• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Kerangka Berpikir

Banyak faktor yang bisa meningkatkan paham keagamaan peserta didik, diantaranya adalah guru pendidikan agama Islam dan media sosial. Keduanya sangat berpengaruh dalam meningkatkan religiusitas peserta didik. Untuk mewujudkan penelitian atas pemecahan dan menganalisa masalah yang ditemukan, maka perlu dikemukakan gambaran umum yang berupa kerangka berpikir seperti berikut:

Media Sosial:

Ceramah dan konten religi

Guru pendidkan agama Islam: Memberikan contoh dan memfilter

Peserta Didik:

Lebih menerima media sosial atau guru pendidikan agama Islam

47 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Dalam skripsi ini, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif. Hakikat penelitian kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya, mendekati atau berinteraksi dengan orang-orang yang berhubungan dengan fokus penelitian dengan tujuan mencoba memahami, menggali pandangan dan pengalaman mereka untuk mendapat informasi atau data yang diperlukan (Iskandar, 2009: 51).

Selain itu seperti yang dinyatakan oleh Moleong (2000:5), metode kualitatif dilakukan dengan beberapa pertimbangan, pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hubungan antara peneliti dengan responden; ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

Dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, penulis tidak akan cukup melakukan penelitian dalam waktu 1 jam, 1 hari atau 1 minggu. Penulis membutuhkan waktu yang cukup untuk hasil yang

maksimal, walaupun demikian, penulis menargetkan penelitian ini selesai dalam 15 sampai 30 hari.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penulis akan melakukan penelitian di SMK Ma’arif Grogol, yang bertempat di Jalan Muwardi Raya No.19 Grogol, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Sedangkan untuk waktu penelitian, penulis akan memulai penelitian pada awal bulan September Tahun 2020. Adapun tahapan penlitiannya adalah sebagai berikut.

Tahapan Waktu

1. Penelitian Pendahuluan Januari-Februari 2019 2. Penyusunan Proposal Januari-November 2019 3. Penggalian Data dan Analisis November-Desember 2019 4. Pengolahan Data dan Analisis Januari-Juli 2020

5. Penyusunan Laporan Penelitian Agustus-Maret 2021

C. Deskripsi Posisi Peneliti

Dalam pendekatan kualitatif, ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjuk subjek penelitian. Ada yang mengistilahkan informant, karena informant memberikan informasi tentang suatu kelompok atau entitas tertentu, dan informan bukan diharapkan menjadi representasi dari kelompok atau entitas tersebut. Istilah lain adalah partisipan. Partisipan digunakan, terutama apabila subjek mewakili

suatu kelompok tertentu, dan hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian dianggap bermakna bagi subjek. Istilah informan dan partisipan tersebut secara substansial dipandang sebagai instrument utama dalam penelitian kualitatif (Afifuddin dan Beni Ahmad Saebani, 2009: 88).

Menurut Patton ada dua teknik pemilihan partisipan (sampling partticipant) dalam penelitian kualitatif. Pertama, random probabilty sampling yaitu pengambilan sample dari populasi secara random dengan memperhatikan jumlah sample, dengan tujuan agar sample dapat digeneralisasikan pada populasi. Kedua, purposful sampling, sampel dipilih bergantung pada tujuan penelitian tanpa memperhatikan kemampuan generalisasinya. Pernyataan atau pengakuan tidak ditemukannya informasi dan dipengaruhi oleh pertimbangan dana dan waktu yang telah dianggarkan sejak dimulainya penelitian (Afifuddin dan Beni Ahmad Saebani, 2009: 89).

Hal ini karna hampir semua pelaksanaan penelitian memiliki jadwal penelitian yang sangat terbatas meskipun dalam penelitian kualitatif, pembatasan waktu kurang relevan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh penelitian yang dimaksudkan, waktu seantiasa berhubungan erat dengan dengan biaya yang tersedia untuk penelitian, jadi sangat tidak mungkin menggunakan banyak waktu dengan biaya yang kurang memadai.

