• Tidak ada hasil yang ditemukan

Responding Traditional Art Show Media Development As a Nation

MEDIA VERBAL

Tidak sedikit macam seni pertunjukan tradisional menjadikan media verbal sebagai bagian dari komposisinya. Di antara kegunaannya adalah sebagai media penyampaian pesan dalam berbagai kemungkinan arti (meaning) atau makna (meaning of meaning). Adakalanya media verbal dikemas dan berperan sebagai sarana informasi, dan ada pula yang menghadirkannya sebagai sarana komunikasi, baik antara pelaku seni, sesama pelaku seni pada satu grup, maupun komunikasi antara dua grup seni yang disandingkan atau dipertandingkan, dan ada pula berupa komunikasi antara pelaku seni dan penonton. Sebagaimana misalnya dalam masyarakat Gayo ada Didong; masyarakat Banjarmasin ada Madihin; masyarakat Minang ada Salawat Talam; masyarakat Melayu pada umumnya ada tradisi berbalas pantun, dsb.

Di antara tradisi pertunjukan seni-seni tersebut ialah “dipertandingkan” antara grup (sejenis) yang satu dengan grup yang lain dalam suatu konteks pertunjukan. Substansi yang dipertandingkan pada dasarnya adalah kepekaan dan kemampuan pemain pada masing-masing grup, mencerna, mengolah, serta saling menyampaikan pesan dalam kemasan seni vokal, baik dalam bentuk jawaban maupun dalam bentuk pertanyaan antara grup yang bertanding. Berdasarkan fakta budaya atau tradisi pertunjukan rakyat yang seperti demikian dapat dicermati, sesungguhnya telah tercipta suatu

Mahdi Bahar (Menyikapi Seni Pertunjukan Tradisional... ) MUDRA Jurnal Seni Budaya

bentuk model sistem informasi dan atau komunikasi bersifat lokal. Sifat lokalnva antara lain disebabkan oleh karena media verbal yang digunakan adalah bahasa lokal mereka. Oleh karena itu, apapun yang disampaikan melalui pertunjukan seni tersebut mereka dapat memahami sebagaimana kehidupan di lingkungan setempat. Selain kandungan teks yang disampaikan bersifat hiburan, juga tidak sedikit teks-teks yang dinyanyikan atau disampaikan memuat arti atau makna bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai bagi kehidupan masyarakat sekitar. Dalam konteks yang begini, sesungguhnya tidak perlu mencari format baru media pertunjukan rakyat yang berperan sebagai tontonan bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai. Seni pertunjukan tradisional yang seperti demikian masih hidup dalam masyarakat-masyarakat pendukung di seantero negeri ini.

Sebaliknya, tidak akan tercipta informasi atau terjalin komunikasi apabila seni pertunjukan tradisional yang bersifat lokal tersebut dipertunjukkan di lingkungan masyarakat berbeda bahasa. Sebagaimana misalnya pertunjukan Didong ditonton oleh masyarakat Betawi yang tidak mengerti bahasa Gayo, dsb. Dalam pertunjukan yang begini tidak akan tercipta informasi atau terjalin komunikasi antara pelaku pertunjukan dengan penonton. Oleh karena itu, perlu jadi pertimbangan unsur media verbal untuk menjadikan seni pertunjukan rakyat dapat dinikmati sebagai tontonan yang bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai, apabila pertunjukan diperuntukkan secara masif bagi segenap bangsa. Terkecuali adalah seni pertunjukan tradisional masyarakat-masyarakat Melayu, yang menggunakan bahasa Melayu sebagai media verbal. Oleh karena itu, niscaya diperlukan berbagai upaya kreatif untuk menggunakan unsur bahasa Indonesia “yang baik dan benar” sebagai media verbal dalam format baru media pertunjukan rakyat agar dapat dinikmati oleh segenap bangsa, sehingga pada masanya nanti dapat tercipta beragam model seni pertunjukan bernuansa lokal, akan tetapi bercitra nasional.

Indonesia melalui selebaran yang diberikan kepada penonton. Memang dengan cara-cara seperti demikian dapat dimengerti atau dipahami maksud yang disampaikan secara verbal dalam pertunjukan seni tersebut oleh penonton yang membaca terjemahan. Namun begitu, cara yang seperti ini bukanlah merupakan bagian dari suatu kesatuan bentuk seni pertunjukan yang dibingkai oleh nilai-nilai estetika dalam ikatan suatu perhitungan komposisi. Sementara bagian komposisi itu, adalah media verbal yang diolah (garap), baik sisi kemungkinan aspek bunyi maupun aspek isi, atau pun aspek sastra, sehingga kehadirannya merupakan bagian dari satu kesatuan keutuhan karya seni tersebut.

Berdasarkan pada pandangan di atas dapat dijelaskan, bahwa pemikiran konseptual keutuhan suatu karya seni, perlu menjadi pertimbangan dalam mewujudkan produk seni pertunjukan. Di antara keutuhan itu ialah menempatkan media verbal penyatuan bangsa yaitu Bahasa Indonesia, sebagai bagian integral dari satu kesatuan bentuk komposisi (produk) seni tersebut. Penempatan itu hendaklah menjadi keniscayaan dalam mencari format baru media pertunjukan rakyat sebagai tontonan yang bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai untuk pembangunan bangsa.

