Hujan yang memaksaku berteduh sudah mulai mereda, tapi percakapan ini seakan tidak ada ujungnya. Malam semakin larut. Mata wanita itu juga tajam menatapku dengan penuh rasa tidak suka, sementara itu kekasihnya seperti tidak berani menatap kami. Laki- laki itu duduk di kursi seberang, tidak jauh dari kami. Membelakangi kami.
“Tidak mau, kami tidak mau dipisahkan”, kata-kata itu tegas meluncur. Setegas tatapan wanita itu menatapku.
“Mbak tidak kasihan dengan pacar Mbak? Lagi pula kalau begini sama saja Mbak membebani dia. Dia tidak bisa pergi dengan damai”. Aku berusaha memberikan pengertian. Tapi sepertinya dia seakan tidak perduli. Ego nya keras sekali.
“Mas tahu apa tentang kami?!!", Sekonyong-konyong dia berdiri dan membentak ku. Teriakannya menggema di rongga telingaku. Koridor selasar halaman depan kampus Atm*j*ya Bab*rs*ri yang tadinya hanya sebagai tempat berteduh sementara karena Aku tidak sengaja kehujanan jadi saksi kemarahan wanita itu. Kekasih wanita itu sampai menoleh.
Aku pikir dia ingin berdiri dan menenangkan kekasihnya, namun ternyata dia hanya diam menghela napas dan kembali membelakangi kami. Sekelebat tiba-tiba angin dingin bertiup kencang dengan hembusan yang keras. Membuat pepohonan sekitar situ bergoyang-goyang hebat.
“Aku memang tidak tahu apa-apa tentang kalian. Tapi Aku tahu kalau yang namanya sayang itu seharusnya bukan menyusahkan, tetapi membuat pasangan kita bahagia. Sayang itu seharusnya bukan membuat pasangan kita menderita, tetapi membuat dia senang. Kita bahagia kalau melihat pasagan kita senang. Itu baru namanya sayang”. Mungkin kata-kata ku terlalu to the point. Tapi Aku lihat mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Padahal itu hanya kata-kata klise yang Aku dapat hasil dari membaca buku-buku Khalil Gibran.
“Mbak dan Mas itu jalurnya seharusnya sudah berbeda. Dia punya jalur sendiri. Mbak juga punya jalur sendiri. Kalau Mbak memaksakan, dia harus terus mengikuti Mbak di sini”. Aku memberanikan diri meneruskan.
“Tapi dia kan cinta sama Aku, dia pasti tidak keberatan. Dia rela kok melakukan ini semua. Kami bisa terus sama-sama selamanya. Seperti cinta kami, abadi selamanya”. Wanita itu lalu menatap ke arah punggung kekasihnya. Kata-kata nya seolah yakin itu kebenaran. Padahal sebagai sesama laki-laki Aku paham betul, hal itu bukan sesuatu yang diinginkan oleh pasangan nya.
“Apa perlu dia Aku panggil ke sini? Aku minta dia bicara jujur sama Mbak. Tapi Mbak juga harus siap, seandainya dia ternyata menjawab sebaliknya. Ya Mbak harus terima dan Mbak harus janji mengikhlaskan dia”. Aku sebetulnya hanya asal saja. Tapi aku punya feeling kuat kalau laki-laki itu akan mengatakan hal jujur kepada kekasihnya ini. Bukannya mengiyakan atau menolak, wanita itu malah menangis tersedu-sedu. Sepertinya dia pun merasa demikian. Tidak mungkin tidak. Sekian lama mereka berdua selama ini, pasti sebenarnya Si Wanita ini pun sudah merasakan bahwa kekasihnya tersebut merasa terbebani.
“Belajarlah untuk mengikhlaskan dan menerima keadaan Mbak. Kalau Mbak cinta, relakan dia. Toh cinta tidak selamanya harus memiliki. Semua sudah ada yang mengatur. Serahkan semuanya pada yang Maha Mengatur, kita tidak boleh memaksakan atau berkeras hati. Kalau yang Maha Mengatur memutuskan Mbak dan Dia nanti bisa sama-sama ya akhirnya nanti pasti bisa sama-sama-sama-sama, tapi kalau memang tidak bisa sama-sama-sama-sama ya itu harus diterima. Kalau tidak nanti ke depan nya bisa tidak baik. Mbak pasti juga tidak mau begini terus kan? ”.
