• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memilih Alternatif Solusi 1 Kondisi Sekarang

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

2. Kualitas Produks

5.1. Pengumpulan Data

5.1.3. Limbah Produksi Pabrik Kelapa Sawit

5.2.3.2. Memilih Alternatif Solusi 1 Kondisi Sekarang

Kondisi sekarang digunakan sebagai pembanding yang menjadi tolak ukur dalam perhitungan produktivitas untuk alternatif penyelesaian masalah sesuai dengan pendekatan green productivity. Kondisi saat ini tidak melakukan

pengubahan dan data yang digunakan adalah nilai rata-rata setiap data input dan output selama tahun 2011.

1. Data Output

Data ini merupakan jumlah penjualan rata-rata minyak cpo dan inti sawit yang diterima perusahaan selama periode 2011, atau dapat dilihat pada tabel 5.9 sebelumnya yaitu sebesar Rp.29.619.574.781.

2. Data Input Material

Data ini meliputi biaya rata-rata yang dikeluarkan perusahaan dalam pengadaan material untuk pelaksanaan proses produksi kelapa sawit selama 2011 dan dapat dilihat dari tabel 5.2 yaitu Rp.336.564.444,80.

3. Data Input Tenaga Kerja

Data ini meliputi biaya tenaga kerja rata-rata di PTPN III Unit PKS Rambutan dalam pelaksanaan proses produksi kelapa sawit selama 2011 dan dapat dilihat pada tabel 5.3 sebelumnya yaitu sebesar Rp.600.764.400,90. 4. Data Input Energi

Data ini meliputi biaya energi di PTPN III Unit PKS Rambutan dalam pelaksanaan proses produksi kelapa sawit selama 2011 dan dapat dilihat pada tabel 5.4 sebelumnya yaitu sebesar Rp.84.747.017,00.

5. Data input Perawatan dan instalasi

Data ini meliputi pemeliharaan mesin dan instalasi di PTPN III Unit PKS Rambutan dalam pelaksanaan proses produksi kelapa sawit selama 2011 dan dapat dilihat pada tabel 5.5 sebelumnya yaitu sebesar Rp.303.748.650,30. Data-data perhitungan periode sekarang dapat dilihat pada tabel 5.11.

6. Data Waste

Data ini merupakan rata-rata jumlah limbah tandan kosong dan limbah cair yang diperoleh dari pengolahan minyak kelapa sawit. Jumlah Tandan kosong sawit adalah sebanyak 3.732,51 ton per bulan dan limbah cair sebanyak 168,89 ton per bulan dengan jumlah material TBS 15.600 ton/bulan.

Tabel 5.11. Data Perhitungan Kondisi Sekarang

Output (Rp)

Penjualan Minyak dan Inti Sawit 29.619.574.781

Input (Rp)

Input Material 336.564.444,80

Input Tenaga Kerja 600.764.400,90

Input Energi 84.747.017,00

Input perawatan dan instalasi 303.748.650,30 Waste (tandan kosong + limbah cair) 3.901,40

Perhitungan Green Productivity Ratio untuk material, tenaga kerja, energi, dan maintenance dilakukan dengan menggunakan rumus berikut ini.

Rasio untuk waste dihitung sebagai bertikut:

Contohnya, untuk input tenaga kerja, perhitungan GPR dilakukan sebagai berikut.

Hasil perhitungan GPR untuk faktor lainnya dapat dilihat pada tabel 5.20 . Adapun perhitungan Green Productivity Index (GPI) untuk kondisi sekarang berlaku nilai 1, seperti terlihat pada tabel 5.20.

5.2.3.2.2. Alternatif 1

Untuk alternatif 1 dilakukan hal-hal berikut: 1. Data biaya investasi awal

Rincian investasi awal terdiri dari pengadaan lahan PLTBS dan keperluan mesin, peralatan dapat dilihat pada tabel 5.12.

