Lokasi dan Waktu
Penelitian berlangsung dari bulan Februari sampai Agustus 2010 di laboratorium Ternak Perah Fakultas Peternakan, laboratorium Kesmavet, laboratorium Mikrobiologik Terpadu Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan di peternakan sapi perah rakyat H. Mahfuddin di daerah Kebon Pedes Bogor.
Materi Penelitian Ternak
Ternak yang digunakan adalah sembilan ekor sapi peranakan Fries Holland laktasi ke-2 sampai ke-4 dengan bulan laktasi normal (bulan ke-3 sampai ke-5)
yang menderita mastitis subklinis (++), dengan produksi susu rata-rata 10-11 l/hari/ekor. Sapi-sapi tersebut dikelompokkan kedalam tiga kelompok
perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali.
Uji Mastitis Subklinis
Pengujian mastitis subklinis dilakukan terhadap susu sapi dari masing-masing kuartir dengan pereaksi IPB-1. Sebanyak kurang lebih 2 ml susu dimasukkan dalam pedel ditambah pereaksi IPB-1 dengan jumlah sama banyak, lalu digoyang-goyang secara horizontal selama kurang lebih 15-20 detik, selanjutnya dilihat perubahan pada susu. Hasil yang diperoleh dinilai berdasarkan perubahan kekentalan campuran cairan diberi tanda -, +, ++,+++. (Lampiran 1).
Pemeriksaan Bakteri Patogen
Untuk menguatkan diagnosa mastitis subklinis pada ternak yang digunakan, dilakukan pengujian mikrobiologis (bakteri patogen) menggunakan media agar darah. Susu dari setiap kwartir yang terdeteksi mastitis subklinis, diambil secara aseptis dan dimasukkan kedalam tabung steril. Kemudian diinokulasi pada media agar darah (Blood agar Base No.2 (CM271B) dengan
perbandingan 5-7% darah domba). Penggunaaan agar darah untuk membedakan bakteri patogen berdasarkan kemampuan bakteri untuk melisiskan sel-sel darah merah.
Temu Putih
Temu putih yang digunakan dalam penelitian adalah dalam bentuk serbuk simplisia, dengan pengolahan sesuai standar pengolahan tanaman obat bekerja sama dengan balai penelitian obat dan tanaman aromatik (Balitro) Bogor. Rimpang temu putih yang digunakan adalah jenis Curcuma zedoaria (berg.) Roscoe (Lampiran 2) yang telah berumur 9-12 bulan. Pembuatan serbuk simplisia dilakukan dengan cara: rimpang temu putih dibersihkan, dicuci, diiris tipis, kemudian dikeringkan anginkan (30-34oC) hingga kadar air maksimal 10%. Selanjutnya dilakukan penggilingan untuk mendapatkan serbuk simplisia temu putih yang siap digunakan. (Gambar 3).
Gambar 3 Rimpang temu putih (A), Irisan rimpang (B), Irisan rimpang kering (C), Simplisia serbuk temu putih (D)
Metode Penelitian
Penelitian dimulai dengan pencarian lokasi dan identifikasi ternak. Ternak yang digunakan adalah sembilan ekor sapi peranakan Fries Holland laktasi ke-2 sampai ke-4 dengan bulan laktasi normal (bulan ke-3 sampai ke-5) yang
A B
D C
20
menderita mastitis subklinis positif dua (++) dengan produksi susu hampir seragam.
Pemberian temu putih dilakukan bersamaan dengan pemberian konsentrat pada ternak, dengan cara mencampurkan serbuk simplisia temu putih kedalam konsentrat, pemberian dilakukan dua kali seminggu setiap hari kamis dan minggu selama delapan minggu. Ransum yang digunakan adalah ransum yang biasa diberikan oleh peternak sapi perah H. Mahfuddin Kebon Pedes Bogor yang terdiri atas rumput lapang, kulit jagung, konsentrat, ampas tahu dan ampas tempe. Komposisi zat makanan yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Komposisi zat-zat makanan yang digunakan selama penelitian
Jenis Pakan Pemberian
(kg) Komposisi (%)* Bahan Kering Serat Kasar Protein Kasar Lemak Kasar TDN Rumput lapangan Kulit jagung Konsentrat Ampas tahu Ampas tempe 20 10 5 48 15 19.82 18.7 76.77 5.36 13.36 29.80 26.80 19.33 9.11 42.23 15.22 5.24 15.25 14.09 16.24 2.02 0.96 4.19 29.77 5.9 56.24 49.99 68.00 74.93 60.29 Konsumsi (Kg) 14.18 1.97 8.88 Kebutuhan(Kg) ** 11.76 1.45 7.41
Keterangan : * Hasil analisa Balai Pengujian Mutu Makanan Ternak, Bekasi (2010)
**Hasil perhitungan berdasarkan 4% FCM untuk sapi dengan berat badan 400 kg, produksi susu 14 kg, dan kadar lemak 3.5% (Sudono, 1999)
Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan dosis pemberian serbuk simplisia temu putih yakni Kontrol = tanpa pemberian serbuk simplisia temu putih, P1= 0.02 % bobot badan dan P2= 0.04 % bobot badan. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis sidik ragam (uji F) dan apabila terjadi perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Model matematika untuk percobaan ini adalah:
Yij = µ +
τ
i +ε
ij Keterangan :Yij = Nilai pengamatan perlakuan ke-i ulangan ke-j
µ = Nilai tengah umum
ε
ij = Pengaruh acak yang menyebar normal Peubah yang Diamati Produksi SusuPengukuran produksi susu dilakukan setiap hari dari setiap puting pada pemerahan pagi pukul 03.30 WIB dan sore pukul 14.30 WIB. Jumlah susu hasil pemerahan tiap puting diukur dan dicatat. Produksi susu yang didapatkan dikoreksi dengan 4% FCM (fat corrected milk) untuk menghilangkan faktor lemak dengan rumus :
Produksi susu 4% FCM = (0.4 x PS) + (15 x PSx L) Keterangan : PS = Produksi susu rata-rata harian
L = Persentase kadar lemak
Komposisi Susu
Pengambilan sampel untuk uji komposisi susu dilakukan sekali dalam dua minggu selama delapan minggu, dimulai pada saat sebelum perlakuan hingga setelah perlakuan. Susu diambil sebanyak 250 ml dari masing-masing puting. Komposisi susu yang diuji meliputi :
- Kadar Lemak
Kadar lemak susu diukur dengan metode Gerber (Sanjaya et al. 2009). Sebanyak 10 ml H2SO4 pekat (91-92%) dimasukkan kedalam tabung butirometer, melalui dinding tabung tersebut, secara perlahan-lahan dimasukkan susu sebanyak 10.75 ml, kemudian ditambahkan 1ml amyl alkohol. Tabung ditutup dengan sumbat karet kemudian dikocok dengan memutar seperti angka delapan hingga homogen. Selanjutnya tabung disentrifuse selama 3 menit dengan putaran 1200 rpm, kemudian direndam dalam penangas air panas 65oC selama 5 menit. Kadar lemak susu dibaca pada skala butirometer dalam satuan persen.
- Kadar Protein
Karena adanya korelasi antara kadar lemak dan kadar protein susu, maka penghitungan kadar protein susu dapat dihitung bila kadar lemak diketahui dengan rumus sebagai berikut (Sanjaya et al, 2009).
22
L
Kadar Protein (%) = --- + 1.4
2
Keterangan : L = Kadar lemak (%)
- Kadar Bahan Kering dan Bahan Kering tanpa Lemak
Kadar bahan kering (BK) susu dihitung dengan persamaan Fleischmann (Sanjaya et al, 2009) berdasarkan data kadar lemak dan berat jenis susu pada suhu 27,5 oC. Rumus yang digunakan adalah :
BJ BJ x
xL
BK 1.311 2.738 100 1
Keterangan : L = kadar lemak susu (%)
BJ = berat jenis susu pada 27.5 oC
Kadar bahan kering tanpa lemak (BKTL) susu dihitung dengan rumus: BKTL = BK – L
Keterangan : L = kadar lemak susu (%) BK = kadar bahan kering (%)
Kondisi Mastitis dalam Jumlah Sel Somatis
Pemeriksaan sel somatis dilakukan sekali dalam dua minggu dimulai pada saat sebelum perlakuan hingga setelah perlakuan. Susu dari setiap kwartir yang terdeteksi mastitis subklinis, diambil secara aseptis dan dimasukkan kedalam tabung steril, selanjutnya dilakukan pemeriksaan sel somatis.
Pemeriksaan sel somatis dilakukan dengan metode Breed (Sanjaya et al. 2009). Sampel susu yang akan diperiksa dihomogenkan terlebih dahulu, kemudian susu dipipet menggunakan pipet Breed dan diteteskan 0.01 ml pada gelas objek 1 (satu) sentimeter persegi dan diratakan hingga membentuk suatu lapisan tipis dan merata, kemudian dibiarkan kering udara selama 5-10 menit. Selanjutnya difiksasi dengan nyala api Bunsen. Pewarnaan Breed dilakukan dengan cara, gelas objek direndam dalam eter alkohol selama 2 menit dan goyang-goyangkan untuk menghilangkan/melarutkan susu. Warnai dengan merendam gelas objek dalam larutan biru methylen löffler selama 1-2 menit. Tahap selanjutnya dimasukkan kedalam larutan alkohol 96% untuk menghilangkan sisa zat warna yang tidak melekat dan dibilas dengan air bersih. Jumlah sel somatis dihitung menggunakan
mikroskop pembesaran (100x), dengan bantuan minyak emersi. Jumlah sel somatis didapat dengan rumus :
Jumlah sel somatis = F x B Keterangan : F = Faktor mikroskop
B = Rataan jumlah sel somatis dari 10 – 30 lapang pandang. Konsentrasi ImunoglobulinG
Konsentrasi imunoglobulin G diukur sebanyak dua kali yaitu pada saat sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Pengukuran konsentrasi ImmunoglobulinG dilakukan dengan metode ELISA (Burgess. 1995) dengan cara: Plate di coating dengan anti IgG bovine 1:5000, dalam buffer carbonat bicarbonate pH 9.6, selanjutnya diinkubasi semalam pada temperature 4oC. Masing-masing sumuran dicuci tiga kali dengan 300 µl 0.05 % phosphate buffered saline tween (PBST) 20. Selanjutnya diblok dengan 0.5% Skim milk sebanyak 100 µl PBS, lalu diinkubasi 1 jam pada temperature 37oC. Kemudian dicuci tiga kali dengan 300 µl 0.05 % PBST20. Sampel yang telah diencerkan (1:1000 dalam PBS) ditambahkan kedalam plate, sebagai blangko digunakan PBS. Selanjutnya diinkubasi pada temperature 37oC selama 1 jam. Tahap selanjutnya dicuci tiga kali dengan 300 µl 0.05 % PBST20. Conjugat (anti IgG peroksidase) ditambahkan sebanyak 100 µl dan diinkubasi pada temperature 37oC selama 1 jam. Kemudian dicuci tiga kali dengan 300 µl 0.05 % PBST20. Tambahkan substrat Tetramethyl benzidine, inkubasi selama 1 jam. Hasil dibaca dengan mikroplat reader (Benchmark) pada panjang gelombang 492 nm.