Kerena kunci penelitian ini ada pada penulis, maka penulis akan mempersiapkan apa yang perlu untuk disiapkan, sehingga penulis

mampu memberi pertanyaan, meganalisis, memotret dan mengontruksi situasi sosial yang diteliti sehingga menjadi lebih jelas dan bermakna.

Penulis berharap dengan melakukan serangkain cara penelitian tersebut meperoleh hasil penelitian yang maksimal dan berjalan lancar.

D. Tahap-Tahap Penelitian

Dalam melakukan penelitian, ada tahap-tahap yang akan dilakukan oleh penulis dengan objek yang akan diteliti, tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut;

1. Tahap Persiapan

Tahap persiapan adalah tahap sebelum penulis melaksanakan penelitian. Dalam tahap ini, penulis mempersiapkan segala kebutuhan teknis maupun administratif, dimulai dari studi pendahuluan, menyusun usulan penelitian, mengurus izin penelitian dan menentukan sumber yang akan diteliti.

2. Tahap pelaksanaan tindakan

Pada tahap ini, Peneliti membuat kesepakatan dengan subjek mengenai waktu dan tempat untuk melakukan wawancara berdasarkan pedoman yang sudah dibuat. Yaitu mencari dan mengumpulkan data di lokasi penelitian.

3. Tahap analisis data

Pada tahap ini, penulis mengolah dan mengorganisir data, baik yang diperoleh dari observasi, wawancara ataupun dokumentasi dengan pihak yang diteliti.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpukan data merupakan cara untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Data yang sudah terkumpul akan dipilih, mana yang lebih valid dalam penelitian tersebut. Karena menggunakan metode kualitatif, maka pengumpulan data dapat digunakan dengan wawancar, observasi, angket dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode;

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang mewawancarai (Interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Risnayanti, 2004: 41).

Wawancara dilakukan dengan berdialog dan tanya jawab dengan kepala sekolah, peserta didik dan juga guru yang mengajar Pendidikan Agama Islam di SMK Ma’arif Grogol. Hasil-hasil wawancara tersebut kemudian dituangkan dalam struktur ringkasan, yang dimulai dari penjelasan ringkas identitas, deskripsi situasi atau konteks, identitas masalah, deskripsi data, unitisasi dan ditutup dengan pemunculan tema.

2. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko

pengamatan sebagai instrument. Format yang di susun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang menggambarkan akan terjadi. Sebagai metode ilmiah observasi (pengamatan) diartikan sebagai pengamatan pencatatan sistematis dari fenomena- fenomena yang diselidiki (Lubis, 1987: 101). Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk mengumpulkan data antara lain :

a) Mengamati keadaan peserta didik yang sedang belajar di dalam kelas maupun aktifitas di luar kelas.

b) Mengamati guru yang sedang mengajar, bagaimana cara menyampaikan materi, metodenya dan sebagainya.

c) Mengamati lokasi penelitian dan lingkungan sekolah.

Dalam hal ini peneliti mengadakan observasi langsung yaitu melakukan pengamatan ke SMK Ma’arif Grogol untuk mengamati keadaan sekolah, guru-guru, peserta didik, fasilitas yang dimiliki dan struktur organisasi yang dimiliki oleh pihak sekolah. Observasi dilakukan secara non partisipan, dimana peneliti berperan hanya sebagai pengamat fenomena yang diteliti. Pengamatan dilakukan secara langsung untuk mendapatkan gambaran yang utuh terkait fokus penelitian. Hasil pengamatan disusun dalam catatan lapangan.

Isi catatan lapangan berupa peristiwa rutin, temporal, interaksi dan interpretasinya.

3. Dokumentasi

Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah dokumentasi, gunanya untuk mencari data mengenai hal-hal atau

variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, photo copy, prasasti dan sebagainya. Jika dibandingkan metode yang lain, metode ini tidak terlalu sulit, dalam arti ada kekeliruan data, sumber datanya masih tetap. Karena yang diamati dalam metode ini ialah benda mati.

