• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secepatnya merujuk anak ke fasilitas kesehatan dengan rawat inap yang mempunyai peralatan dan tenaga yang mampu merawat anak sakit lebih baik.

a. Rujukan anak dengan tanda bahaya umum

Anak dengan tanda bahaya umum mempunyai klasifikasi berat, mereka memerlukan rujukan.

b. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat

Anak dengan klasifikasi pneuomonia berat sudah menderita penyakit yang sangat serius dan membutuhkan rujukan secepatnya untuk tindakan seperti oksigen dan lain-lain. Sebelum anak di rujuk beri dosis pertama antibiotik yang sesuai untuk membantu mencegah pneumonia berat menjadi lebih parah serta membantu mengobati infeksi berat sepsis atau meningitis (radang selaput otak ).

2. Menetukan tindakan/pengobatan pra rujukan a. Beri dosis pertama antibiotik yang sesuai b. Beri dosis pertama vitamin A

c. Cegah agar gula darah tidak turun (memberi ASI) d. Beri dosis pertama suntikan antibiotik

e. Beri dosis pertama paracetamol jika demam tinggi atau nyeri akibat mastoiditis

f. Beri asi dan larutan oralit

Sebelum merujuk lakukan tindakan/pengobatan pra rujukan.Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan kelangsungan hidup anak.

3. Merujuk anak

Hal yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan sebelum merujuk anak ke rumah sakit adalah :

a. Menjelaskan tentang pentingnya rujukan dan meminta persetujuan untuk membawa anaknya ke rumah sakit

b. Menghilangkan kekhawatiran ibu dan bantu ibu untuk mengatasi setiap masalahnya

c. Menulis surat rujukan untuk dibawah ke rumah sakit memberitahu ibu untuk memberikannya kepada tenaga kesehatan di rumah sakit

d. Memberi ibu instruksi dan peralatan yang diperlukan untuk merawat anak selama perjalanan kerumah sakit

4. Menentukan tindakan dan pengobatan untuk anak yang tidak memerlukan rujukan.

Anak yang tidak memerlukan rujukan dapat ditangani di puskesmas, tindakan dan pengobatan untuk anak yang tidak memerlukan rujukan segera meliputi :

a. Memilih obat oral yang sesuai dan menentukan dosis serta jadwal pemberian

b. Memberi cairan tambahan dan tablet zinc untuk diare dan melanjutkan pemberian makanan

c. Memberi tindakan dan pengobatan infeksi local d. Memberi imunisasi sesuai kebetuhan

e. Memberi suplemen vitamin A

5. Kunjungan ulang

Tulis waktu kunjungan ulang untuk setiap klasifikasi, waktu terpendek yang pasti untuk kunjungan ulang di catat pada tempat yang di sedikan dibagian akhir atau kanan bawah formulir pencatatan (Depkes, 2008 Modul 3).

Konseling ibu. Keberhasilan pengobatan di rumah tergantung keterampilan petugas kesehatan dan dengan ibu balita, Konseling yang harus dilakukan petugas kesehatan kepada ibu balita meliputi:

a. Menggunakan keterampilan komunikasi yang baik dengan menasihati ibu cara pengobatan di rumah, dan mengecek pemahaman ibu.

b. Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah, dengan menetukan jenis obat dan dosis obat yang sesuai untuk umur atau berat badan anak, memeberi tahu ibu alasan pemberian obat kepada anak, memperagakan cara mengukur satu dosis, mengamati cara ibu menyiapkan obat satu dosis, menjelaskan cara memberi obat, kemudian beri tanda dan pembungkus (Depkes, 2008 Modul 4).

Tindak lanjut. Setiap anak harus kembali ke petugas kesehatan setelah 2 hari untuk kunjungan ulang dengan syarat :

1. Jika frekuensi panas atau nafsu makan tidak membaik, beri antibiotik pilihan ke dua untuk pneumonia. Sebelum petugas memberi antibiotik kedua, tanya ibu apakah anak minum antibiotiknya selama 2 hari terakhir.

a. Jika anak minum antibiotik, atau dosis yang diberikan terlau rendah atau terlalu jarang, obati lagi dengan antibiotic yang sama.

