• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMPLIT MENGANDUNG Indigofera zollingeriana

MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Ternak Ruminansia Kecil (Kandang B), Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisis pakan dan analisis feses dilakukan di laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor Penelitian ini dilakukan selama 2 (dua) bulan yaitu bulan November 2011 sampai Januari 2012.

Materi Alat dan Bahan

Ternak. Penelitian ini menggunakan 20 ekor kelinci peranakan New Zaeland White

jantan periode lepas sapih umur 4 bulan, dengan bobot hidup rata-rata sekitar 1807± 255,87 g/ekor g/ekor.

Gambar 4. Kelinci Peranakan New Zealand White Jantan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)

Kandang dan Peralatan. Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang terbuat dari besi, sebanyak 20 buah dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 50 cm dan tinggi 50 cm. Setiap kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Masing- masing kandang ditempati seekor kelinci.

Ransum Penelitian. Ransum penelitian yang digunakan adalah pelet ransum komplit dengan sumber hijauan daun I. zollingeriana dan L. Leucocephala sebagai perlakuan. Bahan lain adalah jagung, dedak padi, CGM, bungkil kedelai, bungkil kelapa, CaCO3, premix, DCP, NaCl dan tepung ikan. Ransum komplit diformulasikan

14 dengan menggunakan Winfeed 2.8. Susunan ransum berdasarkan perlakuan yang diberikan terdapat pada Tabel 3. Komposisi nutrien pellet ransum komplit yang diberikan selama penelitian berdasarkan analisis laboratorium terdapat pada Tabel 4.

Tabel 3. Susunan Ransum Penelitian (%BK)

Bahan Pakan Taraf Pemberian (%)

R01 R1 R2 R3 R4 Ransum komersil 100 - - - - Daun I. zollingeriana - 0 10 20 30 Daun Lamtoro - 30 20 10 0 Jagung - 30 30 30 30 Dedak padi - 20 20 20 20 Bungkil kedelai - 11 11 11 11 Bungkil Kelapa - 5 5 5 5 Tepung ikan - 1 1 1 1 CGM - 1 1 1 1 CaCO3 - 0,5 0,5 0,5 0,5 DCP - 0,5 0,5 0,5 0,5 NaCl - 0,5 0,5 0,5 0,5 Premix - 0,5 0,5 0,5 0,5 Jumlah (%) 100 100 100 100 100

Keterangan : 1Komposisi bahan pakan dirahasiakan (Pellet ransum komersil)

Metode Persiapan Hijauan

Hijauan yang digunakan sebagai bahan pakan ransum komplit adalah daun I. zollingeriana dan lamtoro. Hijauan dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari selama ± 3 hari hingga kadar air bahan mencapai ± 12 %. Hijauan dipisahkan antara ranting dan daunnya sebelum digiling halus dengan ukuran gilingan 2 mm hingga berbentuk tepung.

Pembuatan Pelet Ransum Komplit

Bahan hijauan yang telah digiling dan berbentuk tepung dicampur dengan bahan pakan (Jagung, Dedak padi, CGM, Bungkil kedelai, Bungkil kelapa, CaCO3,

15 campuran tersebut dimasukkan ke dalam mesin pengaduk atau mixer agar semua bahan tersebut tercampur dengan rata. Tahap selanjutnya adalah pelleting yakni memasukan semua bahan yang telah tercampur ke dalam mesin pellet dengan ukuran 3 mm. Pellet yang akan dihasilkan selanjutnya diangin-anginkan dan dimasukkan ke dalam karung sesuai dengan perlakuan.

