• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AnalisisdanImplementasiKebijakanPeraturanGubernurProvinsi

III.2 MendeskripsikanPeraturanGubernurNomor 11 Tahun 2014

57

Kebakaran hutan pun berdampak kepada pariwisata baik secara langsung ataupun tidak. Dampaknya seperti ditutupnya objek wisata hutan dan berbagai sarana pendukungnya, terganggunya transportasi, terutama transportasi udara.

Kesemuanya berakibat pada penurunan tingkat wisatawan secara nasional.

Berangkat dari fenomena keadaan terbakarnya hutan dan lahan itu sehingga menyebabkan dampak negative atau kerugian yang sangat besar dalam segala sector, Pemeritah Riau mengeluarkan peraturan yang diturunkan dari Gubernur yaitu Peraturan Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, yang tujuannya untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Riau. Untuk itu terlebih dahulu penulis mencoba untuk mendeskripsikan peraturan gubernur yang dibuat guna untuk mengendalikan kebakaran hutan dan dan lahan di Provinsi Riau.

III.2. Mendeskripsikan Peraturan Gubernur Nomor 11 Tahun 2014 Tentang

58

pemerintahdaerahmemilikitanggungjawabuntukmelindungidanmelayanimasyarak atdaerahnyasendiri.

Fenomenakebakaranhutan yang terjadi di Provinsi Riau merupakansuatuhal yang umumbuatmasyarakat Riau bahkanmasyarakat Indonesia. Fenomenatersebutmenjadisuatukewajibanbagipemerintahdaerah di Provinsi Riau untukdapatmengatasinyajikaberkacapadaUndang-Undang 32 tahun

2014 yang dijelaskan di atas.

Pemerintahdaerahdalamhalinibertanggungjawabpenuhatasapa yang terjadidanefekdariadanyakebakaranhutan dan lahan tersebut.Upayamengatasikebakaranhutan dan lahan yang

terjadi,makakebijakanpemerintahdaerahsangatdiperlukan.

Berdasarkanfenomenakebakarandaneksploitasiterhadaphutan dan lahan di

Provinsi Riau, makapemerintahdaerahmengeluarkankebijakanPeraturanGubernurtentangPusatPe

ngendalianKebakaranHutandanLahanProvinsi Riau Nomor 11 tahun 2014.

Dalamhalini,

penulismencobauntukmenganalisiskebijakanPeraturanGubernurtentangPusatPeng endalianKebakaranHutandanLahanProvinsi Riau Nomor 11 tahun 2014berdasarkantigatolakutama, diantaranyaadalah47

47Opcit 97

Pertama, nilaipencapaiankebijakantersebutuntukmelihatapakahmasalahtelahteratasi,

keduafaktakeberadaanyakebijakantersebutapakahdapatmembatasiataumeningkatk

Universitas Sumatera Utara

59 anpencapaiannilai-nilai.

danketigatindakanpenerapannyaapakahdapatmenghasilkanpencapaiannilai-nilai.Adapunpendekatan yang dilakukanadalahpendekatanempirisyang menekankanpenjelasanberbagaisebabdanakibatdarisebuahkebijakanpublik.

Pertanyaanutama di dalampendekatanempirisbersifatfactualdaninformasi yang

dihasilkanbersifatdeskriptif. Sebaliknya, pendekatanvaluatiflebihmenekankanterhadappenentuanbobotataunilai yang

terkandungdidalamkebijakan.

Adapunpertanyaandalamanalisisnyaadalahberapanilaidanbobot yang terkandung di dalamkebijakantersebut, sehinggainformasi yang dihasilkanbersifatvaluatif.

Dan yang terakhiradalahpendekatannormatif yang menekankanterhadaprekomendasiserangkaiantindakan-tindakan yang akandatang

yang dapatmenyelesaikanmasalahpublik.

III.2.1.BerdasarkanNilaiPencapaianKebijakan

PeraturanGubernurmerupakanperaturanperundang-undangan yang

bersifatpengaturan yang ditetapkanolehGubernur,untukmenjalankanperintahperaturanperundang-undangan

yang

lebihtinggiataudalammenyelenggarakankewenanganpemerintahdaerah.Otoritasdal ampembentukanpergubtersebutadalahGubernurberdasarkanundang-undang yang

lebihtinggiataudibentuk di bawahotoritasgubernur.PeraturanGubernurbarudiakuikeberadaannyadanmempuny

Universitas Sumatera Utara

60

aikekuatan hukum mengikatsepanjangdiperintahkanolehPeraturanPerundang-undangan yang lebihtinggiatau dibentukberdasarkankewenangan.Perbedaan paling mendasarantaraPerdaProvinsidenganPergubadalahterletakpadakewenanganpembe ntukannya.

Dalamhalini,

PeraturangubernurkebijakantentangPusatPengendalianKebakaranHutandanLahan

Provinsi Riau Nomor 11 tahun 2014 mengacu, mengingatdanmenimbangterhadapbeberapaundang-undang,tetapi yang

pastisangatberkaitaneratadalahUndang–UndangNomor 32 tentangpemerintahdaerahdanIntruksiPresidenNomor 16 Tahun 2011

tentangPeningkatanPengendalianKebakaranHutandanLahan.Sehinggahalinilah

yang mendasariGubernurProvinsi Riau mengeluarkanPeraturanGubernurtentangpengendalianhutan, selaindaripadaitu

juga

tugasdaripemerintahdaerahuntukmenjawabkeresahanmasyarakatdanmenciptakank esejahteraanberdasarkanparadigmaOtonomi Daerah yang saatinidijalankan.

Faktamengenaijumlahkebakaran yang terjadisangatmemprihatinkan.

Padatahun 2013, mayoritaskebakaran yang terjaditerpusat di Propinsi Riau. Angka yang cukupmengejutkandimanaperingatantitikapi di sepanjang Sumatera berada di Provinsi Riau. Kebakaranhutandanlahangambut di Provinsi Riau terusmeningkat.

Kebakaranhutan di Riau masihterusterjadihinggasaatini,

Universitas Sumatera Utara

61

sehinggamenimbulkanbanyakdampaksosialnyasepertikesehatan, pendidikan, transportasidan lain sebagainya.

III.2.2. Berdasarkan Fakta Keberadaan Kebijakan

Sebagai upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan harus dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal instrument pengawasan dan perijinan. Dalam hal pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi, perlu dilakukan upaya represif berupa penagakan hukum yang efektif, konsekuen, dan konsisten dan konsisten terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi.

Peraturan ini sengaja dibentuk untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan sebagai wujud kepedulian pemerintah Provinsi Riau terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda daerah di sekitar hutan dan lahan di provinsi Riau.Dalam Peraturan Gubernur Provinsi Riau Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau dilaksanakan dengan berasaskan kemanusiaan, kemandirian, kogotong – royongan, kesukarelaan, profesionalisme, dan kewilayahan sesuai dengan kewenangan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Kemudian Narasumber Ibu Reni Nurhaini juga menjelaskan, bahwa:

“Pergub ini merupakan landasan kita sebagai aparat pemerintahan dalam mengatasi permasalahan – permasalahan kebakaran hutan di Riau ini, peraturan

Universitas Sumatera Utara

62

ini nantinya akan menjadi pedoman kita untuk bertindak, apa apa saja yang harus kita lakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam peraturan gebernur ini.”48

Pusat pengendalian kebakaran dan hutan bertujuan untuk memantapkan keterpaduan langkah dan tindakan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Sasaran yang ingin dicapai dalam Peraturan Gubernur ini ialah pertama terlaksananya upaya pencegahan dan monitoring terhadap faktor – faktor penyebab serta pendorong terjadinya kebakaran hutan dan lahan, kedua terlaksananya upaya penanggulangan, penagakan hukum, dan pemulihan terhadap areal bekas kebakaran hutan dan lahan, ketiga terlaksananya pemanfataan sumber daya alam sesuai tata ruang secara efisien, efektif, bijaksana, dan sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku, keempat tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup, dan kelima terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan untuk menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.49

48 Wawancara dengan Narasumber Ibu Reni Nurhaini (Dinas Kehutanan Bidang Pengendalian Perencanaan dan Kerusakan) di Kantor Dinas Kehutanan Povinsi Riau. Pada Tanggal Kamis 5 Januari 2017. Pada pukul 14.00 Wib.

49 Peraturan Gubernur Provinsi Riau Nomor 11 Tahun 2014 Tentang Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan. Bab II. Pasal 4. Hal 4-5.

III.2.3. Berdasarkan Tindakan Penerapannya

Universitas Sumatera Utara

63

Kapabilitas pemerintah Provinsi Riau sangat dituntut dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Kapabilitas adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh pemerintah daerah menghadapi tantangan dan masalah yang terjadi dalam dinamika serta perubahan. Kebakaran hutan di provinsi Riau mengindikasikan bahwa pemerintah Riau harus mampu megendalikan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi. Hal ini menunjukan bahwa diperlukan kapabilitas yang baik untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Riau, tentu hal ini tidak luput dari peran dan dukungan dari stakeholder serta masyarakat Riau sendiri. Narasumber Bapak Mitra Adhimukti, bahwa:

“Targetannya ya setidaknya dengan peraturan yang dikeluarkan oleh gubernur ini, ini merupakan wujud pemerintah selaku pemegang kekuasaan disini, tentunya menginginkan adanya semacam perubahan kea rah yang lebih baik, karena kebakaran hutan di provinsi Riau sendiri bisa dikatakan agenda tahunan ya, tentunya kita mengharapkan perubahan yang lebih baik, dalam artian tujuan atau sasarannya harus dapat terelisasikan dengan baik”50

Dalam peraturan ini juga dibentuk Organisasi PUSDALKARHUTLA (Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan), dengan struktur penagarah atau Pembina, penangungjawab, ketua umum, wakil ketua, secretariat bersama,

50 Wawancara dengan Narasumber Bapak Mitra Adhimukti ( BPBD – Kepala Sub Bidang Pencegahan) di kantor BPBD Provinsi Riau. Pada Tanggal Selasa 3 Januari 2017. Pada pukul 14.00 Wib.

Universitas Sumatera Utara

64

bidang deteksi atau peringatan dini, pemantauan, pencegahan, dan pemulihan, bidang operasional penanggulangan,bidang evaluasi dan penegakan hukum serta Tim Reaksi Cepat yang bertugas untuk melakukan pencegahan serta pemadaman ketika terjadi kebakaran bersama dengan tim lainnya yang juga dibentuk sebagai pusat pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Ketentuan tersebut dibentuk untuk memfasilitasi pemerintahan dan masyarakat dalam menanggulangi masalah kebakaran hutan dan lahan.

III.3. Menganalisis Kebijakan Pemerintah Riau Berdasarkan Peraturan

Dokumen terkait