BAB III BPJS KETENAGAKERJAAN SEBAGAI LEMBAGA
C. Bentuk Perlindungan Hukum Bagi Perkerja Harian Lepas
2. Mekanisme Pendaftaran Kepesertaan Jaminan Sosial
Bagi pemberi kerja jasa konstruksi yang akan mengerjakan proyek wajib segera mendaftarkan pekerja jasa konstruksi pada program jaminan sosial ketenagakerjaan yaitu JKK dan JKM maksimal 14 (empat belas) hari setelah diterbitkannya Surat Perintah Kerja. Perwakilan pemberi kerja jasa konstruksi dapat langsung mendatangi BPJS Ketenagakerjaan setempat untuk melakukan pendaftaran atau melalui online.
Berikut tahapan pendaftaran yang harus dilakukan oleh kontraktor:
• Pendaftaran secara offline
1) Perwakilan kontraktor mendatangi BPJS Ketenagakerjaan setempat dengan membawa Surat Perintah Kerja (SPK) yang dibuat antara kontraktor dengan pemilik proyek/pengguna jasa konstruksi.
2) Perwakilan kontraktor mengisi Formulir Pendaftaran Proyek Konstruksi, Formulir Daftar Harga Satuan Upah Tenaga Kerja, dan Formulir Daftar Nama Tenaga Kerja.
3) Perwakilan Kontraktor menyerahkan Surat Perintah Kerja (SPK) yang telah dibawa dan formulir yang telah diisi tadi kepada staf pegawai BPJS Ketenagakerjaan. Kemudian untuk menetapkan iuran yang dibebankan kepada kontraktor maka dihitung dengan sistem komputer disertai dengan berapa jumlah pekerja maksimal yang mungkin masih bisa diikutsertakan pada jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja jasa konstruksi.
4) Usai penghitungan selesai, BPJS Ketenagakerjaan akan mengeluarkan surat tagihan yang ditujukan kepada kontraktor terkait dengan penetapan iuran yang wajib dibayarkan oleh kontraktor.
56
5) Kontraktor wajib membayar iuran secara sekaligus atau bertahap sesuai yang telah dibebankan melalui Bank. Setelah itu, kontraktor menyerahkan bukti pembayaran lunas dari Bank kepada staf pegawai BPJS Ketenagakerjaan.
6) BPJS Ketenagakerjaan menerbitkan sertifikat kepesertaan proyek sebagai bukti kepesertaan program jasa konstruksi.
• Pendaftaran secara online
1) Kontraktor menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, diantaranya:
- Daftar nama, jumlah tenaga kerja, dan jenis pekerjaan.
- Daftar harga satuan upah sesuai kelompok pekerjaan (jika perhitungan iuran memakai nilai kontrak) atau data pekerja dan upah (jika perhitungan iuran memakai nilai upah).
- Fotocopy Surat Perintah Kerja (SPK).
2) Registrasi melalui situs https://ejakon.bpjsketenagakerjaan.go.id.
3) Klik pendaftaran atau buat user.
4) Isi data, alamat email, dan kode captcha, klik ‘daftar’.
5) Cek email dan klik ‘aktivasi pendaftaran’.
6) Isi data proyek.
7) Menunggu kode bayar iuran.
8) Kontraktor melakukan pembayaran iuran sesuai jumlah yang tertera.
9) BPJS Ketenagakerjaan menerbitkan sertifikat digital dan dapat dicetak melalui website.
3. Perhitungan Besaran Iuran Jaminan Sosial Tenaga Kerja Sektor Jasa Konstruksi
Iuran jaminan sosial tenaga kerja bagi pekerja sektor jasa konstruksi berlaku untuk masing-masing proyek konstruksi yang dikerjakan oleh perusahaan kontraktor. Iuran tersebut sudah mengakomodir seluruh pekerja sektor jasa konstruksi yang terdaftar pada suatu proyek. Ketika proyek telah usai, maka jaminan sosial tenaga kerja tersebut secara
otomatis sudah tidak berlaku. Singkatnya, jaminan sosial hanya berlaku selama jangka waktu pelaksanaan proyek konstruksi berlangsung.
Kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja bagi pekerja sektor jasa konstruksi bersifat open policy yaitu jaminan sosial yang memungkinkan kontraktor untuk mendaftarkan pekerja-pekerja susulan (tambahan) selama proyek konstruksi masih berlangsung.
