• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teoritis

5) Membaca Buku

Masalah membaca merupakan keharusan bagi pelajar memang tidak diragukan lagi, tetapi persoalan bagaimana cara membaca yang baik dan efisien merupakan masalah bagi pelajar atau mahasiswa. Cukup banyak pelajar atau mahasiswa yang mengeluh akibat cara membacanya kurang menghasilkan hasil belajar yang memuaskan, sesuai dengan tujuan yang diinginkan dan kegiatan membaca. Banyak pelajar yang resah menghadapi ulangan atau tentamen, akibat bahan yang dikuasai sangat sedikit.

2. Gaya Mengajar Guru a. Pengertian Gaya Mengajar

Gaya atau model secara harfiah diartikan sebagai bentuk, strategi, taktik untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, baik melalui lembaga formal, nonformal, maupun informal agar terjadi perubahan tingkah laku pada siswa tersebut. Dengan demikian secara operasional, model pembelajaran diartikan sebagai bentuk, cara-cara, metode-metode atau taktik yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan model pembelajaran menurut Uno (2008:1) model pembelajaran berkonotasi sebagai suatu patron atau pola yang dapat digunakan dalam pembelajaran, isinya tentu tidak lepas dari berbagai teori yang digunakan dalam melaksanakan pembelajaran, khususnya berbagai teori yang berkenaan dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, tekhnik pembelajaran.

Model mengajar guru yang dimaksud adalah strategi, metode, dan teknik serta cara guru dalam mengajarkan materi pembelajaran bahasa Indonesia. Menurut Rusman (2010: 1) bahwa ”model-model mengajar guru disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori sebagai pijakan dalam pengembangannya.”

Menurut (Uno, 2008: 2) bahwa model pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran, tekhnik pembelajaran seringkali disamakan

artinya dengan metode pembelajaran, teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang ingin dicapai, sedangkan strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan dan dipilih oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan siswa menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar. Ketiga hal ini tidak dapat terpisahkan dalam proses pembelajaran.

Istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. Model sering digunakan dalam pengertian yang sangat umum, yaitu suatu teori.

Dalam pembelajaran, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi sebagai pedoman bagi siswa dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.

b. Jenis-jenis Model Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran dikenal bermacam-macam model mengajar, mulai dari yang tradisional sampai model mengajar modern yang digunakan akhir-akhir ini sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dari model-model tersebut ada yang menekankan peranan utama guru dalam pelaksanaan penyajiannya, tetapi ada pula yang menekankan peranan media hasil teknologi modern seperti televisi, radio kaset, radio tape, head projector, film dan sebagainya, bahkan telah pula digunakan bantuan satelit. Ada model yang digunakan untuk jumlah siswa yang terbatas, tetapi ada pula yang cocok digunakan untuk sejumlah siswa yang tidak terbatas.

Ada model yang hanya digunakan di dalam kelas, dan ada pula yang digunakan di luar kelas, seperti di perpustakaan, laboratorium, museum, di alam terbuka, dan lain-lain.

Semua model pembelajaran yang ada adalah baik. Tinggal disesuaikan dengan situasi dan kondisi dimana model tersebut dipergunakan.

Oleh sebab itu, para pengajar (guru) dituntut untuk dapat mempergunakan model pembelajaran yang tepat dan baik sesuai dengan situasi dan kondisi.

Satu hal yang harus diingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang disebut efektif atau kurang efektif atau model baik dan tidak baik jika berdiri sendiri. Itulah sebabnya dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal dalam suatu proses pembelajaran sangat dibutuhkan penerapan model pembelajaran bervariasi.

Menurut Suprijono (2011: 1) bahwa “model mengajar guru di kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat menggunakan model pembelajaran kontekstual, model kooperatif, model berbasis masalah, model PAIKEM, dan lesson study”. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh

Trianto (2011: 15) bahwa “model mengajar guru antara lain menggunakan model langsung, model kooperatif, model berbasis masalah, model kontekstual, model diskusi, dan sebagainya”.

