• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Memusatkan Perhatian Siswa

1) Guru bertanya pada siswa berhubungan dengan materi 2, 10, 34, 37, 41, 62, 80 2) Guru bertanya pada siswa berhubungan dengan contoh soal 6, 8 3) Guru bertanya pada siswa berhubungan dengan alat peraga 4, 36 b. Memusatkan perhatian siswa dengan memberi teguran 40, 67 c. Memusatkan perhatian siswa dengan mempersiapkan alat peraga 12, 27, 45, 63 d. Memusatkan perhatian siswa dengan memberi soal 11, 13, 19-20, 24, 44, 50, 52, 65, 68 e. Memusatkan perhatian siswa dengan membagikan LKS 25, 57, 73, 77 2 Memberi Pengasuhan

Sub kategori :

a. Memberi Pengarahan

1) Guru memberi pengarahan pada siswa dalam memberikan materi 1, 35, 38, 39, 42, 64 2) Guru memberi pengarahan pada siswa dalam pemakaian alat

peraga

3, 14, 28-29, 33, 43, 49, 61, 66

3) Guru memberi pengarahan pada siswa dalam pengerjaan soal 26, 31, 51, 72, 76

b. Memberi Bimbingan

1) Guru memberi bimbingan saat siswa mengerjakan soal 22

2) Guru memberi bimbingan saat siswa menggunakan alat peraga 18, 30, 47, 60 3) Guru memberi bimbingan pada siswa yang kurang aktif 70, 74 c. Memberi Pengawasan 16, 17, 21, 32,

46, 58, 78 3 Memperlihatkan cara penggunaan alat peraga 5, 9, 54 – 56 4 Mengoreksi hasil kerja siswa 15, 23, 48, 53, 59,

Kegiatan Guru Memfasilitasi Proses Belajar

Memusatkan perhatian Memberi pengasuhan Memperlihatkan Mengoreksi

siswa cara penggunaan hasil kerja

alat peraga siswa

Bertanya Memberi Mempersiapkan Memberi Membagikan Memberi Memberi Memberi teguran alat peraga soal LKS pengarahan bimbingan pengawasan

24 BAB V

HASIL PENELITIAN

Dalam bab ini dikemukakan hasil penelitian tentang kegiatan guru

memfasilitasi proses belajar siswa dengan metode Montessori pada pokok

bahasan membaca dan menulis lambang bilangan.

Berdasarkan proses pembelajaran Montessori, kegiatan guru dalam

menfasilitasi proses belajar siswa antara lain : (i) memusatkan perhatian siswa, (ii)

memberi pengasuhan, (iii) memperlihatkan cara penggunaan alat, (iv) mengoreksi

hasil belajar siswa

A. Memusatkan Perhatian Siswa

Dalam memusatkan perhatian siswa, kegiatan guru dalam memfasilitasi

proses belajar siswa pada pokok bahasan membaca dan menulis lambang bilangan

terbagi menjadi lima, yaitu : (i) dengan bertanya, (ii) dengan memberi teguran,

(iii) dengan mempersiapkan alat peraga, (iv) dengan memberi soal, (v) dengan

membagikan LKS.

1. Dengan bertanya

Kegiatan guru dalam memfasilitasi proses belajar siswa dengan bertanya

terbagi menjadi tiga, yaitu berhubungan dengan materi, berhubungan dengan

contoh soal, dan berhubungan dengan alat peraga.

Kegiatan guru dalam bertanya yang berhubungan dengan materi terjadi pada

saat guru menyampaikan materi yang akan dipelajari siswa yaitu mengenal

materi yang telah dipelajari siswa yaitu lambang bilangan dua puluh. Guru

bertanya pada semua siswa tentang lambang bilangan yang sudah dipelajari

sebelumnya terjadi pada saat awal pelajaran. Hal ini dilakukan agar guru dapat

mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap materi yang sudah diperoleh

pada pembelajaran sebelumnya. Pada pertemuan pertama, guru bertanya sebagai

berikut :

1. G : “Adik masih ingat tidak ini lambang bilangan berapa ?”

2. SA : “Dua puluh…”

Guru menunjukkan kepada siswa lambang bilangan 20 dengan

menggunakan papan seguin. Papan seguin tersebut dipegang oleh guru dan

diperlihatkan pada siswa dengan tangan menunjuk pada bilangan 20, siswa

diminta menjawab pertanyaan guru dengan membaca lambang bilangan yang

ditunjukkan tersebut, siswa dapat membaca lambang bilangan tersebut dengan

benar. Dari jawaban yang disampaikan siswa, guru mengetahui bahwa siswa

sudah memahami lambang bilangan pada pertemuan sebelumnya yaitu lambang

bilangan 20, sehingga guru dapat menyampaikan materi yang baru.

