HASIL DAN PEMBAHASAN
5. Lingkungan Industri
4.3 Perumusan Alternatif Strategi
4.3.2 Matriks SWOT
Gambar 4.3. Matrik IE Sumber: Data primer, diolah
4.3.2 Matriks SWOT
Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT menggunakan data yang telah diperoleh dari matriks IFAS dan EFAS, empat strategi utama yang disarankan yaitu strategi SO (Strength and Opportunities), WO (Weakness and Opportunities), ST (Strength and Threats) dan WT (Weakness and Threats). Adapun hasil analisis matriks SWOT pada industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen dapat dilihat pada Tabel 4.12. Alternatif strategi yang dirumuskan menggunakan matriks SWOT dibuat tidak bertolak belakang dengan alternatif strategi yang dihasilkan dari matriks IE. Beberapa alternatif strategi yang dirumuskan untuk pengembangan usaha pada industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen berdasarkan analisis matriks SWOT adalah:
Tinggi 4,0 3,0 – 4,0 3,0 3,0 Menengah 2,0 – 2,99 2,0 Rendah 1,0 – 1,99 1,0 VI IV V III I II (2.99, 3.791) IX VII VIII T ot al r at a-ra ta t e rt im b an g E F A S
1) Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan penggunaan kekuatan perusahaan untuk memanfaatkan peluang. Berikut ini merupakan alternatif strategi yang dapat ditawarkan untuk pengembangan usaha pada industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen adalah:
a) Pengembangan Pasar
Industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen memang terkenal dengan kualitasnya, dalam pengembangan usahanya, setiap perusahaan disarankan untuk tetap menjaga kualitas produk. Jumlah penduduk Kabupaten Kebumen semakin meningkat, kemungkinan akan terjadi permintaan genteng yang meningkat karena pola konsumsi masyarakat yang masih mengandal genteng sebagai atap rumah. Pangsa pasar yang masih cukup luas memberikan kesempatan bagi industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen untuk meningkatkan penjualanya dan melakukan penjualan produk yang sudah ada ke pasar yang baru (tambahan area geografis), karena saat ini industri genteng kebumen sebagian besar baru merambah daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY. Untuk itu, perusahaan harus bisa menjaga kualitas produk genteng agar kesetiaan pelanggan terhadap produk Genteng Sokka Kebumen tetap terjaga dan penjualan juga meningkat.
b) Inovasi corak produk (pengembangan produk)
Kondisi perekonomian yang semakin mendukung, pola konsumsi masyarakat terhadapgenteng meningkat, dan jumlah penduduk yang
semakin meningkat ini menjadi peluang bagi industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen. Kondisi tersebut akan memungkinkan banyaknya selera masyarakat yang semakin beragam dan berubah. Untuk dapat meningkatkan penjualan, memenuhi permintaan sesuai selera konsumen industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen memerlukan inovasi produk genteng. Pengembangan produk genteng bisa berupa dari corak dan bentuk yang semakin indah dengan disesuaikan kebutuhan masyarakat.
2) Strategi W-O
Strategi W-O adalah strategi bertujuan untuk mengatasi kelemahan internal dengan memanfaatkan peluang eksternal yang dimiliki oleh perusahaan.
Ada empat alternatif strategi yang dapat dilakukan pada strategi W-O, yaitu : a. Mengoptimalkan promosi.
Industri kecil kerajinan genteng dapat lebih mengoptimalkan promosi melalui forum pameran di luar jateng yang dilakukan pemerintah. Saat ini daerah pemasaran industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen paling banyak daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Adanya pangsa pasar yang masih luas masih membuka peluang untuk mempromosikan di daerah Jawa Timur dan luar Jawa.
b. Memanfaatkan kredit yang ditawarkan oleh perbankan
Keterbatasan modal menjadi masalah yang cukup besar, karena dapat menghambat dalam pengembangan usaha. Modal merupakan faktor penting dalam keberlangsungan proses produksi, untuk meningkatkan
modal kerja dalam mengembangkan usaha, pengusaha dalam industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen dapat memanfaatkan adanya kemudahan akses dari perbankan. Adanya penambahan modal diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, sehingga pada saat musim ramai proyek industri kecil kerajinan genteng mampu memenuhi permintaan konsumen. Selain itu, dengan penambahan modal akan mampu membeli fasilitas pendukung guna pengembangan industri kecil kerajinan genteng, seperti modernisasi mesin.
3) Strategi S-T
a. Inovasi produk
Seiring dengan meningkatnya persaingan dalam industri dan rendahnya hambatan masuk pesaing baru maka industri kecil kerajinan genteng harus dapat mempertahankan pasar konsumen yang sudah ada dengan cara mempertahankan bahkan meningkatkan mutu produk. Oleh karena itu, adanya koordinasi antara pemilik dan tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman sangat membantu industri kecil dalam upaya meningkatkan pengawasan mutu produk seperti dalam hal pemilihan bahan baku utama, proses produksi, dan pembakaran.
