• Tidak ada hasil yang ditemukan

Matriks, Model, dan Varian-varian Puisi Saudara Kembar

BAB IV ANALISIS PUISI BIMA, SAUDARA KEMBAR, TELINGA,

C. Matriks, Model, dan Varian-varian

2. Matriks, Model, dan Varian-varian Puisi Saudara Kembar

SAUDARA KEMBAR

karya Subagio Sastrowardoyo dalam kumpulan puisi Keroncong Motinggo tiba-tiba

sebagai kilat cermin di tangannya mengingatkan dia kepada lubuk laut lain di mana ia pernah menjenguk dan berjumpa dengan gambar muka (seperti saudara kembar)

begitu serupa

tercipta dari ilham yang sama ia tidak bertukar kata

hanya tahu

ia ditunggu sejak dulu rindu yang dahsyat

Matriks dalam puisi Saudara Kembar adalah kesadaran tokoh Bima akan hakikat kehidupan. Matriks ini ditransformasikan menjadi model “saudara kembar”. Model tersebut ditransformasikan menjadi varian-varian yang berupa uraian dalam bait 1, 2, 3.

Varian pertama: tokoh Bima ingat akan keadaan dirinya sebagai seorang manusia. Keadaan tokoh Bima yang ingat dan sadar sebagai seorang manusia untuk selalu berusaha mengetahui tentang dirinya. Tokoh Bima melakukan perjalanan sampai akhirnya bertemu dengan makhluk yang mempunyai bentuk dan rupa yang sama dengan dirinya, tak lain adalah Dewa Ruci. Pertemuan tokoh Bima dengan tokoh Dewa Ruci menjadi jalan bagi tokoh Bima untuk mengenal diri sebagai seorang manusia dan makna kehidupannya.

Varian pada bait kedua: tokoh Bima berdiam diri dengan penuh ketenangan, merenungi dan memahami segalanya. Bima melakukan meditasi, memusatkan perhatian dan batinnya. Tokoh Bima tanpa ragu-ragu sedikitpun melakukan semua hal yang memang harus dilaksanakannya. Hal ini karena kesungguhan kehendak dan hati tokoh Bima untuk mengetahui makna hidup.

Varian pada bait ketiga: ketika harapan telah terpenuhi maka harus melaksanakan kewajibannya. Tokoh Bima mengetahui tentang asal mula dan akhir dari kehidupan, sehingga merasakan kenikmatan dan kebahagian. Tokoh Bima harus kembali ke tempat asalnya karena mempunyai kewajiban, tugas, dan tanggung jawab sebagai seorang kesatria untuk membela nusa dan bangsa.

Dari matriks, model dan varian-varian tersebut dapat disimpulkan bahwa tema puisi Saudara Kembar yaitu kesadaran tokoh Bima tentang makna kehidupan dan kesadaran sebagai seorang manusia atau makhluk. Amanat puisi

Saudara Kembar sebagai berikut. Sebagai seorang makhluk, manusia agar selalu ingat dan sadar akan dirinya. Setiap manusia diharapkan agar dapat berintrospeksi akan kesalahan yang telah diperbuat dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan itu. Setiap manusia diharapkan agar selalu berusaha memahami pentingnya kehidupan, agar selalu ingat dan tetap melaksanakan tugas serta tanggung jawab dalam setiap kehidupan.

3. Matriks, Model, dan Varian-varian Puisi Telinga

TELINGA

karya Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni “Masuklah ke telingaku,” bujuknya.

Gila: ia digoda masuk ke telinganya sendiri agar bisa mendengar apa pun

secara terperinci – setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis

yang menciptakan suara.

“Masuklah,” bujuknya.

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri

Matriks dalam puisi Telinga adalah pemahaman tokoh Bima tentang hakikat kehidupan. Matriks ini ditransformasikan menjadi model “Telinga”. Model tersebut ditransformasikan menjadi varian-varian yang berupa uraian dalam bait puisi Telinga. Varian pertama: Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci. Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinga sebelah kiri. Dikarenakan dalam jiwa manusia, yaitu Bima, melekat noda-noda kotor nafsu angkara, maka melewati telinga kiri yang berfungsi untuk membersihkan noda-noda kotoran tersebut yang mana Bima akan masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci yang merupakan alam suci tidak ada noda sedikitpun.

