• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seluruh batubara yang berada di dalam wilayah konsesi Adaro merupakan jenis sub-bituminus yang ditandai dengan sifat polutan rendah yang meliputi kandungan abu, sulfur, dan nitrogen yang rendah. Batubara ini diperdagangkan dengan merek Envirocoal. Adaro melayani 49 konsumen di 17 negara, yang sebagian besar merupakan perusahaan penyedia listrik terkemuka dan beberapa produsen semen, serta telah membangun hubungan yang baik, terdiversifikasi, dan jangka panjang dengan para konsumen. Adaro juga menawarkan kontrak berbasis volume dengan negosiasi harga tahunan. Harga ditentukan secara tetap atau berdasarkan referensi terhadap harga indeks, sementara biaya dikelola secara efektif melalui rantai pasokan batubara yang terintegrasi secara vertikal.

Teknisi bidang pembakaran Adaro yang berpengalaman, yang juga dikenal sebagai tim teknis pemasaran, mengunjungi seluruh konsumen untuk memberikan advis bagi operasi dan optimalisasi boiler ketika mereka menggunakan Envirocoal sebagai bahan bakar. Selain

Edwin Tsang

Presiden Direktur Coaltrade

Edwin Tsang bergabung dengan Adaro pada bulan Oktober tahun 2006. Saat ini beliau merupakan Direktur Pemasaran Adaro Indonesia dan juga menjabat sebagai Direktur

untuk Coaltrade Singapore.

Sebelumnya, beliau telah memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun di sektor batubara, yang dimulai dengan bekerja di Cina Light and Power sebagai Fuel Supply Engineer pada tahun 1980an, lalu bergabung dengan Barlow Jonker, perusahaan konsultan mineral dan energi yang berpusat di Sydney, sebagai salah satu konsultan batubara pada awal tahun 1990an dan terakhir Edwin bekerja sebagai Direktur Pemasaran di Total Energy Hong Kong. Beliau menyandang gelar Bachelor of Science di bidang Teknik Mesin dari Hong Kong University dan MBA dari the Chinese University of Hong Kong. Lain 12% Korea 5% Malaysia 5% Taiwan 6% Hongkong 6% Amerika 7% Cina 9% Spanyol 6% Jepang 11% India 10% Indonesia 23%

Rincian Pelanggan Berdasarkan Geografis

Ekspor Domestik E5000 E4000

10% 4% 86% Semen Lainnya 3,1% 96,9% 1,6% 98,4%

Jenis Batubara yang Dijual di Pasar Domestik

Tipe Pelanggan Berdasarkan % Volume

Tujuan Penjualan E4000

Laporan Manajemen

dari pelayanan konsumen yang terbaik, Adaro juga menekankan kualitas batubara yang konsisten, dan mempertahankan keandalannya.

Karakteristik Envirocoal yang diwarnai oleh tingkat polutan yang rendah menciptakan reputasi yang baik di antara bahan bakar padat ramah lingkungan, karena emisi gas dan emisi partikel udara Envirocoal lebih rendah daripada bahan bakar padat lainnya. Kandungan limbah abu tertangkap dari Envirocoal sangat rendah dibandingkan dengan batubara lainnya. Komposisi kimia dari limbah abu udara dan tertangkap dari Envirocoal membuatnya ramah lingkungan dan cocok untuk daur ulang. Lebih lanjut, Envirocoal dapat memberikan manfaat ekonomi. Segera setelah pembangkit listrik dibangun, biaya listrik atau uap digabungkan dengan biaya bahan bakar, biaya pemeliharaan dan biaya operasional. Dengan penjualan yang terus meningkat, Envirocoal telah menunjukkan daya saingnya dalam hal per unit energi yang dihasilkan terhadap batubara berperingkat lebih tinggi, karena penurunan dampak abu mengurangi biaya pemeliharaan pulveriser, pipa batubara, tube boiler, dan peralatan lainnya di sepanjang jalur lintas batubara.

Yang terakhir, Envirocoal dapat digunakan untuk memenuhi peraturan lingkungan tanpa membutuhkan unit Flue Gas Desulphurisation (“FGD”). Hal ini secara signifikan menurunkan biaya modal dan operasional dengan cara mengurangi kebutuhan untuk alat penggosok (scrubber). Dalam hal manfaat teknis, bidang permukaan Envirocoal yang tinggi digabungkan dengan volatile matter yang tinggi menghasilkan pengapian yang sangat baik, pembakaran yang stabil, dan pembakaran arang yang hampir sempurna, dengan efisiensi pembakaran yang seringkali melebihi 99,7%.

Adaro menjual dua jenis Envirocoal yaitu E5000 (Tutupan dan Paringin) dan E4000 (Wara). Wara mulai berproduksi pada tahun 2010 dan telah memproduksi 5,4 juta ton pada tahun 2011, atau meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Sejak produksi dimulai, Wara telah diterima di pasar internasional walaupun dengan

tahun 2011, Wara mendapatkan permintaan tambahan dari Hong Kong dan memasukkan Thailand ke dalam basis konsumennya. Saat ini, konsumen produk ini terdiri dari perusahaan listrik di India, Cina, Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand.