Pengadaan lahan PLTBS = Luas areal x Harga satuan = 50.000 m2 x Rp.2.000,00/m2 = Rp. 100.000.000,00

Tabel 5.12. Rincian Biaya Investasi Awal PLTBS

Uraian Biaya (Rp)

Mesin pencacah (chipper) kap 14 t tankos/jam + instalasi (1 unit) 600.000.000 Screw press kapasitas 15 t/jam + instalasi (1 unit) 800.000.000 Boiler pipa air kapasitas 35 t/jam (cw pre heater) 10.200.000.000 Turbin uap kapasitas 6000 kW + cooling tower (1 unit) 22.000.000.000 Empty Bunch Conveyor (150 m) + instalasi 1.500.000.000 Hopper bahan bakar 3100 m3 dan platform 1.500.000.000

Skid loader 800.000.000

Panel Induk 1.000.000.000

Genset 350 kVA (1 unit) 500.000.000

Jaringan tegangan menengah, 0,5 km 600.000.000

Transformator 8 MVA c/w Accessories 700.000.000

Gardu distribusi 200.000.000

Monitor kontrol otomatis 200.000.000

Sediment bak 10m3 500.000.000

Feed water tank (kap 120 m3) 500.000.000

Anion-kation exchanger +Instalasi pipa 500.000.000

Deaerator tank + instalasi 500.000.000

Sub Total EPC 42.600.000.000

Sumber : PKS Rambutan

2. Biaya Operasional (Maintenance)

Rincian biaya operasional dapat dijelaskan pada tabel 5.13 Tabel 5.13. Biaya Operasional

Uraian Biaya (Rp.)

Gaji 24 karyawan/bulan @ Rp 1,4 juta x 12 bulan 403.200.000 Lain-lain (bensin, solar, oli, grease dll) 180.000.000 Biaya perawatan 10% x 42.600.000.000 4.260.000.000

Tabel 5.13. Biaya Operasional (Lanjutan)

Uraian Biaya (Rp.)

Air untuk umpan boiler, cooling tower dan zat

kimia 300.000.000

Total 5.148.000.000

Sumber : PKS Rambutan

3. Proyeksi Penerimaan

Penerimaan dari proyek pembangkit listrik tenaga biomassa sawit ini antara lain:

a. Penghematan biaya penyebaran tandan kosong ke lahan perkebunan

Biaya penyebaran tandan kosong adalah Rp. 26.000,00 per ton, dengan kapasitas PKS 187.200 ton/tahun akan dikeluarkan biaya oleh perusahaan. Biaya penyebaran tandan kosong = 187.200 ton/tahun x 0,23 x

Rp.26.000,00/ton

= Rp.1.119.456.000,00.

Dengan didirikannya pengolahan kompos ini akan menghemat dana penyebaran tandan kosong sebesar Rp. 1.119.456.000,00.

b. Tandan kosong yang digunakan sebagai bahan bakar sebelumnya dilakukan proses pengepresan dulu untuk mengurangi kadar airnya. Cairan yang muncul dari tandan kosong ini masih mengandung minyak. Jumlah minyak sisa di dalam tandan kosong tersebut diperkirakan sekitar sekitar 0,2 % dari berat tandan buah segar atau 1% dari berat tandan kosong. Mutu minyak (CPO) di dalam sisa minyak (disebut juga remnant oil) tidak

jauh berbeda dengan CPO, minyak perasan dari tandan kosong ini dimasukkan ke Pabrik Kelapa Sawit yang sama untuk diolah lebih lanjut menjadi CPO dan dengan kapasitas pabrik 187.200 ton TBS per tahun dihasilkan pengutipan minyak dapat diuraikan dalam persamaan berikut: Minyak hasil pengutipan = 0,2% x Kapasitas olah TBS per tahun

= 0,2% x 187.200 ton/tahun

= 374,4 ton/tahun

Dengan harga jual CPO Rp. 7800 per kg, hasil pengutipan minyak diperoleh sebanyak Rp.2.920.320.000,00 per tahun dan merupakan pemasukan dari pengutipan minyak bagi perusahaan.