Tabel 4: Komposisi Nutrien Ransum Penelitian

Bahan pakan Kandungan Nutrien (%BK)

R0 R1 R2 R3 R4 Abu 10,25 8,07 8,40 8,63 8,63 Protein Kasar 15,74 17,90 18,95 21,06 19 Lemak Kasar 6,68 6,46 6,79 7,07 5,29 Serat Kasar 9,76 8,16 7,60 8,45 8,11 BETN 57,57 59,40 58,26 54,78 58,97 TDNa 62,87 68,26 69,70 68.81 66,99

Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, IPB (2011); berdasarkan Rumus Hartadi et al., (1980), %TDN = 22,822 – 1,44 (SK) – 2,875 (LK) + 0,655 (BeTN) + 0,863 (PK) + 0,02 (SK)2 0,078(LK)2 + 0,018 (SK)(LK) + 0,045 (LK)(BeTN) – 0,085 (LK)(PK) + 0,02 (LK)2(PK)

Keterangan : R0 = pelletcomersial, R1 = pellet ransum komplit 0% I. zollingeriana dan 30% lamtoro, R2 = pellet ransum komplit mengandung 10% I. zollingeriana dan 20% lamtoro, R3 = pellet ransum komplit mengandung 20% I. zollingeriana dan 10% lamtoro, R4 = pellet ransum mengandung 30% I. zollingeriana dan 0% lamtoro.

Gambar 5. Pellet Ransum Komplit Perlakuan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)

16

Pellet komersil (R0) memiliki warna kuning kecoklatan sedangkan ransum perlakuan memiliki warna hitam kehijau-hijauan (Gambar 5). Pellet ransum komplit yang mengandung I. zollingerian dan L. leucocephala (R1, R2, R3 dan R4) memiliki aroma khas hijauan I. zollingerian dan L. leucocephala sedangkan pellet komersil beraroma jagung. Pellet komersil lebih rapuh dibandingkan pellet ransum komplit yang mengandung I. zollingeriana dan L. leucocephala.

Prosedur Kerja Persiapan Kandang

Kandang sebanyak 20 buah sebelum digunakan dibersihkan terlebih dahulu dengan desinfektan, kemudian dijemur. Kandang didiamkan selama satu minggu setelah didesinfektan. Kandang dilengkapi tempat pakan dari keramik dan tempat minum dari botol minum khusus.

Pemeliharaan

Ternak dipelihara dalam kandang individu selama 8 minggu. Dua minggu pertama sebagai masa adaptasi pakan (preliminary). Adaptasi pakan dilakukan hingga kelinci mampu mengkonsumsi pakan yang akan diuji cobakan hingga 100 % (tidak ada sisa) tanpa mengalami penurunan konsumsi dan bobot badan. Kemudian minggu ke-3 sampai ke-8 dilakukan pengamatan dan pengambilan data.

Gambar 6. Pemeliharaan Sumber : Dokumentasi penelitian (2011)

Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pada pagi hari pukul 06.00 – 07.00 WIB dan sore hari pada pukul 17.00 – 18.00 WIB. Gambar 6 menunjukkan sistem pemeliharaan selama penelitian.

17 Koleksi Feses

Pengambilan contoh feses dilakukan pada tiga hari terakhir penelitian selama 3x24 jam dengan metode koleksi total (Perez et al., 1995). Seluruh feses yang tertampung (tiap perlakuan) ditimbang sebagai berat feses total, kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari selama 24 jam. Feses yang telah kering kemudian digiling dan dicampur pada masing-masing perlakuan. Feses yang baru keluar segera ditampung agar tidak tercampur dengan urin. Feses yang terkumpul selama 24 jam ditimbang sebagai bobot feses segar, kemudian sampel feses dikeringkan matahari untuk mendapatkan berat feses kering matahari. Sampel yang sudah kering matahari langsung dimasukkan dalam oven 60ºC, kemudian sampel dihaluskan dan dikomposit. Sampel yang sudah dikomposit selanjutnya diambil 10% dari setiap perlakuan dan ulangan, lalu dilakukan analisa proksimat untuk mengetahui kandungan nutrien pakan dan feses (AOAC, 2000). Skema pengambilan feses ditunjukkan oleh gambar 7.

