هيف لمع اذام هملع نعو هعضو اميفو هبستكا نيا
C. Mata Uang dan Ukuran (Timbangan dan Sukatan) dalam Islam
Sebagai sebuah mabda’, Islam memiliki pandangan yang khas mengenai sistem moneter dan keuangan. Syekh Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Al-Amwāl fi Daulati al-Khalīfah mengatakan bahwa sistem moneter atau keuangan adalah sekumpulan kaidah pengadaan dan pengaturan keuangan dalam suatu negara. Satu hal yang paling penting dalam setiap keuangan adalah penentuan satuan dasar keuangan (al-wahdat an-nahdliyat al-asāsiyah) yang menjadi tempat satuan itu dinisbahkan seluruh nilai-nilai berbagai mata uang lain. Apabila satuan dasar mata uang itu adalah emas, maka sistem keuangannya dinamakan sistem uang emas. Apabila nilai satuan mata uang tidak dihubungkan secara tetap dengan emas atau perak (baik terbuat dari logam lain seperti tembaga atau dari kertas), sistem keuangannya disebut sistem fiat money.28
28Ismail Yusanto (et al), Dinar Emas: Solusi Krisis Moneter (Jakarta Selatan: PIRAC, SEM Institute, Infid, 2001), 13.
Kesalahan pandang terhadap kedudukan uang yang tidak hanya sebagai alat tukar tapi juga sebagai komoditi, serta pembuatan mata uang yang tidak menggunakan basis emas atau perak sehingga nilai nominalnya tidak menyatu dengan nilai intrinsiknya, inilah yang menjadi biang dari segala keruwetan ekonomi kapitalis, termasuk yang selama ini dipraktekkan di Indonesia. Bila uang dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat tukar saja, lantas mata uang dibuat dengan basis emas dan perak (dinar dan dirham), maka ekonomi Islam akan betul-betul digerakkan oleh hanya sektor riil saja. Tidak akan ada sektor non riil (dalam arti orang berusaha menarik keuntungan dari mengakomoditaskan uang dalam pasar uang, bank, pasar modal dan sebagainya). Kalaupun ada usaha di sektor keuangan, itu tidak lebih sekedar katakanlah menyediakan uang untuk modal usaha yang diatur dengan sistem yang benar (misalnya bagi hasil).
Dengan cara itu, sistem ekonomi yang bertumpu pada sektor riil akan berjalan mantap, tidak mudah digoyang seperti saat ini.
Islam mengajarkan untuk memfungsikan uang sebagai alat tukar saja. Dimana uang beredar, ia pasti hanya akan bertemu dengan barang dan jasa –bukan dengan sesama uang seperti yang terjadi pada transaksi perbankan atau pasar modal dalam sistem Kapitalis.
Semakin banyak uang beredar, semakin banyak pula barang dan jasa yang diproduksi dan diserap pasar.
Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat, tanpa ada kekhawatiran terjadi kolaps seperti
pertumbuhan ekonomi dalam sistem kapitalistik yang bersifat siklik itu. 29
Dalam sistem dua logam, harus ditentukan suatu perbandingan yang sifatnya tetap dalam berat maupun kemurnian antara satuan mata uang emas dengan perak.
Sehingga bisa diukur masing-masing nilai antara satu dengan lainnya, dan bisa diketahui nilai tukarnya.
Misalnya, 1dinar emas syar’i beratnya 4,25gram emas dan 1dirham perak syar’iy beratnya 2,975gram perak.
Sistem uang dua logam inilah yang diadopsi oleh Rasulullah SAW. Ketika itu kendati menggunakan sistem uang dua logam, Rasulullah SAW tidak mencetak dinar dan dirham emas sendiri, tapi menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia (ini juga menunjukkan bahwa sistem uang dua logam tidak eksklusif hanya dilakukan oleh umat Islam). Demikian seterusnya, sistem dua logam itu diterapkan oleh para khalifah hingga masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan (79H).
