• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMBAHASAN

A. Membangun Hubungan Rukun Antar Umat Beragama

Kerukunan kata dasarnya adalah rukun.Dalam bahasa Arab, ruknun (rukun) mempunyai bentuk jamak arkan yang berarti dasar atau asas. Seperti dalam kata rukun Islam. Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia, rukun merupakan perkumpulan yang mempunyai dasar hidup saling tolong menolong.100Secara etimologi, kata kerukunan berasal dari bahasa Arab ruknun, jamaknya arkaan.Dari bentuk jamak ini dapat diambil pengertian bahwa kerukunan tidak dapat berdiri sendiri.Kerukunan merupakan satu kesatuan yang saling menguatkan. Kesatuan tidak akan pernah terwujud jika salah satu unsur ada yang tidak berfungsi. Sedangkan yang dimaksud dengan kerukunan beragama merupakan terjalinnya suatu hubungan beragama yang baik antar pemeluk agama dengan selalu mngedepankan saling menghargai, saling menjaga, serta saling mencegah terjadinya konfik antar umat beragama.101

Kerukunan juga bisa diartikan sebagai kehidupan yang harmonis, tanpa konflik, serta bersatunya hati dan fikiran pada suatu kehidupan untuk menjaga kesejahteraan bersama. Dalam kehidupan sehari-hari, semua orang yang sudang mempunyai jiwa kerukunan akan memilih untuk lebih menghindari perasaan seperti curiga.

100 WJS Poerdarmita, Kamus Umum Bahasa Inonesia , (Jakarta, Balai Pustaka, 1980), h106.

101Jirhanuddin, Perandingan Agama,(Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2010), h 190.

93

orang tersebut lebih memilih untuk bekerjasama demi kepentingan bersama. Mereka melakukan semua hal tersebut dengan kesadaran tanpa ada intervensi atau paksaan dari pihak lain. Sehingga tercipta interaksi sosial yang baik serta terjaganya persaudaraan sesama bangsa dan Negara.102

Kata kerukunan dalam konteks sehari-hari berarti perdamaian.Kerukunan yang dimaksud adalah pergaulan.Namun, jika diambil dengan cakupan yang lebih luas, maka kerukuknan bisa masuk ke dalam semua unsur dalam kehidupan.Salah satu unsur terpenting dalam kehidupan adalah beragama.Mayoritas penduduk di Indonesia mempunyai agama.Bahkan, Indonesia merupakan Negara dengan kemajemukan agamanya.Semua hidup berdampingan dan tidak jarang ditemukan dalam satu desa terdapat dua atau tiga agama yang berbeda.Seperti yang terjadi di Desa Pelang.

Desa Pelang merupakan desa yang terletak di kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan. Desa yang jauh dari pusat Kabupaten Lamongan ini mempunyai kehidupan sosial-agama yang unik.Tidak seperti desa-desa lainnya di Kabupaten Lamongan, Pelang merupakan desa yang penduduknya ada yang memeluk agama Islam dan ada pula yang memeluk agama Kristen.

Kedua golongan masyarakat yang memeluk agama berbeda ini hidup berdampingan secara harmonis.Salah satu bentuk keharmonisan tersebut terlihat dari

102Faisal Islamil, Dinamika Kerukunan Anatar Umat Beragama,(Bandung, PT. Remja Rosdakarya, 2014), h 1

94

megahnya bangunan Gereja yang berada sebelum memasuki “Gapura”103 desa.Setelah memasuki Gapura, terlihat pula megahnya bangunan Masjid yang digunakan masyarakat pemeluk agama Islam untuk beribadah. Letak Gereja dan Masjid yang berdekatan bisa menjadi bukti keharmonisan antar umat beragama karena bisa dipastikan akan terjadi kontak langsung baik secara komunikatif melalui lisan, maupun secara fisik melalui saling membantu ketika ada kegiatan-kegiatan besar pada masing-masing agama.

Kontak langsung secara lisan sangat mungkin terjadi karena pemeluk agama Kristen juga hidup berdampingan diantara pemeluk agama Islam.Mereka hidup selayaknya orang hidup bertetangga tanpa ada perbedaan.Sebuah pernyataan yang unik dari tokoh pemuda pemeluk agama Kristen104adalah ketika ada acara tahlilan dari pihak Islam, karena mereka hidup bertetangga maka pemuda tersebut diundang ke acara tahlilan.Begitu pula ketika ada acara yang dilakukan pemuda tersebut di rumahnya, para tetangga yang beragama Islam juga diundang untuk menghadiri acara tersebut. Praktek semacam ini bukanlah praktek Islamisiasi atau Kristenisasi.Menurutnya, hal ini merupakan upaya untuk selalu menjaga kerukunan antar umat beragama.Karena dalam acara tersebut tidak ada tuntutan baik pemeluk agama Islam ataupun agama Kristen untuk membaca doa-doa yang terucap.Hanya berniat untuk memenuhi undangan dari tetangga yang sedang ada acara.

103Gapura merupakan bangunan seperti pintu gerbang sebelum memasuki desa.

104Wawancara bersama Sutikno di desa Pelang Lamongan.

95

Kontak langsung secara fisik yang berbentuk kerjasama yang baik terwujud yaitu ketika terjadi kegiatan seperti sholat Idul Fitri maupun sholat Idul Adha.Ketika penduduk yang beragama Islam sedang melaksanakan kegiatan tersebut, maka dari penduduk yang beragama Kristen membantu mensukseskan acara.Salah satu bentuk bantuan mereka berupa menjaga keamanan supaya beribadah lebih tenang dan nyaman.Selain itu juga mengkondisikan parkir kendaraan yang digunakan oleh jamaah sholat Idul Fitri ataupun jamaah sholat Idul Adha.Begitu juga sebaliknya, ketika dari pihak Kristen sedang ada kegiatan agama seperti perayaan Natal.Penduduk yang beragama Islam juga membantu suksesnya acara tersebut dengan menjaga keamanan serta mengkondisikan parkir, diantaranya melibatkan Banser dan pemuda desa Pelang105.

Harap digarais bawahi bahwa kerjasama ini masih sesuai dengan koridor masing-masing agama, tidak mencampur-adukkan aqidah atau keyakinan dari masing-masing-masing-masing pemeluk agama.Kerjasama ini dilakukan semata-mata sebagai bukti seabagai sesama manusia, sebagai sesama warga desa dan warga Negara untuk selalu menjung tinggi goton-royong.Dari masing-masing pemeluk agama tidak ada yang mengikuti kegiatan ritual keagamaan seperti dari pihak Islam yang mengikuti acara Natal ataupun dari pihak Kristen yang ikut sholat Idul Fitri.Semua itu terjadi karena ingin terwujudnya kerukunan antar umat beragama106.

105 Bpk Karim (Ket GKJW), Wawancara, Desa Pelang Lamongan pada 17 Oktober 2021.

106 Bpk As‟ad (muslim), Wawancara, Desa Pelang Lamongan pada 17 Oktober 2021.

96

Selain kerjasama seperti di atas, kerjasama juga dilakukan ketika mereka membuat karya.Di Kabupaten Lamongan ada program penghijauan lingkungan yang bernama kampung hijau atau kampung Go Green.Tepat di pintu masuk desa dihias dengan bunga serta potnya yang indah.Program desa yang diperlombakan tersebut menunjuk koordinator salah seorang pemuda dari pihak Kristen.Hal ini tidak akan bisa terjadi jika tidak ada kepercayaan. Kepercayaan yang diberikan bukan melihat agama yang dipeluk, melainkan kualitasnya.Kerukunan inilah yang jarang sekali ditemui pada daerah lain107.

Modal sosial keagamaan seperti yang disampaikan di atas merupakan hal penting dalam memupuk kerukunan beragama di masyarakat, selain modal sosial yang tidak kalah penting berikaitan dengan kerukunan umat beragama adalah modal teologis. Sebagaimana kita pahami bersama bahwa ajaran agama menjadi sumber bagi pemeluknya dalam melaksanakan beragam kegiatan, diantaranya sikap memahami hubungan dengan pemeluk agama lain, agama mengajarkan bagaimana seharusnya kita menjaga hubungan dengan pemeluk agama lain tanpa melanggar ketentuan atau norma yang ada pada ajaran yang kita yakini.

Kerangka teologis agama ini sangat berpengaruh besar terhadap pola perilaku umat beragama, memahami agama secara tekstualis berdampak pada perilaku yang

107 Bpk Sulhan (muslim), Wawancara, Desa Pelang Pada 3 Oktober 2021.

97

ekstrim dan radikal108, tentu hal ini berbahaya bagi kehidupan beragama yang plural.

Begitu juga sebaliknya, jika memahami ajaran agama terlalu bebas maka nilai-nilai pokok dalam agama akan bias, hal ini yang disebut sebagai pemahaman liberal dalam beragama109, sejatinya dalam beragama yang masyarakatnya plural maka umat beragama perlu menempatkan diri dalam sikap dan pemahaman yang moderat, toleran dan menghargai perbedaan di lingkungannya110. Cara beragama yang inklusif seperti ini menjadi modal penting dalam hidup bermasyarakat yang di dalamnya terdapat perbedaan agama/multi agama.

Pola pemahaman keagamaan yang inklusif juga dimiliki oleh masyarakat Pelang Lamongan, Penganut paradigma inklusif lebih mengedepankan pemahaman ajaran agama secara kontekstual, dengan menangkap esensi dan makna terdalam pesan-pesan teks, sehingga implementasi ajaran agama dipertimbangkan dengan konteks ruang dan waktu, situasi dan kondisi sosio-kultural yang tak terpisahkan dari perjalanan historis manusia. Tetapi dalam paradigma inipun masih terdapat titik kelemahan, yakni meskipun memiliki pandangan yang menaruh simpati terhadap agama-agama lain tetapi kurang menempatkan agama lain sebagaimana dialami dan dipeluk oleh yang bersangkutan. Maka sebagai paradigma, hubungan antar umat beragama masih kurang operasional dan kurang tegas membuka peluang untuk saling

108 Dede Rodin, “Islam dan Radikalisme: Telaah atas Ayat-ayat “Kekerasan” dalam Al-Qur‟an”, Jurnal ADDIN, Vol. 10 No. 1 tahun 2016, 34. Baca dalam Emna Laisa, “Islam dan Radikalisme”, Jurnal Islamuna, Vol. 1 No. 1 Juni tahun 2014, 3

109 Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, (Jakarta: Pustaka antara Paramadina, 1999), 21.

110 Budhi Munawar Rahman. Islam Plural: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman (Jakarta: Paramadina, 2001), 47-48.

98

berinteraksi dengan penuh toleransi. Terlebih bahwa mayoritas masyarakat desa Pelang merupakan muslim dengan menganut paham Nahdlotul Ulama‟ (NU), menurut tokoh Kristen bahwa hubungan antara umat kristiani dengan masyarakat muslim NU berjalan dengan baik, mereka saling menjaga toleransi, mungkin ini juga terjadi di tempat lain, bahwa NU mengajarkan umatnya untuk lebih inklusif dalam beragama111.

Selain itu umat Kristen Gereja Jawi Wetan juga memahami ajaran beragama dengan moderat, inklusif serta penuh toleransi, hal ini yang membuat hubungan antar umat beragama di desa Pelang semakin harmonis, semua pihak memiliki kerangka pemahaman yang sama tentang modal teologis dalam beragama, memahami ajaran agama yang toleran dalam melihat perbedaan menjadi salah satu modal persatuan yang dimiliki oleh masyarakat desa Pelang Lamongan.

Dari hasil penelusuran peneliti, bahwa dalam membangun kerukunan beragama di desa Pelang, setidaknya ada beberapa faktor yang mendukung terciptanya hubungan harmonis antar umat beragama di desa Pelang:

1. Bahwa ideology keagamaan inklusif yang dimiliki oleh masyarakat Kristen ataupun Islam menjadi salah satu dasar dalam menjalankan setiap aktifitas sosial keagamaan.

111 Wawancara dengan Karim, di Desa Pelang Lamongan pada 2 Oktober 2021.

99

2. Kerukunan beragama dipupuk melalui kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakat, sehingga sikap rukun antar umat beragama semakin menguat dalam jiwa masayarakat.

3. Hubungan persaudaraan dan kekeluargaan yang sudah terjalin sejak lama;

faktor keluarga adalah faktor utama yang dapat menjadikan suatu hubungan menjadi utuh.

4. Peran tokoh agama, Tokoh agama adalah role model bagi para pengikutnya. Sehingga, ketika para pemuka agama menyeru kepada hal-hal yang baik, maka mustahil para pengikutnya tidak melakukan hal-hal yang baik pula. Tokoh agama biasanya akan melakukan dakwah atau ceramah yang bertujuan untuk memberi ketenangan bagi siapa saja yang mendengarkannya. Terjalinnya kegiatan sosial keagamaan warga desa Pelang Kembangbahu Lamongan tidak lepas dari dukungan tokoh agama maupun pemerintahan desa setempat.

5. Pemerintah menjadi salah satu elemen penting dalam membangun kerukunan beragama di desa Pelang, diskusi dan pertemuan rutin antar tokoh lintas agama yang difasilitasi oleh pemerintah desa bekerjasama dengan pihak-pihak lain terkait menjadi salah satu pondasi kuat dalam membangun kerukunan beragama di desa Pelang.