Berikut rincian perhitungan iuran jaminan sosial tenaga kerja sektor jasa konstruksi (jakon) sesuai ketentuan Pasal 9 dan Pasal 10 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 44 Tahun 2015, yaitu:
Tabel 3.3 Perhitungan Besaran Iuran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bagi Tenaga Kerja Sektor Jasa Konstruksi Berdasarkan Nilai Upah Satu Bulan
(Komponen Upah Diketahui) Nilai Upah
(NU)
Persentase Iuran
Total Iuran
JKK JKM
NU satu bulan 1,74% 0,30% 2,04% x NU satu bulan
Tabel 3.4 Perhitungan Besaran Iuran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Bagi Tenaga Kerja Sektor Jasa Konstruksi Berdasarkan Nilai Kontrak Proyek
(Komponen Upah Tidak Diketahui) Nilai Kontrak (NK) Persentase Iuran
Total Iuran
JKK JKM
(a) 0 sd. 100 juta 0,21% 0,03% 0,24% x NK (b) 100 juta sd. 500 juta 0,17% 0,02% 0,19% x NK x (a) (c) 500 juta sd. 1 milyar 0,13% 0,02% 0,15% x NK x (b) (d) 1 milyar sd. 5 milyar 0,11% 0,01% 0,12% x NK x (c)
> 5 milyar 0,09% 0,01% 0,10% x NK x (d)
58 BAB IV
PELAKSANAAN PENGAWASAN OLEH BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KETENAGAKERJAAN DI KOTA
TANGERANG SELATAN
A. Penerapan dan Pengawasan Terhadap Kepesertaan Jaminan Sosial Pekerja Harian Lepas Jasa Konstruksi di Kota Tangerang Selatan
Meningkatnya peran tenaga kerja dalam perkembangan pembangunan nasional di seluruh Indonesia dan penggunaan teknologi di berbagai sektor kegiatan usaha dapat mengakibatkan semakin tinggi risiko yang mengancam keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja sehingga perlu adanya peningkatan perlindungan tenaga kerja. Perlindungan tenaga kerja diberikan kepada pekerja yang melakukan pekerjaan baik di dalam hubungan kerja maupun di luar hubungan kerja melalui program jaminan sosial tenaga kerja (jamsostek) dimana pada 1 Januari 2014 PT Jamsostek bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
Masalah ketenagakerjaan di Indonesia telah diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jaminan sosial merupakan hak pekerja/buruh dan keluarganya sebagaimana tercantum dalam Pasal 99 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi, “Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak mendapatkan jaminan sosial tenaga kerja” yang kemudian diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sebagai bagian dari regulator perpanjangan pemerintah.1
Kemudian dalam Pasal 100 ayat (1) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh dan keluarganya, pengusaha wajib menyediakan fasilitas kesejahteraan. Jadi jaminan sosial merupakan salah satu hak bagi pekerja/buruh dan keluarganya serta kewajiban perusahaan
1I Ketut Markeling, Implementasi Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi Pekerja di TPA Gianyar, (Bali: Jurnal FH Universitas Udayana, 2018) h. 5.
untuk menyediakan hal tersebut.
BPJS Ketenagakerjaan merupakan badan penyelenggara jaminan sosial, berbentuk badan hukum publik yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011. BPJS Ketenagakerjaan bertanggung jawab langsung kepada presiden dan berfungsi menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan hari tua (JHT), jaminan pensiun (JP) dan jaminan kematian (JKM) bagi seluruh pekerja di Indonesia. Penjelasan dari program-program tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)
Program jaminan kecelakaan kerja merupakan perlindungan dari risiko kecelakaan kerja yang dapat dialami oleh pekerja pada saat bekerja.
Manfaat yang diberikan berupa uang tunai dan atau pelayanan kesehatan pada saat peserta mengalami kecelakaan kerja, dimulai saat perjalanan dari rumah menuju tempat kerja sampai kembali ke rumahnya atau penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja.
b. Jaminan Kematian (JKM)
Jaminan kematian diperuntukkan bagi ahli waris peserta BPJS Ketenagakerjaan bagi peserta yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja. Jaminan kematian diberikan untuk membantu meringankan beban keluarga dalam bentuk biaya pemakaman, santunan kematian dan santunan berkala serta beasiswa untuk 2 orang anak peserta yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan.
c. Jaminan Hari Tua (JHT)
Jaminan hari tua adalah manfaat uang tunai sekaligus yang diberikan ketika peserta mencapai usia 56 tahun, cacat total tetap, meninggal dunia, berhenti kerja (pemutusan hubungan kerja, mengundurkan diri dan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya) dan pengambilan sebagian untuk tenaga kerja dengan minimal kepesertaan 10 tahun.