c. Pendapatan PLTBS didapat dengan menjual delapan puluh persen listrik yang dihasilkan ke PLN dengan ketentuan:

harga jual Rp.787,00 per KWh

jumlah jam operasi dalam satu tahun 6.240 jam Daya yang dihasilkan 2,25 MWh/jam

maka jumlah pendapatan dapat dihitung dengan persamaan: Pendapatan = 80 % x Daya per tahun x harga jual

= 80% x 2,25 MWh/jam x 6.240 jam/thn x Rp.787,00/KWh = Rp. 8.839.584.000,00/tahun

4. Perhitungan Green Productivity Ratio untuk alternatif 1.

Perhitungan Green Productivity Ratio untuk material, tenaga kerja, energi, dan maintenance dilakukan dengan mengetahui terlebih jumlah setiap faktor pada alternatif 1 dan dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Data output

Apabila alternatif 1 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah output. Jumlah output adalah jumlah rata-rata output total tahun 2011 dijumlahkan dengan jumlah pendapatan dari pengomposan limbah pabrik kelapa sawit.

Data output = Rata-rata output total tahun 2011 + pendapatan PLTBS = Rp. 29.619.574.781 + Rp.736.632.000,00

= Rp. 30.356.206.780,00 b. Data input material

Jika alternatif 1 diterapkan, diprediksikan tidak akan mempengaruhi jumlah input material. Maka jumlah input material adalah nilai rata-rata biaya material tahun 2011.

Data input material = Nilai rata-rata biaya material tahun 2011 = Rp. 336.564.444,80

c. Data input Tenaga Kerja

Jika alternatif 1 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah input tenaga kerja. Jumlah input tenaga kerja adalah nilai rata-rata input tenaga kerja dijumlahkan terhadap penambahan tenaga kerja sebanyak 24 orang dengan gaji Rp.1.400.000,00 per bulan untuk setiap orang.

Data input tenaga kerja = Nilai rata-rata biaya tenaga kerja tahun 2011 + 24 orang @ Rp.1.400.000,00

= Rp.634.364.400,90 d. Data input Energi

Jika alternatif 1 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah input energi. Jumlah input energi adalah nilai rata-rata biaya energi tahun 2011 dijumlahkan dengan biaya tambahan energi pemakaian listrik pada alternatif 1.

Data input energi = Nilai rata-rata biaya energi tahun 2011 + Biaya pemakaian air perbulan + biaya bensin, solar, oli, grace dll

= Rp.84.747.017,00 + Rp.25.000.000,00 + Rp.15.000.000

= Rp.124.747.017,00 e. Data input perawatan dan instalasi

Jika alternatif 1 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah input perawatan. Jumlah input perawatan adalah nilai rata-rata biaya perawatan tahun 2011 dijumlahkan dengan perwatan pada alternatif 1 setiap bulannya dikurangi pengolahan limbah tandan kosong dan limbah cair.

Data input perawatan = Nilai rata-rata biaya perawatan tahun 2011 + biaya perawatan pada alternatif 1 – penanganan tandan kosong + penanganan limbah cair

= Rp.303.748.650,30 + Rp.355.000.000,00 – Rp.93.288.000,00 + Rp.41.666.666,67

= Rp.607.123.317,00 f. Data waste

Data ini merupakan rata-rata jumlah limbah tandan kosong dan limbah cair yang diperoleh dari pengolahan minyak kelapa sawit. Tandan kosong sawit dipakai sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga biomassa sawit dan limbah cair masih dengan perlakuan land aplication maka jumlah limbah adalah 168,89 kg limbah cair.

Perhitungan untuk alternatif 1 dapat dilihat pada tabel 5.20.

