jadi merasa bersalah sudah membuatnya bicara seperti itu. Untungnya tidak lama kemudian, burger pesanan dan minuman kami datang. Ekspresi Yowan kembali berubah menjadi ceria. Sepertinya dia memang menahan lapar dari tadi. Kami berdua lalu menyantap burger yang ada di hadapan kami dengan bersemangat.
Mungkin karena sangking bersemangatnya, Yowan tidak sadar kalau sudut bibirnya sedikit cemong akibat ada saus burger yang tertinggal. Aku coba memberikan isyarat pada Yowan kalau ada cemong di bagian sudut bibirnya. Yowan rupanya kurang mengerti isyarat yang kusampaikan.
Karena memang dasarnya sudah niat ingin mengambil hati Yowan, spontan Aku mengambil tisu dan kemudian dengan gaya bak gentleman membersihkan noda saus yang ada di sudut bibir Yowan dengan lembut. Yowan sempat kaget dengan perlakuanku, namun kemudian sambil agak malu-malu dirinya mengucapkan terima kasih.
“Sebetulnya waktu pertama kali kita kenalan Yus, Aku dah ngerasa kalo kamu memang Indigo Yus. Kamu inget nggak waktu kita salaman? Tangan kita kayak kerasa kesetrum listrik? Itu mungkin karena kita sama-sama punya kemampuan Indigo”. Kelihatan sekali kalau Yowan mencoba memulai pembicaraan lagi untuk menepiskan kikuk dan salah tingkahnya. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Yowan. Padahal dalam hati Aku juga kurang mengerti. Masak iya kalau orang Indigo pertama kali salaman bisa kesetrum?
“Lagi pula Aku sempat lihat waktu kejadian kesurupan pas kelas hukum perdata kemarin, kamu yang kayaknya paling siap. Kalo diliat-liat, kayaknya cuma kamu yang tau sumber masalahnya dimana?”, Aku sempat agak terkesiap mendengarnya.Yowan ternyata memperhatikan ku juga. Ahh… Seandainya Aku lebih cepat bertemu dengan Yowan.
Aku jadi agak menyalahkan Sang Waktu yang secara kejam mempertemukan ku dengan Yowan, justru pada saat dirinya sudah punya pacar. Aku sebenarnya ingin bertanya pada Yowan mengenai siapa lelaki yang sudah berstatus pacarnya itu. Tetapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu. Lagipula Aku sudah menang banyak hari ini, dan Aku tidak mau merusaknya hanya karena ingin memuaskan rasa penasaranku akan hubungan Yowan dengan pacarnya.
“Makin malam makin ramai ya Yus?”, Yowan memperhatikan sekelilingnya. Padahal sedari tadi tidak banyak orang di lantai 2 ini. Aku mengerti apa yang dimaksudnya. Saat Aku membuka mata ketiga ku, memang penampakan yang Aku lihat jadi lebih banyak dan bervariasi dari sebelumnya.
Mulai dari banyaknya sosok anak-anak, sampai dengan beberapa sosok dengan anggota tubuh tidak lengkap seperti tanpa kepala atau tanpa lengan. Satu hal yang bisa
kusimpulkan kemudian. Mata Indigo Yowan tidak seperti milik ku yang bisa kukendalikan dan bisa aku buka tutup kapan saja. Mata Indigo Yowan terus terbuka secara permanen.
Walaupun begitu Aku lihat Yowan juga sama sekali tidak terganggu dengan bermunculannya makhluk gaib di tempat itu. Yowan tampak sudah sangat terbiasa dengan apa yang dilihatnya, bahkan terkesan menikmati. Pantas saja dia tidak takut berjalan sendiri ke toilet kampus saat malam hari waktu Ospek dulu
“Kamu lihat juga kan Yus?”, tanya Yowan kemudian.
“Iya….”, Aku mengiyakan dan mengangguk ke arah Yowan.
“Seneng deh rasanya ada yang bisa sama-sama ngelihat apa yang Aku lihat”. Sekali lagi mata Yowan bergulir indah ke arahku. Aku pun merasakan hal yang sama Yow. Kalimat itu Aku ucapkan dalam hati. Tanpa sengaja Aku melirik kearah jam tangan ku.
“Eh Yow, hampir jam setengah 10 nih. Kos mu tutup jam berapa?”. Aku coba mengingatkan
“Ya ampun!... dah kemaleman. Jam malamnya sampe jam setengah 10 nih…..”, pekik Yowan. Aku dan Yowan lalu bergegas turun. Setelah membayar, secepatnya Aku memacu motorku menuju kos Yowan. Untungnya jam setengah 10 pas, Yowan sudah berhasil sampai kuantar ke depan gerbang kos nya.
“Makasih ya Yus traktiran nya….”, kata Yowan setelah turun dari motor.
“Sama-sama…..”, jawabku. Sebelum pulang seperti biasa Aku dan Yowan saling bertukar nomor HP. Aku memberikan nama Yowan Indigo untuk nomor kontaknya di HP ku. Aku jadi berpikir apakah esok akan ada lagi kesempatan seperti malam ini.
“Kamu dah punya pacar Yus?”. Aku terkejut mendengar pertanyaan Yowan. Sempat agak bingung juga mau menjawab apa.
“Belum Yow, belum ada yang mau…..”. Yowan kemudian tersenyum penuh arti kepada ku. Lalu berjalan ke arah pintu pagar kos nya dan bertanya lagi kepada ku
“Berarti kalo kapan-kapan nanti kita jalan-jalan bareng lagi nggak bakal ada yang marah dong ya?”. Hatiku langsung mencelos mendengarnya. Kepala ku jadi penuh dengan rasa
ge-er yang bertubi-tubi.Sinyal-sinyal apa ini? Bukankah dia sudah punya pacar? Beneran nggak sih dia sudah punya pacar? Tapi berkali-kali Aku mengingatkan diriku untuk tetap tenang dan jaim
“Nggak masalah sih Yow. Kalo kamu sendiri? Nanti ada yang marah nggak?”. Aku balik bertanya. Pertanyaan ini sebetulnya untuk memastikan apakah masih ada celah di hatinya yang bisa Aku masuki. Yowan lalu tertawa kecil. Aku masih belum sepenuhnya mengerti maksud dari tawa nya itu
“Itu nanti bisa di atur Yus….”. Ingin rasanya Aku meminta Yowan untuk mengulangi kata-katanya itu. Untuk memastikan apa yang kudengar itu tidak salah. Sesaat kemudian penglihatanku menangkap Ibu kos Yowan sempat mengintip dari balik jendela rumah. Aku pun sadar diri , lalu pamit pada Yowan.
“Balik dulu Yow…. Malam ya…..”.
“Ati-ati Yus…. Da.. da…”. Aku melihat Yowan melenggang masuk ke dalam kos. Sempat Aku mendengar dirinya bersenandung pelan di dalam kos sana.
Sekat hati, tak menahan jua Lelah aku pada setiaku