d. Jaminan Pensiun (JP)
Jaminan pensiun adalah sejumlah uang yang dibayarkan sebagai pengganti penghasilan apabila peserta memasuki usia pensiun, mengalami
60
cacat total tetap, atau meninggal dunia.2
Kewajiban perusahaan dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan secara tegas telah diatur dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, telah disebutkan dalam Pasal 15 tentang kewajiban pemberi kerja yaitu secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada BPJS sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti. Pemberi kerja wajib memberikan data dirinya dan pekerjanya berikut anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada BPJS.
Program jaminan sosial tenaga kerja tidak hanya dikhususkan bagi pekerja formal saja, tetapi ditujukan kepada seluruh pekerja baik formal maupun informal, termasuk di dalamnya pekerja pada sektor jasa konstruksi.
Pekerja harian lepas jasa konstruksi atau yang sering disebut tukang/kuli bangunan memiliki tingkat resiko yang sangat tinggi dalam melakukan pekerjaan nya. Berbeda hal nya dengan pekerja formal maupun pekerja informal yang bisa mendaftarkan dirinya secara langsung ke BPJS Ketenagakerjaan, pekerja harian lepas jasa konstruksi tidak mempunyai akses untuk hal tersebut, sehingga perlindungan jaminan sosial didapatkan apabila kontraktor mendaftarkan proyeknya ke BPJS Ketenagakerjaan.3
Khusus untuk sektor jasa konstruksi, kewajiban pendaftaran kepesertaan jaminan sosial diatur di dalam Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian Bagi Pekerja Harian Lepas, Borongan, dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu Pada Sektor Usaha Jasa Konstruksi, yaitu “Setiap pemberi kerja jasa konstruksi wajib mendaftarkan pekerjanya dalam program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian kepada BPJS Ketenagakerjaan”. Selanjutnya Pasal 2 ayat (3), “Pekerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pekerja harian
2Sulastomo, Sistem Jaminan Sosial Nasional: Sebuah Introduksi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008) h. 9
3Kunto Baskoro, Wawancara Kabid Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan, pada hari rabu tanggal 17 Februari 2021
lepas, pekerja borongan, dan pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu”.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendaftaran pekerja jasa konstruksi sebagai peserta jaminan sosial merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pemberi kerja jasa konstruksi yaitu penyedia jasa konstruksi. Umumnya, keikutsertaan pekerja harian lepas dalam program jaminan sosial didaftarkan oleh kontraktor. Apabila kontraktor enggan untuk mendaftarkan pekerja yang dipekerjakannya pada program JKK dan JKM, maka akan diberikan sanksi sebagaimana Pasal 59 dan Pasal 60 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
Ketentuan Pasal 3 ayat (3) Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 44 Tahun 2015 memerintahkan pemberi kerja jasa konstruksi untuk mendaftarkan pekerjanya kepada BPJS Ketenagakerjaan tidak lebih dari 14 (empat belas) hari setelah Surat Perintah Kerja (SPK) dikeluarkan. Semakin cepat pekerja jasa konstruksi didaftarkan maka akan semakin cepat pekerja memperoleh perlindungan jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
Ketentuan ini menjadi upaya antisipasi dan pengendalian apabila pekerja mengalami kecelakaan kerja atau meninggal dunia di awal penyelenggaraan pengerjaan proyek. Karena semakin cepat pekerja diikutsertakan pada jaminan sosial maka akan semakin pasti perlindungan sosial ekonomis yang diterima sebagai hak bagi pekerja harian lepas jasa konstruksi.