Persaingan

E5000 (Tutupan) memiliki tiga pesaing utama di pasar batubara sub-bituminus ramah lingkungan, sementara E4000 (Wara) bersaing dengan lebih dari dua belas konsumen. Adaro bersaing dengan para produsen ini dalam hal harga, kepastian pengiriman, dan catatan kualitas. Keunggulan daya saing yang dimiliki Adaro terhadap pesaing lainnya dari Indonesia berada pada cadangan batubara terbukti yang besar, hubungan baik yang telah dibangun dengan para kontraktor pertambangan, model bisnis yang terintegrasi secara vertikal, rekam jejak yang membuktikan bahwa Adaro selalu memasok Envirocoal yang berkualitas kepada para konsumen, dan kekuatan finansial untuk menopang pertumbuhan. Adaro juga meyakini keunggulan daya saingnya dibandingkan dengan pesaing dari Australia dan Afrika Selatan dalam penjualan Envirocoal kepada konsumen di Asia karena letak geografis yang lebih dekat dengan para konsumen ini. Selain itu, Adaro juga menghadapi persaingan di semua pasar tempat beroperasinya, dari penyedia sumber energi alternatif

jepang Korea Selatan Pantai Timur AS Hongkong Cina Indonesia Thailand Selandia Baru Malaysia India Spanyol Itali Inggris E5000 E4000 Geoff Palmer Marketing GM

Geoff telah menimba pengalaman lebih dari 35 tahun di bidang operasional dan pemasaran batubara dari jabatannya di Kaltim Prima Coal dan operasional batubara di Westar Mining Kanada sebelum bergabung dengan Adaro pada tahun 1997. Beliau memiliki latar belakang pendidikan Metalurgi Fisika yang diperolehnya dari British Columbia Institute of Technology.

Peraturan Di Indonesia

Undang-undang negara Indonesia menyatakan bahwa seluruh kekayaan alam yang ditemukan di dalam teritori Indonesia dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat. Pemerintah Indonesia telah mengesahkan beberapa undang-undang dan peraturan yang mempengaruhi industri pertambangan, dimana yang terbaru adalah UU No. 4 tahun 2009, perihal Mineral dan tambang batubara (UU No,4/2009) atau dikenal dengan nama UU Pertambangan yang menggantikan UU Pertambangan No. 11 tahun 1967. Pengesahan UU Pertambangan tahun 2009 mencerminkan perubahan yang signifikan terhadap peraturan pertambangan Indonesia sebelumnya. UU ini dan peraturan implementasi yang melengkapinya akan bertindak sebagai stimulus yang dibutuhkan untuk menggalakkan investasi di sektor pertambangan Indonesia. Beberapa implementasi peraturan dari UU No.4 /2009 adalah sebagai berikut: • Pada bulan September 2009, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerbitkan Keputusan Menteri No.28 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Pertambangan Mineral Dan Batubara yang merupakan sebuah kerangka hukum yang digunakan untuk usaha pertambangan dalam menjalankan aktivitas pertambangan mineral dan batubara, peraturan ini juga merupakan kerangka hukum bagi perusahaan pertambangan dalam menunjuk kontraktor pertambangan.

• Pada bulan Desember 2009, Menteri ESDM menerbitkan Keputusan Menteri No. 34 tahun 2009 (MR No.34/2009), tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan Batubara untuk Kepentingan dalam Negeri, yang merupakan kerangka hukum yang mensyaratkan perusahaan-perusahaan menjual sebagian produksi mereka kepada pelanggan domestik demi kepentingan nasional DMO dan berlaku untuk seluruh jenis batubara dan mineral. Untuk tahun 2011, Pemerintah menetapkan DMO sebesar 24,17% yang tercantum didalam Keputusan Menteri ESDM No. 2360/K/30/MEM/2010 dan telah dirubah menjadi 18.41% melalui Keputusan Menteri ESDM No. 1334.K/32/DJB/2011.

• Pada bulan Februari 2010, Pemerintah RI menerbitkan dua buah peraturan pelaksanaan UU No.4/2009, yaitu Peraturan Pemerintah No.22 tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan (PP No.22 / 2010) dan Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP No.23 / 2010). PP No. 22 / 2010 berkenaan dengan pendirian area tambang berdasarkan perijinan pertambangan yang baru (“Ijin Usaha Pertambangan / “IUP”), sementara PP No. 23 / 2010 berkenaan dengan klarifikasi seputar prosedur untuk memperoleh IUP baru. • Pada bulan September 2010, Menteri ESDM menerbitkan Peraturan Menteri No. 17 tahun 2010 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral dan Batubara. Peraturan ini memberikan penjelasan dan mekanisme penerapan harga patokan penjualan mineral dan batubara, lebih lanjut lagi, peraturan ini mengatur bahwa penjualan batubara harus dilakukan dengan mengacu kepada harga patokan yang diterbitkan oleh Pemerintah.

• Pada bulan Desember 2010, Pemerintah Indonesia menerbitkan peraturan pelaksana UU No.4 / 2009, yaitu Peraturan Pemerintah No. 78 tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pasca Tambang. Peraturan ini melengkapi Peraturan Menteri No. 18 tahun 2008 dan kedua peraturan tersebut harus dipatuhi oleh perusahaan-perusahaan pertambangan.

Anggota Departmen Lega Adaro Energy

Laporan Manajemen