ANALISIS HASIL PENELITIAN
B. Peran LSM Forppendik dalam Menyoroti Kualitas Pendidikan di Kota Depok Tahun 2006
2. Memonitoring bantuan biaya pendidikan bagi siswa DO dan rawan DO. Dinas Pendidikan Kota Depok mencatat sejumlah 3.900 siswa
dinyatakan DO dan 26.700 anak lainnya terancam DO (per-April 2005). Bahkan LSM Forppendik mensinyalir pada tahun 2006 dari angka rawan DO tadi (26.700 siswa) sebanyak 20 % atau 5.340 siswa diantaranya putus sekolah. Jadi totalnya 9.240 siswa diperkirakan putus sekolah. Menurut Cornelis, alasannya jelas karena faktor kemiskinan. Apalagi, dengan harga barang-barang kebutuhan hidup yang kian tidak terjangkau dan rencana bakal naiknya sejumlah kebutuhan lainnya, hal ini akan memicu bertambahnya jumlah kemiskinan yang ada di Indonesia, juga tidak menutup kemungkinan faktor kriminalitaspun akan bertambah, seiring dengan bertambahnya jumlah kemiskinan dan pengangguran.
LSM Forppendik melakukan pendataan siswa DO dan rawan DO (data yang sudah terhimpun ada 168 anak tahun 2006) hal ini dalam upaya membantu sebagian biaya pendidikan siswa tersebut untuk mengenyam pendidikan secara baik dan layak. Setelah didata, selanjutnya LSM Forppendik akan melakukan validasi data (door to door) untuk mengecek kebenaran data yang diperoleh sebelumnya. Setelah divalidasi, LSM Forppendik menyerahkan data tersebut ke Dinas Pendidikan Kota Depok untuk ditindaklanjuti.
Pada tahun 2006, LSM Forppendik menghimpun data sekitar 168 anak usia sekolah rawan DO dan tidak mampu di 6 Kecamatan di Kota Depok dan meminta Disdik Depok mengalokasikan dana bantuan kepada siswa tersebut.68 Dalam APBD tahun 2006 menurut Cornelis. Disdik kembali mengalokasikan
68
bantuan biaya pendidikan bagi siswa DO dan rawan DO untuk jenjang SD, SMP dan SMA sederajat di Kota Depok dengan total anggaran Rp.750 juta, bantuan tersebut diberikan langsung kepada orang tua tidak mampu yang terjaring. Sedangkan pada tahun 2007 ini dana tersebut sudah tidak ada lagi. Bantuan lainnya- masih bagi siswa tidak mampu (rawan DO) senilai Rp.879 juta bersumber dari APBD 2006. Bantuan ini diberikan kepada siswa tak mampu melalui pihak sekolah, dengan melampirkan persyaratan yakni, menyerahkan foto copi Kartu Keluarga, KTP dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).69
Bantuan siswa rawan DO dan tidak mampu di SDN Tugu 8 Cimanggis Depok tahun 2006.
a) Latar belakang murid SDN Tugu 8 Cimanggis
Siswa-siswi SDN Tugu 8, rata-rata berlatar belakang dari keluarga atau orang tua yang tidak mampu/kelas menengah ke bawah. Menurut Sjariah (Kepala Sekolah SDN Tugu 8), disekitar wilayah Kelurahan Tugu banyak terdapat sekolah-sekolah swasta tingkat SD/MI yang elit, fasilitasnya menunjang, gedung sekolah yang bagus dan sarana-prasarananya sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan Sekolah Dasar Negeri (SDN), tetapi banyak orang tua siswa yang mampu dan rata–rata dari keluarga yang berpenghasilan tinggi akan menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta tersebut, sebaliknya, mereka tidak memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri. Bagi orang tua yang tidak mampu, mereka akan menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri yang berada
69
Cornelis Leo Lamongi, “Komite Sekolah Boleh Pungut Biaya ke Masyarakat”, Monitor Depok, 12 Agustus 2006, hal. 6
disekitar lingkungannya, menurutnya sekolah negeri adalah satu-satunya sekolah alternatif yang murah setelah pesantren salafi, dan pola pikir masyarakat di lingkungan Kelurahan Tugu, sampai saat ini masih seperti itu.
