• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Keselamatan Kerja (Job Safety Analysis – JSA)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Analisis Keselamatan Kerja (Job Safety Analysis – JSA)

Kapal perikanan dapat menjadi lingkungan kerja yang sangat berbahaya. Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan harus dilakukan untuk mengeliminir atau bahkan menghilangkan potensi risiko bahaya atau kecelakaan tersebut. Korps penjaga pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) menyatakan bahwa : usaha perikanan merupakan pekerjaan yang paling berbahaya di Amerika Serikat. Usaha-usaha meningkatkan standar keselamatan dalam usaha perikanan terus dilakukan, tetapi standar keselamatan kapal perikanan tetap saja masih lebih rendah dibandingkan dengan kapal komersial lainnya. Peningkatan standar keselamatan juga diikuti dengan meningkatnya biaya untuk memenuhi standar tersebut. Solusi mudah untuk masalah ini diantaranya adalah memastikan kapal ‘layak laut’, awak yang kompeten, alat-alat keselamatan yang cukup, serta kesadaran baik nelayan maupun pihak pengelola perikanan untuk menerapkan prosedur-prosedur keselamatan (Petursdottir, Hannibalson, and Turner, 2001).

Sebuah penelitian tentang keselamatan kerja di laut Indonesia, dilakukan dengan mengambil contoh dari 66 unit kapal perikanan di Tegal (pukat tarik), Pekalongan (pukat cincin) dan Cilacap (longline mini dan jaring insang). Hasilnya menunjukkan bahwa 68 orang nelayan meninggal dunia karena kecelakaan di laut. Kecelakaan yang terjadi antara lain ; kapal tenggelam (46 %), tercebur ke laut (27 %), sakit dan kelelahan (20 %) serta kecelakaan ketika operasi penangkapan ikan

(7 %). Kecelakaan yang terjadi ketika operasi penangkapan ikan dilakukan dapat disebabkan oleh kurangnya kompetensi nelayan dalam mengoperasikan alat tangkap, kurang atau tidak adanya informasi dan latihan penanggulangan keadaan darurat serta kurangnya penerangan dalam operasi penangkapan ikan di malam hari (Suharyanto, 2010 diacu dalam Chokesanguan, Rajruchithong and Wanchana 2010).

Kapal panah di Karimunjawa, karena tidak ada dermaga, ditambatkan di pantai. Untuk mencapai kapal nelayan harus berjalan kaki dan mereka terbiasa tidak menggunakan alas kaki. Suplai udara yang digunakan nelayan sebagai alat bantu penyelaman adalah kompresor udara yang biasa digunakan untuk mengisi ban kendaraan, dengan menambahkan filter untuk menyaring udara yang akan dihisap nelayan. Menurut pengakuan nelayan, bahwa alat-alat yang mereka gunakan untuk melakukan operasi penangkapan ikan tidak sesuai standar, walaupun begitu, nelayan panah melakukan perawatan alat bantu penangkapan secara berkala, seperti disajikan pada Lampiran 19.

Dalam satu kali trip penangkapan ikan, nelayan melakukan satu sampai dua kali penyelaman. Penyelaman dilakukan pada kedalaman maksimum 30 meter, dengan lama waktu penyelaman sampai 180 menit (lebih lengkap pada Lampiran 20). Pola penyelaman seperti ini sangat berisiko menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit dekompresi.

Urutan langkah kerja dalam kegiatan operasi penangkapan ikan dimasukkan dan kemudian dianalisis potensi bahaya/kecelakaan yang mungkin timbul serta tindakan pencegahan apa yang perlu dilakukan untuk menghilangkan atau meminimalisir potensi bahaya/kecelakaan tersebut, seperti disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Analisis keselamatan kerja kegiatan perikanan panah di Karimunjawa No Urutan Langkah

