• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

5. Mekanisme Perlindungan Biji Mahoni terhadap Kerusakan

Ekstrak biji mahoni diduga dapat mencegah kerusakan ginjal akibat pemberian parasetamol dosis toksik karena memiliki aktivitas antioksidan.

Di bawah kondisi fisiologis, terdapat keseimbangan antara pembentukan radikal bebas dan sistem pertahanan antioksidan yang digunakan organisme untuk melindungi dirinya sendiri dari toksisitas radikal bebas.

Keseimbangan antioksidan dan detoksifikasi Reactive Oxygen Spesies (ROS) yang berpotensi menimbulkan kerusakan sangat penting untuk homeostatis selular (Pajovic et al., 2008). Kandungan biji mahoni yang

commit to user

berperan sebagai antioksidan adalah terpenoid, tanin, flavonoid, steroid, saponin, dan alkaloid (Sahgal et al., 2009b; Hajra et al., 2011a).

Limonoid dari kelas tetratriterpenoid merupakan salah satu substansi yang menyebabkan biji mahoni memiliki efek terapeutik (Rahman et al., 2008). Golongan terpenoid ini dapat mencegah infiltrasi leukosit ke dalam ginjal yang dapat menimbulkan kerusakan ginjal (Alrdahe et al., 2010). Terpenoid juga dapat meningkatkan glutation (GSH) dan aktivitas enzim antioksidan (Thoppil & Bishayee, 2011).

Tanin dan flavonoid yang didapat dari ekstrak biji mahoni diketahui memiliki aktivitas scavenging radikal bebas yang tinggi (Hagerman, 2002;

Hajra et al., 2011a; Sahgal et al., 2009a). Flavonoid merupakan scavenger yang efektif untuk radikal hidroksil dan peroksil. Mekanisme antioksidan yang lain dari flavonoid terletak pada kemampuan donor hidrogen dan metal ion chelation. Setelah mendonorkan atom hidrogen, flavonoid menjadi radikal yang stabil yang tidak mudah berpartisipasi dalam reaksi radikal lain. Di samping itu, flavonoid dapat membentuk kompleks dengan logam dan mencegah oksidasi lipid (Lee et al., 2004).

Penelitian yang dilakukan oleh Pajovic et al., (2008) menunjukkan bahwa ekspresi enzim antioksidan seperti glutation (GSH) dapat dimodulasi oleh steroid.

Saponin dan alkaloid dapat memainkan peran penting dalam penghambatan lipoksigenase (Rodrigues et al., 2005). Lipoksigenase merupakan enzim penting dalam biosintesis leukotrien yang memainkan

commit to user

peran penting dalam patofisiologi beberapa penyakit inflamasi.

Lipoksigenase sensitif terhadap antioksidan, di mana aktivitasnya adalah menghambat pembentukan hidroperoksida lipid dalam rangka scavenging bentuk radikal dari lipidoksi atau lipidperoksi dalam proses peroksidasi enzim. Hal ini dapat membatasi ketersediaan substrat hidroperoksida lipid yang diperlukan untuk siklus katalitik lipoksigenase (Rackova et al., 2007).

commit to user B. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.4. Skema Kerangka Pikir

commit to user C. Hipotesis

1. Ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni) memiliki efek nefroprotektor terhadap kerusakan histologis sel ginjal mencit (Mus musculus) yang diinduksi parasetamol.

2. Peningkatan dosis dapat meningkatkan efek nefroprotektor ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni) terhadap kerusakan histologis sel ginjal mencit (Mus musculus) yang diinduksi parasetamol.

commit to user BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik.