Adapun kondisi masyarakat di lingkungan Kelurahan Tugu atau sekitar SDN Tugu 8, untuk masyarakat pribuminya rata-rata bermata pencarian sebagai pedagang sebagian memiliki kontrakan, dan hanya mengandalkan dari penghasilan kontrakan saja. Sebagian masyarakat juga ada yang bekerja sebagai buruh pabrik, tetapi sedikit sekali bagi masyarakat pribumi yang bekerja dikantor. Bagi para pendatang, sebagian besar meraup rejeki dari hasil berdagang, sebagai buruh pabrik, kuli bangunan yang bertempat tinggal dikontrakan, dan bagi pendatang yang sudah mapan dan berpenghasilan tinggi, mereka lebih memilih tinggal di perumahan/komplek yang masih dalam ruang lingkup Kelurahan Tugu.
Masih menurut Kepala Sekolah SDN Tugu 8, dilain hal masalah prestasi murid, tidak menutup kemungkinan bahwa murid–murid SDN Tugu 8 lebih berprestasi bila dibandingkan dengan sekolah swasta. Murid–murid di SDN Tugu 8 memiliki semangat belajar yang tinggi, hal ini juga dipicu dari faktor keluarga mereka yang menginginkan anak-anaknya kelak nanti kalau sudah besar menjadi orang pintar. Sekalipun pihak sekolah menyayangkan latar belakang murid di SDN Tugu 8 berasal dari keluarga kelas menengah kebawah, tetapi mereka sangat bangga dengan semangat belajar yang tinggi dan rajin belajar yang dimiliki muridnya.70
70
b) Prestasi yang diraih murid SDN Tugu 8 Cimanggis
Pada tahun 2006, murid SDN Tugu 8 meraih beberapa prestasi, diantaranya:
Menjadi peserta terbaik dalam uji coba UN di tingkat Kecamatan Cimanggis
Menjadi juara ke tiga lomba Matematika (MTK) se-Kecamatan Cimanggis.
Menjadi juara 1 dalam lomba Atletik tingkat Kota Depok Peringkat ke 7 dalam Ujian Nasional (UN) di tingkat Kecamatan
c) Tingkat kedisiplinan murid SDN Tugu 8 Cimanggis
Pihak sekolah SDN Tugu 8 telah membuat peraturan–peraturan yang harus dilaksanakan oleh murid, diantaranya peraturan tersebut adalah: setiap hari senin sampai hari kamis siswa-siswi wajib mengenakan pakaian merah putih dilengkapi atribut (bet lokasi, topi, sabuk, kaos kaki, dasi) dan sepatu berwarna hitam, pada hari jum’at mengenakan pakaian muslim merah putih yakni bagi laki-laki memakai celana panjang dan baju koko dengan memakai peci, sedang bagi perempuannya mengenakan rok panjang serta baju lengan panjang dengan memakai jilbab, pada hari sabtu siswa-siswi mengenakan seragam pramuka.
