• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Dalam dokumen Bank Sentral Republik Indonesia (Halaman 114-117)

Tugas-tugas Bank Sentral

DAFTAR PUSTAKA

3.2 KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA

3.2.3 Kebijakan Moneter Periode Setelah Krisis Ekonomi 1997

3.2.3.2 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Pengkajian mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia terus dilakukan tidak saja karena mekanisme transmisi dimaksud dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi dalam perekonomian dan sektor keuangan, tetapi juga penginian kajian transmisi moneter penting untuk terus meningkatkan efektivitas kebijakan moneter. Beberapa hasil kajian pendahuluan menyimpulkan bahwa transmisi kebijakan moneter jalur moneter langsung melalui uang primer (M0) dan uang beredar (M1 dan M2) masih dipandang cukup relevan di Indonesia. Kajian terkini yang telah dilakukan menghasilkan beberapa temuan penting mengenai bekerjanya beberapa jalur transmisi kebijakan moneter lain di Indonesia pada periode sebelum dan sesudah krisis ekonomi 1997.33 Secara umum, hasil kajian juga memperlihatkan bahwa bekerjanya mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia sangat dipengaruhi oleh perubahan struktural dan kebijakan ekonomi keuangan.

Pada periode sebelum krisis, sejalan dengan liberalisasi sektor keuangan di Indonesia, perekonomian Indonesia mengalami peningkatan aliran masuk modal luar negeri yang sangat tinggi dan pada akhirnya mendorong tingginya pertumbuhan ekonomi. Dalam kondisi ini, jalur suku bunga bekerja cukup baik dalam mentransmisikan pengaruh kebijakan moneter pada perubahan suku bunga simpanan dan pinjaman. Akan tetapi, 33

Untuk kajian selengkapnya, baca Transmission Mechanism of Monetary Policy in Indonesia, Perry Warjiyo dan Juda Agung (Editor), Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Bank Indonesia, 2002. Untuk uraian yang lebih umum mengenai hal ini, baca Perry Warjiyo, Mekanisme Transmisi

perubahan suku bunga tersebut bukan merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi besarnya pengeluaran investasi dan konsumsi yang pada waktu itu lebih banyak didorong oleh tingginya pertumbuhan ekonomi dan melimpahnya ketersediaan dana yang berasal dari luar negeri. Dengan alasan yang sama, jalur pinjaman bank pada periode sebelum krisis kurang efektif dalam mentransmisikan kebijakan moneter ke sektor riil. Demikian pula, jalur nilai tukar tidak begitu kuat peranannya mengingat pada periode sebelum krisis Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang terkendali. Dalam kondisi ini, pergerakan nilai tukar tidak cukup signifikan mempengaruhi perkembangan output riil dan harga.

Pada periode setelah krisis, berbagai perubahan yang terjadi dalam perekonomian dan peralihan sistem nilai tukar dari sistem mengambang terkendali menjadi sistem mengambang/fleksibel mempunyai implikasi terhadap mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia. Dalam kondisi ini, jalur nilai tukar menjadi salah satu jalur penting dalam mentransmisikan pengaruh kebijakan moneter pada kegiatan ekonomi riil dan harga. Demikian pula halnya dengan jalur ekspektasi yang terlihat mempunyai peranan yang cukup penting dalam mempengaruhi perkembangan inflasi. Akan tetapi, perilaku ekspektasi inflasi lebih banyak dipengaruhi secara kuat oleh pergerakan nilai tukar dan perkembangan harga di masa lalu (inertia ’kelembaman’). Jalur suku bunga masih bekerja dengan baik, tetapi perilakunya sangat tergantung pada kondisi perbankan secara keseluruhan dan tingginya derajat ketidakpastian ekonomi. Hasil kajian juga menunjukkan pengaruh permasalahan disintermediasi perbankan terhadap efektivitas kebijakan moneter melalui mekanisme transmisi jalur kredit, baik karena perilaku pinjaman bank maupun kondisi neraca keuangan perusahaan yang belum normal.