Gambar 7. Skema Koleksi Feses

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan dan 4 kelompok. Kelompok dalam percobaan ini adalah bobot badan kelinci New Zealand White jantan yang dibagi menjadi empat kelompok. Lima ulangan adalah jumlah kelinci untuk masing-masing perlakuan yang merupakan perwakilan dari tiap kelompok. Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Perlakuan tersebut adalah sebagai berikut:

R0 = Pellet komersil

Timbang sebagai berat Feses diambil pada

tiga hari terakhir penelitian

Kering udara

Analisis bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar

dan serat kasar

Pengambilan feses ± 3-5 gram

untuk sampel

Penggilingan feses

18 R1 = Pellet Ransum komplit dengan 30% lamtoro dan 0% I. Zollingeriana.

R2 = Pellet Ransum komplit dengan 20% lamtoro dan 10% I. Zollingeriana.

R3 = Pellet Ransum komplit dengan 10% lamtoro dan 20% I. zollingeriana.

R4 = Pellet Ransum komplit dengan 0% lamtoro dan 30% I. Zollingeriana

Model matematika rancangan tersebut adalah sebagai berikut: Yij = µ + τi + ßj+ εij

Keterangan:  = rataan umum

i = efek perlakuan ke-i

ßj = efek kelompok ke-j

ij =eror perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisa statistik dengan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji kontras orthogonal (Steel dan Torrie, 1993). Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan protein kasar, kecernaan lemak kasar dan kecernaan serat kasar,serta konsumsi bahan kering, bahan organik, protein kasar, serat kasar dan lemak kasar pada kelinci peranakan New Zealand white jantan dengan rumus kecernaan berdasarkan metode Chruch (1991) sebagai berikut:

 Kecernaan BK (%) = Konsumsi BK Ransum (g) – BK feses (g) x 100 % Konsumsi BK Ransum (g)

 Kecernaan BO (%) = Konsumsi BO Ransum (g) – BK Feses (g) x 100% Konsumsi BO Ransum (g)

 Kecernaan PK (%) = Konsumsi PK Ransum (g) – PK Feses (g) x 100% Konsumsi PK Ransum (g)

 Kecernaan LK (%) = Konsumsi LK Ransum (g) – LK Feses (g) x 100% Konsumsi LK Ransum (g)

 Kecernaan SK (%) = Konsumsi SK Ransum (g) – SK Feses (g) x 100% Konsumsi SK Ransum (g)

 Konsumsi BK (gr/ekor/hari) = Konsumsi (gr/ekor/hari) × %BK pakan

 Konsumsi BO (gr/ekor/hari) = Konsumsi (gr/ekor/hari) × %BO pakan

 Konsumsi PK (gr/ekor/hari) = Konsumsi (gr/ekor/hari) × %PK pakan

19

 Konsumsi SK (gr/ekor/hari) = Konsumsi (gr/ekor/hari) × %SK pakan Keterangan :

BK Feses (g) = Feses yang keluar (g/ekor/hari) x % BK Feses BO Feses (g) = Feses yang keluar (g) x % BO Feses

PK Feses (g) = Feses yang keluar (g/ekor/hari) x % PK Feses SK Feses (g) = Feses yang keluar (g) x % SK Feses

20 HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Ransum

Konsumsi zat makanan merupakan bahan-bahan penting berupa nutrisi yang terkandung dalam zat makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Rataan konsumsi zat makanan kelinci disajikan pada Tabel 5 dan persentase konsumsi zat makanan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 5. Rataan Konsumsi Zat Makanan Berdasarkan 100% BK

Perlakuan Konsumsi (gr/ekor/hari) Bahan Kering Bahan Organik Protein Kasar Lemak Kasar Serat Kasar R0 76,40±1,40 67,78±1,38 18,52±1,13b 6,97±0,70b 9,52±0,92 R1 77,02±1,35 70,07±1,36 22,44±1,68a 7,67±0,48a 7,02±2,14 R2 66,46±0,65 60,26±0,65 19,91±0,70b 5,44±0,25b 6,09±0,28 R3 88,47±0,96 80,02±0,96 23,52±0,58a 7,89±0,19a 8,27±1,55 R4 79,88±0,65 72,19±0,65 19,31±0,87b 5,38±0,24b 7,23±1,02

Keterangan: Superskrip pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). R0 =

pelletcomersial, R1 = pellet ransum komplit 0% I. zollingeriana dan 30% lamtoro, R2 =

pellet ransum komplit mengandung 10% I. zollingeriana dan 20% lamtoro, R3 = pellet

ransum komplit mengandung 20% I. zollingeriana dan 10% lamtoro, R4 = pellet ransum mengandung 30% I. zollingeriana dan 0% lamtoro.