B. Lokas i Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

C. Subjek Penelitian

Populasi penelitian ini adalah mencit. Sampel yang diambil dari populasi memiliki kriteria inklusi yaitu: berjenis kelamin jantan, galur Swiss webster, berusia 2-3 bulan, dan berat badan ± 20 g. Adapun kriteria eksklusinya adalah mencit yang memiliki kecacatan fisik dan atau tampak sakit. Jumlah sampel yang digunakan berdasarkan rumus Federer, yaitu:

(k-1)(n-1) > 15 (4-1)(n-1) > 15 3(n-1) > 15

3n > 15 + 3 n > 6 ≈ 7 Keterangan:

k : jumlah kelompok

n : jumlah sampel dalam tiap kelompok

Pada penelitian ini jumlah sampel untuk tiap kelompok sebanyak 7 ekor

commit to user

mencit (n > 6). Jumlah kelompok mencit ada 4 sehingga penelitian ini membutuhkan 28 ekor mencit dari populasi yang ada.

D. Teknik Sampling

Teknik sampling yang dipakai adalah incidental sampling. Sampel diperoleh dengan mengambil begitu saja subjek penelitian yang ditemui dari populasi yang ada (Taufiqqurohman, 2008).

E. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini adalah the post test only controlled group design. Dalam rancangan ini subjek dibagi menjadi 4 kelompok secara random.

Gambar 3.1. Skema Rancangan Penelitian Keterangan: tanpa diberi ekstrak biji mahoni maupun parasetamol.

X

commit to user

KK (+) : Kelompok Kontrol Positif, diberi makanan dan minuman standar dan diberi parasetamol 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari pada hari ke-12, 13, dan 14.

KP1 : Kelompok Perlakuan 1, diberi makanan dan minuman standar, diberi ekstrak biji mahoni dengan dosis 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari selama 14 hari berturut-turut dan diberi parasetamol 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari pada hari ke-12, 13, dan 14.

KP2 : Kelompok Perlakuan 2 diberi makanan dan minuman standar, diberi ekstrak biji mahoni dengan dosis 0,2 ml/20 g BB mencit satu kali sehari selama 14 hari berturut-turut dan diberi parasetamol 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari pada hari ke-12, 13, dan 14.

O0 : Pengamatan jumlah sel ginjal yang mengalami kerusakan pada mencit kelompok kontrol negatif.

O1 : Pengamatan jumlah sel ginjal yang mengalami kerusakan pada mencit kelompok kontrol positif.

O2 : Pengamatan jumlah sel ginjal yang mengalami kerusakan pada mencit kelompok perlakuan 1.

O3 : Pengamatan jumlah sel ginjal yang mengalami kerusakan pada mencit kelompok perlakuan 2.

Pengambilan organ ginjal mencit yang selanjutnya dibuat preparat histologis, dilakukan pada hari ke-15 setelah perlakuan pertama dikerjakan.

commit to user F. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel bebas : pemberian ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni).

2. Variabel terikat : kerusakan histologis sel ginjal mencit (Mus musculus).

3. Variabel luar : a. Terkendali

Variasi genetik, jenis kelamin, umur, suhu udara, berat badan, dan jenis makanan mencit semuanya diseragamkan.

b. Tak terkendali

1) Sensitivitas subjek terhadap zat yang diberikan.

2) Keadaan psikologis subjek.

3) Keadaan awal ginjal mencit.

G. Definisi Operas ional Variabel Penelitian

1. Variabel bebas: pemberian ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni)

Biji mahoni yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari toko obat herbal Akar Sari. Ekstraksi biji mahoni dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM).

Pembuatan ekstrak dilakukan dengan teknik maserasi menggunakan pelarut etanol 70%.

Ekstrak biji mahoni diberikan selama 14 hari berturut-turut secara per oral dengan sonde lambung dalam 2 dosis.

Dosis I : 11,2 mg/20 g BB mencit yang diencerkan hingga 0,1 ml diberikan pada mencit KP1 (perhitungan dosis pada cara kerja).

commit to user

Dosis II : 22,4 mg/20 g BB mencit yang diencerkan hingga 0,2 ml diberikan pada mencit KP2.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala ordinal.

2. Variabel terikat: kerusakan histologis sel ginjal mencit (Mus musculus) Kerusakan histologis sel ginjal mencit adalah gambaran kerusakan mikroskopis sel epitel tubulus proksimal ginjal mencit yang diinduksi parasetamol dan telah mendapat perlakuan dengan ekstrak biji mahoni.