Bagi siswa-siswi yang melanggar peraturan akan diberikan sanksi diantaranya yakni membersihkan halaman sekolah, dan sebagainya. Murid-murid SDN Tugu 8 sangat taat dan mematuhi dalam menjalankan peraturan yang ada disekolah. Menurut Widayati (Bendahara SDN Tugu 8), pernah ada murid yang
tidak memakai sepatu hitam, dasi, topi SD dan tidak mempunyai pakaian pramuka, lalu setelah ditanyakan ternyata orang tuanya tidak mampu membelikan, maka pihak sekolah berinisiatif membelikannya dan diberikan kepada murid tersebut.71
Adapun kegiatan ekstra kulikuler di SDN Tugu 8 yakni: Paskibra setiap hari minggu, pramuka setiap hari jum’at dan baca tulis Al-Quran setiap hari kamis oleh guru agama. Bagi kelas 6 diadakan les seusai pulang sekolah selama 3 kali dalam seminggu, mengenai bayaran les ini pihak sekolah memungut bayaran seiklasnya dari orang tua murid karena tidak ditetapkan besaran biayanya.
d) Proses pencairan bantuan dana bagi murid SDN Tugu 8 Cimanggis
Menurut Kepala Sekolah SDN Tugu 8, sebelum dana BOS turun pada tahun 2004 pihak sekolah mengajukan bantuan dana bagi siswa yang tidak mampu ke Dinas Pendidikan Kota Depok. Pada waktu itu dana tersebut dinamakan BKM (Bantuan Kompensasi Murid) yang besarannya Rp.60.000 semester/murid dan hanya bagi murid yang berprestasi serta tidak mampu saja jadi tidak semua murid mendapatkannya. Pada tahun 2006, sekalipun sekolah sudah mendapatkan bantuan dana BOS yakni Rp.254.000 /Siswa/Tahun, tetapi untuk pembelian buku paket pelajaran dana tersebut masih belum mencukupi, dan pihak sekolah kembali menyerahkan permasalahan itu kepada orang tua murid.
Ada sebagian orang tua murid yang mengeluhkan mengenai beban biaya buku paket pelajaran ke LSM Forppendik dan salah satunya adalah orang tua
71
murid dari Gema Rajabi. Cornelis mengatakan, pada tahun 2006 ada orang tua murid yang datang kesekretariat LSM Forppendik meminta bantuan agar anaknya yang bernama Gema Rajabi sekolah di SDN Tugu 8 dibantu memperoleh bantuan dana untuk membeli buku paket pelajaran. Mungkin, ujar Cornelis, melihat kedekatan saya dengan kepala sekolah SDN Tugu 8. Tidak percaya begitu saja, LSM Forppendik mencari tahu tentang keberadaan dan latar belakang orang tua Gema Rajabi itu. Setelah dipastikan bahwa ternyata memang benar berasal dari keluarga yang tidak mampu, maka LSM Forppendik mendaftarkan murid Gema Rajabi untuk mendapatkan bantuan dana siswa rawan DO dan tidak mampu ke Dinas Pendidikan Kota Depok.
Pada bulan Agustus tahun 2006, Cornelis Leo Lamongi (Ketua LSM Forppendik) melakukan validasi ke SDN Tugu 8 untuk mengecek kebenaran data yang diperoleh dari orang tua siswa yang datang kesekretarit LSM Forppendik dan membawa surat keterangan tidak mampu untuk dimintai pertolongan bantuan dana. Nama siswa tersebut adalah Gema Rajabi kelas 3 SD, dan ternyata benar bahwa Gema Rajabi adalah murid SDN Tugu 8 kelas 3. lalu Cornelis berkordinasi dengan pihak sekolah agar membantu siswa yang tidak mampu agar orang tua siswanya tidak terbebani, dan LSM Forppendik akan mengupayakan pencairan dana tersebut.
Setelah dana bantuan siswa rawan DO dan tidak mampu cair dari Disdik Depok. Cornelis mendatangi SDN Tugu 8 dan meminta agar dihadiri dan disaksikan oleh orangtua Gema Rajabi. Besaran dana tersebut Rp.118.000/Siswa/Tahun untuk jenjang SD sedang untuk SMP
Rp.228.000/Siswa/Tahun dan untuk SMA Rp.342.000/Siswa/Tahun. Pihak sekolah SDN Tugu 8 pada waktu itu mengajukan 20 nama siswa yang tidak mampu agar juga dibantu oleh LSM Forppendik, tetapi yang dibantu hanya satu orang yakni Gema Rajabi.72 Hal ini setelah dikonfirmasi Cornelis dikarenakan keterbatasan dana, dan LSM Forppendik juga membantu pencairan dana sebanyak 168 murid yang tersebar di Kota Depok, Ia juga menghimbau agar pihak sekolah juga membantu siswa yang tidak mampu tersebut, karena LSM Forppendik hanyalah mediator/fasilitator antara Disdik Depok dengan orang tua siswa.
Adapun bantuan yang diberikan dari pemerintah melalui LSM Forppendik yang diterima oleh pihak sekolah SDN Tugu 8, akan disalurkan untuk pembelian buku paket pelajaran, walaupun pihak sekolah menyayangkan karena dana tersebut dirasa masih kurang. Buku paket pelajaran pada waktu itu sebesar Rp.180.000, jadi pihak sekolah mensubsidi melalui dana BOS untuk mencukupinya. Menurut Kepala Sekolah SDN Tugu 8, Gema Rajabi memang berhak mendapatkan bantuan itu. Latar belakang orang tuanya berasal dari keluarga yang tidak mampu, tempat tinggalnya selalu berpindah-pindah dikarenakan keluarganya masih mengontrak, pekerjaan ibunya adalah buruh cuci pakaian sedang bapaknya sebagai tukang serabutan dan terkadang juga bekerja sebagai tukang ojeg, dengan memberi setoran kepada pemiliknya.73
Secara umum pengertian siswa rawan DO menurut Kadisdik Depok, Sriyamto, mengatakan yaitu siswa yang secara ekonomi orang tuanya tidak kuat membiayai pendidikan anaknya. Terkait dengan biaya personal, seperti buku
72
Sjariah, Wawancara Pribadi, 29 November 2007, pukul 11.00–12.30 73
pelajaran, seragam dan transport harian.74 Dilain hal, LSM Forppendik menilai program Pemkot Depok seperti bantuan dana rawan DO dan biaya pendamping BOS bagi SD negeri merupakan langkah yang baik dalam mengatasi jumlah siswa rawan DO, namun masih belum cukup. Porsi bantuan anggaran bagi sekolah swasta terutama madrasah yang jumlahnya mencapai 80 % masih timpang dibanding sekolah negeri, padahal mereka juga berhak atas bantuan dari Pemkot Depok, malah disekolah-sekolah inilah jumlah siswa rawan DO diketahui lebih banyak, sementara itu pihak sekolah juga harus mencari dana untuk menghidupi sekolahnya.
Selain itu, Cornelis juga menganggap mekanisme subsidi silang ditingkat satuan pendidikan tidak benar-benar berjalan. Harusnya dana pembangunan fisik disekolah tak perlu dihapuskan, tapi dikumpulkan dari orang tua yang mampu. Sementara anggarannya yang mencapai Rp. 81 miliar, digunakan untuk peningkatan kualitas pendidikan di Kota Depok, karena sangat ironis sekali, bagi mereka yang berlatar belakang dari keluarga yang mampu juga tidak dikenakan biaya, sedangkan disaat pihak sekolah memungut biaya untuk pembelian buku paket pelajaran dan pungutan untuk ujian sekolah, pihak sekolah sama sekali tidak menghiraukan apakah murid tersebut berlatar belakang dari keluarga mampu atau tidak mampu, malahan yang terjadi, pihak sekolah terus menekan agar pungutan biaya tersebut harus segera dilunasi. Ini membuktikan indikasi mekanisme subsidi silang itu tidak berjalan.
74
Sriyamto, “Angka Rawan DO Memprihatinkan; Disdik: Bebaskan Biaya Pendidikan Siswa Miskin”, Monitor Depok, 4 Oktober 2006, hal.7
D. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menjalankan Kegiatan LSM Forppendik.