Penulis menggunakan metode ini bertujuan untuk mengumpulkan data dalam bentuk tulisan maupun gambar yang berkaitan dengan penelitian.

F. Kisi-Kisi Instrumen

Instrumen penelitian bisa disebut dengan alat bantu penilaian.

Dalam penelitian kualitatif, instrumen penelitian bisa berupa wawancara, dokumentasi, angket dan lain-lain. Fungsi instrumen adalah untuk menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, lalu mengumpulkan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas data yang sudah terkumpul.

Data merupakan salah satu komponen penting dalam penelitian, artinya tanpa data tidak akan ada hasil penelitian. Data dalam penelitian harus valid, jika tidak valid, maka akan menghasilkan informasi yang keliru bahkan salah. Oleh sebab itu, diperlukan teknik pengambilan data secara benar. Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data, yaitu penyusunan instrumen. Persyaratan penyusunan instrumen sebagai berikut;

1. Validitas mengacu kepada kecocokan alat ukur dengan sasaran yang akan diukur

2. Realibilitas mengacu pada adanya konsistensi dan keajekan akurasi hasil ukur (Noor, 2012: 102).

Instrumen pendukun dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun objek penelitiannya adalah kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam dan siswa di SMK Maarif NU Grogol, Jakarta Barat.

G. Teknik Analisis Data

Menganalisis data penelitian merupakan suatu langkah yang sangat kritis, apakah menggunakan data statistik atau non statistik.

Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis seperti yang disarankan oleh data. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan secara berkesinambungan dari awal sampai akhir penelitian, baik dilapangan maupun diluar lapangan dengan memperguankan teknik seperti yang dikemukan oleh Miles dan Huberman (1992: 19):

1. Reduksi data, yaitu membuat abstraksi seluruh data yang diperoleh dari seluruh catatan lapangan hasil observasi wawancara dan pengkajian dokumen. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis data yang menajamkan, mengaharapkan hal-hal penting, menggolongkan mengarahkan, membuang yang tidak dibutuhkan dan mengorganisasikan data agar sistematis serta dapat membuat

satu simpulan yang bermakna. Jadi, data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan pengkajian dokumen dikumpulkan, diseleksi, dan dikelompokkan kemudian disimpulkan dengan tidak menghilangkan nilai data itu sendiri.

2. Penyajian data, yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dalam pengambilan tindakakan. Proses penyajian data ini mengungapkan secara kesluruhan dari sekelompok data yang diperoleh agar mudah dibaca dan dipahami, yang paling sering digunakan unuk penyajian data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Data dapat menggambarkan bagaimana proses belajar mengajar di SMK Maarif Grogol berjalan.

3. Kesimpulan dan verifikasi Data yang sudah diatur sedemikian rupa (dipolakan, difokuskan, disusun secara sistematis) kemudian disimpulkan sehingga makna data dapat ditemukan. Namun, kesimpulan tersebut hanya bersifat sementara dan umum. Untuk memperoleh kesimpulan yang “grounded” maka perlu dicari data lain yang baru untuk melakukan pengujian kesimpulan tentatif tadi terhadap pelaksanaan belajar mengajar di SMK Maarif Grogol.

H. Validasi Data

Hasil Penelitian bisa dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti (Sugiyono, 2012: 121). Maka dari itu, data

yang dilaporkan peneliti harus sinkron dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.

Penelitian akan menghasilkan data yang valid apabila menggun akan instrumen yang valid dalam mengumpulkan data. Instrumen yang baik harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Validasi internal adalah apabila data yang dihasilkan merupakan fungsi dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Berbeda dengan validasi eksternal, yaitu apabila hasil penelitian tersebut bisa diterapkan pada sampel yang lain atau bisa digeneralisasikan (Sugiyono, 2012: 123).

Penulis dalam hal ini telah berusaha semaksimal mungkin hasil penelitian sesuai data yang sesungguhnya, yang didapat dari penelitian.

Oleh karena itu, apa yang penulis laporkan memiliki derajad kesesuaian dengan kondisi sesungguhnya, yang terjadi di lapangan. Sehingga penelitian ini bisa dikatakan valid.

No Nama Keterangan

1. Liya Suryani, SE Kepala Sekolah

2. Dra. Hj. Darmiati Guru Pendidikan Agama Islam 3. Risky Prasetyo Peserta Didik / Kelas 12 OTKP 3 4. Nurul Amelia Peserta Didik / Kelas 12 OTKP 1 5. Iis Oktaviani Peserta Didik / Kelas 11 OTKP 3 6. Zalfia Yulianti Peserta Didik / Kelas 11 OTKP 1 7. Ananta

Pujatramariao

Peserta Didik / Kelas 10 OTKP 3

8. Farid Al Hakim Peserta Didik / Kelas 10 OTKP 3

57 BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Temuan Penelitian

1. Persepsi Peserta Didik Terhadap Guru Pendidikan agama Islam di SMK Maarif NU Grogol

Dalam penelitian yang sudah dilakukan penulis terkait dengan persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam, penulis menemukan bahwa persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam dalam hal pembelajaran cenderung positif.

Padahal, di era industri 4.0 atau bahkan 5.0, media sosial sudah menjadi candu bagi anak generasi Z. Namun, dalam penelitian yang telah dilakukan penulis, menemukan fakta bahwa peserta didik di SMK Maarif NU Grogol masih relatif memercayai guru sebagai kiblat untuk pembelajaran. Ketika penulis mewawancarai peserta didik, semuanya memberikan persepsi yang cukup positif bagi guru pendidikan agama Islam.

Seperti yang disampaikan Rizki Prasetyo kelas 12 AP 3 dan Zelfina Ayurianti kelas 11 AP 1 peserta didik SMK Maarif NU Grogol, saat penulis mewawancarai tentang persepsi guru pendidikan agama Islam, mereka mengatakan:

“Baik-baik aja sih, nyampein pelajaran juga enak. Gampang dimengerti”

Hal senada juga disampaikan oleh Zelfina Ayurianti, menurutnya:

“Ibu Darmiati (Guru PAI) orangnya baik, kalau ngajar juga enak kok kak, karena enak juga penjelasannya”

Artinya, bissa dikatakan bahwa guru pendidikan agama Islam dalam hal mendidissk dan menyampaikan pelajaran sudah sangat baik, sehingga persepsi peserta didik terhadap guru pendidikan agama Islam sangat positif.

Selain itu, monitoring yang dilakukan guru pendidikan agama Islam dalam membentuk karakter keagamaan peserta didik bisa dikatakan berhasil, karena peserta didik masih merujuk kepada guru dari pada media sosial dalam belajar agama.

2. Bagaimana persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam dakwah keagamaan?

Di era globalsasi, mau tidak mau proses belajar mengajar harus menggunakan media sosial sebagai media pembelajaran. Melalui media sosial, peserta didik diharapkan mampu belajar tentang agama yang tidak ada dalam buku pelajaran. Namun, dengan adanya media sosial tidak hanya memberikan efek baik bagi peserta didik dalam belajar agama.

Terkadang di media sosial juga berseliweran dakwah-dakwah yang mungkin bias NKRI, seperti ajakan jihad dan sebagainya. Oleh karena itu, guru pendidikan agama Islam yang bertanggung jawab dalam membentuk paham keagamaan peserta didik dituntut untuk memonitoring dan

berhati-hati dalam memilih penceramah, website atau blog yang akan direkomendasikan ke peserta didik sebagai referensi.

Adapun paham keagamaan yang penulis maksud di sini adalah paham keagamaan Islam yang berhalauan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) Annahdliyah. Islam ASWAJA, sebagaimana sudah kita ketahui bersama, di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau nilai-nilai Tawassuth (moderat), Tawazzun (seimbang), Tasammuh (toleran) dan I’tidal (tegak lurus), serta amar makruf nahi munkar.

