TEORI & PRAKTEK
2.3 Media Pembelajaran
Asosiasi Teknologi dan Komunikasi pendidikan (Association of Education and Communication Technology/AECT) membatasi suatu media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan
53
dibaca. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Menurut Sadiman (2003:6), media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Informasi yang disampaikan melalui media dalam bentuk materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan dengan menggunakan gabungan beberapa alat indera mereka.
Menurut Ibrahim (2000:4), media pembelajaran diartikan segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan (bahkan pembelajaran), sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Informasi yang disampaikan melalui media dalam bentuk isi atau materi pengajaran harus dapat diterima oleh penerima pesan dengan menggunakan salah satu atau gabungan beberapa alat indera mereka.
54
dengan bagan berikut:
Dari bagan diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran adalah proses komunikasi demikian pula bahwa proses pembelajaran adalah suatu sistem, maka posisi media pembelajaran adalah sebagai komponen sistem pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi, dan demikian pula tanpa media pembelajaran, proses pembelajaran juga tidak akan berlangsung. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.
Dalam pengembangan media sebagai alat bantu Edgar Dale mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut disebut kerucut pengalaman (Cone of Experience). Gambar kerucut pengalaman Edgar Dale dapat dilihat seperti dibawah ini :
Berdasarkan kerucut pengalaman Edgar Dale dapat disimpulkan bahwa pengalaman yang paling konkret adalah yang lebih efektif digunakan sebagai media pembelajaran, karena siswa akan lebih mudah menyerap suatu bahan ajar melalui pengalaman yang paling konkret. Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi, maka pesan yang dikomunikasikan dalam bentuk
lambang kata lambang visual gambar tetap gambar hidup televisi pameran dan museum
darmawisata percontohan pengalaman dramatisasi
pengalaman tiruan
pengalaman langsung dan bertujuan
Gambar 2.25 Posisi Media Pembelajaran (Ibrahim, 2000:5)
55
materi pelajaran yang harus mudah dipahami oleh siswa, untuk itu pesan tersebut haruslah disampaikan melalui suatu media pembelajaran. Keberadaan media pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan media itu sendiri.
2.3.1 Jenis dan Karakteristik Media Pembelajaran
Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuan membangkitkan rangsangan indra penglihatan, pendengaran, peraba, pengecapan, maupun penciuman, atau kesesuaiannya dengan tingkatan hierarki belajar. Untuk tujuan-tujuan praktis, ada beberapa karakteristik media yang lazim dipakai dalam kegiatan belajar mengajar khususnya di Indonesia, yaitu: Media Grafis, Media Audio, Media Proyeksi Diam. Ada beberapa tokoh yang menggolongkan media pembelajaran:
Leshin, Pollock & Reigeluth dalam (Arsyad, 2011:81) mengklasifikasikan media pembelajaran ke dalam lima kelompok yaitu :
(1). Media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, field trip);
(2). Media berbasis cetak (buku, penuntun, buku latihan, alat bantu kerja dan lembaran lepas);
(3). Media berbasis visual (buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta, gambar, transparansi, slide);
(4). Media berbasis audio visual (video, film, program slide-tape, televisi);
(5). Media berbasis komputer (pengajaran dengan berbasis komputer, video interaktif, media pendukung bahan ajar guru berbasis multimedia).
56
Sedangkan menurut Arsyad (2011:105) pengembangann media pembelajaran saat ini dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) Media Berbasis Visual; (2) Media Berbasis Audio-Visual; (3) Media Berbasis Komputer; (4) Multimedia Berbasis Komputer dan Interactive Video.
Sesuai dengan jenis-jenis media pembelajaran, teaching aids berbasis multimedia yang dikembangkan dalam penelitian ini termasuk dalam jenis Multimedia Berbasis Komputer dan Interactive Video.
2.3.2 Manfaat dan Kegunaan Media Pembelajaran
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengarui jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun akan mempengarui jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa menguasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Dapat dikatakan bahwa secara umum media pembelajaran mempunyai fungsi untuk mengatasi hambatan komunikasi, keterbatasan fisik kelas, sikap pasif, dan mempersatukan pengamatan siswa (Hary dalam Kustiono, 2010:5)
Menurut Sadiman (2003:16), secara umum media pembelajaran mempunyai kegunaan sebagai berikut :
(1). Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan).
57
(2). Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya :
a. Objek yang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai, film atau model;
b. Objek yang kecil dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;
c. Gerak yang terlalu cepat atau terlalu lambat, dapat dibantu dengan timelipse atau hig-speed photography;
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, film bingkai, foto maupun secara verbal;
e. Objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram, dan lain-lain.
(3). Konsep yang terlalu luas atau peristiwa yang jarang terjadi dapat divisualkan dalam bentuk film, film bingkai, gambar dan lain-lain. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk :
a. Menimbulkan kegairahan belajar;
b. Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan;
c. Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
(4). Dengan sifat yang unik pada setiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar
58
belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam:
a. Memberikan perangsang yang sama, b. Mempersamakan pengalaman, c. Menimbulkan persepsi yang sama.