B
EBERAPA hari belakangan ini, hampir setiap hari layar kaca dan media cetak dihiasi berita tentang penggusuran di per- kotaan. Kita menyaksikan ratusan orang korban tak mampu menahan marah dan duka ketika mereka dipaksa untuk kehilangan rumah dan harta benda. Kemarahan dan kedukaan mereka ini dipicu operasi “penertiban” (baca: penggusuran) oleh pemerintah terhadap pemu- kiman “liar” dan “kumuh” di sejumlah kawasan DKI Jakarta.Hampir seluruh korban penggusuran itu kaum miskin dan ber- status sebagai pendatang. Mereka digusur karena dianggap men- duduki tanah pihak lain secara tidak sah menurut hukum serta menggangu ketertiban dan keindahan kota. Tidak disangkal bahwa sebagian besar penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki bukti- bukti legal formal atas penguasaan tanah yang dijadikannya sebagai tempat bermukim. Tetapi, apakah atas dasar itu semua kaum miskin di perkotaan dapat dibenarkan untuk diperlakukan semena-mena?
Secara lugas, Tajuk Rencana harian ini telah mengulas tentang maraknya penggusuran kaum miskin di Jakarta (Sinar Harapan, 20/ 9/03) menarik untuk disambut. Peneropongan orientasi, model dan strategi pembangunan perkotaan yang dikaitkan kondisi pedesaan akan menjadi fokus khusus tulisan ini.
Akar persoalan
sekarang ini menjadi trend erat kaitannya dengan strategi pem- bangunan perkotaan yang diskriminatif dan kenyataan kemiskinan itu sendiri sebagai akar persoalan. Fenomena penggusuran adalah anak kandung dari pembangunan dan kemiskinan di perkotaan.
Dalam konteks maraknya operasi “penertiban” pemukiman kaum miskin, pendekatan keamanan (security approach) kembali digunakan secara efektif oleh penguasa. Ini merupakan cermin dari pilihan strategi pembangunan kota yang melecehkan rasa kemanu- siaan dan keadilan bagi kaum kecil. Padahal, jika kita mau konsisten dan konsekwen dengan semangat zaman reformasi dan demokrasi, maka strategi semacam itu sudahlah usang dan ketinggalan zaman. Yang membuat hati terenyuh, ketika seorang Gubernur membe- narkan penggusuran hanya gara-gara penduduk yang bersangkutan tidak memiliki kartu tanda penduduk kota setempat. Pembenaran ini terasa merendahkan martabat bangsa secara keseluruhan. Betapa yang namanya kebebasan warga untuk tinggal di mana saja di seluruh wilayah negaranya sendiri telah direduksi hanya menjadi urusan selembar surat keterangan. Alasan semacam ini, sekali lagi menun- jukkan sikap pemerintah yang sangat kaku dan tidak arif dalam memandang persoalan kebangsaan.
Pemerintah sudah semestinya memahami kemiskinan sebagai akar persoalan yang memaksa kaum miskin membangun dan tinggal di pemukiman kumuh. Sempitnya akses kaum miskin terhadap lahan untuk pemukiman di perkotaan mesti diakui sebagai buah dari orien- tasi pembangunan perkotaan yang pada umumnya lebih memanja- kaan kaum berduit. Kita tahu, peruntukan lahan di perkotaan lebih diprioritaskan untuk pengembangan kawasan bisnis, perkantoran, fasilitas umum, dan perumahan kelas menengah ke atas. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata atas tingginya gejala penelantaran tanah di sekitar perkotaan. Sebagian lahan di kawasan kota Jabotabek telah dikuasai dan digunakan oleh pemodal besar sebagai objek spekulasi tanah. Kenyataan ini menjadi ironi yang gamblang di tengah kian terbatasnya akses kaum miskin kota atas lahan untuk
kebutuhan pemukimannya.
Dari setumpuk persoalan pembangunan di perkotaan dengan segala eksesnya, kini tengah diperlukan rumusan baru orientasi, model dan strategi pembangunan kota yang mengutamakan kepen- tingan kaum ekonomi lemah, berkeadilan sosial dan manusiawi.
Jalan keluar
Penanganan pemukiman kaum miskin di perkotaan dan penye- lesaian akar dari persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang sedang ditunggu-tunggu. Ada beberapa hal yang layak dijadikan jalan keluar. Pertama, penghentian cara-cara kekerasan harus segera dilakukan dan menggantinya dengan cara persuasif. Mengedepan- kan musyawarah yang setara antara pemerintah kota, pemilik “sah” tanah yang dijadikan pemukiman, dan kaum miskin yang mendiami- nya merupakan mekanisme paling gentle dan beradab dalam menyelesaikan konflik. Prinsip yang penting dipegang adalah kaum miskin memiliki hak yang sama dengan kaum yang tidak miskin dalam mendapatkan tempat tinggal dan pekerjaan di perkotaan. Tempat tinggal dan pekerjaan yang layak untuk kehidupan merupa- kan dua sendi hak asasi manusia setiap warga negara yang harus dijamin dan dipenuhi oleh setiap (pemerintahan) negara.
Kedua, memandang persoalan penguasaan tanah oleh kaum miskin kota semata-mata dengan menggunakan asas legalitas meru- pakan sikap yang jauh dari arif. Perlu pengkajian terlebih dahulu atas akar penyebab kenapa mereka memilih tinggal di kawasan yang bukan miliknya itu. Yang patut disegerakan sekarang adalah dilun- curkannya kebijakan penyediaan sejumlah kawasan yang bisa diakses (dipakai dan dimiliki) kaum miskin untuk tinggal sekaligus mengembangkan kehidupannya secara bebas dan adil di sekitar per- kotaan.
Bagi kaum miskin di perkotaan, negara seyogyanya memberikan jaminan (1) adanya perlindungan kepastian hak penguasaan dan pemanfaatan lahan dan pemukiman; (2) peningkatan kesejahteraan
bagi yang hak atas lahannya dialihkan atas permusyawaratan yang beradab untuk kepentingan publik; dan (3) terbebas dari segala tindak kekerasan ketika terjadi konflik penguasaan dan pengelolaan lahan. Untuk itu, pemerintah dan aparatusnya hendaknya menggunakan makna asli dari kata “penertiban”, yakni suatu usaha menempatkan penduduk miskin sehingga mendapat tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Ketiga, gagasan untuk memanfaatkan lahan-lahan “tidur” yang diterlantarkan oleh para pemiliknya potensial untuk diabdikan bagi kepentingan kaum miskin kota sangat layak untuk dijalankan. Lahan terlantar yang berada di sekitar kota Jabotabek hendaknya dijadikan objek redistribusi bagi mereka yang membutuhkannya—menurut data olahan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) berjumlah ribuan hek- tar. Lahan terlantar itu bisa diprioritaskan untuk digunakan sebagai kawasan pemukiman kaum miskin dan lahan pertanian bagi kaum tani tak bertanah di sekitar perkotaan.
UU Pokok Agraria 1960 yang berwatak populis masih relevan untuk dijadikan rujukan dalam penyediaan tanah untuk kaum mis- kin. Adapun Keppres No. 34/2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan, dan Tap MPR No. IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan SDA dapat menjadi payung (politik) hukum yang sah bagi pemerintah dan rakyat termasuk kaum miskin kota, untuk mendorong “dibangunkannya” lahan yang telah “tertidur” pulas selama ini.
Pembaruan agraria
Menyelesaikan persoalan kaum miskin dan kemiskinan di kota tidak bisa dilepaskan dari usaha menyelesaikan masalah yang berkembang di pedesaan. Dalam wacana mengenai orientasi, model dan strategi pembangunan pedesaan yang dikenal luas, pelaksanaan Pembaruan Agraria merupakan pilihan paling tepat. Pembaruan agraria (reforma agraria) merupakan fondasi yang kokoh bagi pembangunan sosial.
Pembaruan agraria dalam arti luas adalah upaya perubahan atau perombakan sosial dengan melakukan perubahan terhadap struktur agraria yang timpang. Tujuan dari dijalankannya pembaruan agraria adalah untuk mencapai keadilan agraria yang tercermin dalam bentuk keadilan dalam penguasaan dan pemilikan tanah dan kekayaan alam lainnya. Terwujudnya keadilan agraria ini akan ber- pengaruh pada penciptaan struktur sosial yang sehat dan menjamin kebebasan bagi semua pihak. Dalam pengertian khusus, pembaruan agraria bermakna penyediaan tanah bagi kaum miskin desa (petani) agar dapat memperluas lapangan kerja sehingga mengurangi angka kemiskinan di pedesaan.
Untuk itu, Presiden dan DPR perlu mempercepat pelaksanaan program pembaruan agraria sebagaimana diamanatkan Tap MPR No. IX/2001. Hanya dengan komitmen yang kuat dari pemerintahan dalam menciptakan keadilan agraria maka kemiskinan dan ketidak- adilan di pedesaan maupun di perkotaan akan terjawab secara seka- ligus. Secara hakiki, mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi kaum miskin di desa dan kota kiranya menjadi bukti keberadaban kita sebagai sebuah bangsa.***