5.2.3.2.3. Alternatif 2

Untuk alternatif 2 yaitu pengolahan limbah industri kelapa sawit menjadi kompos dan digunakan untuk pemupukan tanaman sawit di lahan perkebunan. 1. Data biaya investasi awal

Rincian investasi awal dapat dilihat pada tabel 5.13. Salah satu contoh perhitungan biaya adalah:

Pengadaan lahan pengomposan = Kuantitas x Harga satuan = 50.000 m2 x Rp.2.000,00/m2 = Rp. 100.000.000,00

Tabel 5.13. Rincian Biaya Investasi

Rincian Biaya Satuan Kuantitas Harga Satuan Biaya (Rp.)

Pengadaan lahan m2 50.000 2.000 100.000.000

Penggalian pipa m3 106 27.500 2.904.000

Pipa PVC dia 5" M 1.820 54.662 99.484.840

Pompa Unit 1 50.000.000 50.000.000

Rubber House dia 2,5' M 400 52.575 21.030.000

Keran Unit 22 28.500 627.000

Instalasi listrik Unit 15 1.750.000 26.250.000 Mesin pencacah Unit 1 600.000.000 600.000.000 Wheel loader Unit 1 500.000.000 500.000.000 Mesin pembalik kompos Unit 1 1.000.000.000 1.000.000.000

Jumlah 2.400.295.840

Sumber PKS Rambutan

2. Biaya Operasional (Maintenance)

Rincian biaya operasional dapat dijelaskan pada tabel 5.14 Tabel 5.14. Biaya Operasional

Rincian Biaya Rp.

Biaya tenaga kerja 5 orang/tahun x Rp.1.400.000,00/orang x 12 bulan

84.000.000

Biaya perawatan 10% x Rp.2.400.295.840,00 240.029.584 Listrik 124KWH/hari x 26 hari/bulan x 12 bulan x

Rp.787/KWh

30.447.456

3. Proyeksi Penerimaan

Penerimaan dari proyek pengomposan limbah pengolahan kelapa sawit ini antara lain:

a. Penghematan biaya penyebaran tandan kosong ke lahan perkebunan

Biaya penyebaran tandan kosong adalah Rp. 26.000,00 per ton, dengan kapasitas PKS 187.200 ton/tahun akan dikeluarkan biaya oleh perusahaan. Biaya penyebaran tandan kosong = 187.200 ton/tahun x 0,23 x

Rp.26.000,00/ton

= Rp.1.119.456.000,00.

Dengan didirikannya pengolahan kompos ini akan menghemat dana penyebaran tandan kosong sebesar Rp. 1.119.456.000,00.

b. Penghematan biaya perawatan dan operasional kolam limbah

Biaya perawatan dan operasional kolam limbah pertahun adalah Rp.500.000.000,00. Dengan didirikannya pengolahan kompos ini, maka biaya tersebut dapat dihemat.

c. Substitusi pupuk

Kandungan unsur hara pupuk yang dipergunakan perkebunan kelapa sawit PKS Rambutan saat ini beserta harganya seperti terlihat pada tabel 5.15.

Tabel 5.15. Kandungan Hara serta harga Pupuk

Pupuk Unsur Hara Persen Unsur Harga/kg

Urea Nitrogen 46 Rp.1.350,00

Super Phospat (SP-36) Fosfor 36 Rp.1.700,00

Muriate Potash Kalium 60 Rp.2.400,00

Kandungan unsur hara pupuk kompos yang dihasilkan dari pengomposan TKS ini menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) adalah seperti yang terlihat pada tabel 5.16.

Tabel 5.16. Kandungan Hara Pupuk Kompos Unsur Hara Persen Unsur

Nitrogen 2,34

Fosfor 0,31

Kalium 3,5

Magnesium 0,96

Dari tabel di atas maka dapat dihitung untuk satu ton pupuk kompos akan setara dengan pupuk buatan sebanyak seperti yang terlihat pada tabel 5.14. Sebagai contoh, perhitungan kesetaraan satu ton pupuk kompos dengan pupuk buatan adalah:

Nitrogen dalam Urea

50,86 ≈ 51 Kg pupuk buatan

Harga total = Jumlah pupuk buatan x harga pupu buatan/kg = 51 kg x Rp.1.350,00

= Rp.68.850,00

langkah perhitungan yang sama dilakukan pada setiap pupuk buatan dan hasilnya diuraikan pada tabel 5.16.