Baru di masa itulah dicetak dinar dan dirham khusus dengan lafadz Islam yang khas.
Dengan cara itu, nilai nominal dan nilai intrinsik dari mata uang dinar dan dirham akan menyatu, artinya, nilai nominal mata uang yang berlaku akan dijaga oleh nilai intrinsiknya (nilai uang itu sebagai barang, yaitu emas atau perak itu sendiri), bukan oleh daya tukar terhadap mata uang lain. Maka, seberapapun misalnya dolar Amerika naik nilainya, mata uang dinar akan mengikuti senilai dollar menghargai 4,25gram emas yang terkandung dalam 1 dinar. Depresiasi (sekalipun semua faktor ekonomi dan non ekonomi yang memicunya ada) tidak akan terjadi. Penurunan nilai
29Ibid., 12.
dinar atau dirham memang masih mungkin terjadi. Yaitu ketika nilai emas yang menopang nilai nominal dinar itu, mengalami penurunan (biasa disebut inflasi emas), di antaranya akibat ditemukannya emas dalam jumlah besar. Namun, keadaan ini kecil sekali kemungkinannya, oleh karena penemuan emas besar-besaran biasanya memerlukan eksplorasi dan eksploitasi yang di samping memakan investasi besar, juga waktu yang lama.
Secara syar’i pemanfaatan sistem mata uang dua logam juga selaras dengan sejumlah perkara dalam Islam yang menyangkut mata uang. Di antaranya tentang nisab zakat harta yang 20dinar emas dan 200 dirham perak, larangan menimbun harta (kanzu al-māl) di mana yang dimaksud di situ adalah emas dan perak, sebagaimana disebut dalam surat at-Taubah (9): 34. Juga berkaitan dengan ketetapan besarnya diyat dalam perkara pembunuhan (sebesar 1000 dinar) atau batas minimal pencurian (1/4 dinar) untuk dapat dijatuhi hukuman potongan tangan. Itu menunjukkan bahwa standar keuangan (monetary standart) dalam sistem keuangan Islam adalah uang emas dan perak.30
Taqiyuddin An-Nabhani memberikan beberapa alasan mengapa mata uang yang benar menurut Islam hanya emas sebagai berikut:
1) Ketika Islam melarang praktek penimbunan harta, Islam hanya mengkhususkan larangan tersebut untuk emas dan perak, padahal harta itu mencakup semua barang.
2) Islam telah mengaitkan emas dan perak dengan hukum-hukum yang baku dan tidak berubah-ubah.
30Ibid., 14-16.
3) Rasulullah saw telah menetapkan emas dan perak sebagai uang, dan beliau menjadikan hanya emas dan perak sajalah sebagai standar uang.
4) Ketika Allah mewajibkan zakat uang, maka Allah telah mewajibkan zakat tersebut untuk emas dan perak, kemudian Allah menentukan nishāb zakat tersebut dengan nishab emas dan perak.
5) Hukum-hukum tentang pertukaran mata uang yang terjadi dalam transaksi uang, hanya dilakukan dengan emas dan perak. Semua transaksi finansial yang dinyatakan dalam Islam hanya dinyatakan dengan emas dan perak.31
Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengibaratkan uang bagaikan cermin. Cermin tidak punya warna namun dapat merefleksikan semua warna.
Begitupun uang. Uang tidak punya harga tetapi uang dapat merefleksikan semua harga. Uang bukan komoditi dan oleh karenanya tidak dapat diperjualbelikan dengan harga tertentu. Beliau juga menyatakan bahwa memperjualbelikan uang ibarat memenjarakan fungsi uang. Jika banyak uang yang diperjualbelikan niscaya hanya tinggal sedikit uang yang dapat berfungsi sebagai uang. Dalam konsep Islam, diakui adanya permintaan uang dengan motif transaksi dan motif berjaga-jaga.
Sedangkan motif spekulasi tidak diakui karena dapat mendorong pada transaksi maya pada sektor moneter.32
31Ibid., 23.
