• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELIHAT KE MUKA

Dalam dokumen Dibawah Bendera Revolusi (Halaman 82-90)

Rencana yang pertama dalam Persatuan Indonesia ini mempunyai sifat rencana "pembuka". Pembuka untuk segenap perbuatan, daya-upaya dan usaha, yang oleh Persatuan Indonesia akan disajikan di hadapan duli kita punya Ibu, yakni kita punya Tanah-Air, - sebagai suatu "pendahuluan" daripada segenap perbuatan dan fi'il yang akan ia sajikan di dalam kita punya perjoangan ke arah kemerdekaan Tanah-Air dan Bangsa.

Bagaimanakah sifatnya kita punya perjoangan itu?

Kita punya perjoangan pada hakekatnya ialah perjoangan Rokh; ia ialah perjoangan Semangat; ia ialah perjoangan Geest. Ia ialah suatu perjoangan yang dalam awalnya lebih dulu harus menaruh alas-alas dan sendi-sendinya tiap-tiap perbuatan dan usaha yang harus kita lakukan untuk mencapai kemerdekaan itu; alas-alas yang berupa Rokh-Merdeka dan Semangat-Merdeka, yang harus dan musti kita bangun-bangunkan, harus dan musti kita hidup-hidupkan dan kita bangkit-bangkitkan, bilamana kita ingin akan berhasilnya perbuatan dan fi'il tahadi. Sebab selama Rokh dan Semangat ini belum bangun dan hidup dan bangkit, - selama Rokh dan Semangat yang berada di dalam hati-sanubari kita masih mati, selama Rokh itu masih Rokh perbudakan, - selama itu akan sia-sialah perbuatan dan usaha kita, ya, selama itu tak d a p a t l a h kita melahirkan suatu perbuatan dan usaha yang luhur. Sebab perbuatan tidak bisa luhur dan besar, jikalau ia tidak terpikul oleh Rokh dan Semangat yang luhur dan besar pula adanya!

Oleh karena itu, maka kita pertama-tama haruslah mengabdi pada Rokh dan Semangat itu. Rokh-Muda dan Semangat-Muda, yang harus menyerapi dan mewahyui segenap kita punya tindakan dan segenap kita punya perbuatan.

Jikalau Rokh ini sudah bangun, jikalau Rokh ini sudah bangkit, maka tiadalah kekuatan duniawi yang dapat menghalang-halangi bangkit dan geraknya, tiadalah kekuatan duniawi yang dapat memadamkan nyalanya! Dapatkah ditahan alirannya gelombang kekeristenan oleh kelaliman dan kekuasaan Nero, sesudah Rokh dan Semangat kekeristenan itu bangkit? Dapatkah ditahan kekuatannya gelombang keislaman, sesudah Rokh dan Semangat keislaman itu tertanam dan hidup? Dapatkah ditahan majunya demokrasi Perancis, sesudah rakyat Perancis terserapi hati sanubarinya oleh Rokh kedemokrasiannya Jean Jacques Rousseau, yang sebagai penulis Thomas Carlyle mengatakan "boleh" ditutup di dalam loteng, ditertawakan sebagai binatang yang kejangkitan syaitan, disuruh mati kelaparan sebagai binatang buas dalam kerangkengnya, - tetapi yang tak bisa dihalang-halangi membikin terbakarnya dunia?

83

Dapatkah ditahan geraknya kaum buruh di Eropah mencari kemerdekaan, sesudah Rokh kaum buruh itu hidup dan bangkit di bawah wahyu sosialisme dan komunisme9 Sebagaimana kepala Sang Kumbakarna masih hidup menggelundung walaupun sudah terlepas daripada badannya, maka Geest-nya manusia tidak dapat dibinasakan pula!

Bahwasanya, tiada satu rakyat yang dapat diperbudak, jikalau Rokhnya tidak mau diperbudak. Tiada satu rakyat yang tidak menjadi merdeka, jikalau Rokhnya mau merdeka. "Tiada satu kelaliman yang dapat merantai sesuatu Rokh, jikalau Rokh itu, tidak mau dirantai", - begitulah pendekar India Sarojini Naidu berkata.

Sebaliknya tiada satu rakyat yang dapat menggugurkan bebannya nasib tak merdeka, jikalau Rokhnya masih mau memikul beban itu. "Walaupun dewa-dewapun tak dapat memerdekakan seorang budak belian, jikalau hatinya tidak berkobar-kobar dengan api keinginan merdeka", begitulah Sarojini Naidu mengatakan pula. Dengan apa yang tertulis di atas ini, maka tergambarlah sifatnya kita punya perjoangan.

