• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menari Sepenuh Hati, Mengikat Keindonesiaan

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 109-114)

Eko Supriyanto yang lebih dikenal dengan sebutan Eko Pece adalah seorang penari ternama di negeri ini. Lebih dari seorang penari, ia juga merupakan seorang koreografer dan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Eko menjadi titik jumpa dari seni tari tradisional dengan seni tari kontemporer. Ia pun merupakan representasi dari seorang penari sekaligus pemikir, pencipta sekaligus inovator dari seni tari itu sendiri.

Pengaruh Eko tidak hanya di Indonesia, akan tetapi sudah menyebar sampai ke mancanegara. Muridnya pun demikian, selain dari Indonesia juga banyak yang berasal dari mahasiswa-mahasiswa asing.

Kehadiran Eko di jagad seni tari Indonesia memberikan nuansa dan warna tersendiri yang unik. Ia mampu mengangkat seni tari naik level dari sekadar ritual budaya-budaya lokal menjadi seni pertunjukan yang berkelas dan dapat dinikmati oleh masyarakat internasional. Karya trilogi yang berangkat langsung dari “pengalaman batin” masyarakat Indonesia berasal dari Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara merupakan bukti kesuksesan Eko membawa seni tradisi lokal ke pangung seni pertunjukan tari kontemporer internasional.

Eko lahir di Kalimantan Selatan pada 26 November 1970. Meski lahir di Kalimantan, masa kecil Eko tumbuh besar di Magelang, Jawa Tengah. Sejak kecil darah seni sudah mengalir dalam dirinya. Dalam usia tujuh tahun, Eko ikut seni pencak silat dan Jatilan, juga tari Jawa Klasik, dari kakeknya. Kebetulan kakeknya,

Djoyoprayitno, seorang penari Wayang Orang Sri Wedari, Solo, sejak tahun 1960-an. Ketika kakeknya meninggal, Eko kecil terus berguru tari kepada Kahari dan Alit Maryono.

Menginjak bangku SMP, Eko mulai belajar tari rakyat Kuda Lumping dan Kubro Siswo. Ia menempuh pendidikan S1 di Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI—kini Institut Senin Indonesia, ISI) Surakarta pada 1990. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya di program S2 MFA (master of fine arts), tahun 2001, di Dance and Choreography, Departement of World Arts and Cultures, University of California Los Angeles (UCLA), AS.

Di STSI dan UCLA inilah Eko banyak belajar teknik tari modern (modern dance).

Meski sudah banyak dikenal orang dan diperhitungkan sebagai salah seorang seniman tari ternama di Indonesia, hal itu tidak membuat Eko berhenti untuk mengembangkan dirinya. Ia melanjutkan program doktoralnya di Universitas Gajah Mada (UGM), tahun 2015, di bidang kajian seni pertunjukan. Ia pun mampu menyelesaikan disertasinya berjudul “Ikat Kait Impulsif Sarira: Gagasan yang Mewujud Era 1990-2019” dengan sangat baik. Program doktoral sudah diselesaikannya, akan tetapi tetap saja ia merasa masih kurang. Dahaga keilmuannya terus bergemuruh. Setelah itu, ia melanjutkan lagi program doktoralnya yang kedua di bidang penciptaan seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, tempat di mana ia sendiri mengajar sebagai dosen di jurusan tari.

Kiprah Eko di dunia internasional tidak dapat dipandang sebelah mata. Ia mengawali partisipasinya di level internasional karena keikutsertaannya dalam Indonesian Dance Festival 1993. Dari sana ia ikut American Dance Festival di New York tahun 1997. Kemudian dilanjutkan ke Durham North Carolina America dan

Asia Pasific Performance Exchange Programs 1998-1999 di Los Angeles. Di sana ia bekerja juga sebagai konsultan tari dalam karya Los Angeles and National Tour of Julie Taymor saat memproduksi teater Broadway Lion King. Ia pun pernah memiliki kesempatan untuk mengkoreografi produksi-produksi internasional, termasuk Le Grand Macabre (Peter Sellars), Opera Flowering Tree in Vienna (John Adam), the Barbican Centre di London, Berlin Philharmonic, The Lincoln Center in New York, dan LA Philharmonic, Lyn Dally Jazz Tap Ensemble Los Angeles. Ia pun sempat terlibat sebagai penari dalam tur konser “Drowned World”-nya Madonna.