Mutu produk yang selalu terjamin dapat meningkatkan loyalitas pembeli terhadap produk. Selain itu, melaksanakan inovasi pada corak dan bentuk produk, dengan harga yang sesuai jenis produk, sehingga segmen pasar selain kelas menengah kebawah tetapi juga menengah keatas. Adanya inovasi pada produk dapat menjadi alternatif pilihan
konsumen dan diharapkan dapat berimplikasi terhadap peningkatan penjualan. Peningkatan adanya inovasi juga menghindari adanya ancaman nantinya seperti produk subtitusi dan pesaing dari daerah lain. Adanya inovasi diharapkan mampu memberikan ciri khas bagi industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten KebumenAlternatif strategi ini mengacu pada pilihan strategi pada matriks IE, yaitu pengembangan produk. b. Mempertahankan kualitas produk
Di era globalisasi saat ini persaingan semakin ketat, produk subtitusi yang mengancam industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen sudah banyak memasuki pasar terutama di kota besar. Hal ini, tentu perlu diwaspadai karena produk subtitusi seperti merk multiroff dan sejenisnya harganya lebih murah dibandingkan produk genteng. Untuk itu, mempertahankan kualitas produk genteng kebumen menjadi kekuatan saat ini dan kedepannya, walaupun harga genteng lebih mahal tetapi kualitas ketahanan masih menjadi andalan.
4) Strategi W- T
a. Melakukan perbaikan dalam pengelolaan dan pengalokasian keuangan Dalam industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen diperlukan strategi untuk mengantisipasi terjadi kenaikan harga bahan baku penolong, seperti kayu bakar dan minyak pelumas serta kenaikan harga tanah liat ketika musim hujan, yang dapat menyebabkan kenaikan biaya produksi. Saat ini pengusaha genteng belum melakukan pembukuaan keuangan. Cara membuat pembukuan keuangan yang lebih
jelas dengan dilakukannya pemisahaan antara keuangan perusahaan dan keluarga, keuntungan juga menjadi jelas, biaya–biaya menjadi terinci dan harga bisa stabil. Selain itu, adanya pengaturan keuangan yang baik juga sangat membantu industri kecil dalam menghadapi persaingan dengan industri sejenis. Hal penting lain bahwa adanya pembukuan keuangan dapat membantu dalam proses peminjaman ke perbankan.
b) Kontrak pengadaan bahan baku dengan pemasok
Dalam pengadaan bahan baku utama industri kecil kerajinan genteng di Kabupaten Kebumen, kekuatan tawar menawar pemasok tanah liat cukup kuat . Hal ini dikarenakan tanah liat yang berkualitas hanya ada di daerah tertentu di Kabupaten Kebumen seperti, Kecamatan Pejagoan, Kecamatan Sruweng, Kecamatan Kebumen, Kecamatan Petanahan dan Kecamatan Klirong. Namun permasalahannya, selama ini hubungan yang terjalin antara industri dengan para pemasok hanya bersifat kekeluargaan sehingga ketika musim hujan, akses terhadap bahan baku menjadi tidak terjamin dan harga jual menjadi lebih mahal yang akhirnya berpengaruh pada kapasitas produksi industri.
Pengusaha genteng mudah untuk berpindah pemasok, tetapi tidak ada salahnya apabila dilakukan kontrak secara tertulis antara pengusaha genteng dengan pemasok sehingga kedudukan antara kedua belah pihak menjadi setara dan ketersediaan bahan baku tanah liat menjadi lebih terjamin dalam hal jumlah, mutu yang sesuai dengan standar industri, harga, waktu pengiriman, dan sistem pembayaran. Adanya kontrak
tersebut industri dapat berproduksi dengan lancar yang akhirnya berimplikasi pada meningkatnya kemampuan industri kecil dalam pemenuhan permintaan pasar dan harga produk yang selalu stabil sehingga lebih unggul dibandingkan para pesaingnya. Selain itu, industri kecil juga akan terhindar dari persaingan dalam pengadaan bahan baku dengan industri sejenis lainnya.
Faktor Eksternal ( EFAS)
1. Adanya spesialisasi pekerjaan 2. Kualitas produk sudah sesuai
selera konsumen
3. Tenaga kerja dekat dengan lokasi usaha
4. Jam kerja sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah
5. Kemudahan akses bahan baku 6. Adanya inovasi (corak)
produk
7. Tenaga kerja terampil dan berpengalaman
1. Kurangnya media promosi
2. Akses ke lokasi industri sulit
3. Sulit menambah modal kerja
4. Belum adanya pembukuan keuangan 5. Upah tenaga kerja yang
belum sesuai UMR Kabupaten Kebumen
Peluang ( Oppurtunities-O) 1. Kondisi perekonomian
mendukung 2. Pola konsumsi
masyarakat akan genteng meningkat
3. Jumlah penduduk meningkat
4. Teknologi yang semakin modern
5. Kemudahan akses perbankan
6. Pangsa pasar yang masih luas
7. Pemberian jasa pelatihan dari dinas terkait
Strategi (SO)
- Pengembangan pasar - Inovasi corak produk (
pengembangan produk) Strategi ( WO) - Mengoptimalkan promosi - Memanfaatkan kredit yang ditawarkan oleh perbankan Ancaman ( Threat – T) 1. Fluktuasi harga bahan
baku pendukung
2. Adanya produk subtitusi 3. Produk mudah ditiru 4. Adanya pendatang baru 5. Regenerasi tenaga kerja
produktif sulit 6. Adanya pesaing dari
daerah lain
Strategi ( ST)
- Inovasi produk genteng - Mempertahankan kualitas produk Strategi ( WT) - Perbaikan dalam pengelolaan keuangan
- Kontrak bahan baku dengan pemasok