SPONSOR

Karya seni adalah produk ciptaan manusia. Oleh karena itu, manusia adalah sponsor kehidupan seni itu sendiri. Pensponsoran dapat dilihat secara mendasar melalui terciptanya sebuah produk seni oleh pencipta, penyelenggara, atau pelaku seni yang niscaya meluangkan waktu atau menggunakan waktu sejalan dengan jasa yang diberikan untuk mewujudkan atau menyelenggarakan suatu seni. Pemberian jasa pada hakikatnya merupakan investasi atau pengorbanan yang diberikan sebagai realita dari sebuah bentuk sponsor. Sementara itu, dalam tindakan sponsor, menjadi keniscayaan ada

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya

menjadi objek sembahan; dalam konteks upacara adat atau tradisi, mungkin saja untuk (mengutamakan) mendapat nilai prestise; dan dalam dunia industri atau kehidupan profesional lebih lazim bersifat komersial. Oleh karena itu, penyelenggaraan atau penciptaan sebuah seni pertunjukan, pada dasarnya memerlukan sponsor. Sejalan dengan pandangan ini Brandon berpendapat, bahwa:

“Folk theatre is primarily connected with village life.... Expenses attendant upon performance are provided by the community or a local .sponsor.... Performers of court theatre were court retainers; they lived at court, were supported by the sovereign, and were responsive to his desires (Brandon, 1967: 80-81).

Pada dasarnya, atas sponsor seperti demikian kehidupan seni pertunjukan tradisional dapat berlangsung, baik seni pertunjukan rakyat mapun seni pertunjukan istana.

Sebagaimana telah disinggung di muka, bahwa seni pertunjukan tradisional rakyat atau pun istana, sampai saat ini masih hidup di lingkungan masing-masing sesuai dengan tradisi kehidupannya. Seni itu hidup disponsori oleh masyarakat atau orang di lingkungan setempat sebagaimana ia mereka perlukan. Oleh karena itu, seni pertunjukan tradisional dalam konteks masyarakatnya, tidak bermasalah dalam kaitannya dengan keperluan sebagai tontonan yang bersifat pragmatis atau tutunan yang sarat nilai. Kandungan isi atau nilai seperti yang dimaksud melekat dalam kehidupan tradisi seni pertunjukan itu sendiri.

Yang patut dipertanyakan sehubungan dengan “mencari format baru media pertunjukan rakyat sebagai tontonan yang bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai” adalah, untuk keperluan siapa “format baru” yang dimaksud, dan siapa yang diharapkan sebagai sasarannya. Apabila sasarannya adalah segenap bangsa Indonesia, maka berarti kita menuju pada perancangan dan penciptaan hal (tradisi) “baru” dalam kehidupan seni pertunjukan, yaitu mengembangkan konteks seni pertunjukan tradisional dalam ranah kehidupan berbangsa, dan tidak lagi ia hanya hidup dalam ranah masyarakat lokal semata.

Jika maksudnya adalah seperti demikian, maka lembaga pemerintahlah yang paling tepat sebagai

pihak yang memerlukan, sehingga seni tersebut dapat di.jadikan sebagai bagian dari sistem informasi dan komunikasi dalam penyebaran “kebijakan” pemerintah pada segenap bangsa. Oleh karena itu, seyogiyanya lembaga pemerintah mensponsori kehidupan seni pertunjukan secara praktis, sehingga perwujudan seni yang mampu berperan sebagai tontonan bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai secara masif bagi segenap bangsa ini, dapat terealisasi dan sekaligus dapat dikendalikan dinamika perkembangannya.

Hal begini sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru di Nusantara, sebagaimana kita ketahui bahwa keraton sebagai pusat pemerintahan kerajaan, melembagakan seni (pangrawit, bedayan, wayang, dsb.) (Soeratman, 1989: 57-58) sebagai bagian dari sistem pemerintahannya. Meskipun tidak tertutup kemungkinan, yaitu ada pihak tertentu non pemerintah yang consern dengan mempertunjukkan seni bermuatan sebagai tontonan bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai. Namun demikain, intensitas dan jumlahnya secara kuantitatif tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan populasi kehidupan seni pertunjukan berskala nasional. Adapun pada umumnya karya mereka lebih dirorientasikan pada pemenuhan selera pasar (populer). Oleh karena itu, tidak jarang mereka mengutamakan aspek hiburan daripada aspek pragmatis atau tontonan sarat nilai. Sebabnya ialah karena produk seni tersebut lebih diminati penonton dan melalui berbagai kemungkinan cara ia akan berkonsekuensi komersial, baik bagi pelaku seni maupun bagi penyelenggara.