Jikalau kita ingin mendidik rakyat Indonesia ke arah kebebasan dan kemerdekaan, jikalau kita ingin mendidik rakyat Indonesia menjadi t u a n di atas dirinya sendiri, maka pertama-tama haruslah kita membangun-bangunkan dan membangkit-bangkitkan dalam hati-sanubari rakyat Indonesia itu ia punya Rokh dan Semangat menjadi Rokh-Merdeka dan Semangat-Merdeka yang sekeras-kerasnya, yang harus pula kita hidup-hidupkan menjadi api k e m a u a n –

m e r d e k a yang sehidup-hidupnya! Sebab hanya Rokh-Merdeka

dan Semangat-Merdeka yang sudah bangkit menjadi K e m a u a n - M e r d e k a sahajalah yang dapat melahirkan sesuatu

perbuatan-Merdeka yang berhasil.

Di dalam membangunkan dan membangkitkan Rokhnya rakyat Indonesia inilah kewajiban semua nasionalis Indonesia, dari azas apa dan haluan apapun jua. Tiap-tiap nasionalis Indonesia haruslah menjadi propagandisnya kita punya Zaak (urusan, kepentingan), - menebarkan benih dan bijinya kita punya Zaak itu ke kanan dan ke kiri, membangun-bangunkan dalam hati-sanubari tiap-tiap orang Indonesia yang ia jumpai ia punya Rokh-Merdeka dan Semangat-Merdeka, agar supaya Rokh dan Semangat yang kini menyala-nyala di dalam hati-sanubari sebagian dari rakyat Indonesia itu, dengan segera menyala-nyala pula di dalam hati-sanubari s e t i a p orang Indonesia baik laki-laki maupun perempuan, baik rendah derajat maupun tinggi,- artinya: agar supaya Rokh dan Semangat itu menjadi Rokh dan Semangat r a k y a t Indonesia semua, yakni Rokh dan Semangat nasional, nationale geest! Dan jikalau Rokh nasional itu

84

sudah hidup dan bangkit, jikalau hati-sanubari segenap rakyat 'Indonesia sebagai bangsa atau natie sudah berkobar-kobar oleh apinya Rokh itu, maka k e m a u a n merdeka yang kini berapi di dalam hati-sanubarinya sebagian daripada rakyat Indonesia itu harus pula melebar dan mendalam menjadi berapi di dalam hati-sanubarinya semua rakyat Indonesia, yakni menjadi kemauan nasional, nationale wil,- yang tidak boleh tidak, p a s t i melahirkan perbuatan dan fi'il nasional pula, nationale daad! Dan percayalah! Nationale daad inilah yang menjadi pembawanya Indonesia-Merdeka! Dalam usaha membangun-bangunkan dan membangkit-bangkitkan Rokh dan Semangat nasional ini, maka nasionalis-nasionalis kita tidak boleh lalai, bahwa tiap-tiap geraknya Rokh-Nasional hanyalah bisa terjadi, jikalau rakyat itu mempunyai harapan atas berhasilnya usaha kekuatan sendiri dan mempunyai kepercayaan dalam kekuatan sendiri itu. Tiada contoh daripada riwayat-dunia, yang menunjukkan adanya sesuatu Rokh-Nasional, yang tidak terpikul oleh harapan dan kepercayaan ini. Tiada contoh daripada riwayat-dunia, yang menunjukkan berbangkitnya sesuatu Rokh-Nasional, yang dengan cara yang buta atau ngawur. Sebab sesuatu bangsa yang kokoh-kuat ia punya harapan dan kepercayaan atas dirinya sendiri, tidaklah berbuat dengan cara buta atau ngawur; siapa percaya, tidaklah pahit-hati; siapa percaya adalah berbuat tentu. Siapa percaya, tidaklah kejangkitan geestelijk dan maatschappelijk nihilisme, tidaklah ada di dalam kegelapan, tidaklah buta, tidaklah putus-asa, melainkan berbesar hati dan berketentuan tindak, bersenyum atas segenap rintangan-rintangan yang menghalang-halanginya.

Oleh karena itu, maka pertama-tama haruslah kita bangunkan kernball kepada rakyat Indonesia harapan dan kepercayaan atas diri sendiri. Sebab sebagai yang saya tuliskan di atas, harapan dan kepercayaan atas diri sendiri itulah yang menjadi sendinya

tiap-tiap Rokh-Nasional.

Nasib celaka yang diderita oleh rakyat Indonesia berabad-abad lamanya, nasib tak merdeka yang ia derita turun-temurun, nasib ini hampir-hampir sudahlah membinasakan sama-sekali harapan dan kepercayaan itu. Tak sedikitlah bangsa kita yang tiada harapan sama-sekali; tak sedikitlah bangsa kita yang berputus-asa; tak sedikit pulalah yang dalam kegelapan dan kebingungannya dijangkiti oleh maatschappelijk dan geestelijk nihilisme. Akan tetapi sudah banyaklah pula yang hatinya berseri-serian dengan harapan dan kepercayaan itu … Fajar kini sudah mulai menyingsing! Kegembiraan hati untuk menerima khotbahnya propaganda nasional Indonesia sudahlah terbangunkan di mana-mana. Dan walaupun majunya semangat nasional Indonesia itu dirintang-rintangi oleh fihak yang merasa rugi-diri oleh karenanya, walaupun ia mendapat

85

anti-propaganda yang keras daripada fihak yang merasa terancam kepentingannya, maka tak dapat tertahanlah ia dalam bangkit dan geraknya. Semangat tidaklah dapat mati; semangat tidaklah dapat dipadamkan. Dan kita, kaum nasional Indonesia, yang melihat dan ikut merasai majunya semangat ini, kita menjadi berbesar hati oleh karenanya. Kita berjalan terus, dengan tidak mundur selangkah, tidak berkisar sejari. Kita percaya bahwa satu kali pastilah datang saatnya; yang kita punya maksud akan tercapai. Sebab sebagai Arabindo Ghose menulis di dalam ia punya manifes atas nasionalisme India, maka "Kebenaran adalah pada kita, keadilan adalah pada kita, pekerti adalah pada kita, dan hukum Allah yang lebih tinggi daripada hukum manusia, adalah membenarkan kita punya tindakan".

Keyakinan yang demikian inilah yang memberi kekuatan bathin pada kita, memberi kekuatan tindakan pada kita, memberi kekuatan bersenyum pada kita, pada saat rintangan sekeras-kerasnya …

86

MENYAMBUT KONGRES P. P. P. K. I.

En vraagt men U: Hoevelen zijt gij? Antwoordt dan: Wij zijn een! Delamennals

"Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia" nanti pada hari tanggal 30 Agustus sampai tanggal 2 September akan berkongres di Surabaya. Dengan kongres yang pertama ini, maka kita pertama kali pula akan melihat berkumpulnya utusan-utusan partai-partai politik Indonesia yang berazas kebangsaan atau bersifat kebangsaan. Utusan-utusan dari Partai Nasional Indonesia, dari Partai Sarekat Islam, dari Pasundan, dari. Boedi Oetomo, dari Studieclub, dari Sarekat Sumatera, dari Sarekat Madura, dari Kaum Betawi, - dan utusan-utusan dari berpuluh-puluh lagi perkumpulan Indonesia yang belum masuk permufakatan tetapi sengaja diundang,- utusan-utusan itu akan berjabatan tangan satu sama lain. Surabaya akan menjadi saksi akan hari-hari yang besar. Sebab bukankah Kongres P.P.P.K.I. yang pertama ini boleh kita namakan suatu kejadian nasional yang maha-penting? Bukankah kongres ini boleh juga kita sebutkan permulaannya suatu masa-baru di dalam riwayatnya kita punya pergerakan nasional?

Sebab, apakah rupa dan wujudnya P.P.P.K.I. itu? P.P.P.K.I. adalah berarti suatu barisan kaum kulit berwarna; ia adalah berarti suatu "bruin front"; akan tetapi barisan ini tidaklah diarahkan keluar sahaja; ia terutama diarahkan ke dalam. Ia lahirnya tidaklah sebagai suatu sikap untuk memprotes; ia tidaklah didirikan oleh k a r e n a kita diserang; ia bukannya suatu sikap yang negatif, - tetapi ia ialah suatu sikap untuk mengumpulkan kembali kekuatan-bersama, diserang atau t i d a k diserang … suatu sikap yang positif, suatu sikap "self-realization", suatu sikap "terugkeer tot het zelf". Dengan sikap yang demikian itu, P.P.P.K.I. adalah sesuai dengan majunya zaman, sesuai dengan majunya inzicht (penglihatan yang jernih) dalam kita punya pergerakan pada umumnya. Sebab sudah liwatlah kini temponya, yang pergerakan kita itu bersikap keluar sahaja; sudah liwatlah temponya yang pergerakan kita itu hanya bersikap memprotes; sudah habis pulalah temponya kita meminta-minta. Tetapi sudah datanglah temponya, untuk bekerja s e n d i r i, dengan kalau perlu tidak memprotes, tetapi menangkis atau mendesak!

