• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membentuk Masyarakat Modern yang Berbudi Luhur

BAB IV PENDIDIKAN TASAWUF SEBAGAI SARANA DALAM

B. Urgensi Pendidikan Tasawuf Modern Hamka dalam Kehidupan

1. Membentuk Masyarakat Modern yang Berbudi Luhur

Dalam menuntun kehidupan masyarakat modern yang berbudi luhur, Hamka menganjurkan agar setiap diri beriman kepada Allah SWT dan bekerja dengan amal saleh. Dengan cara inilah akan tercapai “baldatun thayyibatun warabbun ghafur” (negara makmur penuh ampunan tuhan).

Iman sendiri dalam pandangan Hamka adalah kepercayaan yang m eliputi segala amalan lahir maupun batin. Iman menjadi urat dari segala amal, tidaklah seseorang suka mengerjakan suatu amal kalau hatinya sendiri belum percaya. Itulah sebabnya amal orang yang munafik tidak diterima oleh Allah, lantaran hatinya sendiri tidak percaya, sekalipun dia sembahyang.321

Untuk itu, hendaknya hati bebas dari sifat takabur, hasad, dan mencari kemegahan. Karena setiap keingkaran itu senantiasa timbul karena hawa nafsu. Maka menurut Hamka, hanya dengan pengetahuan yang luruslah orang akan memperoleh keselamatan hidup. Oleh sebab itu, ilmu harus

319 Hamka, Tasawuf..., hlm. 8.

320 B. Wiwoho, Bertasawuf..., hlm. ix

321 Hamka, Tasawuf..., hlm. 62-65.

120

menimbulkan percaya, percaya menimbulkan cinta, tidak diikat oleh dengki, dihambat oleh takabur, hasad, atau kemegahan.

Iman itu baru sah jika dipertautkan dengan amalan, sedangkan amalan itu sendiri menurut Hamka adalah Islam. Islam artinya menurut atau menyerah, bukti menyerah itulah amalan. Pengetahuan yang lurus akan menimbulkan percaya, percaya menimbulkan tunduk dan pasrah, dari situlah timbul amalan yang dikerjakan oleh anggota badan. Jika hati sudah tunduk dan diiringi oleh perbuatan, maka tercapailah iman dan Islam.322

Adapun iman itu sendiri menurut Hamka, bisa berkurang dan bisa bertambah, bahkan sampai hilang. Sebagaimana firman Allah berikut;

ْٓو ُدا َدْزَي ِل َنْيِى ِمْؤ ُ ْلْا ِبْىُلُق ْيِف َتَىْيِن َّظلا َىَصْهَا ْٓيِرَّلا َىُه ِ ه ِلِلَّوۗ ْم ِهِنا َمًِْا َع َّم ا ًٔهاَمًِْا ا

َۙا ًٔمْي ِن َح ا ًٔمْيِلَع ُ هاللّٰ َنا َمَو ِۗضْزَ ْاَلَّو ِثٰىٰم َّظلا ُدْىُىُج

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha bijaksana.”323

َن ْىُه َق ْفًَ َ

لَ ْمُهَف ْم ِهِبْى ُلُق ىٰلَع َعِبُطَف اْوُسَفَل َّمُث اْىُىَمٰا ْمُهَّنَاِب َوِلٰذ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti.”324

Agar iman itu tidak berkurang ataupun hilang, maka ia harus terus dipupuk agar bisa subur dan bertambah. Jangan sampai dibiarkan begitu saja, karena jika dibiarkan ia akan lemah dan tumbang. Dalam hal ini, ada

322 Ibid., 66-68.

323 QS al-Fath [48]: 4.

324 QS al-Munafiqun [63]: 3.

121

banyak cara yang bisa kita lakukan dalam memelihara agar iman tetap terjaga, baik yang sudah ditunjukkan langsung oleh Allah dan Rasulnya, maupun dari ulama-ulama yang terpandang dalam Islam. Sebagian ada yang menyarankan agar mencari teman atau sahabat yang baik, menjaga kecemburuan dalam beragama, memilih bacaan yang baik serta menutup semua jalan yang bisa melemahkannya.325

Hamka juga menganjurkan setiap masyarakat agar berperan dalam memajukan bangsa dan tanah air. Hendaklah mereka melepaskan aniaya dan belenggu, menegakkan keadilan dan kebenaran. Peringatilah setiap pemerintah yang berdiri untuk berlaku adil, karena setiap kezaliman akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Peringatilah hakim-hakim untuk tidak menghukum dengan zalim, karna kelak perkara itu akan dibuka kembali oleh Allah. Peringatilah mereka yang berniaga agar tidak menipu, karena Allah akan selalu mengawasinya.

Siapapun yang cinta akan tanah airnya, yang ingin bangsanya maju dan tanah airnya mulia. Gunakanlah kepercayaan, agar tercapai kemuliaan yang diinginkan. Jika kita merasa lemah untuk memperbaiki otak generasi sekarang, karena sudah terlalu rusak, maka perbaikilah otak generasi yang akan datang.326

Kepercayaan membangkitkan hati untuk mempertinggi budi pekerti, mempermulia kesopanan dan menjauhkan diri dari perangai yang rendah.

Kalau kepercayaan itu tidak ada, hidup tidak akan lagi ada harganya.

325 Hamka, Tasawuf..., hlm. 71.

326 Ibid., hlm. 91-92.

122

Kepercayaan inilah yang akan menghalangi masyarakat dari aniaya, khianat, dan serakah.327

Menurut Hamka, jika suatu bangsa mengingkari Tuhan itu tandanya budi pekerti dan kesopanan bangsa itu akan rusak binasa, akalnya akan ditumbuhi oleh kejahatan, hati setiap masyarakat akan dipenuhi oleh tipu daya, sehingga tidak ada lagi tempat bergantung. Syahwat dan nafsu itulah yang akan menjadi pedoman dalam hidup mereka. Antara satu dengan yang lain tidak lagi saling percaya, hilang rasa amanah, akhirnya hilang nama suatu bangsa dari permukaan, jatuh melarat dalam perbudakan.

Kalau masyarakat ingin diatur, keamanan dan keselamatan dijaga, dan agar manusia tidak diserupai dengan binatang, maka ia harus menjalankan empat perkara, yaitu; Pertama, pertahanan atas diri ialah kesanggupan masyarakat dalam mempertahankan dirinya dari serangan orang lain dan menyerang jika perlu, berperang dan diperangi, sanggup menumpahkan darah, baik darah sendiri atau darah orang lain, serta sanggup menghadapi mati dalam mempertahankan hak. Kedua, menjaga kehormatan ialah mempertahankan kehormatan dalam pergaulan hidup, rasa malu jika nama keluarga dan kaum rusak karena ulah sendiri dan jangan menjadi buah mulut orang lain. Ketiga, mendirikan suatu pemerintahan, tujuannya ialah untuk menjaga pergaulan lahir manusia. Dengan adanya pemerintahan, maka terbatasilah syahwat dan nafsu manusia. Keempat, percaya akan adanya Tuhan, mempercayai bahwa ada suatu kekuasaan gaib yang

327 Ibid., hlm. 93.

123

melindungi alam ini, yang akan memberi ganjaran baik dan buruk dihari kemudian.328

Manusia harus percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementera, dunia ini hanya tempat singgah, sedangkan kehidupan yang sesungguhnya masih jauh. Kepercayaan ini menimbulkan hasrat untuk mencapai kemuliaan rohani, budi, dan jiwa. Ia akan memperindah batinnya, budi dan jiwa, dicucinya akal budi dan pikirannya agar semakin bersih.

Semua waktunya akan dikorbankan untuk mencapainya. Ia akan mencari harta dengan jujur, tidak menyakiti orang lain, tidak dipengaruhi oleh tipu daya, tidak menerima uang suap dan korupsi, serta akan tersingkir dari keserakahan dan kecerdikan. Sebaliknya, jika manusia tidak sadar akan kehidupan selanjutnya, maka ia akan diikat oleh dunia, memperkaya badan kasarnya, berdandan dengan sombong, dan menganggap diri lebih mulia dari orang lain.329

Menjaga syahwat dan kemarahan. Agar batin tetap sehat, sebaiknya ia dijaga agar tidak dipengaruhi oleh syahwat dan marah. Orang yang berakal tidak akan mengikuti kemauan nafsu, tidak mencari atau mengerjakan sesuatu yang dapat menimbulkan amarah orang lain. Dia menggunakan syahwat dan marah itu bukan untuk menyerang, malainkan untuk mempertahankan diri. Kalau syahwat dan marah itu tidak ada pada diri manusia, niscaya ia akan ditindas oleh manusia yang lain. Untuk itu,

328 Ibid., hlm. 95-100.

329 Ibid., hlm. 115.

124

syahwat dan marah itu haruslah tetap ada, sebagai penjaga keselamatannya.

Bukan untuk mengganggu atau menyerang keselamatan orang lain.

Agar nafsu tetap terjaga, sebaiknya orang berjuang menyingkirkan perangai rendah. Membenci jika ada orang lain yang mengejarkannya.

Namun yang paling berbahaya bagi kesehatan rohani ialah memandang mudah kejahatan kecil, karena hal demikian bisa menjadi pintu masuk bagi munculnya kejahatan yang lebih besar.330 Manusia harus mampu melawan hawa nafsunya, jangan sampai ia dikalahkan olehnya. Ia harus mengendalikan dan memerintahnya. Jika manusia dikalahkan olehnya, maka ia akan diperbudak, diperintah, dan bahkan ditahan. Menurut Hamka, orang yang berperang siap menang dan kalah itulah yang patut disebut “Mujahid”.

Jika dia mati dalam perjuangan itu, matinya adalah mati syahid.331

Namun tidak semua hawa nafsu itu tercela. Ada juga hawa nafsu yang terpuji, yaitu perbuatan Allah yang yang dianugerahkan kepada manusia, agar ia dapat membangkitkan kehendak untuk mempertahankan diri, menangkis bahaya yang menimpa, berikhtiar mencari makan, minum, dan kediaman. Adapun hawa nafsu yang tercela, ialah yang terbit dari kehendak nafsu jahat (nafsu amarah), kehendak yang melebihi keperluan.332

Bergaul dengan orang yang budiman. Pergaulan mempengaruhi didikan otak. Pergaulan membentuk kepercayaan dan keyakinan. Oleh sebab itu, untuk membersihkan jiwa, hendaklah bergaul dengan orang-orang yang berbudi, orang yang bisa kita ambil manfaat darinya. Jangan bergaul dengan

330 Ibid., hlm. 165-166.

331 Ibid., hlm. 139-140.

332 Ibid., hlm. 145-146.

125

orang yang bejat, yang selalu membanggakan kejahatan. Karena kejelekan budi yang kita saksikan itu bisa saja melekat pada diri kita, dan jika sudah melekat akan susah untuk membersihkannya.

Orang-orang yang ingin menjaga budi pekertinya akan susah mengerjakan kejahatan karena hal tersebut akan melanggar budinya. Oleh sebab itu, pilihlah teman duduk yang bisa memberi manfaat pada jiwa, baik jiwa kita maupun jiwa dia. Kebahagiaan pergaulan tidak akan kita dapatkan jika tidak ada kesanggupan menerima dan memberi. Jangan hanya berani memberi nasihat, namun berat menerima nasihat. Jangan hanya mempelajari, namun berat mengerjakan.333

Menyelidiki aib diri sendiri itu sangat penting. Karena banyak dari kita yang tidak ingin dirinya cacat (hina), semuanya menginginkan kemuliaan. Namun sedikit dari kita yang mau tahu aib diri sendiri, padahal jika kita mau menyadarinya, mungkin aib diri sendiri lebih banyak dari aib orang lain. Untuk itu, Hamka menyarankan agar kita senantiasa memilih teman yang setia, yang mampu menasehati jika kita melakukan perbuatan tercela. Teman yang tidak hanya pandai memuji atau memuliakan.334

Membiasakan pekerjaan berpikir. Untuk menjaga kesehatan jiwa, setiap hari otak harus tetap dilatih untuk berpikir, jika otak dibiarkan menganggur ia bisa ditimpa sakit, menjadi bingung, dan kita menjadi bodoh.

333 Ibid., hlm. 162-163.

334 Ibid., hlm. 168.

126

Sejak kecil seseorang harus diajar untuk berpikir, karena orang yang kuat berpikirlah yang dapat menghasilkan kebijaksanaan.335

Bekerja dengan teratur. Sebelum masuk dalam suatu pekerjaan, sebaiknya diperhatikan dulu manfaat dan mudharatnya, akibat dan hasilnya.

Tidak akan bagus suatu pekerjaan tidak didasari dengan pertimbangan yang matang, karena hanya akan menghabiskan waktu dan umur. Kalau kita pernah terdorong untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak memberi manfaat, hendaklah kita menghukum diri kita dari kesalahan itu. Buatkanlah di dalam diri suatu pemerintahan yang memiliki rencana, langkah, aturan, serta tujuan. Buat undang-undang serta adakan hukuman. Hukumlah batin jika dia melanggar undang-undang yang telah dibuat itu.336

Untuk mencapai kesempurnaan budi, Hamka juga mengharuskan manusia untuk menghilangkan segala perangai yang buruk dan membiasakan perangai yang terpuji. Dengan cara menanamkan pada dirinya sifat-sifat terpuji, seperti ikhlas, sabar, syaja‟ah, „iffah, hikmah, „adalah, qana‟ah, dan tawakal.

Ikhlas sendiri artinya bersih tidak ada campuran. Lawannya adalah isyrak yang berarti berserikat atau bercampur dengan yang lain. Tempat ikhlas dan isyrak adalah hati. Seandainya seseorang berniat mengerjakan sesuatu pekerjaan, saat ia mulai melangkah sudah dapat ditentukan ke mana tujuan dan bagaimana dasarnya. Misalnya ada orang yang berniat hendak menolong fakir miskin. Pekerjaan memberi pertolongan tersebut adalah

335 Ibid., hlm. 164.

336 Ibid., hlm. 167-168.

127

baik, namun belum tentu baik apabila dasarnya tidak baik. Pekerjaan tersebut baru bisa dikatakan baik apabila didasari dengan ikhlas, yakni menolong fakir miskin karena Allah semata, bukan karena mengharap pujian dan sanjungan dari orang lain. Oleh karena itu, ikhlas tidak bisa dipisahkan dengan siddiq (benar) tulus, niat yang lurus dan benar hanya semata-mata karena Allah.337

Sabar berarti menahan diri. Maksudnya ialah menahan diri dari keluh kesah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Meskipun demikian, nilai sabar tidak hanya terbatas pada hal tersebut, melainkan ia juga dapat diterapkan dalam kehidupan sosial, seperti menahan diri dari keluh kesah dalam menghadapi kesulitan hidup karena krisis atau kalah bersaing dengan orang atau kelompok sosial lain.338

Syaja‟ah ialah perangai yang sehat, berani karena benar dan takut karena salah. Syaja‟ah merupakan perangai yang timbul dari tabiat manusia yang bernama Ghadab (marah). Marah yang dimaksud ialah marah dalam mempertahankan kehormatan, kita marah dan menuntut pembalasan apabila ada keluarga kita yang dihina, difitnah, atau direndahkan orang lain. Marah yang seperti ini disebut dengan Ghirah Lissyaraf (cemburu menjaga kehormatan). Adapun orang yang tidak marah dalam keadaan ini (hanya diam saja), disebut dengan Dayus (orang yang tidak ada hati atau hina budi pekertinya).339

337 Ibid., hlm. 147-148.

338 Sutoyo, “Tasawuf..., hlm. 123.

339 Hamka, Tasawuf..., hlm. 177.

128

„Iffah ialah pandai menjaga kehormatan diri, bisa menjaga dan menahan diri agar tidak menimbulkan kemudharatan bagi orang lain.

Adapun fungsinya ialah sebagai benteng pertahanan diri dari kesenangan yang tidak memberi manfaat dan yang bisa merusak budi.340

Hikmah artinya bijaksana, ialah keistimewaan yang diberikan Allah kepada manusia, agar ia dapat mengendalikan syahwat dan kemarahannya.

Sebagaimana sifat-sifat terpuji lainnya, hikmah ialah sifat yang berjalan di pertengahan, tidak condong ke atas ataupun ke bawah, karena hal tersebut dapat mendatangkan bahaya dan kerugian baik bagi diri sediri maupun orang lain.

„Adalah ialah berlaku adil walaupun kepada diri sendiri. Keadilan merupakan perangai mulia dari akal budi, dari nafsu marah dan dari syahwat. Kita menjadi seorang ahli hikmah sesuai pada tempatnya, berjuang, dan menghadapi musuh pada waktunya. Memperhatikan perkara kecil sebagai bentuk mempertahankan kehormatan yang harus dibela.

Cabangnya ialah adil terhadap diri sendiri, adil di dalam masyarakat, serta dalam melakukan siasat dan muslihat. Adil di dalam budi pekerti ialah perangai „iffah. Adil menghadapi lawan ialah perangai syaja‟ah. Adil dalam pergaulan ialah menghindari lengah dan lalai. Sedangkan adil dalam melakukan siasat masyarakat ialah meninggalkan kepentingan diri demi kepentingan bersama.341

340 Akbar Sani, “Konsep Buya Hamka Dalam Pembinaan Akhlak: Perspektif Pemikiran Tasawuf Buya Hamka”, (Skripsi, FAI Universitas Muhammadiyah Makassar, Makassar, 2017), hlm. 49.

341 Hamka, Tasawuf..., hlm. 226-228.

129

Qana‟ah ialah menerima dan merasa cukup dengan apa yang ada, dalam pandangan Hamka, qana‟ah itu mencakup lima perkara. Pertama, rela menerima apa yang ada. Kedua, meminta kepada Tuhan tambahan yang pantas. Ketiga, menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan.

Keempat, bertawakal kepada Tuhan. Kelima, tidak tertarik dengan tipu daya dunia. Inilah yang dinamakan qana‟ah dan kekayaan sejati.

Mereka yang mempunyai sifat qana‟ah bersedia mencukupkan hartanya dengan apa yang sudah ada ditangannya dan pikirannya tidak berpindah kepada yang lain. Mereka yang sudah memperoleh rezeki, yang sudah bisa makan pagi dan petang, sebaiknya menenangkan hati dan jangan pernah ragu. Kita tidak dilarang untuk bekerja mencari penghasilan, tidak diperintah berpangku tangan dan bermalas-malasan lantaran sudah memiliki harta, karena yang demikian bukanlah qana‟ah, itu adalah kemalasan. Untuk itu bekerjalah, karena manusia dikirim ke dunia untuk bekerja, namun tenangkan hati, yakinlah bahwa di dalam setiap pekerjaan pasti ada yang menang dan kalah. Jadi kita bekerja bukan lantaran harta yang kita miliki belum cukup, melainkan bekerja lantaran manusia itu tidak boleh menganggur.342

Tawakal ialah menyerahkan segala keputusan, ikhtiar dan usaha hanya semata-mata kepada Tuhan semesta alam. Dialah yang kuat dan kuasa sedangkan kita lemah dan tidak berdaya. Menurut Hamka, tidaklah keluar dari garisan tawakal jika kita berusaha menghindarkan diri dari kemelaratan,

342 Ibid., hlm. 267-268.

130

baik yang bersangkutan dengan diri, harta benda, maupun anak keturunan.343

Jiwa adalah harta yang tidak ternilai harganya. Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir, dan batin. Itulah kekayaan sejati. Orang yang takut menghadapi kehidupan dan tidak berani membersihkan serta menyucikan batinya, tidak akan pernah mengenal arti kelezatan. Karena tidak ada kesejahteraan diri yang dicapai tampa menempuh beberapa kesulitan.

2. Integrasi Syari’ah dan Tasawuf dalam Pendidikan Tasawuf Modern

Dokumen terkait