Tabel 6. Persentase Konsumsi Zat Makanan/Bobot Badan

Perlakuan

Konsumsi BK/Bobot badan (%)

Bahan Kering Bahan Organik Protein Kasar Lemak Kasar Serat Kasar R0 4,62±0,55 4,34±0,48 1,04±0,20b 0,39±0,06b 0,53±0,06 R1 4,24±0,44 3,71±0,51 1,18±0,08a 0,41±0,04a 0,37±0,13 R2 4,15±0,59 3,64±0,65 1,11±0,20b 0,30±0,05b 0,34±0,06 R3 4,18±0,53 3,78±0,48 1,17±0,15a 0,39±0,05a 0,41±0,06 R4 3.99±0,47 3,74±0,48 0,97±0,11b 0,27±0,03b 0,36±0,03

Keterangan: Superskrip pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). R0 =

pelletcomersial, R1 = pellet ransum komplit 0% I. zollingeriana dan 30% lamtoro, R2 =

pellet ransum komplit mengandung 10% I. zollingeriana dan 20% lamtoro, R3 = pellet

ransum komplit mengandung 20% I. zollingeriana dan 10% lamtoro, R4 = pellet ransum mengandung 30% I. zollingeriana dan 0% lamtoro.

21 Konsumsi Bahan Kering

Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi bahan kering kelinci. Konsumsi bahan kering kelinci berkisar antara 66,46 gr/ekor/hari-88,47 gr/ekor/hari (Tabel 5), sedangkan persentase konsumsi bahan kering kelinci berturut-turut berkisar antara 3,99%-4,62% (Tabel 6). Menurut Irlbeck (2001), kelinci akan makan sekitar 5% dari bobot badannya. Pendapat ini juga didukung oleh Ensiminger (1990) yang menyatakan bahwa kelinci dengan bobot badan 1,8 kg-3,2 kg, mengkonsumsi bahan kering sebesar 112 g/ekor/hari-173 g/ekor/hari atau setara 5,4%-6,2% dari bobot hidup ternak. Konsumsi bahan kering kelinci pada penelitian ini masih dikatakan rendah bila dibandingkan dengan pendapat Ensiminger (1990) yang menggunakan ransum komplit mengandung alfafa. Rendahnya konsumsi bahan kering kelinci pada penelitian disebabkan karena kandungan serat kasar ransum penelitian lebih tinggi yaitu berkisar antara 7,60%-9,76%, sedangkan serat kasar ransum yang mengandung alfafa yaitu sebesar 6,5%. Kandungan serat kasar ransum berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, karena pakan yang mengandung serat kasar tinggi lebih bersifat voluminous sehingga menyebabkan daya tampung di saluran pencernaan tidak tersedia untuk memasukan pakan yang baru dan akhirnya menurunkan konsumsi. Nuswantara et al. (2005) menyatakan bahwa waktu tinggal pakan dalam saluran pencernaan yang lama akan menurunkan konsumsi.

Faktor lain yang mempengaruhi rendahnya konsumsi bahan kering pada kelinci yang diberi pellet ransum komplit dengan kombinasi I. zollingeriana dan L. leucocephala yaitu faktor pakan. Pakan yang mengandung I. zollingeriana dan L. leucocephala memiliki konsumsi bahan kering yang rendah diduga karena masih adanya anti nutrisi mimosin pada lamtoro. Menurut Onwudike (1995), pellet berbasis daun lamtoro lebih disukai oleh kelinci dibandingkan daun gamal, namun pemberian daun lamtoro dapat mengurangi pertumbuhan bobot badan, konsumsi pakan, dan efisiensi pakan. Daun lamtoro mengandung mimosin yang menyebabkan kerontokan dan reddish (urin berwarna coklat) pada kelinci. Onwundike (1995) menyarankan agar penggunaan daun lamtoro dalam ransum tidak lebih dari 50% total ransum, sedangkan pada I. zollingeriana juga diduga masih mengandung anti nutrisi berupa tanin sehingga dapat mempengaruhi konsumsi pakan.