Kepala wanita itu menengadah ke atas, air matanya mengalir. Dengan berat jatuh ke bawah, seberat keputusan yang harus diambilnya.
“Mbak…. Mbak cinta sama dia kan?”. Pertanyaan bodoh yang tidak harus dijawab sebetulnya. Wanita itu mengangguk dan menyeka air mata nya. Sekilas bibirnya tersenyum.
“Kalau begitu ikhlaskan dia ya Mbak? Kasihan dia……”. Kata ku kemudian. Wanita itu tidak menjawab. Lama kepala wanita itu menoleh menatap kekasihnya. Seolah tidak ingin melepaskan pandangan nya itu dari kekasihnya. Tatapannya begitu sedih
“Mbak… Ikhlas ya….. ”. Sekali lagi, pelan Aku coba mengingatkan. Perempuan itu lalu tertunduk. Tidak lama kemudian dalam satu hembusan napas dia mengangguk. Aku lalu menyuruh wanita itu memanggil kekasihnya untuk bergabung bersama kami. Sesaat kemudian kekasihnya melayang mendekati kami dan duduk di sebelah wanita itu.
Serta-merta wanita itu langsung memeluk kekasihnya. Kekasihnya kemudian membalas pelukan itu. Lama Aku melihat mereka berpelukan. Suasana jadi canggung buatku.
“Ehhmm…. Mbak….”, Aku berdehem mengingatkan.
Wanita itu lalu berbisik kepada kekasihnya, “Tidak apa-apa Mas, Kamu tidak harus sama Aku lagi. Pergilah Mas. Aku ikhlas. Aku sudah tahu Kok. Aku juga sekarang sudah tahu harus kemana”. Laki-laki itu memandang wanita itu seakan tidak percaya.
“Beneran Dik? Kamu ikhlas?”, Laki-laki itu memastikan. Aku lihat wanita itu tersenyum dan mengangguk.
“Iya Mas, Aku sebenarnya sudah tahu kalau kita sama-sama sudah meninggal. Cuma Aku takut banget kalau harus pisah sama kamu Mas. Aku nggak pengen sendirian. Aku pengen terus sama kamu. Dan Aku nggak tahu kalau ternyata itu malah bikin kita sama-sama kayak begini. Tapi sekarang Aku sudah ikhlas Mas. Mas berhak untuk bahagia dan pindah ke sana”. Aku lihat ada berkas kelegaan tapi sekaligus juga ada kekhawatiran di wajah laki-laki itu.
“Lha terus kamu bagaimana Dik?”. Benar saja, Dia masih khawatir dengan kekasihnya. “Kata Mas ini nanti Aku ada jalanya sendiri. Aku yang maksa ajak kamu keluar malam itu. Seharusnya kalau Aku nggak maksa, mungkin kita berdua seharusnya masih hidup. Kita nggak harus mati gara-gara kecelakaan itu. Kamu nggak usah khawatir Mas. Aku nanti bakal baik-baik saja kok”. Wanita itu berusaha membuat menenangkan kekasihnya. Sejenak kemudian laki-laki itu kemudian mengalihkan pandangannya padaku. Seperti menunggu penegasan dari ku.
“Pergilah Mas. Mas seharusnya sudah damai sekarang. Tidak ada beban lagi. Tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. Saya jamin Mbak ini nanti sudah ada yang menjaga”. Laki-laki itu sepertinya kemudian mengerti. Sebuah kecupan terakhir lalu dia berikan di kening wanita itu. Seiring kemudian ada seberkas sinar putih yang seperti datang menjemputnya yang kemudian lamat-lamat hilang membawanya.
“Sekarang Saya bagaimana Mas?”. Wanita itu kemudian bertanya kepada ku. Mendadak Aku bingung harus bagaimana. Kenapa tidak ada sinar putih yang menjemputnya ya? Lama Aku berpikir harus menjawab apa. Tampak raut kecemasan mulai muncul wajah nya. Aku sendiri bingung harus mengatakan apa
“Raniii…”, Tiba-tiba dalam situasi kebingungan itu ada sebuah suara yang memanggil. Wanita itu menoleh ke asal suara itu. Suara yang memanggil nama nya
“Simbah Putri…. Simbah Kakung”. Wanita itu lalu melayang menghambur ke arah dua sosok yang memanggil nama nya. Mereka lalu berpelukan selayaknya orang yang sudah lama tidak bertemu. Sesaat kemudian mereka bertiga lalu menatap ke arahku dan tersenyum.