Dalam penelitian yang sudah dilakukan, penulis menemukan beberapa fakta yang cukup menarik. Bahwasanya, peserta didik cukup bijak dalam menggunakan dan menentukan refrensi dalam pembelajaran.

“Kita tau mana yang baik dan yang buruk, (media sosial) kan ada sisi baiknya, biar kita paham dan kalau sisi buruknya belum tentu bener apa yang di katakan ya gak usah ditiru. Kalau belajar di sekolah soalnya lebih ada contohnya gitu, soalnya ada guru yang ngajarin, kalau di media sosial kan gak nyata,” ungkap Nurul Melia, siswi kelas 12 AP 1:

Dari hasil analisis penulis, terkait persepsi peserta didik terhadap peran media sosial dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik sebenarnya tidak menghawatirkan, karena masih sesuai deng Islam ASWAJA Annahdliyah. Karena, pada dasarnya peserta didik menggunakan media sosial hanya sekadar eksistensi dan belajar mata pelajaran yang tidak ada di dalam buku pelajaran, bukan kemudian untuk belajar agama yang di luar Islam ASWAJA Annahdliyah, seperti yang diungkapkan oleh Rizki Prasetyo, siswa kelas 12 AP 3:

“Media sosial sangat membantu, tapi tidak sepenuhnya. Kalau kita mau searching di google itu kan pakai media sosial, jadi biar cepat dan mudah. Saya juga sering mendengarkan Mbah Ainun Nadjib, karena seperti yang tadi dibilang mendengarkan ceramah dari mbah Ainun Najib atau dari siapa pun kalau ada yang bisa membawa manfaat saya praktekan, kalau tidak ya enggak.”

Artinya, peserta didik tidak berniat belajar agama di media sosial.

Dari informan yang di dapat penulis, peserta didik mendapatkan paham keagamaan lebih besar dari guru pendidikan agama Islam. Dan ketika di tanya soal tingkat kepercayaan terkait media sosial dan guru, seluruh informan menjawab lebih percaya ke guru.

3. Bagaimana Peran Media Sosial dan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik?

Saat penulis mewawancarai kepala sekolah SMK Maarif NU, Ibu Liya Suryani tentang usaha sekolah dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik, menurutnya banyak hal yang sudah dilakukakan.

Seperti salat dhuha berjamaah, tadarus Al-Quran dan sebagainya serta peringatan-peringatan hari besar umat Islam yang selalu diselenggarakan pihak sekolah.

“Usaha sekolah banyak sih yang sudah di lakukan, salah satu contohnya memperingati hari-hari besar Islam, mengadakan program-program yang berkaitan dengan paham keagamaan, contohnya sholat dhuha berjamaah, tadarus Al-Quran sebelum memulai pelajaran, lalu ada lomba-lomba islami dalam rangka tahun baru hijriah ada lomba ceramah, cerdas cermat tentang keislaman, rohis dan lain-lain.”

Dengan demikian, sekolah sudah berupaya untuk meningkatkan paham keagamaan peserta didik melalui media pembelajaran baik secara formal maupun non formal.

Selain itu, kepala sekolah juga menjelaskan tentang tanggung jawab pihak sekolah dan semua guru dulam paham keagamaan yang diterima oleh peserta didik dalam belajar agama.

“Kalau yang bertanggung jawab pasti kita semua ya sebagai guru di sini, tidak hanya tanggung jawab guru agama saja. Karena di sini selain guru agama Islam, juga ada guru bahasa Arab, ke-NU-an, ada guru rohis juga. Semua guru bertanggung jawab atas itu. Tapi sejauh ini sih, alhamdulillah anak-anak kita gak ada yang menyimpang, yang kelihatannya keluar jalur NU itu gak ada.”

Menurut guru pendidikan Islam di SMK Maarif NU, Ibu Darmiati terkait dengan tanggung jawab dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik, sama seperti yang di ucapkan kepala sekolah SMK Maarif NU, bahwa semua guru ikut bertanggung jawab dalam membentuk paham keagamaan peserta didik.