Pada variabel ini yang dinilai berupa besarnya kerusakan histologis sel epitel tubulus proksimal ginjal mencit. Besarnya kerusakan histologis dinilai dengan cara menghitung jumlah sel epitel tubulus proksimal yang rusak dari tiap 50 sel epitel tubulus proksimal pada suatu daerah tertentu di pars konvulata korteks ginjal. Sel epitel tubulus proksimal yang rusak ditandai oleh adanya inti sel yang piknosis, karioreksis, dan kariolisis. Tiap mencit diambil ginjal kanan dan kirinya. Untuk masing-masing ginjal, jumlah irisan yang dibaca adalah 1 irisan dari 2 irisan yang diambil, sehingga untuk setiap kelompok (7 mencit) terdapat 7 irisan ginjal kanan dan 7 irisan ginjal kiri yang akan dibaca. Dengan demikian ada 14 angka yang muncul mengenai jumlah sel epitel tubulus proksimal yang mengalami kerusakan pada tiap kelompok mencit.

commit to user

Adapun rumus besarnya kerusakan histologis sel epitel tubulus proksimal untuk tiap irisan ginjal adalah:

Pi + Kr + Kl Keterangan :

Pi : Jumlah sel epitel tubulus proksimal dengan inti piknosis.

Kr : Jumlah sel epitel tubulus proksimal dengan inti karioreksis.

Kl : Jumlah sel epitel tubulus proksimal dengan inti kariolisis.

Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio.

3. Variabel luar

Variabel luar terdiri dari variabel yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan.

a. Variabel luar yang dapat dikendalikan. Variabel ini dapat dikendalikan melalui homogenisasi.

1) Variasi genetik

Jenis hewan coba yang digunakan adalah mencit dengan galur Swiss webster.

2) Jenis kelamin

Jenis kelamin mencit yang digunakan adalah jantan.

3) Umur

Umur mencit pada penelitian ini adalah + 3 bulan.

4) Suhu udara

Hewan percobaan diletakkan dalam ruangan dengan suhu udara berkisar antara 25-28o C.

commit to user 5) Berat badan

Berat badan hewan percobaan + 20 g.

6) Jenis makanan

Makanan yang diberikan berupa pelet dan minuman dari air Perusahaan Air Minum (PAM).

b. Variabel luar yang tidak dapat dikendalikan:

1) Reaksi sensitivitas dapat terjadi karena adanya variasi kepekaan mencit terhadap zat yang digunakan.

2) Kondisi psikologis mencit dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Lingkungan yang terlalu ramai dan gaduh, pemberian perlakuan yang berulang kali, dan perkelahian antarmencit dapat mempengaruhi kondisi psikologis mencit.

3) Keadaan awal ginjal mencit tidak diperiksa pada penelitian ini sehingga mungkin saja ada mencit yang sebelum perlakuan ginjalnya sudah mengalami kelainan.

H. Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1) kandang mencit 4 buah masing-masing untuk 7 ekor mencit beserta kelengkapan pemberian makan; 2) timbangan hewan; 3) timbangan obat; 4) pipet tetes dan mikropipet 5) sonde lambung; 6) alat bedah hewan percobaan (scalpel, pinset, gunting, jarum, meja lilin); 7) alat untuk pembuatan preparat histologi; 8) mikroskop cahaya medan terang; 9) gelas ukur dan pengaduk; 10) masker; 11) handscoen;

dan 12) kamera.

commit to user

Bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi: 1) parasetamol; 2) makanan hewan percobaan (pelet); 3) akuades; 4) bahan untuk pembuatan preparat histologis dengan pengecatan Hematoksilin Eosin (HE); dan 5) ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.).

I. Cara Kerja

1. Cara ekstraksi biji mahoni (Swietenia mahagoni)

Pembuatan ekstrak biji mahoni dilakukan di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada (LPPT UGM) dengan menggunakan metode maserasi. Biji mahoni dicuci menggunakan akuades kemudian dikeringkan dalam almari pengering suhu 450C selama 48 jam.