Maka adalah cocok sekali dengan sikap dan sifat ini, bahwa fatsal-fatsal yang akan dibicarakan dalam kongres itu ialah fatsal-fatsal-fatsal-fatsal

yang "mendalam" sahaja, yakni fatsal-fatsal yang teristimewa sekali minta diperhatikan dengan k e r j a s e n d i r i itu tahadi; fatsal onderwijs nasional dan fatsal bank nasional.

87

Dengan memilih fatsal-fatsal yang tersebut itu, maka pimpinan P.P.P.K.I. adalah betul sekali pilihannya.

Tetapi tidakkah P.P.P.K.I. mempunyai sifat atau karakter yang menghadap keluar juga?

Di dalam suatu koloniale samenleving, di dalam suatu pergaulan- hidup jajahan, maka tiap-tiap badan Bumiputera, tiap-tiap susunan Bumiputera, tidak boleh tidak, tentu mendapat sifat "keluar" itu juga. Di dalam sesuatu pergaulan-hidup, di mana sehari-hari pertentangan-keadaan dan pertentangan-pendirian antara fihak pertuanan dan fihak jajahan ada terasa seterang-terangnya; di dalam sesuatu pergaulan-hidup di mana koloniale antithese, yakni pertentangan tahadi menjalankan pengaruhnya saban hari, saban jam, saban menit, -

di dalam suatu pergaulan-hidup yang demikian itu, maka suatu

b a r i s a n si kulit berwarna yang b e r h a d a p-h a d a p a n dengan barisan si kulit putih, ya, menjadi suatu "benteng" si kaum sini yang berhadap-hadapan dengan "bentengnja" si kaum sana.

Dan inipun suatu keadaan yang baik sekali! Sebab tak baiklah bagi pergerakan kita tiap-tiap daja-upaya yang mau menipiskan atau meniadakan guratan antara sini dengan sana; tak baiklah bagi pergerakan kita tiap-tiap usaha yang mau mengumpulkan sini dengan sana itu. Tetapi baiklah perjoangan kita tiap-tiap usaha yang menyempurnakan p i s a h a n a n t a r a kita dengan mereka itu … Makin terang tampaknya garis antara kaum kita dan kaum pertuanan, makin tajam terlihatnya guratan antara sini dan sana,- yakni makin nyata tampaknya dan terasanya antithese itu, maka makin terang dan tajam pula sifatnya perjoangan kita, makin jernih dan bersih pula wujudnya perjoangan kita itu oleh karenanya, sehingga perjoangan kita itu lantas mendapat karakter.

Sebab, bagi kita kaum nasional Indonesia, maka soal perjoangan kita itu adalah soal kekuasaan, soal macht. Soal ini bukanlah soal keadilan, soal ini bukanlah soal hak.

Bukankah sudah adil dan hak kita, yang misalnya poenale sanctie dihapuskan, yang misalnya merajalelanya modal gula atau modal tembakau diberhentikan, yang misalnya tanah-tanah kita tidak dibagi-bagikan kepada modal asing sebagai memdibagi-bagikan kuweh? Bukankah sudah adil dan hak kita, yang misalnya pengurangan hak berkumpul dan bersidang bagi kita dihapuskan, yang misalnya pemimpin-pemimpin kita tidak dibuang ke mana-mana? … Ya, bukankah sudah adil dan hak kita, yang negeri kita menjadi merdeka?

Namun … poenale sanctie masih ada, modal asing masih merajalela, tanah kita masih sahaja dibagi-bagikan seperti kuweh, hak berkumpul dan bersidang masih sempit sekali, negeri kita - belum merdeka!

88

Sebabnya? Tak lain tak bukan, ialah oleh karena kita belum k u a s a ; tak lain tak bukan, ialah oleh karena kita belum mempunyai macht ! Dan oleh karena itu, maka kita punya kerja haruslah kita arahkan kepada pembikinan-kuasa, kepada machtsvorming ini. Dengan kepandaian sendiri ke arah kekuatan, dengan usaha sendiri ke arah kekuasaan, - itulah semboyan yang kita ambil. Dan tak dapatlah pembikinan-kuasa, tak dapatlah machtsvorming ini terjadi dengan hasil baik, selama garis dan guratan antara sini dan sana belum kita gariskan dengan setajam-tajamnya !