Tabel 5.17. Kesetaraan Satu Ton Pupuk Kompos dengan Pupuk Buatan Pupuk Buatan Unsur Hara Jumlah Kg pupuk Harga Total

Urea Nitrogen 51 Rp.68.850,00

Super Phospat (SP-36)

Fosfor 9 Rp.15.300,00

Muriate Potash Kalium 58 Rp.139.200,00

Kiesrite Magnesium 48 Rp.76.800,00

Jumlah Rp.300.150,00

Dari Tabel 5.17 dapat dihitung dana substitusi untuk jumlah kompos yang dihasilkan sebanyak 16.560 ton adalah:

Dana substitusi = Jumlah kompos x harga kesetaraan satu ton kompos = 16.560 ton x Rp.300.150,00/ton

= Rp.4.970.484.000,00.

5. Perhitungan Green Productivity Ratio untuk alternatif 2.

Perhitungan Green Productivity Ratio untuk material, tenaga kerja, energi, dan maintenance dilakukan dengan mengetahui terlebih jumlah setiap faktor pada alternatif 2 dan dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Data output

Apabila alternatif 2 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah output. Jumlah output yang diestimasikan adalah jumlah rata-rata output total tahun 2011 dijumlahkan dengan jumlah pendapatan dari pengomposan limbah pabrik kelapa sawit.

Data output = Rata-rata output total tahun 2011 + pendapatan pengomposan

= Rp. 29.619.574.781 + Rp.414.207.000,00 = Rp. 30.033.781.781,00

b. Data input material

Jika alternatif 2 diterapkan, diprediksikan tidak akan mempengaruhi jumlah input material. Maka jumlah input material adalah nilai rata-rata biaya material tahun 2011.

Data input material = Nilai rata-rata biaya material tahun 2011 = Rp. 336.564.444,80

c. Data input Tenaga Kerja

Jika alternatif 2 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah input tenaga kerja. Jumlah input tenaga kerja adalah nilai rata-rata input tenaga kerja dijumlahkan terhadap penambahan tenaga kerja sebanyak 5 orang dengan gaji Rp.1.400.000,00 per bulan untuk setiap orang.

Data input tenaga kerja = Nilai rata-rata biaya tenaga kerja tahun 2011 + 5 orang @ Rp.1.400.000,00

= Rp.600.764.400,90 + Rp.7.000.000 = Rp.607.764.400,90

d. Data input Energi

Jika alternatif 2 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah input energi. Jumlah input energi adalah nilai rata-rata biaya energi tahun

2011 dijumlahkan dengan biaya tambahan energi pemakaian listrik pada alternatif 2.

Data input energi = Nilai rata-rata biaya energi tahun 2011 + Biaya pemakaian listrik perbulan

= Rp.84.747.017,00 + Rp. 2.537.288,00 = Rp.87.284.305,00

e. Data input perawatan dan instalasi

Jika alternatif 2 diterapkan, diprediksikan akan mempengaruhi jumlah input perawatan. Jumlah input perawatan adalah nilai rata-rata biaya perawatan tahun 2011 dijumlahkan dengan perwatan pada alternatif 2 setiap bulannya dikurangi pengolahan limbah tandan kosong dan limbah cair.