Pada pertemuan kedua, guru juga bertanya tentang materi sebelumnya,

yaitu lambang bilangan dua puluh satu sampai dua puluh sembilan. Guru bertanya

sebagai berikut :

1. G : “Kemarin kita sudah belajar tentang apa ? masih ingat atau tidak ? belajar

apa ? bilangan dua puluh satu sampai …?”

26

Guru bertanya pada siswa dengan pertanyaan yang diulang-ulang, hal ini terjadi

karena guru melihat bahwa siswa kurang memahami maksud dari pertanyaan yang

disampaikan oleh guru, sehingga guru perlu mengulang pertanyaan sampai siswa

dapat memahami pertanyaan tersebut. Setelah siswa dapat memahami maksud

pertanyaan tersebut, siswa dapat menjawab dengan benar.

Dari jawaban yang siswa sampaikan, guru dapat mengetahui bahwa siswa

sudah memahami materi sebelumnya, yaitu lambang bilangan dua puluh satu

sampai dua puluh sembilan, sehingga guru dapat menyampaikan materi yang baru

yaitu lambang bilangan dua puluh satu sampai empat puluh sembilan.

Pada pertemuan ketiga, guru bertanya tentang materi yang telah

disampaikan pada pertemuan kedua, yaitu lambang bilangan dua puluh satu

sampai empat puluh sembilan. Guru bertanya sebagai berikut :

1. G : “Kita akan melanjutkan pelajaran kemarin ya…, kemarin kita sudah

belajar bilangan dua puluh satu sampai ?”

2. SA : “Empat puluh sembilan.”

Dari jawaban yang disampaikan siswa, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa

memahami materi yang telah guru sampaikan pada pertemuan sebelumnya. Pada

pertemuan ketiga ini, guru tidak menyampaikan materi baru pada siswa. Guru

mengulang materi yang sudah dipelajari siswa pada pertemuan – pertemuan

sebelumnya dengan memberikan soal-soal baik secara lisan maupun dalam bentuk

Guru juga bertanya pada semua siswa tentang lambang bilangan yang

sedang dipelajari, hal ini terjadi pada saat guru menjelaskan materi mengenal

lambang bilangan dua puluh satu sampai dengan empat puluh sembilan. Dalam

menjelaskan materi tersebut guru melibatkan siswa dengan memberi pertanyaan.

Misalnya pada pertemuan kedua, guru bertanya sebagai berikut :

1. G : “Setelah dua puluh sembilan, selanjutnya bilangan berapa ?”

2. SA : “Tiga puluh…”

Guru meminta siswa menjawab pertanyaan tersebut, yaitu dengan

menyebutkan bilangan yang dimaksud. Setelah siswa memberikan jawabannya,

guru menunjukkan lambang bilangan yang disebutkan oleh siswa dengan papan

seguin. Guru memegang papan seguin yang menunjukkan lambang bilangan tiga

puluh dan memperlihatkan pada siswa lambang bilangan tersebut. Hal ini

dilakukan oleh guru, agar siswa lebih aktif dalam proses belajar, sehingga siswa

dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru.

Kegiatan guru dalam bertanya yang berhubungan dengan contoh soal dari

lambang bilangan, terjadi pada saat guru memberikan contoh soal tentang

menunjukkan lambang bilangan dua puluh satu sampai empat puluh sembilan.

Dalam memberikan contoh soal tersebut, guru melibatkan siswa dalam

penyelesaiannya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada siswa.

Misalnya pada pertemuan pertama, guru bertanya sebagai berikut :

1. G : “Sekarang G memasang ini…, berapa ini ?” [guru memasang kartu angka

1 pada papan seguin, tepat menutup angka 0 di belakang bilangan 20]

28

Guru memberikan contoh soal menunjukkan lambang bilangan dua puluh

satu dengan papan seguin. Pada saat guru menunjukkan lambang bilangan

tersebut guru bertanya pada siswa tentang lambang bilangan yang ditunjukkan

pada papan seguin. Setelah siswa menjawab dengan benar, guru menunjukkan

kuantitas dari bilangan dua puluh satu tersebut dengan menggunakan alat peraga

gelas dan kelereng. Dengan memberi pertanyaan-pertanyaan saat memberikan

contoh soal, siswa dapat aktif dalam menyelesaikan contoh soal, selain itu siswa

lebih bisa memusatkan perhatiannya pada penjelasan guru dalam memberikan

contoh soal, sehingga siswa lebih memahami cara pengerjaan soal.