Selanjutnya biji mahoni direndam dengan ethanol 70%, di-blend selama 30 menit, didiamkan selama 24 jam, lalu disaring. Prosedur tersebut diulangi sebanyak 3 kali. Filtrat hasil penyaringan diuapkan dengan vacuum rotary evaporator, pemanas water bath suhu 700C. Dari proses tersebut akan didapatkan ekstrak kental yang dituang dalam cawan porselin. Selanjutnya ekstrak kental dalam cawan porselin dipanaskan dengan pemanas water bath suhu 700C sambil terus diaduk sehingga didapatkan ekstrak etanol biji mahoni. Ekstrak biji mahoni ini akan diencerkan dengan akuades sebelum disondekan pada mencit percobaan.

2. Dosis dan pengenceran ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni).

Pemberian ekstrak biji mahoni untuk gastroprotektor berdasarkan penelitian oleh Alrdahe et al. (2010) adalah 400 mg/kg BB tikus atau setara dengan 80 mg/200 g BB tikus. Pada penelitian Alrdahe et al. tersebut,

commit to user

ekstrak biji mahoni diberikan dalam 4 dosis, yaitu 50, 100, 200, dan 400 mg/kg BB tikus yang diberikan secara per oral selama 14 hari berturut-turut. Penentuan dosis yang diberikan kepada mencit berdasarkan pada hasil konversi dari tikus ke mencit seperti terlihat pada lampiran 1 (Ngatidjan, 1991). Dosis pemberian ekstrak biji mahoni pada mencit ini adalah dosis I = 0,1 ml/20 g BB mencit dan dosis II = 0,2 ml/20 g BB mencit. Masing-masing dosis yang disondekan tersebut adalah 5,6 g ekstrak biji mahoni yang telah diencerkan dengan akuades menjadi volume 50 ml. Ekstrak biji mahoni dosis I diberikan satu kali sehari selama 14 hari berturut-turut pada KP1. Ekstrak biji mahoni dosis II diberikan satu kali sehari selama 14 hari berturut-turut pada KP2.

Perhitungan dosis ekstrak biji mahoni:

a. Dosis I ekstrak biji mahoni setara dengan 80 mg ekstrak biji mahoni pada tikus dengan berat 200 g.

Dosis I untuk mencit 20 g = Nilai konversi x 80 mg

= 0,14 x 80 mg

= 11,2 mg/20 g BB mencit Pengenceran ekstrak biji mahoni:

Ekstrak biji mahoni sebanyak 11,2 g diencerkan dengan akuades sehingga didapatkan 100 ml larutan ekstrak biji mahoni, setara dengan 5,6 g ekstrak biji mahoni yang dilarutkan dengan akuades sehingga menjadi 50 ml larutan ekstrak biji mahoni.

↔ Dalam 1 ml mengandung 112 mg ekstrak biji mahoni

commit to user

↔ Dalam 0,1 ml mengandung 11,2 mg ekstrak biji mahoni

Larutan ekstrak biji mahoni yang disondekan adalah ekstrak biji mahoni yang telah diencerkan. Larutan ekstrak biji mahoni yang disondekan pada 1 ekor mencit (20 g) pada KP1 sebanyak 0,1 ml dan diberikan selama 14 hari berturut-turut.

b. Dosis II ekstrak biji mahoni

Ekstrak biji mahoni dosis II adalah 2 kali ekstrak biji mahoni dosis I.

Jadi, larutan ekstrak biji mahoni yang disondekan pada 1 ekor mencit (20 g) pada KP2 sebanyak 0,2 ml dan diberikan selama 14 hari berturut-turut.