Berdasarkan uraian di atas, apakah penerapan terkait kewajiban pemberi kerja dalam hal ini kontraktor mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta jaminan sosial tenaga kerja sudah berjalan sesuai dengan aturan di wilayah Kota Tangerang Selatan dan apakah pekerja harian lepas jasa konstruksi seluruhnya sudah terlindungi program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bahwa, mayoritas masih banyak proyek-proyek di wilayah Kota Tangerang Selatan yang tidak didaftarkan ke BPJS Ketenagakerjaan. Akibatnya, banyak pekerja harian lepas jasa konstruksi yang tidak mendapatkan perlindungan jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
62
Tabel 4.1 Data jumlah proyek konstruksi di Kota Tangerang Selatan Tahun 2018-2020
Tahun BPJS
Ketenagakerjaan LPSE
2018 369 2.006
2019 440 1.945
2020 295 1.294
Sumber: BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan
Berdasarkan data di atas bahwa perusahaan/penyedia jasa konstruksi di wilayah Kota Tangerang Selatan yang mendaftarkan proyeknya pada BPJS Ketenagakerjaan masih sangat rendah karena tidak semua proyek pengadaan konstruksi yang telah dilakukan melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Tangerang Selatan mendaftarkan proyek nya, dimana pada tahun 2018 sebanyak 2.006 paket pengadaan pekerjaan konstruksi tercatat di LPSE, namun yang mendaftarkan proyeknya di BPJS Ketenagakerjaan hanya 369 proyek atau 18,4% saja, tidak sampai setengahnya. Tahun 2019 dari paket pengadaan pekerjaan konstruksi sebanyak 1.945 paket, yang mendaftarkan proyeknya pada BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 440 proyek konstruksi atau 22,6% saja. Dan pada tahun 2020 dari paket pengadaan pekerjaan konstruksi yang terdaftar di LPSE sebanyak 1.294 paket, yang mendaftarkan proyeknya pada BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan sebanyak 295 proyek atau 22,8%
saja.4
Dengan tidak terdaftarnya proyek-proyek tersebut maka akan berimplikasi tidak terpenuhinya hak-hak pekerja untuk mendapatkan perlindungan terhadap risiko-risiko yang terjadi pada saat bekerja berupa kecelakaan kerja dan meninggal dunia.
Hal ini dibenarkan oleh Kabid Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kota
4Data Daftar Kepesertaan Aktif Jasa Konstruksi Tahun 2018-2020, diberikan dalam bentuk soft copy oleh BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan, tanggal 22 Februari 2021.
Tangerang Selatan, saat ini kepesertaan jasa konstruksi (jakon) masih dibawah 50%, tugas kita adalah memastikan seluruh tenaga kerja khususnya pekerja pada sektor jasa konstruksi mendapatkan perlindungan jaminan sosial yang memang menjadi haknya. Dengan terlindunginya para pekerja konstruksi maka, sesungguhnya BPJS Ketenagakerjaan juga turut dalam upaya pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya. Disamping BPJS Ketenagakerjaan juga mempunyai target kepesertaan dan iuran jasa konstruksi. Apabila ada proyek yang tidak didaftarkan tentu menghambat target penerimaan iuran.5
Perusahaan/penyedia jasa kontruksi seharusnya menyadari dampak dari tidak patuhnya perusahaan dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Program jaminan sosial tenaga kerja merupakan agenda dari pemerintah untuk melindungi setiap warga negaranya dalam melakukan pekerjaan, baik berisiko rendah maupun berisiko tinggi.6 Hak-hak pekerja sudah dilindungi oleh Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat, negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat.
Jika ketidakpatuhan terus dilakukan oleh perusahaan/penyedia jasa konstruksi, maka akan dapat menciderai isi kandungan dari Undang-undang Dasar 1945 dan tidak berjalannya upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa dalam hal ini pemberi kerja yang tidak sesuai dengan aturan hukum atau tidak berjalannya teori perlindungan hukum menurut Setiono.
Belum adanya kesadaran dari pengusaha dan sebagian besar menganggap bahwa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai cost atau biaya berlebih adalah salah satu alasan pengusaha tidak mengikutsertakan pekerjanya dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Selama ini pengusaha
5Kunto Baskoro, Wawancara Kabid Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan, pada hari rabu tanggal 17 Februari 2021
6Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009) h.178.
64
masih melihat pihak pekerja harian lepas sebagai pihak yang lemah.
Kesadaran dari pengusaha atau perusahaan adalah suatu poin penting dalam berjalannya penegakkan hukum dilingkup jaminan sosial bagi pekerja jasa kontruksi. Menurut peneliti, berdasarkan teori penegakan hukum yang dicetuskan oleh Soerjono Soekanto yaitu dalam menjalankan penegakan hukum yang baik, harus adanya faktor-faktor yang mendukung salah satunya faktor kesadaran masyarakat atau dalam hal ini pengusaha atau perusahaan.
Jika alasan tersebut menjadi alasan utama bagi perusahaan dan terus berlanjut sehingga banyak yang tidak mematuhi aturan atau melaksanakan kewajibannya, tentu saja semakin banyak para pekerja yang tidak mendapatkan kesejahteraan dalam bekerja. Menurut peneliti, perusahaan seharusnya bersikap peduli terhadap pekerjanya dan tidak hanya mencari keuntungan tanpa memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan pekerjanya.