Beri satu dosis di depan petugas kesehatan dan cek apakah ibu tahu

cara memberi obat di rumah. Bantu ibu untuk mengatasi masalahnya seperti membujuk anak untuk minum obat jika anak menolak.

b. Apabila anak sudah mendapatkan antibiotik dengan benar namun tidak membaik, ganti dengan antibiotik pilihan ke dua untuk pneumonia

c. Apabila anak telah mendapat antibiotik dan petugas tidak punya antibiotik

2. Jika anak melanjutkan pengobatan antibiotik sehingga seluruhnya 3 hari, pastikan ibu mengerti pentingnya menghabiskan obat tersebut walau keadaan anak membaik (Depkes, 2008 Modul 6)

Landasan Teori

Salah satu program untuk menanggulangi penyakit ISPA yaitu dengan pendekatan manajemen terpadu balita sakit (MTBS). MTBS merupakan pendekatan yang terintegrasi dalam tatalaksna balita sakit dengan fokus pada kesehatan anak 0-59 bulan secara meyeluruh. (Depkes RI, 2008). Pendekatan MTBS tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian pada balita di dunia, dan berupaya meurunkan angka kematian, kesakitan, dan kecacatan pada bayi dan balita apabila dilaksanakan dengan lengkap dan baik. Sehingga pada tahun 2005 badan kesehatan dunia (WHO) telah mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok diterapkan di negara-negara berkembang (Abdul Muis dkk).

Kerangka Berpikir

Analisis implementasi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dalam penanganan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Puskesmas Labuhan Deli Tahun 2019 dalam penelitian ini dapat ditunjukkan dalam gambar berikut :

Gambar 2. Kerangka berpikir

Kerangka berpikir diatas menggambarkan bahwa input dapat mendukung serta proses pelaksanaaan manajemen terpadu balita sakit dan akan mempengaruhi output berupa peningkatan pelayanan MTBS di puskesmas.

1. Input : Berupa ketersediaan tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya yang telah mendapatkan pelatihan MTBS. Sarana dan prasarana yang meliputi obat-obatan, ruangan MTBS, timer ISPA dan peralatan lainnya yang digunakan dalam penerapan MTBS.

2. Proses : Alur pelaksanaan MTBS dimulai dari : 1. Pendaftaran

2. Pemeriksaan (klasifikasi dan identifikasi pengobatan )

3. konseling 4. Tindak lanjut 5. Kepatuhan Ibu

3. Output : 1. Cakupan pelayanan MTBS balitas usia 2 bulan sampai 5 tahun

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian pendekatan kualitatif yang bertujuan mendapatkan informasi secara mendalam tentang implementasi manajemen terpadu balita sakit dalam penanganan penyakit infeksi saluran pernapasan akut di Puskesmas Labuhan Deli. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan data secara lebih mendalam, kemudian data tersebut merupkan data pasti yang merupakan nilai di balik data yang tampak (Sugiyono, 2005).

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi. Penelitian ini di lakukan di Puskesmas Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, dengan pertimbangan :

1. Puskesmas Labuhan Deli merupakan Puskesmas di Deli Serdang yang menerapkan MTBS.

2. Padatahun 2017 diagnosa penyakit yang tertinggi di puskesmas Labuhan Deli yaitu ISPA dengan diagnosa 3934 kunjungan kasus dan pada tahun 2018 ispa masih merupakan diagnosa penyakit tertinggi dengan diagnosa 3579 kunjungan kasus, sedangkan balita pneumonia sebanyak 114 kasus ditahun 2017 dan 117 kasus ditahun 2018. Persentasi ISPA dari seluruh penyakit yang ada di puskesmas sebesar 60,46%.

Waktu penelitian. Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sejak bulan Agustus sampai dengan bulan November 2019.

Subjek Penelitian

Informan dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan purposive sampling. Teknik dengan purposive sampling yaitu bahwa dalam penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu dimana informan ini adalah orang-orang yang terlibat langsung terhadap permasalahan yang sedang diteliti (Saryono, 2010).

Informan dari penelitian ini adalah : a. Kepala Puskesmas Labuhan Deli b. Penanggung jawab MTBS c. Tenaga kesehatan di Puskesmas.

d. Ibu balita yang datang ke Puskesmas yang anaknya menderita infeksi saluran pernapasan akut dan ibu balita yang anaknya menderita pneumonia.

Definisi Konsep

1. Masukan (input) yaitu segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan MTBS dalam penanganan ISPA agar dapat berjalan dengan baik, meliputi :

a. Tenaga kesehatan adalah tenaga yang telah mendapatkan pelatihan dan telah menerapkan MTBS dalam implementasi pelaksanaan MTBS yang menderita ISPA.

b. Pendanaan adalah adanya materi dalam bentuk uang yang digunakan untuk pelaksanaan MTBS di Puskesmas Labuhan Deli

c. Sarana dan prasarana adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pencapaian pelaksanaan MTBS yaitu obat dan peralatan untuk

pemeriksaan, formulir MTBS, kartu nasihat ibu (KNI), dan ruangan khusus untuk MTBS.

2. Proses (process) adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu pendaftaran, pemeriksaan, konseling, tindak lanjut, dan kepatuhan ibu.