22 Lingkungan juga mempengaruhi konsumsi bahan kering kelinci. Lokasi penelitian yang bertempat di Laboratorium Lapang Ternak Ruminansia Kecil IPB memiliki suhu rata-rata sebesar 28,3°C dengan kelembaban sebesar 91,3%. Direktorat Jendral Peternakan (2008) menyatakan bahwa suhu optimal kandang untuk perkembangbiakan kelinci berkisar antara 15°C-20°C, dengan kelembaban sebesar 45%-70%. Suhu dan kelembaban yang tinggi dapat menurunkan konsumsi pakan sehingga konsumsi bahan kering juga rendah.

Konsumsi Bahan Organik

Konsumsi bahan organik kelinci yang mendapat perlakuan pakan dalam bentuk pellet ransum komplit dengan kombinasi I. zollingeriana dan L. leucocephala

tidak berbeda nyata. Rataan konsumsi bahan organik kelinci yaitu berkisar antara 60,26 gram/ekor/hari-80,02 gram/ekor/hari (Tabel 5). Persentase konsumsi bahan organik dari bobot badan yaitu berkisar antara 3,64%-4,34% (Tabel 6). Rendahnya konsumsi bahan organik kelinci disebabkan oleh konsumsi bahan kering kelinci yang rendah.

Sutardi (1980) menyatakan bahwa bahan organik berkaitan erat dengan bahan kering karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering. Chotimah (2002) menyatakan bahwa konsumsi bahan organik pada ternak berbanding lurus dengan konsumsi bahan kering, semakin tinggi konsumsi bahan kering maka konsumsi bahan organik juga tinggi.

Konsumsi Protein Kasar

Perlakuan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi protein kasar. Kelinci yang mendapat ransum R1 dan R3 memiliki nilai konsumsi protein kasar yang lebih tinggi yaitu sebesar 22,44 gram/ekor/hari dan 23,52 gram/ekor/hari, sedangkan konsumsi protein kasar pada kelinci yang mendapat perlakuan R0, R2 dan R4 hanya sebesar 18,52 gram/ekor/hari, 19,91 gram/ekor/hari dan 19,31 gram/ekor/hari (Tabel 5). Tingginya konsumsi protein kasar pada kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R3 disebabkan oleh tingginya konsumsi bahan kering dan bahan organik pada kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R3 (Tabel 5). Cakra et al. (2005) menyatakan bahwa konsumsi protein kasar berkorelasi positif dengan konsumsi bahan kering dan bahan organik.

23 Tingginya rataan konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1 dan R3 disebabkan oleh dua faktor yaitu kandungan protein kasar pakan dan jumlah konsumsi bahan kering kelinci. Kandungan protein kasar R1 lebih tinggi dibandingkan dengan R0 (Tabel 4), selain itu konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat ransum R1 lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R0, sehingga menyebabkan konsumsi protein kasar kelinci yang diberi perlakuan R1 lebih tinggi dibandingkan konsumsi protein kasar kelinci yang diberi perlakuan R0 (Tabel 5). Kandungan protein kasar R2 dan R4 lebih tinggi dibandingkan R1 (Tabel 4), tetapi konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R1 lebih tinggi dibandingkan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R2 dan R4 (Tabel 5) sehingga tidak mempengaruhi menurunkan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R1. Kandungan protein kasar R3 dan konsumsi bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R3 lebih tinggi dibandingkan kandungan protein kasar dan konsumsi bahan kering yang mendapat perlakuan R0, R2 dan R4 (Tabel 4 dan 5), sehingga konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R3 lebih tinggi dibandingkan konsumsi protein kasar kelinci yang mendapat perlakuan R0, R1 dan R4. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Okmal (1993) menyatakan bahwa kadar protein pakan yang tinggi dan disertai konsumsi bahan kering yang tinggi akan menghasilkan konsumsi protein kasar yang tinggi pula.