Data input perawatan = Nilai rata-rata biaya perawatan tahun 2011 + biaya perawatan pada alternatif 2 – penanganan tandan kosong – penanganan limbah cair

= Rp.303.748.650,30 + Rp.19.585.798,67 – Rp.93.288.000,00 – Rp.41.666.666,67

= Rp.188.379.782,3 f. Data waste

Data ini merupakan rata-rata jumlah limbah tandan kosong dan limbah cair yang diperoleh dari pengolahan minyak kelapa sawit. Tandan kosong

sawit dan limbah cair seluruhnya dijadikan kompos maka jumlah limbah adalah 0 (nol).

Untuk perhitungan Green Productivity Ratio (GPR) caranya sama dengan perhitungan pada kondisi sekarang. Untuk menghitung Green Productivity Index (GPI) dilakukan dengan menggunakan rumus berikut.

Contoh perhitungan GPI untuk tenaga kerja pada alternatif 2.

Dalam perhitungan GPI untuk material, tenaga kerja, energi dan maintenance, nilai diatas 1 menunjukkan perbaikan, sedangkan untuk waste nilai diatas 1 menunjukkan adanya peningkatan dampak lingkungan yang terjadi. Melalui perhitungan GPI untuk tenaga kerja tidak terjadi peningkatan indeks dibanding dengan sebelumnya.

Perhitungan untuk GPR dan GPI sama seperti pada alternatif 2 dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel 5.20.

Perhitungan biaya untuk masing-masing alternatif, kondisi sekarang, alternatif 1 dan 2 sebagai usulan yang diberikan dapat dilihat pada tabel 5.19.

Tabel 5.19. Perhitungan Biaya untuk Masing-masing Alternatif

Faktor Kondisi

Sekarang Alternatif 1 Alternatif 2

Output (Rp) (Rp) (Rp)

Penjualan Minyak dan Inti

Tabel 5.19. Perhitungan Biaya untuk Masing-masing Alternatif (Lanjutan)

Faktor Kondisi

Sekarang Alternatif 1 Alternatif 2

Input (Rp) (Rp) (Rp)

Input Material 336.564.444,80 336.564.444,80 336.564.444,80 Input Tenaga Kerja 600.764.400,90 634.364.400,90 607.764.400,90 Input Energi 84.747.017,00 124.747.017,00 87.284.305,00 Input perawatan dan instalasi 303.748.650,30 607.123.317,00 188.379.782,30 Waste (tandan kosong +

limbah cair) 3.901,40 168,89 0,00

Hasil Perhitungan Green Productivity Ratio (GPR) dan Green Productivity index (GPI) untuk masing masing alternatif dapat dilihat pada tabel 5.20.

Tabel 5.20. Hasil Perhitungan GPR dan GPI masing-masing Alternatif Green Productivity Indicators *KS GPR KS GPI Alt.1 GPR Alt.1 GPI Alt.2 GPR Alt.2 GPI Input Material 88,01 1,00 90,19 1,02 89,24 1,01

Input Tenaga Kerja

49,30 1,00 47,85 0,97 49,42 1,00

Input Energi

349,51 1,00 243,34 0,70 349,49 1,00 Input perawatan dan

instalasi

97,51 1,00 50,00 0,51 159,43 1,63 Waste (tandan kosong +

limbah cair)

0,25 1,00 0,01 0,04 0,00 0,00

*KS : Keadaan Sekarang

Dari hasil perhitungan alternatif yang terpilih adalah alternatif 2, terlihat dari nilai GPI dari tenaga kerja, material, energi, perawatan dan instalasi mendapat nilai GPI yang lebih besar dari 2 yang berarti dengan menerapkan

alternatif ini terbukti ada peningkatan perbaikan dan GPI untuk waste menunjukkan adanya peningkatan dampak lingkungan yang terjadi.

Selain pertimbangan produktivitas yang dihasilkan, analisis finansial juga dilakukan dengan menggunakan Analisis benefit-cost ratio. Analisis benefit-cost ratio merupakan alat yang dipakai untuk membuat keputusan publik dengan mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat. Analisis benefit-cost ratio ini hanya menitikberatkan pada efisiensi penggunaan faktor produksi tanpa mempertimbangkan masalah lain seperti distribusi, stabilisasi ekonomi dan sebagainya. Analisis ini hanya menentukan program dari segi efisiensi sedangkan pemilihan pelaksanaan program berada di tangan pemegang kekuasaan eksekutif yang dalam memilih juga mempertimbangkan faktor lain.