Kegiatan guru dalam bertanya yang berhubungan dengan alat peraga

terjadi pada saat guru menjelaskan penggunaan alat peraga gelas, kelereng,

manik-manik, batu, dan stik. Dalam menjelaskan aturan penggunaan alat peraga

tersebut, guru menggunakan dua alat peraga dari beberapa alat peraga yang

tersedia, yaitu gelas dan kelereng. Hal ini dilakukan agar siswa lebih memahami

penggunaan alat peraga, yaitu memilih salah satu alat peraga untuk menyelesaikan

soal, alat peraga yang dipilih di sini adalah kelereng, manik-manik, stik, dan batu.

Misalnya pada pertemuan pertama, pada saat guru menjelaskan aturan

penggunaan alat peraga gelas dan kelereng, guru bertanya pada siswa jumlah

gelas yang digunakan dalam menyelesaikan bilangan 20. Guru bertanya sebagai

berikut :

1. G : “Kalau satu gelas ini diisi paling banyak sepuluh kelereng, kalau kita akan

menunjukkan banyaknya dua puluh, kita membutuhkan berapa gelas ?”

Guru memperlihatkan pada siswa alat peraga gelas dan kelereng saat

menjelaskan aturan penggunaanya. Guru menggunakan contoh bilangan untuk

memperlihatkan pada siswa cara menggunakan alat peraga tersebut, misalnya

dengan bilangan dua puluh. Dengan menggunakan bilangan untuk menjelaskan

aturan penggunaan alat peraga gelas dan kelereng tersebut, siswa lebih memahami

penggunaan alat peraga tersebut.

Dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan saat guru menjelaskan

aturan penggunaan alat peraga, siswa lebih aktif dalam proses belajar dan lebih

memahami penggunaan alat peraga. Selain itu pada pertemuan kedua, guru

bertanya tentang nama alat peraga yang akan digunakan dalam pembelajaran,

yaitu papan seguin. Hal ini dilakukan guru untuk mengingatkan siswa tentang

nama alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran.

2. Dengan memberi teguran

Kegiatan guru dalam memfasilitasi proses belajar siswa dengan memberi

teguran terjadi pada saat ada siswa yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran. Misalnya pada pertemuan pertama, saat guru memberikan contoh

soal dan melibatkan siswa dalam penyelesaiannya, ada siswa yang tidak aktif

dalam menyelesaikan contoh soal, guru memberi teguran pada siswa tersebut,

teguran yang diberikan sebagai berikut :

1. G : “Kalau satu paling banyak diisi sepuluh, kalau dua puluh kita

membutuhkan berapa gelas ? A2 berapa ? coba A2 ambil dua puluh dan

satu gelas paling banyak sepuluh, berani tidak ?”

30

Guru melihat siswa tersebut kurang memperhatikan penjelasan dari guru,

sehingga guru menegur siswa tersebut dengan memberikan pertanyaan. Guru

memberi teguran pada siswa tersebut dengan bertanya tentang materi yang sedang

dijelaskan. Seperti teguran yang guru berikan di atas, guru menegur dengan

bertanya tentang banyak gelas yang harus digunakan untuk menunjukkan

kuantitas dari bilangan dua puluh. Hal ini dilakukan agar siswa kembali aktif dan

memusatkan perhatiannya pada penjelasan guru.

Selain itu, kegiatan guru dalam memfasilitasi proses belajar siswa dengan

memberi teguran juga terjadi pada saat ada siswa yang dari awal pelajaran tidak

mau mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini terjadi pada pertemuan ketiga, guru

memberi teguran sebagai berikut :

1. G : ”Ya semua siap ? A1 siap ? ayo... papannya diambil, kartunya diambil.

Yuk tebak-tebakan, cepat-cepatan ya...?”