3.2.3.3 Kerangka Operasional Kebijakan Moneter

Kerangka operasional kebijakan moneter di Indonesia selama dalam program IMF hingga bulan Oktober 2003 pada dasarnya menggunakan uang primer (M0) sebagai sasaran operasional. Dengan kata lain, kerangka operasional kebijakan moneter yang diterapkan masih dipengaruhi oleh strategi penargetan besaran moneter seperti dijelaskan di muka. Meskipun demikian, sejalan dengan diberlakukannya UU No. 23 Tahun 1999 tentang 3.2 Kebijakan Moneter di Indonesia

Bank Indonesia, kebijakan moneter yang dilakukan diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan dan diumumkan kepada publik. Hal ini berarti bahwa sejak tahun 2000 Bank Indonesia pada dasarnya telah mulai menerapkan kerangka kebijakan moneter yang dikenal dengan sebutan penargetan inflasi (inflation targeting framework). Pada bagian ini akan dijelaskan kerangka operasional kebijakan moneter berdasarkan penargetan inflasi dengan sasaran-operasional uang primer, sementara langkah-langkah Bank Indonesia dalam penerapan inflation targeting

framework secara keseluruhan akan diuraikan pada bagian 3.3.

Dengan pengendalian uang primer (M0) sebagai sasaran-operasional, maka jumlah uang beredar di masyarakat (M1 dan M2) dapat dipengaruhi agar sejalan dengan sasaran akhir kebijakan moneter berupa kestabilan harga (inflasi). Di samping merupakan kesepakatan antara Pemerintah dan IMF dalam Letter of Intent, penggunaan sasaran-operasional uang primer tersebut dilakukan dengan beberapa pertimbangan. Pertama, dalam kondisi ekonomi dan keuangan yang sedang mengalami berbagai perubahan struktural seperti di Indonesia, Bank Indonesia perlu memegang salah satu indikator yang paling dapat dikendalikan, yaitu uang primer. Kedua, meskipun masih terdapat ketidakpastian mengenai jalur mana yang paling kuat dalam mentransmisikan kebijakan moneter di Indonesia, perkembangan uang primer masih mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap perkembangan uang beredar, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi.

Instrumen moneter utama yang dipergunakan Bank Indonesia untuk mempengaruhi sasaran-operasional tersebut adalah Operasi Pasar Terbuka (OPT), di samping instrumen lain seperti Fasilitas Diskonto, Giro Wajib Minimum (GWM), ataupun Imbauan. Instrumen OPT dilakukan melalui lelang surat-surat berharga, yang ditujukan untuk menambah atau mengurangi likuiditas di pasar uang, untuk mencapai sasaran operasional uang primer yang telah ditetapkan. Sementara itu, fasilitas diskonto adalah fasilitas kredit yang diberikan kepada bank-bank dengan tingkat diskonto yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. GWM merupakan jumlah alat likuid minimum yang wajib dipelihara oleh bank dalam rekening gironya di Bank Indonesia. Selanjutnya imbauan digunakan oleh Bank Indonesia dengan tujuan agar semua bank dapat mengikuti langkah kebijakan moneter yang diinginkan Bank Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, proses operasional pengendalian moneter diawali dengan penyusunan program moneter dengan menetapkan sasaran uang primer (tahunan, triwulanan, bulanan, dan mingguan) sesuai dengan kebutuhan likuiditas perekonomian yang diprakirakan berdasarkan proyeksi inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan variabel lainnya. Dengan demikian, OPT yang dilakukan dengan lelang SBI secara mingguan diarahkan untuk mencapai sasaran uang primer yang sudah ditetapkan. Akan tetapi, dalam pelaksanannya perkembangan suku bunga juga dipertimbangkan dalam operasi moneter dimaksud. Perubahan suku bunga yang terlalu tinggi dan berfluktuasi dihindarkan agar tidak berdampak negatif terhadap kondisi perbankan yang masih rentan dan upaya pemulihan ekonomi nasional. Dengan keluarnya Indonesia dari Program IMF bulan Oktober 2003, Bank Indonesia mulai tahun 2004 menggunakan suku bunga sebagai sasaran-operasional dalam pengendalian moneter.34

Dalam dokumen Bank Sentral Republik Indonesia (Halaman 114-117)