Konsumsi Lemak Kasar

Konsumsi lemak kasar kelinci yang diberi pellet ransum komplit yang mengandung I. zollingeriana dan lamtoro memiliki nilai yang berbeda nyata (P<0,05). Kelinci yang diberi perlakuan R1 yaitu penambahan 30% lamtoro dan R3 (20% I. zollingeriana dan 10% L. leucaena) memiliki konsumsi lemak kasar yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan R0 (pellet komersial), R2 (ransum yang mengandung 10% I. zollingeriana dan 20% L. leucaena) dan R4 (ransum yang mengandung 30% I. zollingeriana) yaitu sebesar 7,67 gram/ekor/hari dan 7,89 gram/ekor/hari. Hal ini dikarenakan konsumsi bahan kering dan protein kasar pada kelinci lebih tinggi daripada konsumsi bahan kering dan protein pada kelinci yang mendapat perlakuan R0, R2 dan R4.

24 Konsumsi Serat Kasar

Perlakuan tidak berbeda nyata terhadap konsumsi serat kasar kelinci. Nilai konsumsi serat kasar kelinci relatif sama antar perlakuan yaitu berkisar antara 5,81 gram/ekor/hari sampai 10,44 gram/ekor/hari (Tabel 5). Konsumsi serat kasar kelinci pada penelitian lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Theodore (2010) yang melaporkan bahwa konsumsi serat kasar kelinci yang diberi ransum dengan penambahan lamtoro dan bungkil inti sawit yaitu sebesar 16,56 gram/ekor/hari. Konsumsi serat kasar kelinci pada penelitian ini lebih rendah disebabkan oleh kandungan serat kasar ransum komplit dengan penambahan daun I. zollingeriana dan lamtoro yang tinggi, sehingga konsumsi bahan kering kelinci rendah. Kandungan serat kasar ransum berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, karena pakan yang mengandung serat kasar tinggi lebih bersifat voluminous sehingga menyebabkan daya tampung di saluran pencernaan tidak tersedia untuk memasukan pakan yang baru dan akhirnya menurunkan konsumsi. Rendahnya konsumsi bahan kering kelinci menyebabkan rendahnya konsumsi serat kasar kelinci.

Kecernaan Zat Makanan

Kecernaan zat- zat makanan merupakan salah satu ukuran dalam menentukan kualitas suatu bahan pakan. Rataan kecernaan zat makanan disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7: Rataan Kecernaan Zat Makanan

Perlakuan

Kecernaan (%)

Bahan Kering Bahan

Organik Protein Kasar

Lemak

Kasar Serat Kasar R0 82,71±4,92 80,53±6,59 74,43±4,89 90,97±3,33a 61,93±6,05 R1 71,48±4,77 77,15±1,74 75,85±3,92 81,85±3,59b 52,69±0,72 R2 70,04±4,55 73,78±2,70 65,80±4,14 75,38±6,78b 53,63±4,85 R3 78,21±6,49 79,62±5,66 78,09±5,21 84,97±3,54a 61,98±4,14 R4 68,70±4,36 72,25±3,33 74,39±2,73 79,02±3,42b 59,42±0,17

Keterangan: Superskrip pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). R0 =

pelletcomersial, R1 = pellet ransum komplit 0% I. zollingeriana dan 30% lamtoro, R2 =

pellet ransum komplit mengandung 10% I. zollingeriana dan 20% lamtoro, R3 = pellet

ransum komplit mengandung 20% I. zollingeriana dan 10% lamtoro, R4 = pellet ransum mengandung 30% I. zollingeriana dan 0% lamtoro.

25 Kecernaan Bahan Kering

Perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kecernaan bahan kering kelinci. Kombinasi I. zollingeriana dan L. leucocephala tidak memberikan pengaruh menurunkan kecernaan bahan kering kelinci hingga taraf 30%. Kecernaan bahan kering kelinci pada penelitian sebesar 68,70%-82,71% (Tabel 7).