Jika hal tersebut terus menerus dijadikan kebiasaan maka akan terciptanya Abuse of Power yaitu tindakan penyalahgunaan wewanang yang dilakukan pemberi kerja untuk kepentingan tertentu, baik untuk kepentingan diri sendiri, orang lain atau perusahaan.
Apakah peran BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan dalam menangani masalah tersebut, sehingga tidak ada lagi perusahaan yang melanggar aturan. BPJS Ketenagakerjaan berwenang untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap kepatuhan perusahaan dalam melaksanakan jaminan sosial tenaga kerja bagi para pekerja. Hal ini didasarkan pada Pasal 11 huruf c Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS.
Peraturan ini kemudian diturunkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Kepada Pemberi Kerja Selain Penyelenggara Negara dan Setiap Orang, Selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan Penerima Bantuan Iuran Dalam Penyelenggaraan Jaminan Sosial yang menyatakan bahwa untuk melakukan pengawasan serta pemeriksaan ini, BPJS Ketenagakerjaan mengangkat Petugas Pemeriksa (Wasrik).
Dibentuknya unit pengawas dan pemeriksa oleh BPJS Ketenagakerjaan dengan tujuan untuk melakukan pengawasan dan penindakan terhadap perusahaan yang tidak patuh terhadap aturan. Dalam upaya meningkatkan kepatuhan kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja bagi perusahaan yang berada di wilayah Kota Tangerang Selatan, BPJS Ketenagakerjaan bersama Kejaksaan Negeri (Kejari) Tangerang Selatan bersinergi dalam penegakan kepatuhan penyelenggaraan jaminan sosial ketenagakerjaan.7
Adapun kategori pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan sehingga perlu ditindaklanjuti oleh Petugas Wasrik BPJS Ketenagakerjaan, antara lain:
1. Perusahaan Wajib Belum Daftar (PWBD), yaitu perusahaan yang sudah seharusnya mendaftar di BPJS tetapi belum mendaftar;
2. Perusahaan Daftar Sebagian (PDS) Tenaga Kerja, yaitu perusahaan yang hanya mendaftarkan sebagian pekerjanya;
3. Perusahaan Daftar Sebagian (PDS) Upah, yaitu upah yang dilaporkan oleh perusahaan ke BPJS bukanlah upah yang sebenarnya;
4. Perusahaan Daftar Sebagian (PDS) Program, yaitu perusahaan yang sudah wajib mengikuti empat program jaminan sosial tetapi hanya mendaftarkan tiga program jaminan sosial.
5. Perusahaan yang memiliki piutang iuran, yaitu perusahaan yang sudah terdaftar tetapi tidak membayar iuran tepat waktu.
Perusahaan/penyedia jasa konstruksi dikategorikan sebagai Perusahaan Wajib Belum Daftar (PWBD), upaya BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan untuk meningkatkan partisipasi perusahaan dalam mendaftarkan tenaga kerjanya yang pertama ialah melalui bagian pemasaran. BPJS Ketenagakerjaan secara persuasif yaitu dengan berkirim surat ke perusahaan untuk menyampaikan atau menghimbau bahwasanya proyek yang dijalankan oleh perusahaan tersebut harus didaftarkan di BPJS Ketenagakerjaan. Jika dalam jangka waktu 7 hari perusahaan masih tidak patuh atau tidak ada itikad
7Alvin Priatama, Wawancara Petugas Pengawas dan Pemeriksa BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan, pada hari senin tanggal 22 Februari 2021
66
baik untuk melakukan pendaftaran, tindak lanjut yang dilakukan oleh Petugas Wasrik BPJS Ketenagakerjaan adalah dengan mendatangi langsung perusahaan atau proyek tersebut. Kedatangan Petugas Wasrik BPJS Ketenagakerjaan untuk menemui pimpinan perusahaan atau proyek dan menjelaskan secara langsung aturan-aturan yang mana perusahaan wajib mengikutsertakan pekerjanya dalam program jaminan sosial di BPJS Ketenagakerjaan.
Jika semua tahapan telah dilakukan, namun perusahaan masih membandel tidak patuh kepada aturan tersebut, langkah terakhir yang dilakukan oleh Petugas Wasrik BPJS Ketenagakerjaan yakni melakukan penegakan hukum dengan cara, mengirimkan surat dan melaporkan kepada Kejaksaan Negeri Tangerang Selatan bahwasanya ada perusahaan konstruksi dan proyeknya telah berjalan namun belum mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta jaminan sosial. Selanjutnya, Kejari Tangerang Selatan yang akan melakukan penindakan kepada perusahaan jasa konstruksi tersebut.