Kerja

Potensi Bahaya /

Kecelakaan Tindakan Pencegahan

1 Memindahkan peralatan ke atas kapal

Benda jatuh

Tertimpa benda jatuh

Terpeleset

Tersandung

Terkilir

Tertusuk

Mengangkut barang sedikit demi sedikit dengan cara yang aman Perhatikan jalur yang akan

dilewati

Gunakan alas kaki Persiapan kapal

- Cek kebocoran kapal

Olah gerak kapal terhambat Terpeleset Lambung kapal tergenang air Kapal tenggelam Segera keringkan genangan air di lambung kapal

Pastikan tidak ada kebocoran di lambung kapal - Memasukkan BBM BBM tumpah Kebakaran Pencemaran lingkungan perairan Terpeleset

Gunakan corong untuk menuangkan BBM Jauhkan sumber api

Pastikan tutup tanki BBM terpasang sempurna Cek selang bahan bakar - Penambahan / penggantian oli mesin Oli tumpah Pencemaran Terpeleset

Tuangkan oli dengan hati-hati

Pastikan oli mesin selalu ada

Ganti oli mesin secara berkala

Terpukul engkol Pastikan engkol terpasang sempurna

Memutar engkol dengan hati-hati

Baling-baling mengenai substrat dasar perairan

Pastikan posisi kapal pada kedalaman yang aman 2

- Menghidupkan mesin

Laju kapal tidak terkendali

Pastikan posisi gas pada putaran rendah

Gelombang besar Pastikan kondisi cuaca mendukung operasi penangkapan ikan Hentikan operasi

penangkapan ikan jika tidak aman

Mabuk laut Gunakan obat anti mabuk laut

Jatuh ke laut Berada di tempat yang aman dari potensi jatuh ke laut

Gunakan rompi apung 3 Perjalanan menuju

daerah penangkapan ikan

Tertimpa benda jatuh

Tersandung

Perhatikan posisi selalu aman dari kemungkinan

No Urutan Langkah Potensi Bahaya / Tindakan Pencegahan

Kerja Kecelakaan

Terpeleset benda jatuh

Pastikan peralatan

disimpan dengan baik dan aman Persiapan operasi penangkapan ikan - Cek kompresor BBM kompresor tumpah Tersandung Terpeleset Cek BBM kompresor Cek selang BBM kompresor

Pastikan tutup tanki BBM terpasang sempurna Pastikan kondisi

kompresor dalam keadaan baik

Gunakan penerangan yang cukup - Menyiapkan panah Tertusuk panah Tersandung Terpeleset

Memasang panah ketika sudah berada dalam air Gunakan penerangan yang

cukup

Selang udara bocor Cek selang udara secara berkala

Ganti selang udara

Senter selam mati Cek kondisi baterai Ganti baterai

Senter selam bocor Cek kondisi O-ring senter Ganti O-ring senter

Masker selam rusak

Strap masker selam putus

Cek kondisi masker selam Ganti masker

Ganti strap masker - Menyiapkan alat bantu penangkapan ikan lainnya Terjatuh ke laut Tersandung Terpeleset

Berada pada posisi yang aman dari potensi terjatuh ke laut

Gunakan rompi apung Gunakan penerangan yang

cukup

Terpeleset

Terkilir

Proses naik dan turun dari kapal dengan hati-hati Gunakan tangga untuk

turun-naik dari dan ke kapal

Terantuk baling-baling

Pastikan mesin kapal sudah dimatikan Pastikan baling-baling

sudah berhenti berputar Turun ke air tidak dari

bagian belakang kapal

Peralatan terlepas dari pegangan

Gunakan tali pegangan pada peralatan

4

- Proses turun ke air

No Urutan Langkah Potensi Bahaya / Tindakan Pencegahan

Kerja Kecelakaan

keadaan selang udara Simpan pada tempat yang

aman

Hanyut terbawa arus Perhatikan kondisi arus dan gelombang

Perhatikan kondisi cuaca Hentikan pekerjaan jika

tidak aman

Tersengat ubur-ubur Perhatikan kondisi lingkungan sekitar Gunakan wetsuit Nyalakan senter selam

sebelum turun dari kapal

Menimpa substrat dasar perairan

Turun dari kapal dengan hati-hati

Nyalakan senter selam sebelum turun dari kapal Perhatikan kedalaman

perairan

Hanyut terbawa arus Pastikan arus dan

gelombang dalam kondisi tenang

Hentikan pekerjaan jika tidak aman

Disorientasi

Kehilangan mitra

Naik ke permukaan dan orientasi ulang

Mengikuti rencana penyelaman yang sudah dibuat

Gunakan tali

pengaman/acuan dari kapal

Selalu berkomunikasi dengan mitra di air dan mitra nelayan yang berada di atas kapal