Maka bagi kita, kaum nasional Indonesia, P.P.P.K.I. adalah faedah yang demikian itu. Oleh adanya P.P.P.K.I. maka pisahan antara sini dan sana lalu menjadi terang dan sempurna; dengan adanya P.P.P.K.I., maka kekuatan fihak kita kulit berwarna dapat ditimbun-timbunkan, tenaga kita dapat diganda-gandakan, sehingga barisan si kulit berwarna itu tidak sahaja bernama barisan, tetapi dalam sebenarnya ialah suatu barisan yang berkuasa, suatu barisan yang mempunyai macht, suatu barisan dengan mana kita dapat mendesakkan laksananya tiap-tiap kemauan kita, "memaksa tiap-tiap-tiap-tiap kekuasaan yang menghalang -halangi kita menjadi t u n d u k kepada kemauan kita". Dan tiap-tiap perbuatan-bersama, tiap-tiap fi'il yang terjadi dengan pekerjaan-bersama, adalah suatu langkah ke arah kekuasaan itu. Baik soal perguruan, maupun soal bank, baik soal poenale sanctie, maupun soal exorbitante rechten atau soal apapun juga … perhatiannya semua soal itu dengan perhatian-bersama dan mengerjakannya semua soal itu dengan pekerjaan-bersama, adalah

berarti penambahan kekuasaan kita, - penambahan kekuasaan kita keluar, dan penambahan kekuasaan kita ke dalam.

Di atas perbuatan-bersama dan perhatian-bersama daripada P.P.P.K.I. yang berarti penambahan kekuasaan itu, maka kita sebagai kaum nasionalis sejati, mengucap syukur. Sebab sekali lagi kita katakan: zonder kekuasaan, zonder macht, kita di dalam pergaulan-hidup jajahan tidak dapat mencapai suatu apa!

Sekarang kongres P.P.P.K.I. yang pertama akan terjadi, moga-moga dalam kongres ini terletak bibit-bibitnya rakyat Indonesia berbuat dan bersikap sebagai suatu umat, berbuat dan bersikap sebagai suatu natie! Sebab jikalau sesuatu rakyat yang terperintah sudah insyaf dan bernyawa sebagai suatu natie, jikalau oleh keinsyafan natie dan nyawa natie itu, rakyat tahadi sebagai satu n a t i e pula lalu insyaf akan nasib-kehambaannya, maka sebagai yang diajarkan oleh Professor Seeley, tidak boleh tidak, natie itu pasti bergerak dan berbangkit menjadi natie yang merdeka.

Dan mengingat akan harapan itu, maka motto yang kita tulis di atasnya tulisan ini adalah suatu peringatan supaya menjauhi semua

89

percerai-beraian, mendekati semua hal yang menyatukan. Tidak beribu-ribulah harusnya jumlah bangsa kita, tidak berjuta-jutalah harusnya jumlah badan dan nyawa kita, tetapi hendaklah jumlah badan dan jumlah nyawa kita itu hanya satu. Sebab tidakkah akhirnya terbuka mata kita, bahwa bukan kita, tetapi kaum sanalah yang mendapat bahagia daripada setiap pertengkaran kita dengan kita pada zaman dulu dan zaman akhir; - bahwa bukan kitalah yang mendapat bahagia, tetapi kaum sana, tatkala pada zaman Amangkurat kita bertengkar-tengkar, tatkala pada zaman Mangkubumi dan Mas Said kita berselisih, tatkala pada zaman yang terdahulu dan kemudian daripada itu kita menyembelih kita sendiri … tatkala udara politik Indonesia disuramkan oleh perkelahian antara S.I. dan P.K.I. antara P.K.I. dan Boedi Oetomo?

Tidak! Bukan kitalah yang mendapat bahagia … tetapi kitalah yang menjadi makin terdesak, kitalah yang menjadi makin masuk ke dalam lumpur, kitalah yang menjadi makin mendekati maut.

Oleh karena itu: Kearah Persatuan! Kearah Kekuasaan! Kearah Kemenangan!

90

Dalam dokumen Dibawah Bendera Revolusi (Halaman 82-90)