Umumnya, perusahaan yang melanggar akan mendapatkan SKK (Surat Kuasa Khusus). SKK merupakan Surat Kuasa Khusus yang dikeluarkan oleh BPJS Ketenagakerjaan dan diberikan kepada Kejari untuk diproses lebih sebagai rujukan penerapan hukum. Berdasarkan SKK tersebut Kejari melaksanakan perannya untuk memberikan Surat Peringatan kepada perusahaan yang tidak mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta jaminan sosial tenaga kerja.
Sampai dengan berada ditahap kesimpulan bahwa kewenangan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan dalam hal pengawasan belum berjalan secara optimal dan sulit untuk diterapkan dikarenakan data yang dimiliki oleh BPJS Ketenagakerjaan, Dinas Ketenagakerjaan dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Tangerang Selatan tidak terintegrasi dengan baik.8 Sebagai contoh di tahun 2019, Disnaker mengklaim sebanyak 4.196 perusahaan telah terdaftar sebagai
8Alvin Priatama, Wawancara Petugas Pengawas dan Pemeriksa BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan, pada hari senin tanggal 22 Februari 2021
peserta BPJS Ketenagakerjaan, namun BPJS Ketenagakerjaan mencatat hanya sekitar 500 perusahaan yang sudah daftar tidak sampai 1000 perusahaan.
Sedikitnya informasi yang didapatkan oleh BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang Selatan mengenai jumlah perusahaan atau proyek yang belum terdaftar dalam program jaminan sosial tenaga kerja juga menjadi salah satu penyebab pengawasan tidak berjalan dengan baik. BPJS Ketenagakerjaan hanya bisa menunggu pelaporan dari pihak eksternal yaitu pekerja/kuli proyek itu sendiri, atau melakukan pengecekan secara langsung ke proyek-proyek yang ada di wilayah Kota Tangerang Selatan.
B. Konsekuensi Yuridis Yang Diterima Perusahaan Sektor Jasa Konstruksi Yang Tidak Mengikutsertakan Pekerjanya Dalam Program BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan merupakan jaminan sosial yang seharusnya dimiliki oleh para pekerja dalam sektor apapun khususnya di dalam ruang lingkup perusahaan, mengingat adanya resiko yang dimiliki oleh pekerja dalam melaksanakan tugasnya dan kewajiban perusahaan adalah melindungi para pekerja.
Secara umum khususnya hukum ketenagakerjaan, hal mengenai jaminan sosial sudah sangat jelas. Sifat hukum ketenagakerjaan di Indonesia secara umum ada 2 (dua) yaitu mengatur dan memaksa. Hukum ketenagakerjaan di Indonesia bersifat mengatur karena hukum ketenagakerjaan di Indonesia mengatur hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha dan pemerintah. Sifat hukum mengatur disebut juga dengan sifat fakultatif yang artinya hukum yang mengatur/melengkapi.
Adapun hukum ketenagakerjaan di Indonesia bersifat imperative (memaksa), artinya hukum harus ditaati secara mutlak, tidak boleh dilanggar.
Salah satu prinsip penyelenggaraan jaminan sosial nasional, baik yang diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial adalah prinsip kepesertaan wajib. Sebuah
68
prinsip yang mengharuskan seluruh penduduk menjadi peserta jaminan sosial.
Prinsip kepesertaan bersifat wajib dimanifestasikan dalam bentuk pasal khusus, yaitu Pasal 14 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang berbunyi, “Setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, wajib menjadi peserta program jaminan sosial”.
Kewajiban bagi seluruh penduduk untuk menjadi peserta jaminan sosial dilakukan dengan cara melakukan pendaftaran. Pasal 15 ayat (1) dan Pasal 15 ayat (2) Undang-undang BPJS telah membebankan kewajiban kepada pemberi kerja untuk melakukan pendaftaran kepesertaan di BPJS. Untuk menjamin dan memastikan agar pemberi kerja melaksanakan kewajiban tersebut yaitu mendaftarkan pekerjanya sebagai peserta jaminan sosial, para pembuat undang-undang telah memasukkan unsur sanksi terhadap para pelanggar ketentuan pasal 15 Undang-undang BPJS.
Pasal 17 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, menegaskan bahwa:
Pasal 17 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, menegaskan bahwa: