• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANAJEMEN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

D. Materi Pendidikan Anak Usia Dini

4. Materi Aqidah

Secara etimologik aqidah berarti credo, keyakinan hidup secara khusus berarti iman yaitu kepercayaan dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan (anggota badan). Yang mengenai obyek materi pembahasan mengenai aqidah pada umumnya ialah arkanul imal yang enam yakni; iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasulullah, kepada hari akhir dan kepada qadla dan qadar.118

Dari aqidah yang kemudian dijabarkan menjadi arkanul iman kemudian lahirlah ilmu tauhid. Ilmu inilah yang harus ditanamkan pada anak mula pertama sebagai dasar pengembangan ilmu-ilmu selanjutnya, dan sebagai pedoman keyakinan anak supaya jangan

115 Maimunah Hasan, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)… hal. 30

116 Maimunah Hasan, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)… hal. 31

117 Maimunah Hasan, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)… hal. 31

118 Achmadi, Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media, 1992. hal. 81

bimbang dan tergoyahkan oleh isme-isme yang lain. Al-Qur‟an melalui ayat-ayatnya banyak menyebutkan masalah ketauhidan ini.



persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".”(Q.S. Ali Imran, 3:64)

Seruan ini mencakup ahli kitab dari kalangan orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka. “ Katakanlah: "Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) maksud dari kata “kalimat” ialah suatu kalimat yang memberikan yang memberikan suatu pengertian demikian pula yang dimaksud dalam ayat ini.119

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Ibrahim a.s. di utus Allah untuk membawa agama tauhid ialah sesembahanmu, kamu tidak memiliki sesembahan lain disisiku, janganlah kamu membuat pahatan patung, dan jangan membuat gambaran apapun juga dari apa saja yang di langit dan di bumi, maupun yang terdapat di alam air. Jangan kamu bersujud kepada patung-patung dan gambaran-gambaran serta jangan menghambakan diri kepadanya.120

Di dalam ayat ini terdapat sebuah ketentuan bahwa semua masalah yang berhubungan ibadah atau dengan halal dan haram hanya al-Qur‟an dan Hadits, bukan pendeta, pemimpin dan pula pendapat ahli hukum yang kenamaan sekalipun; sebab kalau demikian, tentulah hal itu akan menyebabkan adanya persekutuan

119 Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahman bin Ishak Abu Syaikh (Peneliti) Lubabut Tafsir min Ibnu Katsir, (penj.) M. Yusuf Harun dkk. Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Pustaka Imam As-Syafi‟I, 2017. Cet.10. hal. 85

120 Dahlan, Zaini, et. al., Al-Qur‟an Dan Tafsirnya Jilid I, Yogyakarta:PT. Dana Bahkti Wakaf, 1990), hal. 595

dalam ke-Esaan Rubiyyah dan penyimpangan dari petunjuk al-Qur‟an, sebagaimana yang tertera dalam Q.S. as-Syura, 42:21.



Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih.

Dalam surah al-An‟am ayat 74 sampai 83, menjelaskan bahwa nabi Ibrahim mengajarkan tauhid kepada kaumnya. Ayat ini sudah penulis jelaskan di muka namun secara global, belum mendetail. Dalam hal ini akan diulas kembali, yang ulasan tersebut berdasarkan tafsir.

Ayat 74 menjelaskan bahwa pada saat itu nabi Ibrahim berkata pada bapaknya yang menyembah berhala beserta kaumnya.

Bagi orang berakal tak layak untuk menyembah apa yang tak sebanding dengannya dalam ciptaan, tidak pula yang di dalam kekuasaan khaliq, butuh kepada Allah yang maha kaya dan maha kuasa, tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun kemadlaratan, tidak pula dapat memberi dan menahan pemberian.121 Menyusul ayat 75 yang memperlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan di bumi.

Kemudian dilihatkanya sebuah bintang yang menonjol dari bintang-bintang lainya, karena sinarnya yang be kilauan, yaitu bintang Yupiter yang merupakan Tuhan yang terbesar bagi sebagian penyembah bintang dari bahasa Yunani dan Romawi Kuno. Kaum Ibrahim adalah iman mereka di dalam penyembah ini, sedang mereka hanya mengikutnya, ketika melihat itu Ibrahim berkata:

“Inilah Tuhanku”. Ibrahim bilang demikian adalah dalam adu argumentasi.

Setelah menghilang bintang itu, Ibrahim mengatakan “tidak”.

Dia mengatakan demikian karena orang yang sehat fitrahnya tidak menyukai sesuatu yang hilang dari padanya, dan tidak pula merasa

121 Ahmad Mustofa Al-Marghi, Tafsir Al-Marghi Jilid IV, Libanon: Darul Ihya, t.t.) hal. 167-168

kesepian karena kehilangan, bagaimana pendapat anda (kata Ibrahim kepada kaumnya) sekarang tentang kecintaan ibadah yang merupakan macam kecintaan yang paling tinggi dan sempurna?.