Gunakan isyarat yang sudah disepakati

Tersengat biota Kenali biota-biota berbahaya

Gunakan wetsuit Berenang tidak terlalu

dekat dengan

dasar/substrat perairan

Kram Lakukan peregangan

sebelum turun dari kapal 5 Operasi

penangkapan ikan

Kaki terluka Jangan berjalan di dasar perairan

No Urutan Langkah Potensi Bahaya / Tindakan Pencegahan

Kerja Kecelakaan

Kehabisan udara Cek BBM kompresor secara berkala

Komunikasi yang baik dengan mitra nelayan di atas kapal

Gunakan isyarat yang sudah disepakati

Keracunan udara Perhatikan arah angin dan posisi kompresor

Cek saringan udara kompresor

Ganti saringan udara secara berkala

Bersihkan selang udara secara berkala

Ganti selang udara apabila sudah tidak layak

Jangan bernafas pendek-pendek, selalu bernafas dengan panjang dan dalam

Kedinginan Gunakan wetsuit Hentikan penyelaman

Pecah gendang telinga

Ekualisasi rongga telinga

Mask squeeze Hembuskan udara pada masker

Mask clearing

Keracunan nitrogen Naik ke kedalaman yang lebih dangkal

Buat rencana penyelaman dengan tidak melebihi no-decompression limit Mengikuti rencana

penyelaman yang telah dibuat

Menyelam tidak melebihi waktu dan kedalaman yang aman (sesuai tabel selam) Hentikan penyelaman

Barotrauma Atur kecepatan turun dan naik sesuai dengan standar baku penyelaman (0,5 feet/detik)

Ekualisasi

Penyakit dekompresi Buat rencana penyelaman dengan tidak melebihi no-decompression limit Mengikuti rencana

No Urutan Langkah Potensi Bahaya / Tindakan Pencegahan

Kerja Kecelakaan

dibuat

Atur kecepatan turun dan naik sesuai dengan standar baku penyelaman (0,5 feet/detik)

Hentikan penyelaman

Cedera lung over-expansion

Tidak menahan nafas selama penyelaman Atur kecepatan turun dan

naik sesuai dengan standar baku penyelaman (0,5 feet/detik) 6 Memindahkan ikan hasil tangkapan ke kapal Tertusuk Tergores

Gunakan sarung tangan Memegang ikan dengan

hati-hati 7 Penyelesaian

pekerjaan

- Membereskan peralatan

Tertimpa benda jatuh

Tersandung

Terpeleset

Simpan peralatan pada tempat yang aman Pastikan posisi aman dari

tertimpa benda jatuh Gunakan penerangan yang

cukup

Peralatan di atas dek harus ditata dengan baik, dek harus dijaga agar tetap rapi. Dek yang tidak tertata rapih dapat menimbulkan kecelakaan. Alat-alat di atas dek harus selalu diikat untuk menghindari terjatuh ketika menghadapi gelombang besar. Penggunaan kompresor sebagai alat bantu penangkapan ikan perlu diperhatikan secara serius agar udara yang dipompakan dan kemudian dihirup tetap bersih dan aman bagi nelayan.

Fin didesain untuk memudahkan penggunanya berenang, baik di permukaan maupun di bawah permukaan air. Teknik menggunakan fin juga perlu dikuasai untuk mempermudah pergerakan di air. Ketika nelayan tidak memakai fin, diperlukan usaha yang lebih untuk berenang di air. Tanpa fin juga memungkinkan nelayan untuk berjalan di dasar perairan, hal ini menjadi masalah ketika dasar perairannya berupa terumbu karang. Nelayan bisa terluka karena menginjak terumbu karang atau biota lainnya, selain itu terumbu karang juga akan rusak karena diinjak oleh nelayan.