3. Keluaran (output) adalah hasil ataupun cakupan implementasi MTBS dalam penanganan penyakit ISPA pada balita di Puskesmas Labuhan Deli..

Metode Pengumpulan Data 1. Wawancara Mendalam

Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan atau yang di wawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara (Bungin dalam Prastowo, 2010).

2. Observasi

Observasi yaitu teknik pengumpulan data melalui pengamatan terhadap objek pengamatan dengan langsung hidup bersama, merasakan, serta berada dalam aktivitas kehidupan objek pengamatan (Bungin dalam Prastowo, 2010).

3. Dokumentasi

Dokumentasi pada dasarnya rekaman yang bersifat tertulis atau film, yang isinya adalah pristiwa yang telah berlalu (Prastowo,2010). Pengumpulan data dengan mengumpulkan sumber-sumber data, dokumen, laporan, profil dari Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang, dan referensi buku-buku

penelitian yang berhubungan dengan implementasi ISPA dengan MTBS.

Metode Analisa Data

Analisis data kualitatif yang terdiri dari 3 alur kegiatan yaitu : 1. Meruduksi Data

Mereduksi data suatu proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Reduksi data ini berlangsung secara terus-menerus dan selanjutnya membuat ringkasan, mengode, menelusuri tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, dan menulis memo.

2. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan dengan pengumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk penyajian dalam penelitian kualitatif adalah matriks, grafik, jaringan, dan bagan.

3. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Menarik kesimpulan dan verifikasi merupakan kegiatan mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat dan proporsi. Kesimpulan-kesimpulan dan diverifikasi selama penelitian berlangsung dengan cara tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan atau dengan peninjauan kembali serta upaya dalam menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain (Miles dan Huberman didalam Gunawan, 2007).

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Gambaran umum Puskesmas Labuhan Deli. Pusekesmas Labuhan Deli terletak di kecematan Labuhan Deli yang terdiri dari 5 desa dan 66 dusun. Desa-desa tersebut berada dan terletak saling berjauhan antara satu dengan yang lain, hanya dua desa yang berada dalam satu hamparan/bersebelahan yaitu Desa Helvetia dan Manunggal yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Labuhan Deli, sedangkan 3 desa lainnya terpisah dari ibukota kecamatan. Ketiga desa tersebut adalah Desa Pematang Johar, Desa Telaga Tujuh, dan Desa Karang Gading.

Kondisi Puskesmas Labuhan Deli termasuk jenis puskesmas perawatan dengan kondisi bangun baik.

Letak geografis. Kecamatan Labuhan deli terletak diantara 03 derajat lintang utara smpai dengan 37 derajat lintang utara dan 98 derajat bujur timur sampai dengan 47 derajat bujur timur. Puskesmas Labuhan Deli terletak di Kecamatan Labuhan Deli yang terletak di dataran rendah dan berbatasan dengan batas batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Kabupaten Langkat 2. Sebelah Timur berbatasan dengan Percut Sei Tuan dan Kota Medan 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Medan dan Kecamatan Sunggal.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Hamparan Perak

Demografi. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Deli berjumlah 45.184 jiwa yang terdiri dari 22.883 laki-laki dan 22.301 perempuan, dan jumlah kepala keluarga 10.349. Mata pencaharian penduduk di Kecamatan

Labuhan Deli sebagian besar Petani, Karyawan PTPN-II kebun Helvetia, Pegawai Swasta, PNS, Petani, Nelayan, Wiraswasta/Pedagang dan sebagai tenaga harian di Kota Medan.

Tenaga kesehatan Puskesmas Labuhan Deli. Adapun tenaga kesehatan yang tersedia di Puskesmas Labuhan Deli sebanyak 57 orang. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut.

Tabel 3

Data Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Labuhan Deli

Tenaga Kesehatan n

Dokter Umum 7 Orang

Dokter Gigi 3 Orang

Sarjana Keperawatan 2 Orang

Sarjana Kesmas 3 Orang

Analisis Kesehatan 2 Orang

Sanitarian -

D-IV Gizi -

Sarana pelayanan kesehatan. Adapun upaya kesehatan bersumber masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Deli

Tabel 4

Data Sarana Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Labuhan Deli

Sarana Kesehatan n

Puskesmas Pembantu 1

Posyandu Madya 8

Posyandu Purnama 20

Posbindu 2

Karakteristik informan. Informan dalam penelitian ini terdiri dari 8 (delapan) orang yaitu 1 informan kepala Puskesmas Labuhan Deli, 2 informan tenaga kesehatan MTBS, 1 Dokter umum, dan 3 ibu balita yang anaknya menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan 1 ibu balita yang anaknya menderita pneumonia.