“Kepala sekolah, guru agama dan semua guru bertanggungjawab, karena kita kan mayoritas muslim, di sini semua guru-guru muslim.

Seingat saya nggka ada kali guru Kristen di sini yahh, jadi kita semua di sini bertanggung jawab.”

“Dan saya perhatikan, pemahaman mereka (peserta didik) yang sifatnya radikal gak ada sih. Saya sebenarnya gak mendoktrin, Cuma ngasih tahu kalo kita tuh ahlusunnah wal jamaah kebetulan kita tuhkan ada Ke –Nu-an jadi tuh saling mendukung dan mengingatkan,”

Artinya, pihak sekolah dan guru sangat bertanggung jawab dalam terbentuknya paham keagamaan peserta didik. Dengan begitu, segala hal

yang didapat oleh peserta didik terkait dengan paham keagamaan merupakan tanggung jawab sekolah dan semua guru SMK Maarif NU.

a. Observasi

Dari hasil penelitian melalui observasi di SMK Maarif NU, penulis menemukan beberapa hasil, yaitu:

1. Di dalam kelas

Dalam kelas, peserta didik masuk sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Sebelum pelajaran dimulai, peserta didik diminta tadarus Alquran terlebih dahulu kurang lebih 15 menit sebelum jam masuk mata pelajaran pertama. Dalam pelajaran PAI, siswa cukup antusias dalam mengikuti pelajaran. Guru juga memberikan pelajaran dengan baik, sesuai metode dan teknik tema pelajaran. Guru juga memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa, jika memang diperlukan.

Kisi-kisi instrumen observasi kelas PAI SMK Maarif NU:

No Kegiatan Ya Tidak

1. Guru memasuki ruang kelas sesuai jadwal mata pelajaran

2. Siswa memberikan salam kepada guru ✓ 3. Siswa berdoa bersama terlebih dahulu ✓

sebelum memulai pelajaran

4. Guru menggunakan metode dan strategi dalam menyampaikan mata pelajaran

5. Siswa menyimak dalam pelajaran A.

6. Guru memberikan hadiah dan hukuman kepada siswa

B.

7. Guru menutup pelajaran dengan salam dan doa

C.

2. Waktu beribadah

Ada tiga waktu beribadah yang dilakukan oleh siswa, yang pertama sesaat sebelum pelajaran pertama dimulai, yaitu tadarusan, siswa sangat antusias saat tadarusan. Kedua, saat jam istirahat, siswa melakukan sholat dhuha, ada beberapa siswa yang tidak mengikuti sholat dhuha, karena sudah fokus istirahat. Ketiga, siswa melakukan sholat dhuhur berjamaah, sebelum pulang sekolah, hanya sebagian kecil yang tidak mengikuti.

3. Istirahat dan pulang

Peserta didik memanfaatkan jam istirahat dengan ibadah, makan dan olahraga. Sedangkan saat jam pulang, peserta didik sholat dhuur berjamaah terlebih dahulu.

b. Informan

Informan dalam wawancara yang dilakukan peneliti adalah kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam dan peserta didik di SMK Maarif NU Grogol.

B. Pembahasan temuan Penelitian

Dari kegiatan penelitian yang dilakukan di SMK Maarif NU, diperoleh hasil penelitian terkait “Menakar Peran Media Sosisal dan Guru Pendidikan Islam dalam Membentuk Paham Keagamaan Peserta Didik (studi kasus di SMK Maarif NU).

Berdasarkan wawancara dan observasi penulis, upaya guru dalam meningkatkan paham keagamaan peserta didik sangat besar dan berperan dalam membentuk peserta didik.

Peserta didik tidak terlalu mengikuti ceramah di media sosial, karena peserta didik cenderung percaya dan mengikuti apa yang guru ajarkan.

Oleh karena itu, peran sekolah dan guru sangatlah penting dalam

Oleh karena itu, peran sekolah dan guru sangatlah penting dalam

Dokumen terkait