• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.2 Membaca

2.1.2.1 Pengertian Membaca

Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut tidak langsung, tetapi bersifat komunikatif. Komunikasi antara pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik. Pembaca hanya dapat berkomunikasi dengan karya tulis yang digunakan oleh pengarang sebagai media untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya. Dengan demikian pembaca harus mampu menyusun pengertian-pengertian yang tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh pengarang sesuai dengan konsep yang terdapat pada diri pembaca (Haryadi, 2006: 77). Membaca juga dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampikan oleh penulis melalui media kata-kata/ bahasa tulis. Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual dapat diketahuai (Tarigan, 2008: 7). Menurut Tampubolon (2008: 5) membaca adalah salah satu dari empat kemampuan bahasa pokok dan merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan. Komunikasi tulisan merupakan lambang-lambang tulisan atau huruf menurut alfabet latin.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa membaca adalah suatu pesan yang ingin disampaikan oleh penulis

kepada pembaca dengan menggunakan lambang-lambang tulisan atau huruf menurut alfabet latin sehingga dapat tertuang dalam kalimat-kalimat yang disajikan oleh penulis.

2.1.2.2 Tujuan Membaca

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca (Tarigan, 2008: 9). Berikut ini adalah beberapa tujuan penting dari membaca :

a) Membaca untuk mengemukakan atau mengetahui penemua-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta.

b) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat pada cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami tokoh, merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama.

c) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama,

kedua dan ketiga/ seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan masalah adegan-adegan dan kejadian-kejadian buat dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan/ susunan, organisasi cerita.

d) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil/ gagal. Isi disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi.

e) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengetahui sesorang tokoh apa yang lucu dalam cerita, atau apakah yang benar dan tidak benar dalam cerita. Ini disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan.

f) Membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi.

g) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal,

bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, dan bagaiman tokoh menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.

Tujuan membaca menurut Burn (dalam Rahim 2007: 11) mencakup: kesenangan, menyempurnakan membaca nyaring, menggunakan strategi tertentu, memperbarui pengetahuannya tentang suatu topik, mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya, memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis, mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik.

2.1.2.3 Keterampilan dan Aspek-aspek Membaca

Menurut Rahim (2007: 2) kegiatan membaca memiliki 3 keterampilan dasar yaitu recording, decoding, dan meaning. Recording merajuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengngasosiakan dengan bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan. Proses decoding merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Sedangkan meaning merupakan proses memahami makna yang berlangsung dari tingkat pemahaman interpretatif, kreatif, dan evaluatif. Proses recording dan decoding terjadi pada kelas awal, sedangkan meaning pada kelas tinggi (akhir). Menurut Tarigan (2008: 11) bahwa keterampilan membaca mencakup 3 komponen, yaitu pengenalan terhadap aksara serta tanda-tanda baca, korelasi aksara beserta tanda-tanda baca

dengan unsur-unsur linguistik yang formal, dan yang terakhir adalah hubungan lebih lanjut dari suatu kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan mode yang berupa gambar-gambar, garis, lengkungan dan titik dalam hubungan berpola yang beraturan rapi dengan suatu kemampuan untuk menghubungkan tanda-tanda hitam dari atas kertas yaitu gambar-gambar berpola dengan bahasa.

Membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks yang melibatkan serangkaian keterampilan yang lebih kecil lainnya (Tarigan, 2008: 12). Sebagai garis besarnya, terdapat dua aspek penting dalam membaca yaitu:

a. Keterampilan yang bersifat mekanis yang dapat dianggap berada pada urutan yang lebih rendah. Aspek ini mencakup:

1. Pengenalan bentuk huruf.

2. Pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem, kata, frase, kalimat, pola klausa dll.)

3. Pengenalan hubungan pola ejaan dan bunyi.

b. Keterampilan yang bersifat pemahaman yang dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi. Aspek ini mencakup:

1. Memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal dan retorikal).

2. Memahami signifikasi atau kata (maksud dan tujuan pengarang, relevansi/ keadaan kebudayaan, dan reaksi pembaca).

4. Kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan keadaan.

2.1.2.4 Tahap-tahap Membaca

Menurut Tarigan (2008: 18) ada beberapa tahap yang dapat diikuti bila perlu dalam situasi serta kondisi memungkinkan. Tahapan ini diuraikan sebenarnya tertuju kepada para pelajar dan pelajar bahasa asing secara umum, namun demikian para pengajar serta pelajar bahasa Indonesia pun dapat mengambil manfaat dari bahan tersebut dengan tujuan pengajaran membaca pada sekolah yang bersangkutan. Adapun tahapan tersebut yaitu pada tahap pertama para pelajar membaca bahan yang telah mereka pelajari, mengucapkannya dengan baik. Pada tahap ini para pelajar harus dibimbing untuk mengembangkan responsi-responsi yang otomatis terhadap gambaran-gambaran huruf, setelah itu guru membentuk kelompok dan meminta membaca nyaring. Lalu membaca mengikuti guru bersama-sama dan diminta untuk membaca secara bergantian.