Model mengajar yang lebih modern dan terbaru pun dikemukakan oleh Pribadi (2011: 97), antara lain “model Dick dan Carey, modelAssure,model Jerold dan Kemp, model Addie, dan sebagainya”.

c. Peran Guru sebagai Model dan Gaya dalam Mengajar

Guru dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari secara otomatis memiliki peran yang sangat penting demi kelancaran proses belajar mengajar. Menurut Slameto (2005: 42) bahwa ”peran guru dalam proses belajar mengajar adalah (1) guru sebagai demonstrator, (2) guru sebagai pengelola kelas, (3) guru sebagai mediator dan fasilitator, dan (4) guru sebagai evaluator”. Menurut Djamarah (2002: 43) bahwa peranan guru adalah (1) korektor, (2) inspirator, (3) informatory, (4) organisator, (5) motivator, (6) inisiator, (7) fasilitator, (8) pembimbing, (9) demonstrator, (10) pengelola kelas, (11) mediator, (12) supervisor, dan (13) evaluator.

1) Korektor

Sebagai korektor harus membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan masyarakat. Kedua nilai ini mungkin telah anak didik miliki dan mungkin pula telah mempengaruhinya sebelum anak didik

masuk sekolah. Latar belakang kehidupan anak didik yang berbeda-beda sesuai dengan sosio-kultural masyarakat di mana anak didik tinggal akan mewarnai kehidupannya. Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan semua nilai yang buruk harus guru singkirkan dari jiwa dan watak anak didik.

2) Inspirator

Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik. Petunjuk itu tidak mesti harus bertolak dari sejumlah teori-teori belajar, dari pengalaman pun bisa dijadikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik. Yang penting bukan teorinya, melainkan bagaimana melepaskan masalah yang dihadapi oleh anak didik.

3) Informator

Sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan pada kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru. Kesalahan informasi adalah racun bagi anak didik. Untuk menjadi informator yang baik dan efektif, penguasaan bahasalah sebagai kuncinya, ditopang dengan penguasaan bahan yang akan diberikan kepada anak didik. Informator yang

baik adalah guru yang mengerti apa kebutuhan anak didik dan mengabdi untuk anak didik.

4) Organisator

Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru.Dalam bidang guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya. Semuanya diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efesiensi dalam belajar pada anak didik.

5) Motivator

Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agarbergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus bertindak sebagai motivator, karena dalam interaksi edukatif, tidak mustahil ada di antara anak didik yang malas belajar dan sebagainya. Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik.

Penganekaragaman cara belajar memberikan penguatan dan sebagainya, juga dapat memberikan motivasi pada anak didik untuk lebih bergairah dalam belajar.

6) Inisiator

Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide- ide kemajuan pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan.

Kompetensi guru harus diperbaiki, keterampilan penggunaan media pendidikan dan pengajaran harus diperbaharui sesuai kemajuan media komunikasi dan informasi abad ini. Guru harus menjadikan dunia pendidikan, khususnya interaksi edukatif agar lebih baik dari dulu.

Bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi bagi kemajuan pendidikan dan pengajaran.

7) Fasilitator

Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan,suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia menyebabkan anak didik malas belajar.

8) Pembimbing

Peranan guru yang tidak kala pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas adalah pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik

menjadi manusia dewasa, susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.

Kekurangmampuan anak didik menyebabkan lebih banyak bergantung pada bantuan guru. Tetapi semakin dewasa, ketergantungan anak didik semakin berkurang. Jadi, bagaimana pun juga bimbingan dari guru sangat diperlukan pada saat anak didik belum mampu berdiri sendiri (mandiri).

9) Demonstrator

Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Apalagi anak didik yang memiliki itelegensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha membantu anak didik terhadap pelajaran yang sukar dipahami dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dengan anak didik. Tujuan pembelajaran pun dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Dokumen terkait