3. Dosis dan pengenceran parasetamol

Dosis letal (LD-50/Lethal Dosis-50) untuk mencit per oral yang telah diketahui adalah 338 mg/kg BB atau 6,76 mg/20 g BB mencit (Wishart et al., 2011). Dosis parasetamol yang digunakan untuk menimbulkan efek kerusakan ginjal berupa nekrosis sel epitel tubulus proksimal ginjal tanpa menyebabkan kematian mencit adalah dosis 3/4 LD-50 perhari (Ratnasari, 2009). Dosis yang digunakan adalah 338 mg/Kg BB × 0,75 = 253,5 mg/kg BB = 5,07 mg/20 g BB mencit. Parasetamol 500 mg dilarutkan dalam akuades hingga 9,86 ml, sehingga dalam 0,1 ml larutan parasetamol mengandung 5,07 mg parasetamol.

Parasetamol diberikan selama 3 hari berturut-turut yaitu pada hari ke-12, 13, dan 14. Pemberian parasetamol dengan cara ini dimaksudkan untuk menimbulkan kerusakan berupa nekrosis pada sel epitel tubulus proksimal

commit to user

di daerah pars konvulata korteks ginjal tanpa menimbulkan kematian pada mencit.

4. Persiapan mencit

Mencit diadaptasikan selama tujuh hari di Laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Sesudah adaptasi, keesokan harinya dilakukan penimbangan untuk menentukan dosis dan dilakukan perlakuan.

5. Pengelompokan subjek

Pada minggu kedua mulai dilakukan percobaan. Subjek dikelompokkan menjadi empat kelompok dengan cara randomisasi, dan masing-masing kelompok terdiri dari 7 mencit. Adapun pengelompokan subjek adalah sebagai berikut:

a. KK (-) : Kelompok Kontrol Negatif, diberi akuades per oral sebanyak 0,1 ml/20 g BB mencit setiap hari selama 14 hari berturut-turut, tanpa ekstrak biji mahoni maupun parasetamol.

b. KK (+) : Kelompok Kontrol Positif, diberi akuades per oral sebanyak 0,1 ml/20 g BB mencit selama 14 hari berturut-turut, dan diberi parasetamol per oral 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari pada hari ke-12, 13, dan 14, tanpa ekstrak biji mahoni.

c. KP1 : Kelompok Perlakuan 1, diberi ekstrak biji mahoni per oral sebanyak 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari selama 14 hari berturut-turut dan diberi parasetamol per oral 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari pada hari ke-12, 13, dan 14.

commit to user

d. KP2 : Kelompok Perlakuan 2, diberi ekstrak biji mahoni per oral sebanyak 0,2 ml/20 g BB mencit satu kali sehari selama 14 hari berturut-turut dan diberi parasetamol per oral 0,1 ml/20 g BB mencit satu kali sehari pada hari ke-12, 13, dan 14.

Setiap sebelum pemberian parasetamol dan ekstrak biji mahoni, mencit dipuasakan dahulu ± 5 jam untuk mengosongkan lambung. Pemberian parasetamol dilakukan ± 1 jam setelah pemberian ekstrak biji mahoni agar terabsorbsi terlebih dahulu. Di luar jadwal perlakuan mencit diberi makan berupa pelet dan minum air PAM ad libitum.

commit to user 6. Pemberian Perlakuan

Gambar 3.2. Skema Langkah Penelitian 7. Pengukuran Hasil

Pada hari ke-15 setelah perlakuan diberikan, semua hewan percobaan dikorbankan dengan cara neck dislocation (Alrdahe et al., 2010).

Setiap mencit diambil ginjal kanan dan kiri, kemudian masing-masing ginjal dibuat 2 irisan secara frontal pada daerah pertengahan ginjal dengan

commit to user

jarak antaririsan adalah 10 irisan dengan ketebalan tiap irisan ginjal + 5–7 µm (untuk keseragaman). Preparat ginjal dibuat dengan metode blok parafin dengan pengecatan Hematoksilin Eosin (HE). Tiap mencit dibuat 2 irisan jaringan dari ginjal kanan dan 2 irisan jaringan dari ginjal kiri, yang kemudian diambil secara acak 1 irisan dari masing-masing ginjal untuk diamati pada mikroskop. Jadi, jumlah irisan ginjal yang dibaca untuk tiap mencit adalah 1 irisan dari ginjal kanan dan 1 irisan dari ginjal kiri. Dengan demikian untuk tiap kelompok terdapat 7 irisan ginjal kanan dan 7 irisan ginjal kiri (14 irisan ginjal). Dari tiap irisan ginjal dibaca jumlah sel epitel tubulus proksimal yang rusak dari tiap 50 sel epitel tubulus proksimal ginjal. Dengan demikian ada 14 angka yang muncul mengenai jumlah sel epitel tubulus proksimal yang mengalami kerusakan pada setiap kelompok mencit, yang kemudian dibandingkan reratanya dengan uji statistik.