Dalam melakukan monitoring/pengawasan terhadap bantuan dana pendidikan, khususnya yang dilakukan LSM Forppendik di SDN Tugu 8, yang menjadi pemicu faktor pendukungnya, yakni:
Pertama, adanya orang tua murid SDN Tugu 8 yang datang kesekretariat LSM Forppendik, mengeluhkan tentang pemungutan dana untuk buku pelajaran dan meminta bantuan kepada LSM Forppendik untuk mencarikan dana agar anaknya dapat terus belajar/sekolah dan mendapatkan buku pelajaran. Orang tua murid tersebut juga mengaku berasal dari keluarga yang tidak mampu. Hal ini, menjadi perhatian tersendiri bagi LSM Forppendik untuk menyelidiki dan me-monitoring bantuan dana BOS di SDN Tugu 8, kemana penyalurannya, dan LSM Forppendik menyarankan agar bagi orang taua siswa yang tidak mampu diprioritaskan untuk dibantu.
Kedua, adanya respon yang sangat baik dari pengurus sekolah SDN Tugu 8 dalam menyambut keberadaan LSM Forppendik yang selalu memberikan masukan, ide/pemikiran guna membenahi pendidikan di Kota Depok. Tanpa adanya kerjasama yang baik dengan penyelenggara pendidikan, LSM Forppendik tidak dapat melakukan program kerjanya secara baik.
Ketiga, adanya kerjasama yang baik (sinergi) dari Pemkot Depok dalam merespon masalah-masalah pendidikan, terutama masalah pendidikan yang ditemukan oleh LSM Forppendik, semisal; temuan 168 anak usia sekolah rawan
DO dan tidak mampu di enam Kecamatan Kota Depok yang harus segera dicairkan dananya dan salah satunya terdapat di SDN Tugu 8 Cimanggis.
Dalam melakukan monitoring/pengawasan terhadap bantuan dana pendidikan, khususnya yang dilakukan LSM Forppendik di SDN Tugu 8, juga tak luput mengalami hambatan, diantaranya yakni: kurang/minimnya dana operasional yang dimiliki LSM Forppendik, hal ini dipicu karena LSM Forppendik belum memiliki donatur tetap, jadi menurut Cornelis, selama ini operasional LSM Forppendik dari pengurus saja, sedangkan untuk pergi ke SDN Tugu 8, pakai dana sendiri.
Respon pihak sekolah SDN Tugu 8 terkait keberadaan LSM Forppendik
Menurut Sjariah (kepala sekolah SDN Tugu 8), keberadaan LSM Forppendik di Kota Depok merupakan suatu langkah kemajuan bagi perkembangan pendidikan, karena LSM Forppendik ini turut membantu agar anak-anak yang tidak mampu itu dapat pula mengenyam pendidikan sampai jenjang minimal 9 tahun atau tamatan SLTP yang layak. LSM Forppendik dalam kiprahnya itu turut pula membantu pemerintah dalam menuntaskan Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun dan memerangi buta huruf. Karena di Kota Depok ini, masih saja banyak masyarakat yang tidak bisa membaca. Kepala sekolah SDN Tugu 8 juga menghimbau agar LSM Forppendik jangan hanya mencari dan mengorek kesalahan di sekolah-sekolah saja, karena pihak sekolah lebih mengetahui permasalahan sekolahnya secara mendalam dan sekolah mempunyai cara tersendiri dalam menyelesaikan masalahnya itu.
Bagi Widayati (Bendahara SDN Tugu 8), LSM Forppendik diharapkan menjadi mitra sejajar dengan pihak sekolah dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Selama LSM Forppendik tidak mensgatur sekolah apalagi meng-audit keuangan sekolah dan membantu masyarakat agar dapat mengecam pendidikan yang layak di Kota Depok, maka pihak sekolah akan tetap eksis membantu apa saja yang dibutuhkan LSM Forppendik.
BAB V
PENUTUP