Cheeke (1987) menyatakan bahwa kecernaan bahan kering kelinci yang diberi ransum komplit berbentuk pellet adalah sebesar 47%. Tingkat kecernaan bahan kering yang semakin tinggi membuktikan bahwa ransum perlakuan memiliki kualitas yang baik (Cheeke, 1987). Cunha et al. (2004) menyatakan bahwa kecernaan bahan kering pada kelinci yang diberi alfalfa dan diukur secara in vivo yaitu 61,4%-62,7%. Kecernaan bahan kering kelinci pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang dilaporkan oleh Cunha et al. (2004) yang menggunakan ransum komplit mengandung alfafa. Tingginya kecernaan bahan kering penelitian disebabkan oleh konsumsi bahan kering pada penelitian lebih tinggi yaitu berkisar antara 66,46 gr/ekor/hari - 88,47 gr/ekor/hari (Tabel 5), sedangkan konsumsi bahan kering pada penelitian Cunha et al. (2004) yaitu sebesar 63,8 gr/ekor/hari-98,1 gr/ekor/hari, selain itu kandungan serat kasar ransum pada penelitian lebih rendah yaitu berturut-turut berkisar antara 7,60%-9,76% daripada kandungan serat kasar ransum yang mengandung alfalfa yaitu berkisar antara 6,5%-13,6% (Cunha et al.,

2004). Pernyataan ini didukung oleh pendapat Pinheiro et al. (2009) yang menyatakan bahwa nilai kecernaan bahan kering yang diberi pakan serat rendah dengan penambahan manganoligosakarida adalah 72,6%. Suharlina (2010) menyatakan bahwa koefisien cerna bahan kering Indigofera sp. yang di ukur secara

in vivo berkisar antara 68,21%-73,15%.

Kecernaan Bahan Organik

Perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap kecernaan bahan organik kelinci. Kombinasi I. zollingeriana dan L. leucocephala memiliki kecernaan bahan organik kelinci yang sebanding dengan ransum komersil. Nilai kecernaan bahan organik kelinci penelitian berkisar antara 72,25%-80,53%. Kecernaan bahan organik kelinci penelitian lebih tinggi dibandingkan dengan kecernaan bahan organik kelinci yang dilaporkan oleh Cunha et al. (2004) yang menggunakan ransum yang mengandung alfafa sebagai hijauan dalam ransum kelinci yaitu berkisar antara

26 61,9%-63,2%. Hal ini dikarenakan kecernaan bahan kering kelinci pada penelitian lebih tinggi daripada kecernaan bahan kering kelinci yang dilaporkan oleh Cunha et al.,(2004) yang menggunakan ransum mengandung alfalfa. Suharlina (2010) menyatakan bahwa koefisien cerna bahan organik Indigofera sp. yang diukur secara

in vivo berkisar antara 65,33%-70,64%.

Kecernaan bahan organik akan sejalan dengan kecernaan bahan kering, karena bahan organik merupakan komponen terbesar dalam bahan kering yang terdiri dari protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan Bahan Ekstrak tanpa Nitrogen (BETN). Hal ini sesuai dengan pendapat Tillman et al. (1997), semakin tinggi persentase kecernaan bahan kering akan dikuti juga peningkatan persentase kecernaan bahan organik. Tingginya kecernaan bahan kering pada penelitian menyebabkan kecernaan bahan organik juga tinggi.

Kecernaan Protein Kasar

Perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kecernaan protein kasar kelinci. Persentase kecernaan protein kasar kelinci tiap perlakuan tidak jauh berbeda yaitu berkisar antara 65,80%-78,09% (Tabel 7). Nilai kecernaan protein kasar kelinci pada penelitian lebih tinggi dibandingkan nilai kecernaan protein kasar pada kelinci yang dilaporkan oleh Nicodermus et al. (2010). Nicodermus et al. (2010) menggunakan hay alfalfa dan jerami gandum dengan ukuran pellet yang berbeda yaitu 9 mm dan 1 mm untuk masing-masing perlakuan memiliki nilai kecernaan protein kasar kelinci berkisar antara 12,1%-13,2%.