Pengamatan preparat irisan jaringan ginjal mula-mula dilakukan dengan perbesaran 100 kali untuk mengamati seluruh bagian irisan, kemudian ditentukan tubulus proksimal yang terletak pada pars konvulata korteks ginjal. Pengamatan dilanjutkan dengan perbesaran 400 kali untuk mengamati inti sel epitel tubulus proksimal ginjal. Perbesaran 1000 kali untuk melihat dan membedakan inti sel yang piknosis, karioreksis, dan kariolisis dengan lebih jelas.

Pengamatan dilakukan pada tubulus proksimal ginjal karena menurut Wilson (2006), pada tubulus proksimal terjadi absorpsi dan sekresi aktif serta kadar sitokrom P450 lebih tinggi untuk mendetoksifikasi

commit to user

atau mengaktifkan toksikan sehingga lebih mudah untuk mengalami kerusakan.

Untuk mengetahui sel-sel epitel tubulus proksimal yang mengalami kerusakan maka dari tiap irisan ditentukan 1 daerah di pars konvulata korteks ginjal kemudian pada tiap daerah tersebut dihitung jumlah sel epitel tubulus proksimal yang mengalami kerusakan dari tiap 50 sel epitel tubulus proksimal yang ada di daerah tersebut. Masing-masing irisan ginjal yang diamati kemudian dihitung jumlah inti sel yang mengalami piknosis, karioreksis, dan kariolisis. Jumlah sel yang mengalami piknosis, karioreksis, dan kariolisis dari tiap 50 sel menggambarkan besarnya kerusakan yang dialami oleh tiap irisan ginjal.

J. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh diuji normalitasnya menggunakan uji Kolmogorof-Smirnov dan uji Levene’s Test of Varian untuk mengetahui varian data. Kemudian data diuji menggunakan uji statistik One-Way ANOVA dilanjutkan dengan uji Post Hoc Multiple Comparisons untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan bermakna. Derajat kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05 (Dahlan, 2007).

commit to user BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Data Hasil Penelitian

Data yang didapatkan dari hasil pengamatan mikroskopis dari efek nefroprotektor ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.) terhadap kerusakan histologis sel ginjal mencit (Mus musculus) yang diinduksi parasetamol disajikan pada lampiran 3. Hasil rerata jumlah kerusakan histologis sel ginjal mencit untuk masing-masing kelompok dapat dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1. Diagram Rerata Skor Kerusakan Sel Ginjal Masing-masing Kelompok. Kontrol (-) tanpa parasetamol dan ekstrak biji mahoni, kontrol (+) hanya diberi parasetamol, perlakuan 1 diberi parasetamol dan ekstrak biji mahoni dosis 11,2 mg/g BB, perlakuan 2 diberi parasetamol dan ekstrak biji mahoni dosis 22,4 mg/g BB (Data Primer, 2012)

0

Kontrol (-) Kontrol (+) Perlakuan 1 Perlakuan 2

Rerata Jumlah Kerusakan Sel Ginjal

commit to user

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa kelompok KK (+) memiliki rerata jumlah kerusakan yang paling tinggi, yaitu 28.93+1.698; sedangkan KP1

memiliki rerata terendah, yaitu 9.28+0.873. Gambaran histologis (fotomikrograf) tubulus proksimal ginjal mencit pada KK (-), KK (+), KP1, dan KP2 dapat dilihat pada lampiran 4.

B. Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan program komputer Statistical Product and Service Solution (SPSS) 16.0 for Windows. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan uji One-Way ANOVA untuk mengetahui adanya perbedaan rerata jumlah kerusakan sel ginjal mencit yang bermakna antara keempat kelompok sekaligus. Uji One-Way ANOVA ini dapat dilakukan jika data penelitian memenuhi ketiga syarat uji parametrik.

Syarat pertama adalah skala pengukuran variabel termasuk skala numerik. Terdapat dua macam variabel dalam penelitian ini. Pemberian ekstrak biji mahoni yang merupakan variabel bebas menggunakan skala ordinal (kategorik), sedangkan kerusakan histologis sel ginjal mencit yang merupakan variabel terikat menggunakan skala rasio (numerik). Dengan demikian, syarat skala numerik dalam penelitian ini telah terpenuhi.

Sebaran atau distribusi data yang normal merupakan syarat uji parametrik kedua. Untuk mengetahui normalitas data pada penelitian ini, digunakan uji Kolmogorov-Smirnov (α = 0,05) karena jumlah irisan ginjal yang diperiksa sebagai sampel adalah 56 irisan (lebih dari 50). Hasil uji

commit to user

Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat pada lampiran 5. Nilai p dari hasil uji Kolmogorov-Smirnov untuk kelompok KK (-), KK (+), KP1, dan KP2 berturut-turut adalah 0,163; 0,200; 0,118; dan 0,090. Keempat nilai di atas lebih besar dari α (0,05), sehingga menunjukkan bahwa sebaran data pada masing-masing kelompok KK (-), KK (+), KP1, dan KP2 adalah normal, jadi syarat kedua terpenuhi.

Syarat terakhir adalah kesamaan varian data yang dapat diketahui dengan uji Homogeneity of Variances. Suatu data dikatakan memiliki kesamaan varian bila nilai p lebih besar dari nilai α (0,05). Hasil uji Homogeneity of Variances dapat dilihat pada lampiran 5. Dari uji ini didapatkan nilai p sebesar 0,004. Karena p < α, maka varian data ini tidak sama sehingga syarat ketiga uji parametrik belum dapat terpenuhi. Dari sini perlu dilakukan transformasi data agar diperoleh varian data yang sama. Sebelumnya perlu dicari bentuk transformasi data yang sesuai dengan menilai slope dan power. Nilai slope dan power dapat dilihat pada lampiran 5. Nilai slope = 0,830 dan nilai power = 0,170; sehingga bentuk transformasi yang digunakan adalah logaritma. Berikut adalah hasil rerata data transformasi yang telah dilakukan:

commit to user

Tabel 4.1. Rerata Transformasi Jumlah Kerusakan Histologis Sel Ginjal pada Masing-Masing Kelompok Mencit

Kelompok Rerata Jumlah

KK (+) 1,02

KK (-) 1,45

KP1 0,94

KP2 1,43

(Data Primer, 2012)

Setelah dilakukan transformasi data, dilakukan kembali uji Homogeneity of Variances. Hasil uji Homogeneity of Variances dengan data transformasi dapat dilihat pada lampiran 5. Berdasarkan uji ini, didapatkan nilai p sebesar 0,625 sehingga dapat dinyatakan bahwa varian data antarkelompok sama.

Setelah ketiga syarat terpenuhi maka uji One-Way ANOVA bisa dilakukan. Hasil uji One-Way ANOVA dapat dilihat pada lampiran 6. Derajat kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Nilai p dari hasil uji One-Way ANOVA adalah 0,001 (p < 0,05). Nilai p yang kurang dari 0,05 menunjukkan adanya perbedaan nilai rerata jumlah kerusakan sel ginjal yang bermakna pada setidaknya dua kelompok.

Langkah selanjutnya adalah analisis mengenai perbedaan masing-masing kelompok dengan Post Hoc Multiple Comparisons menggunakan uji Least Significantly Different (LSD). Ringkasan hasil uji LSD dapat dilihat pada tabel berikut:

commit to user Tabel 4.2. Ringkasan Hasil Uji LSD (α = 0,05)

Kelompok p Perbedaan

Kelompok p Perbedaan

Dokumen terkait