Varian kedua: tokoh Bima diharapkan dapat memahami asal mula kehidupan. Tokoh Bima diberi pengetahuan tentang rangkaian proses kehidupan manusia di dunia, dan Dzat atau Tuhan yang menciptakan semua kehidupan di alam semesta yang memberi hidup kepada semua makhluk yang hidup di dunia. Varian ketiga: tokoh Bima diharapkan dapat memahami dan melaksanakan pengetahuan yang telah diterima. Tokoh Bima diharuskan untuk bisa menggunakan pengetahuan yang diperolehnya untuk dapat memperoleh manfaat yang baik.

Dari matriks, model dan varian-varian tersebut dapat disimpulkan bahwa tema puisi Telinga sebagai yaitu manfaat dan keutamaan tokoh Bima dalam memahami makna kehidupan. Amanat puisi Telinga sebagai berikut. Setiap manusia agar mendekatkan diri pada Tuhan dalam kehidupannya. Setiap manusia agar selalu belajar dalam waktu hidupnya sebelum sampai tiba waktu matinya. Manusia yang ingin maju harus mau dan dapat mengutamakan pentingnya ilmu pengetahuan.

4. Matriks, Model, dan Varian-varian Puisi Dewa Ruci

DEWA RUCI

karya Saini K.M. dalam kumpulan puisi Nyanyian Tanah Air Siapakah engkau, Sang Bima bertanya pada Dewa Ruci - Aku adalah engkau yang telah mendamba

yang pernah dinista, ditipu dan disesatkan

Engkau yang membunuh naga dalam dasar lautmu. Kau bukanlah yang saya cari, ujar Sang Bima - Tapi akulah yang kau temukan

anugerah yang kau tebus dengan duka-deritamu Yang lain tiada, kecuali aku.

Apa gunanya saya mendapatkanmu, tanya Sang Bima - Untuk segala-galanya atau tidak untuk apa-apa

kau dapat menerima atau menolakku

dan hidup selama-lamanya bergulat dengan nagamu.

Matriks dalam puisi Dewa Ruci adalah tentang pertemuan tokoh Bima dengan Dewa Ruci. Matriks ini ditransformasikan menjadi model “Dewa Ruci”. Model tersebut ditransformasikan menjadi varian-varian yang berupa uraian dalam bait 1,2,3. Varian pertama: Dewa Ruci berada dalam diri Bima. Dewa Ruci hadir menemui Bima setelah Bima berhasil membunuh naga dalam dasar laut yakni setelah Bima berhasil menaklukkan nafsu dalam batinnya.

Varian pada bait kedua: Dewa Rucilah guru sejati tokoh Bima. Bima mendapat guru sejatinya, yang merupakan pemberian untuk dapat memberikan kesejahteraan dan kenikmatan kepada Bima yang tengah berada dalam keadaan memprihatinkan karena Bima telah melalui cobaan hidup sangat berat.

Varian pada bait ketiga: hal yang diperoleh Bima setelah bertemu Dewa Ruci. Setelah mendapat wejangan dari Dewa Ruci, Bima dapat menggunakan atau tidak pengetahuan yang telah diberikan kepadanya. Penggunaan pengetahuan yang telah didapat Bima jika tidak digunakan secara benar dapat menyebabkan kembali diliputi nafsu dan menjadi orang yang sombong.

Dari matriks, model dan varian-varian tersebut dapat disimpulkan bahwa tema puisi Dewa Ruci yaitu keberhasilan Bima dalam menemukan guru sejatinya dan mengenal dirinya. Amanat puisi Dewa Ruci sebagai berikut. Setiap manusia harus selalu kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan. Setiap orang agar berusaha untuk mengenal dirinya, serta terus berusaha dengan kuat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh setiap orang sebaiknya dimanfaatkan secara baik dan benar.

Dokumen terkait