2. A1 : ”Tidak mau.”

Dari awal kegiatan belajar dimulai, anak tersebut tidak mau mengikuti

kegiatan pembelajaran dan hanya menangis. Pada saat guru hendak memberikan

soal secara lisan pada semua siswa, guru memberikan teguran pada siswa yang

tidak aktif tersebut agar kembali mengikuti kegiatan pembelajaran dan

mengerjakan soal. Guru memberi teguran pada siswa tersebut dengan memberi

semangat pada siswa tersebut, tetapi siswa tersebut tetap tidak mau mengikuti

proses belajar. Guru tetap memberi semangat sampai siswa tersebut mau

kegiatan pembelajaran dapat memusatkan kembali perhatiannya pada proses

balajar, sehingga kembali aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

3. Dengan mempersiapkan alat peraga

Kegiatan guru dalam memfasilitasi proses belajar siswa dengan

mempersiapkan alat peraga terjadi pada saat akan dimulai pembelajaran dan pada

saat guru akan memberikan soal secara lisan. Sebelum dimulai proses belajar,

guru mempersiapkan alat peraga gelas, kelereng, stik, manik-manik, dan batu.

Alat peraga tersebut dipersiapkan dan diletakkan di almari alat. Selain itu, guru

juga mempersiapkan papan seguin yang diletakkan di atas meja alat peraga. Hal

ini dilakukan agar proses belajar dapat berjalan dengan lancar.

Mempersiapkan alat peraga pada saat guru akan memberikan soal secara

lisan, misalnya pada pertemuan pertama, pada saat guru akan memberikan soal

secara lisan, guru mempersiapkan alat peraga papan seguin dengan membagikan

alat peraga tersebut pada semua siswa. Hal ini dilakukan agar siswa bisa

memusatkan perhatian untuk mengerjakan soal yang akan diberikan oleh guru.

Selain itu, kegiatan guru memfasilitasi proses belajar siswa dengan

mempersiapkan alat peraga juga terjadi pada saat guru akan memberikan soal

dalam Lembar Kerja Siswa. Misalnya pada pertemuan pertama, setelah guru

memberikan contoh soal, guru memberikan soal dalam Lembar Kerja Siswa. Pada

saat guru memberikan contoh soal, guru menggunakan alat peraga gelas dan

kelereng, setelah selasai memberikan contoh soal guru mempersiapkan alat peraga

yang akan digunakan siswa dalam mengerjakan Lembar Kerja Siswa, yaitu

32

menyelesaikan contoh soal pada almari alat paraga. Alat peraga berupa kelereng,

batu, manik-manik, stik, dan gelas yang diletakkan di almari alat dan siswa

diminta memilih dan mengambil sendiri alat peraga tersebut di almari alat. Hal ini

dilakukan guru untuk memberikan kebebasan pada siswa untuk memilih alat

peraga sesuai keinginanya.

4. Dengan memberikan soal

Kegiatan guru dalam memfasilitasi proses belajar siswa dengan memberi

soal terjadi pada saat guru selesai memberikan materi dan memberikan contoh

soal. Misalnya pada pertemuan pertama, setelah memberikan contoh soal tentang

bilangan dua puluh satu sampai dua puluh sembilan, guru memberikan soal secara

lisan pada semua siswa. Guru meminta semua siswa menunjukkan lambang

bilangan yang akan disebutkan oleh guru dengan menggunakan papan seguin.

Soal-soal secara lisan tersebut adalah bilangan 21, 28, 25, 22, 27, 21, 24, 26, dan

29. Guru membacakan satu per satu bilangan tersebut dan siswa langsung

menunjukkan dengan papan seguin lambang bilangan yang dimaksud.

Selain itu guru juga memberikan soal dalam Lembar Kerja Siswa, yaitu

secara tertulis. Hal ini dilakukan agar guru dapat mengetahui pemahaman siswa

terhadap materi yang telah dipelajari.

5. Dengan membagikan LKS

Kegiatan guru dalam memfasilitasi proses belajar siswa dengan

membagikan lembar kerja siswa terjadi pada saat guru akan memberikan soal

secara tertulis pada semua siswa. Misalnya pada pertemuan ketiga, setelah guru

soal dalam bentuk lembar kerja siswa. Siswa tidak diminta mengambil sendiri

LKS yang akan dikerjakan, tetapi guru membagikan LKS tersebut pada

masing-masing siswa. Hal ini dilakukan agar proses belajar tetap berjalan dengan tertib

dan siswa tetap memusatkan perhatiannya pada kegiatan pembelajaran.

Dokumen terkait