Tingginya kecernaan protein kasar kelinci pada penelitian disebabkan oleh tingginya kandungan protein kasar ransum perlakuan yaitu berkisar antara 15,74%- 21,06%, sedangkan kandungan protein kasar pada pakan yang dilaporkan oleh Nicodermus et al. (2010) yaitu berkisar antara 16,6%-16,9%. Garcia et al. (1993) menyatakan bahwa kecernaan protein kasar dipengaruhi oleh kadar serat kasar dan protein ransum, selain itu konsumsi juga akan mempengaruhi tingkat kecernaan protein. Menurut Okmal (1993), semakin tinggi konsumsi bahan kering dalam ransum kadar protein kasar tinggi, maka konsumsi protein kasar juga akan semakin tinggi. Konsumsi protein akan menentukan tingkat kecernaan protein ransum tersebut. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Pinheiro et al. (2009), menyatakan bahwa nilai kecernaan protein pada kelinci yang diberi pakan rendah

27 serat dengan penambahan manganoligosakarida sebesar 81,4%, sedangkan nilai kecernaan protein kasar kelinci yang diberi pakan dengan serat yang tinggi tanpa penambahan manganoligosakarida yaitu sebesar 76,8%.

Kecernaan Lemak Kasar

Perlakuan nyata berpengaruh (P<0,05) terhadap kecernaan lemak kasar kelinci. Kecernaan lemak kasar kelinci yang mendapat perlakuan R0 dan R3 lebih tinggi dibandingkan dengan kecernaan lemak kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2 dan R4. Nilai kecernaan lemak kasar kelinci yang mendapat perlakuan R0 dan R3 yaitu sebesar 90,97% dan 84,97%, sedangkan kecernaan lemak kasar kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2, dan R4 adalah 81,85%, 75,38% dan 79,02% (Tabel 7). Kecernaan lemak kasar yang diberi pakan R0 dan R3 lebih tinggi, dikarenakan kandungan lemak kasar pakan dan konsumsi bahan kering kelinci pada R3 lebih tinggi dibandingkan kandungan lemak kasar pakan dan konsumsi bahan kering kelinci yang diberi perlakuan R1, R2 dan R4 (Tabel 4 dan Tabel 5).

Rendahnya kecernaan lemak kasar kelinci yang diberi perlakuan R1, R2 dan R4 disebabkan oleh kandungan lemak kasar pada ransum R1, R2 dan R4 lebih rendah dibandingkan dengan kandungan lemak kasar ransum R0 dan R3 ( Tabel 4), selain itu kecernaan bahan kering kelinci yang diberi perlakuan R0 dan R3 lebih tinggi dibandingkan dengan kecernaan bahan kering kelinci yang mendapat perlakuan R1, R2 dan R4 sehingga kecernaan lemak kasar kelinci juga tinggi. Kelinci mempunyai kemampuan untuk mencerna protein dan lemak yang baik, tetapi koefisien cerna terhadap serat kasar sangat rendah (Lang, 1981).

Kecernaan Serat Kasar

Perlakuan memberikan pengaruh tidak nyata terhadap kecernaan serat kasar kelinci. Kombinasi I. zollingeriana dan L. leucocephala tidak memberikan pengaruh terhadap kecernaan serat kasar kelinci. Rataan persentase kecernaan serat kasar tiap perlakuan tidak jauh berbeda yaitu sebesar 52,69%-61,98% (Tabel 7). Kecernaan serat kasar kelinci pada penelitian lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Cunha et al. (2004) yang menyatakan bahwa kecernaan NDF dan ADF pada kelinci yang diberi pakan berupa minyak bunga matahari yaitu sebesar 70,8% dan 58,9%.

28 Futiha (2010), kecernaan serat kasar kelinci yang diberi perlakuan ransum

Dokumen terkait