32Adiwarman A. Karim, “Tela’ah Penerapan Dualisme Sistem Moneter dan Implikasinya Terhadap Kestabilan Perekonomian”, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Ekonomi Islam dan Kongres Kelompok Studi Ekonomi Islam Se-Indonesia, Semarang, 11-13 Mei 2000, h.3.
Al-Ghazali membolehkan uang yang tidak mengandung emas dan perak, misalnya uang kertas, asalkan pemerintah menyatakannya sebagai alat tukar resmi.
Ibnu Khaldun juga berpendapat sama, tetapi pemerintah wajib menjaga nilainya dan tidak boleh mengubahnya.33
33Ibid., 4.
Bab 2
PERJANJIAN JUAL BELI VIA INTERNET DALAM PERSPEKTIF HUKUM (EKONOMI)
ISLAM
Saat ini manusia telah memasuki abad ke-21. Suatu periode yang oleh berbagai kalangan disebut sebagai era globalisasi, yakni suatu fase sejarah yang ingin menghilangkan batas ruang dan waktu dalam kehidupan manusia yang meliputi aspek ekonomi, komunikasi, politik, dan sosial.34 Ada pula yang menyebut era sekarang ini dengan abad informasi dan teknologi. Hal ini dapat dipahami karena bidang informasi telah menawarkan berbagai bentuk kemudahan dan kemajuan informasi.
Mulai dari media informasi berupa hasil cetakan seperti buku bacaan, surat kabar, majalah, dan sebagainya hingga media informasi elektronik seperti telefon genggam, faximile, radio, dan televisi. Kemudian selangkah lebih
34Akh Minhaji dan Kamaruzzaman BA, Masa Depan Pembidangan Ilmu di Perguruan Tinggi Agama Islam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2003), 126.
maju lagi, dewasa ini muncul apa yang dikenal dengan program internet dengan berbagai program yang ditawarkan, terutama E-commerce.
Peran media elektronik semakin kuat melalui program-program yang ditayangkan. Kekuatan media elektronik seperti televisi dan internet bagaikan magnet yang mampu menarik perhatian banyak orang. Keadaan ini membuka peluang besar bagi para produsen untuk memasarkan produknya melalui program iklan televisi dan internet. Iklan menjadi media komunikasi bagi konsumen dan produsen dalam melaksanakan praktik jual beli jarak jauh. Produsen melalui iklan dapat memperkenalkan/menawarkan jenis dan bentuk produk-produk terbaru pada masyarakat. Sebaliknya, konsumen melalui iklan dapat membaca perkembangan produk yang up to date. Selanjutnya, bagi konsumen yang membutuhkan produk tersebut dapat menghubungi produsen yang bersangkutan. Apabila kesepakatan jual beli terjadi maka pembayaran dapat dilakukan melalui wesel jasa pos, transfer dana melalui jasa perbankan atau alat pembayaran lainnya. Praktik jual beli seperti ini disebut dengan istilah belanja jarak jauh, belanja via televisi, via internet (E-commerce dan E-mail), dan sebagainya.35
Masalah jual beli secara umum telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan Hadis. Namun, bentuk-bentuk jual beli terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Untuk memperoleh ketentuan-ketentuan hukum muamalah yang baru timbul diperlukan pemikiran baru yang disebut ijtihad.
Bentuk ijtihad yang sesuai dalam hal ini adalah ijtihad
35Muhammad Kamal Zuber, “Tinjauan Hukum terhadap Jual Beli Lewat Media Televisi,“ Makalah Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2000.
integratif, yakni memilih berbagai pendapat para ulama terdahulu yang dipandang lebih relevan (intiqā’i), kemudian pendapat tersebut ditambah dengan unsur-unsur ijtihad baru (insyā’i).36 Kebolehan ijtihad dalam hal ini berkaitan dengan sifat hukumnya yang masih zhanniyāt al-dlalālah.
A. Kontruksi Dasar Perjanjian dalam Hukum