Analisa benefit-cost ratio diestimasikan hingga periode 2 tahun mendatang dan tingkat suku bunga 11%. Hasil perhitungan indeks benefit-cost ratio setiap alternatif yang diusulkan adalah sebagai berikut:

a. Alternatif 1

Pada alternatif 1 yang diusulkan yaitu pendirian proyek Pembangkit listrik Tenaga Biomassa Sawit, diperoleh jumlah benefit dan cost sebagai berikut: Benefit = Penerimaan (P/A.i%.n)

= (Penghematan biaya penyebaran Tandan kosong + Penerimaan dari pengutipan minyak + Pendapatan dari penjualan daya listrik) x (P/A.11%.2)

= (Rp.1.119.456.000,00 + Rp.2.920.320.000,00 + Rp.8.839.584.000,00) x (1,713)

= Rp.22.062.343.680,00

Cost = Investasi awal + Biaya Opersional (P/A.i%.n)

= Rp.42.700.000.000,00 + Rp.5.148.000.000,00 (1,713) = Rp.51.518.524.000,00

= = 0,428

b. Alternatif 2

Pada alternatif 2 yang diusulkan yaitu pengomposan limbah pengolahan kelapa sawit, diperoleh jumlah benefit dan cost sebagai berikut:

Benefit = Penerimaan (P/A.i%.n)

= (Penghematan biaya penyebaran Tandan kosong + Penghematan biaya perawatan dan operasional limbah cair + Substitusi pupuk) x (P/A.11%.2)

= (Rp.1.119.456.000,00 + Rp.500.000.000,00 + Rp.4.970.484.000) x (1,713)

= Rp.11.288.567.220,00

Cost = Investasi awal + Biaya Opersional (P/A.i%.n) = Rp.2.400.295.840,00 + Rp. 354.477.040,00 (1,713) = Rp.3.554.304.610,00

= = 3,176

Berdasarkan hasil perhitungan indeks BCR, terlihat bahwa alternatif 1 memiliki indeks BCR sebesar 0,428 yang berarti jauh lebih menguntungkan dibanding alternatif 2 yang memilki indeks BCR 3,176 . Oleh karena itu, alternatif 2 dipilih menjadi alternatif solusi yaitu pengomposan limbah pengolahan minyak kelapa sawit.

5.2.4. Estimasi Alternatif Solusi

Estimasi alternatif solusi dilakukan terhadap peningkatan produktivitas menggunakan tabel biaya untuk masing-masing alternatif dibandingkan kondisi sekarang yang diuraikan pada tabel 5.21 berikut dengan menggunakan persamaan berikut:

Tabel 5.21. Perhitungan Peningkatan Produktivitas Total

Faktor Kondisi

Sekarang Alternatif 1 Alternatif 2 Penjualan Minyak dan Inti

Sawit 29.619.574.781 30.356.206.780 30.033.781.781 Input Material 336.564.444,80 336.564.444,80 336.564.444,80 Input Tenaga Kerja 600.764.400,90 607.764.400,90 607.764.400,90 Input Energi 84.747.017,00 124.747.017,00 87.284.305,00 Input perawatan dan instalasi 303.748.650,30 607.123.317,00 188.379.782,30

Rata-rata nilai produktivitas total yang diperoleh pada periode januari sampai desember 2011 adalah sebesar 22,34 dan pada periode estimasi produktivitas total diperoleh sebesar 24,61 yang berarti bahwa terjadi peningkatan produktivitas sebesar 2,27.

BAB VI

ANALISA PEMECAHAN MASALAH

6.1. Analisa

Dokumen terkait