Fitrah dan akal yang sehat memberikan bimbingan kepada kecintaan itu. Oleh sebab itu kecintaan di dalam beribadah ini hanya patut diberikan kepada Tuhan yang ada dan dekat, maha mendengar, maha melihat lagi mengawasi, yang tidak pernah hilang, lengah ataupun lupa dan zahir dalam sesuatu dalam ayat-ayatnya,122 (penjelasan ayat 76). Selanjutnya ayat 77, memperlihatkan bulan, yang lebih besar dari pada bintang. Disusul ayat 78, yang memperlihatkan matahari, ini lebih besar dari pada bintang dan bulan. Di sini memperpanjang argumentasinya untuk menyudutkan mereka. Dalam pembicaraan ini pula, terdapat pendahuluan untuk menegakan hujjah atas mereka, dan tahapan untuk memancing perhatian mereka agar mau mendengar pembicaraan sesudah sindiran yang dikhawatirkan akan mereka sangkal.

Ringkasnya dia (Ibrahim) memutar balikan dan mengulur-ngulur pembicaraan dengan penuh kelembutan hingga sampai kepada apa yang dikehendaki dengan cara yang terbaik dan terhalus, sambil membebaskan diri dari sembahan-sembahan yang mereka jadikan Tuhan dan Tuhan-Tuhan selain Allah.123 Penjelasan selanjutnya bisa dilihat (Q.S. al-An‟am, 6:79-83).

Luqman dalam nasehatnya, bisa kita jumpai lewat surah Luqman ayat 13. Dalam tafsir al-Azhar dijelaskan: “Wahai anaku!

Janganlah engkau mempersekutukan dengan Allah, artinya janganlah engkau mempersekutukan yang lain dengan Allah.

Karena lain dari Tuhan itu adalah alam belaka, ciptaan Tuhan belaka. Tidaklah Allah itu bersekutu atau berkongsi dengan Tuhan yang lain dalam ciptaan alam ini. Jiwa manusia adalah mulia.

Manusia adalah mahluk yang dijadikan oleh Allah menjadi khalifahnya di muka bumi. Sebab itu maka hubungan tiap manusia dengan Allah hendaklah langsung jiwa mereka. Tidak ada sesuatu jua pun yang dapat mengingat jiwa itu, kecuali dengan Tuhan.

Apabila manusia telah mempertahankan dengan yang lain, sedang yang lain itu adalah benda belaka atau mahluk belaka, manusia itu sendirilah yang membawa jiwanya jadi budak dari yang lain.124

122 Ahmad Mustofa Al-Marghi, Tafsir Al-Marghi Jilid IV, 170

123 Ahmad Mustofa Al-Marghi, Tafsir Al-Marghi Jilid IV, 170

124 HAMKA, Tafsir Al-Azhar Juz XVIII-XXI, Jakarta : t.p.,1984, hal. 157

Kepercayaan bahwa Tuhan itu bersekutu, berdua atau bertiga atau berbilang banyak, kian hilang kemajuan teknologi itu sendiri membawa manusia berfikir kepada kesatuan kuasa tidak mungkin berbilang. Islam menyediakan “dulang” penampung jalan pikiran, demikian dengan ajaran tauhidnya”.125

Selanjutnya ayat-ayat yang masih ada kaitanya dengan tauhid adalah tauhid nabi Muhammad SAW (Q.S. Jin, 72:20), ajaran tauhid diwariskan nabi Ibrahim (Q.S. az-Zukhruf, 43:28-30), ajaran tauhid untuk Bani Israil; (Q.S. al-Baqarah, 2:83), agama tauhid agama Allah (Q.S. al-Anbiyaa, 21:92, Q.S. al-Mu‟minun, 23:35-37 Q.S. ar-Rum, 30:32), menyombongkan diri terhadap kalimah tauhid (Q.S. as-Shaffat, 37:35-37), kebenaran tauhid dan kebatilan syirik (Q.S. al-Ahqaf, 46:4-5), semua nabi bertauihd (Q.S. al-Baqarah, 2:130-133).

Karena pentingnya tauhid ini maka banyak ayat-ayat al-Qur‟an yang menyebutnya. Kemudian berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas; kita disuruh untuk kembali ke kalimah tauhid, Ibrahim mengajarkan tauhid kepada kaumnya serta nasihat Luqman untuk jangan mempersekutukan Allah dan ayat-ayat lainnya, inilah kita bertekad untuk menanamkan pada anak-anak sedini mungkin serta memupuknya hingga anak-anak tumbuh menjadi orang mu‟min sejati, tangguh menghadapi badai isme-isme dari luar yang itu tidak dibenarkan oleh Islam.