Metode operasi perikanan panah dengan menyelam dapat menimbulkan risiko tersendiri, baik penyelaman bebas maupun memakai kompresor. Penyelam bebas berisiko kehilangan kesadaran di bawah air karena kekurangan oksigen dan

atau kelebihan kadar CO2 di dalam darah. Tanpa latihan yang baik dan teratur penyelaman bebas merupakan kegiatan yang sangat berbahaya.

Penyelaman dengan kompresor juga sangat berbahaya apabila tidak mengikuti prosedur baku penyelaman. Potensi bahaya paling besar dari kegiatan penyelaman paling tidak berasal dari beberapa aspek, sebagai berikut :

 Suplai udara

Kompresor, apabila tidak dirawat dengan baik akan memompakan udara yang tidak aman bagi nelayan. Inlet udara kompresor harus diperhatikan, jangan sampai udara buangan dari knalpot terhisap inlet kompresor dan kemudian dipompakan ke nelayan. Apabila itu terjadi, maka nelayan dapat keracunan gas karbon monoksida (CO) dan karbon dioksida (CO2). Keracunan gas CO2 dapat juga terjadi apabila nelayan bernafas pendek-pendek (seperti terengah-engah). Untuk menghindari hal tersebut, nelayan harus mengambil dan membuang nafas yang panjang.

 Teknik penyelaman

Waktu dan kedalaman penyelaman juga harus diperhatikan dengan baik. Apabila nelayan melakukan penyelaman melewati no-decompression limit, maka akan berisiko tinggi terkena penyakit dekompresi. Seorang penyelam tidak boleh melebihi batas tanpa-dekompresi tanpa pelatihan khusus dalam prosedur dekompresi. Sebagai contoh, batas waktu penyelaman no-decompression limit untuk kedalaman 10 meter adalah 300 menit, sedangkan batas waktu no-decompression limit untuk kedalaman 30 meter hanya selama 20 menit (Tabel selam U.S. Navy diacu dalam Ariadno et al., 2003), seperti disajikan pada Lampiran 21.

Penyakit dekompresi dapat juga timbul karena nelayan terlalu cepat naik ke permukaan atau turun dari permukaan. Selain penyakit dekompresi, beberapa penyakit lain dapat timbul akibat naik atau turun terlalu cepat, diantaranya adalah barotrauma pada telinga dan sinus. Batas kecepatan yang aman untuk naik ke permukaan atau turun dari permukaan adalah 0,5 feet per detik.

Selama penyelaman menggunakan suplai udara dari kompresor, nelayan tidak boleh menahan nafas. Lung over-expansion injuries dapat timbul apabila nelayan menahan nafas ketika naik ke permukaan. Terkait kedalaman

penyelaman yang dilakukan, nelayan panah juga berisiko keracunan nitrogen (nitrogen narcosis), yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran.

 Lingkungan penyelaman.

Bahaya yang mungkin timbul dari lingkungan penyelaman diantaranya adalah angin kencang dan gelombang tinggi yang dapat menghempaskan kapal nelayan. Arus perairan yang kencang dapat membuat nelayan hanyut terbawa arus, kemudian jarak pandang (visibility) terbatas dapat menyebabkan nelayan kehilangan arah (disorientasi) ketika menyelam. Suhu perairan dapat menyebabkan kehilangan panas tubuh (hypothermia) apabila nelayan terlalu lama menyelam di bawah air. Penggunaan wetsuit dapat menjaga dan menghambat kehilangan panas tubuh terlalu cepat.

Biota perairan berbahaya yang dapat menggigit, menyengat, dan beracun seperti hiu, barakuda, ular laut, gurita cincin biru (blue ring octopus), pari, lepu batu, lepu ayam, dan biota berbahaya lainnya harus diwaspadai oleh nelayan. Gigitan dan sengatan biota-biota tersebut dapat menimbulkan cedera atau bahkan dapat menyebabkan kematian.