“Terima kasih Mas….”, Aku masih mendengar wanita mengucapkan terima kasih. Sosok mereka bertiga lalu perlahan-lahan menghilang dari hadapanku. Meninggalkan ku sendirian di selasar depan kampus yang sepi. Hujan sudah berhenti dari tadi, menyisakan angin malam yang sekarang berhembus syahdu.
Arwah yang barusan kutemui adalah arwah pasangan legendaris Bab*rs*ri. Mereka meninggal mengenaskan karena kecelakaan motor saat berboncengan melewati jalan Bab*rs*ri. Motor mereka bertabrakan dengan mobil yang melaju kencang dari arah belokan depan Universitas Pr*kl*masi. Sejak itu arwah mereka gentayangan dan sering memperlihatkan diri pada orang-orang yang lewat di sepanjang jalan mulai Kampus Atm*j*ya sampai dengan Depan belokan Universitas Pr*kl*masi.
Penampakan mereka selalu tampak berpasangan. Kisah mereka mungkin sudah cukup dikenal sebagai legenda urban yang sering di dengar oleh orang-orang yang tinggal di kota Y*gya. Mereka tadinya tidak mengerti bahwa sebetulnya mereka sudah meninggal, dan terus berusaha bertanya kepada orang-orang bagaimana sebetulnya keadaan mereka.
Kebetulan saat Aku berteduh karena kehujanan Aku bertemu mereka, dan yang terjadi adalah sebuah percakapan yang lama dan penuh roman seperti tadi. Mungkin bisa dikatakan ini adalah percakapan terpanjang ku dengan "mereka". Sekali lagi Aku merasa lega dan ada rasa damai yang muncul di hati ku. Ternyata jadi seorang Indigo tidak terlalu buruk. Bisa jadi konsultan arwah juga.
Cuaca yang dingin membuat kantung kemihku bereaksi. Aku mulai celingak-celinguk mencari toilet. Sepertinya di dalam kampus ada toilet. Aku lalu bergegas masuk ke dalam dan mencari toilet. Ternyata di dalam kampus masih ada beberapa mahasiswa yang nongkrong atau mengerjakan tugas. Tidak sulit menemukan toilet di dalam kampus rupa nya. Hujan rupanya kembali turun dalam bentuk gerimis. Angin dingin yang mengiringi membuat perasaanku sedikit tidak nyaman.
Koridor menuju toilet terasa gelap karena penerangan yang kurang. Jendela-jendela ruangan yang gelap seperti mengikuti langkahku. Tidak kutemui lag ada mahasiswa yang lewat. Suasana benar-benar sepi. Sempat Aku ragu meneruskan langkah, namun hasrat ingin pipis ku minta lebih diutamakan. Toilet Pria dan Wanita hanya dipisahkan sebuah sekat beton. Pria di sebelah kiri dan wanita sebelah kanan. Pada bagian ujung masing-masing ada sebuah wastafel dengan keran putar untuk membasuh tangan dan di atas nya ada sebuah cermin yang menempel.
Tampak Aku lihat di toilet wanita seorang wanita berambut panjang sedang menyisir rambutnya yang panjang sambil melihat cermin. Tadinya Aku tidak terlalu memperhatikan wanita itu, namun saat sekilas melihat senyumnya yang aneh terbersit perasaan bahwa yang Aku lihat itu bukan orang. Menyadari hal itu Aku menghentikan langkahku dan menoleh kearah wanita itu. Benar saja. Pemandangan yang kulihat kemudian benar-benar mengerikan. Aku lihat wanita itu kemudian memegang lehernya sendiri, lalu menarik dan melepas kepalanya dari tubuhnya sambil tetap menyisir rambutnya dan bertanya kepada ku, “Hihihi…. Saya cantik kan Om?”.
Spontan Aku terbirit-birit dan melupakan hasratku. Berlari kencang seperti orang gila menuju luar kampus. KAAAMPREETTT !! Aku lupa menutup Mata Ketiga ku kembali……..