Tahap kedua, guru atau kelompok guru bahasa asing pada sekolah yang bersangkutan menyusun kata-kata atau struktur yang telah diketahui tersebut menjadi bahan dialog atau paragraf yang beraneka ragam, para pelajar dibantu dalam membaca bahan yang baru disusun yang mengandung unsur-unsur yang sudah biasa bagi mereka.

Tahap ketiga, para pelajar mulai membaca bahan yang berisi sejumlah kata dan struktur yang masih asing bagi mereka. Guru dapat menulis bahan yang dimaksud, atau menyusun teks-teks dengan kosa kata

dengan usia para pelajar. Dengan ini para pelajar mengalami sedikit bahkan tidak menghadapi kesulitan adanya kata baru yang diselipkan. Acapkali teks-teks tata bahasa berisi paragraf-paragraf yang sesuai buat bacaan pada tahap ini.

Tahap keempat, yaitu beberapa spesialis dalam bidang membaca menganjurkan pengunaan teks-teks sastra atau majalah-majalah yang telah disederhanakan sebagai bahan bacaan pada tahap ini yang dapat dimanfaatkan oleh para pelajar untuk mempermudahkan membacanya. Dan tahap yang terakhir, yaitu bahan bacaan tidak dibatasi, artinya seluruh dunia buku terbuka bagi para pelajar.

2.1.2.5 Faktor Pengaruh Pembelajaran Membaca

Keterampilan membaca seperti mrupakan suatu kemampuan yang kompleks, banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Rahim (207: 16) faktor yang memengaruhi membaca permulaan adalah:

1. Faktor Fisikologis

Faktor fisikologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk belajar, khususnya belajar membaca.

2. Faktor Intelektual

Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya memengaruhi berhasil atau tidaknya anak dalam membaca permulaan. Faktor metode

mengajar guru, prosedur, dan kemampuan guru juga turut mepengaruhi kemampuan membaca permulaan anak.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca siswa. Faktor lingkungan itu mencakup latar belakang dan pengalaman siswa di rumah, dan sosial ekonomi keluarga siswa.

4. Faktor Psikologis

Faktor lain yang juga memengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak adalah faktor psikologis. Faktor ini mencakup motivasi, minat, dan kematangan sosial, emosi, serta penyesuaian diri.

Menurut Abdurrahman (2003: 201) mengemukakan bahwa ada delapan faktor yang memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca yaitu kematangan mental, kemampuan visual, kemampuan mendengarkan, perkembangan wicara dan bahasa, keterampilan berpikir dan memperhatikan, perkembangan motorik, kematangan sosial dan emosional, dan motivasi dan minat.

2.1.2.6 Jenis-jenis Membaca

Menurut Tarigan (2008: 23), ada tiga jenis membaca yaitu membaca nyaring atau membaca bersuara, membaca dalam hati, dan membaca telaah isi. Membaca nyaring atau bersuara merupakan kegiatan membaca yang memerlukan keterampilan yang saling berkaitan, antara

lain keterampilan melafalkan, intonasi, kejelasan, bahkan keberaniaan dalam membaca. Membaca dalam hati adalah membaca yang hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory) yang melibatkan mata dan ingatan, bertujuan untuk memperoleh informasi. Keterampilan membaca dalam hati sangat sering dilakukan oleh banyak orang, sebab dalam membaca dalam hati informasi akan mudah diperoleh tanpa mengeluarkan suara saat membaca. Membaca telaah isi adalah membaca dengan tujuan untuk mengetahuii serta menelaah suatu isi bacaan secara lebih mendalam. Membaca telaah isi, pembaca memerlukan kemampuan dan keterampilan yang lebih dalam, dalam memahami isi bacaan yaitu dengan kemampuan membaca pemahaman.

2.1.2.7 Gerakan Literasi Sekolah

Menurut Sutrianto (2016: 2) Gerakan literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literasi sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Menurut Wiedarti (2016: 7) juga mengemukakan bahwa gerakan literasi sekolah adalah suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah baik peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, maupun orang tua murid.

Salah satu upaya penumbuhan budi pekerti dapat dilakukan dengan cara membaca berbagai materi baca yang berisikan nilai-nilai moral dalam

konteks kebangsaan dan kenegaraaan Indonesia seperti yang terkandung dalam butirbutir Nawacita: nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Kegiatan membaca tersebut dapat dilakukan 15 menit setiap hari pada saat pelajaran di kelas dimulai, atau disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Hal ini merupakan salah satu dasar dalam tahap pembiasaan sebelum masuk ke tahap pengembangan dan pembelajaran. Kegiatan membaca ini sebenarnya ada dalam semua komponen literasi. Komponen literasi informasi yang terdiri atas literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual (Sutrianto, 2016: 5).

Tujuan membaca selama 15 menit setiap hari menurut Sutrianto (2016: 9) adalah memotivasi peserta didik untuk mau dan terbiasa membaca, menunjukkan bahwa membaca sesuatu kegiatan yang menyenangkan, memperkaya kosa kata (dalam bahasa tulisan), menjadi sarana berkomunikasi antara peserta didik dan guru, mengajarkan strategi membaca, dan guru sebagai teladan membaca (reading role model).

Dokumen terkait