SIMPULAN

Berdasarkan uraian dan pandangan di atas dapat dikemukan beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai postulat dan pemikiran dalam kaitan “mencari format baru media pertunjukan rakyat sebagai tontonan bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai”, adalah seperti demikian. Pada hakikatnya seni (seni pertunjukan) adalah media. Oleh karena itu, entitas seni pertunjukan dapat dijadikan sebagai media informasi dan komunikasi, terutama bentuk seni pertunjukan yang menjadikan media verbal sebagai bagian komposisinya.

Mahdi Bahar (Menyikapi Seni Pertunjukan Tradisional... ) MUDRA Jurnal Seni Budaya

Seni pertunjukan adalah entitas yang berubah dan pengubahnya adalah manusia. Oleh karena itu, manusia dapat melakukan pengubahan yang antara lain melihat eksistensi seni pertunjukan tradisional sebagai potensi. Padanya dapat dilakukan, baik sisi pengubahan (changes) maupun sisi kesinambungan (continuity), sesuai dengan kemauan dan kemampuan pengubah. Dalam hal ini, bermacam cara dan konsep, serta beragam pendekatan praktis dapat dilakukan, baik berdimensi kualitatif maupun berdimensi kuantitatif.

Seni pertunjukan tradisional rakyat atau pun istana yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat-masyarakat di Indonesia pada hakikatnya adalah cerminan kehidupan lokal dari dan untuk masyarakat setempat, sehingga ia bertahan dalam berbagai pemaknaan yang dapat memenuhi kebutuhan atau harapan mereka. Untuk menjadikan seni pertunjukan khazanah budaya lokal tersebut mampu berperan sebagai tontonan bersifat pragmatis atau tuntunan yang sarat nilai selain jadi hiburan secara masif bagi segenap bangsa, niscaya ia perlu diubah. Perubahan selain aspek estetika adalah perubahan media verbalnya dengan “menggunakan” unsur Bahasa Indonesia bagi yang memerlukan.

Kelangsungan hidup seni memerlukan sponsor. Oleh karena itu, kelangsungan hidup seni pertunjukan dalam segala aspeknya, meliputi kemungkinan penciptaan, pengolahan, pertunjukan, sarana atau pun prasarana yang terkait dengan itu, memerlukan sponsor. Dalam kaitannya dengan menjadikan seni pertunjukan tradisional sebagai media dalam kebijakan sistem informasi dan komunikasi bersifat masif di negeri ini, maka diperlukan kelembagaan yang mensponsorinya. Lembaga sponsor yang paling utama adalah lembaga pemerintah sesuai dengan jajarannya. Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan pihak manapun yang mensponsori.

DAFTAR RUJUKAN

Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Bidang Ilmu Humaniora, Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Becker, Judith. (1980), Traditional Music in Modern Jav, The University Press of Hawaii, Honolulu. Brandon, James R. (1967), Theatre in Southeast Asia, Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts.

Kostelanetz, Richard (Eds.), Esthetics Contem­ porary, Prometheus Books, New York.

Nettl, Bruno. (1973), Folk and Traditional Music of the Western Continents (second edition), Prentice-Hall, Inc., New Jersey.

Rice, Jr., Eugene F. (1970), The Foundations of Early Modern Europe, W.W. Norton & Company, New York.

Soedarsono, R.M. (1997), Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta. Gadjah Mada University Press, Yogayakarta. ______________. (1999), Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, (cetakan pertama), Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Yogyakarta.

Soeratman, Darsiti. (1989), Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830­1939, Taman Siswa, Yogyakarta.

Titon, Jeff Todd (Eds.). (1992), Worlds of Music, Schirmer Books, New York.

Tony, Made dkk. (1996), “Bius Sosial di Balik Goyang Dangdut”, dalam Basis Majalah Kebudayaan, No. 03-04, Tahun ke-45, Mei - Juni, 1996.

Volume 30, 2015 MUDRA Jurnal Seni Budaya ISSN 0854-3461

Volume 30, Nomor 1, Pebruari 2015 p 83 - 90

Mastermind (dalang) Puppet Mask has orentasi aesthetic ideology on the basis of aesthetic experience . Aesthetic ideology that grew out of the social interaction and the environment , then the form of knowledge , experience and ability konperhensif as a puppeteer . The word ‘dalang’ is the aesthetic force that is applied as a form of social and spiritual relationships. The application of the aesthetic idiology become symbolic power. ie save a terrible suggestion in shaping public image buffer performing arts. Research questions 1) What is the dalang of aesthetic ideology Puppet Mask in Malang, 2) How does the aesthetic ideology dalang Puppet Mask is transformed as a symbol of the power of the performing arts . This qualitative study using observation and interview data were analyzed using interpretation. Phenomenological research methods of art , the aesthetic power of the study using data from interviews and observations show Wayang Topeng in Malang, East Java. The results of the study are (a) the description of the transforming power of the aesthetic elements that make an appearance Artistic. (b) Authorization eesthetic dalang realized through the technical aspects and spirutal. Keywords: Performing arts, dalang, artistic, and mask.

Idiologi Estetik Dalang Wayang Topeng Malang