Beberapa karya Eko yang pernah lahir: Without Body, Tawur (2009), Bedhaya Kertas (2008), eL, Opera Jawa “Iron Bed” (2007), Opera Jawa (2006) dan Opera Ronggeng (2005). Selain itu, Eko juga pernah terlibat di beberapa karya film seperti Kisah 3 Titik (2013), Opera Jawa (koreografi, 2006) dan Generasi Biru Negeri Tanpa Telinga (2014). Masih banyak karya-karya yang lainnya. Baru-baru ini Eko juga disibukkan sebagai penata koreografi tarian tradisional pada Pembukaan Asian Games 2018.

Atas semua prestasinya itu, Eko mengaku berutang banyak pada guru-gurunya yang berpengaruh, seperti Sardono W Kusumo, S Pamardi, dan Djarot B Darsono.

Melalui mereka, Eko banyak belajar bagaimana koreografi dibuat, tentang tradisi Indonesia dan kiat mengenal tradisi Indonesia lebih dekat lagi, termasuk anatomi budayanya, berikut inspirasi bagaimana melakukan pendekatan pada tradisi dan mengawinkannya dengan bahasa koreografi kontemporer.

Bagi Eko, seni tari bukan semata persoalan gerak tubuh sebagai seni pertunjukan, akan tetapi di belakangnya menyimpan banyak pelajaran hidup yang penting. Di

Undangan

dalam sebuah tarian terkandung di dalamnya gagasan, fokus terhadap hal yang detail, etos hidup, ruang kesadaran dan kepekaan, termasuk manusianya yang memiliki fisik, jiwa dan juga ruh. Eko menceritakan bagaimana ketika ia coba mengadopsi kehidupan di Jailolo menjadi sebuah tarian kontemporer yang hidup dan dinamis.

Ia coba gabungkan kekuatan pikir, rasa serta tubuh dalam karya tersebut. Perpaduan pikir, rasa dan tubuh inilah yang menjadikan koreografi yang digagas Eko memiliki keunikan tersendiri.

Ia memiliki pesan khusus tersendiri terkait dunia kesenian. Baginya, kesenian itu harus dipandang bukan semata sebagai hobi, akan tetapi kita harus juga menghidupinya. Totalitas berkarya menjadi syarat mutlak untuk menjadi seorang seniman yang profesional. Selain itu, seorang penari juga harus memiliki wawasan yang kritis sehingga bisa membuat jarak dengan dunia tari itu sekaligus juga terlibat di dalamnya. Berpikir kritis ini juga penting sebagai modal pengembangan suatu seni tradisi. Tanpa pemikiran kritis, sebuah seni tradisi—termasuk seni tari—akan tetap menjadi tradisi yang barangkali tidak terhubung dengan masyarakat luas.

Ketika hal tersebut terjadi, tentu akan membuat seni tradisi itu sendiri memfosil dan semakin banyak yang meninggalkannya. Untuk menyelamatkan tradisi lokal, maka diperlukan sebuah inovasi untuk terus memeliharanya.

REfERENSI:

- Eko Supriyanto. Ikat Kait Impulsif Sarira: Gagasan yang Mewujud Era 1990-2019. Yogyakarta: Garudhawaca, 2018.

BIODATA:

Nama : Eko Supriyanto (Eko Pece)

Lahir : Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26 November 1970 Profesi : Dosen, Penari dan Koreografer

PENGHARGAAN:

- Anugerah Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk Kategori Pencipta, Pelopor, dan Pembaharu, 2018.

Undangan

PENERIMA ANUGERAH KEBUDAYAAN

KATEGORI PELESTARI

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 109-114)