Sofiah Saragih Perempuan 48 D-III Kebidanan

Tenaga Kesehatan MTBS

dr. Alimudin Laki-laki 36 Pendidikan Kedokteran

Dokter Umum Sri Mariati Perempuan 36 SMA Ibu dengan balita

menderita ISPA Siti Hardiyanti Perempuan 23 SMA Ibu dengan balita

menderita ISPA Fitri

Wulandari

Perempuan 29 SMA Ibu dengan balita menderita ISPA Diyah Safitra perempuan 30 SMA Ibu dengan balita

menderita pneumonia Pengetahuan Mengenai MTBS di Puskesmas Labuhan Deli

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (Balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit. MTBS pertama kali di perkenalkan oleh WHO merupakan suatu bentuk strategi upaya pelayanan kesehatan yang di tujukan untuk menurunkan angka kematian,

kesakitan, dan kecacatan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang (Depkes RI, 2008).

Hasil wawancara mengenai pengetahuan informan tentang MTBS di Puskesmas Labuhan Deli sebagai berikut :

“MTBS itu manajemen terpadu untuk balita yang sakit, mengobati balita yang sakit menjadi lebih sehat, di mtbs itu juga diajarkan ibu balita supaya mampu memberi perawatan dirumah untuk anaknya jadi ada konseling yang kita kasih kepada ibu balita”(Informan 1)

“MTBS itu pelayanan terpadu untuk balita sakit, bagaimana cara kita menangani balita yang sakit supaya menjadi lebih sehat, di MTBS petugas sudah mendapat pelatihan dan mendapat informasi mengenai MTBS jadi tau apa yang harus dilakukan, gak cuman ispa aja mtbs menangani penyakit lain diare, malaria, campak”

(Informan 2).

“MTBS itu manajemen terpadu untuk anak balita yang sakit, yang menangani ISPA. Pneuomonia, campak, diare” (Informan 3).

“MTBS itu program terpadu dari puskesmas untuk balita sakit yang bertujuan agar orang tua tahu dan bisa mengatasi masalah dan gejala yang dialami anaknya secara dini” (Informan 4).

“Gak tau dek apa itu ya petugas gak pernah jelasin”(Informan 5)

“Saya gak tau, gadak dikasih tau” (Informan 6)

“Gak tau, gadak informasi dari petugas (Informan 7)

“Gak tau, gadak di kasih tau juuga (Informan 8)

Berdasarkan wawancara tersebut dapat diketahui bahwa untuk pengetahuan mengenai MTBS khususnya petugas cukup memahami MTBS, dan dari pernyataan ibu balita dapat di ketahui bahwa ibu balita tidak mengetahui mengenai MTBS dan petugas kesehatan tidak memberi informasi kepada ibu balita mengenai MTBS.

Persiapan Manjemen Terpadu Balita Sakit

Persiapan yang perlu dilakukan oleh puskesmas dalam menerapakan MTBS dalam pelayanan kepada balita sakit adalah kegiatan desiminasi informasi MTBS kepada seluruh petugas kesehatan dilaksankaan dalam satu pertemuan yang di hadiri oleh seluruh petugas kesehatan, disiminasi ini dilaksanankan oleh petugas yang telah dilatih MTBS, bila perlu dihadiri suvervisor dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, kemudian obat-obat yang digunakan dalam penanganan balita sakit adalah obat-obatan yang sudah lazim ada, dan obat-obatan yang digunakan dalam MTBS telah termasuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), Laporan Pemakaian dan Lembar Peminatan Obat (LPLPO), dan persiapan MTBS dan KNI perlu dilakukan untuk memperlancar pelayanan. (Depkes 2008)

Hasil wawancara mendalam mengenai persiapan manajemen terpadu balita sakit di Puskesmas Labhuan Deli kepada informan sebagai berikut :

“Persiapannya yang terutama ada petugas yang nantinya akan memberi pelayanan, petugasnya itu harus sudah dilatih dan memahami MTBS, kemudian kita siapkan sarana prasarana yang mendukung, peralatannya, dan obat-obatannya” (Informan 1).

“Kalau persiapan mungkin yang perlu disiapkan tenaga kesehatan yang sudah dilatih MTBS, sarana dan prasarana lah dek, obat-obatannya, peralatanya, formulir MTBS itu puskesmas siapkan”

(Informan 2).

“Persiapannya ya paling harus ada tenaga kesehatan, sarana dan prasarana, mtbs ini kan untuk balita dek di puskesmas juga ada ruang bermain anak jadi kita siapkan juga biar anak-anak gak rewel kalau lagi ngantri, ataupun lagi konseling”(Informan 3).

“Persiapannya kita lakukan penyuluhan kepada ibu balita dek terutama ibu-ibu muda agar tidak panik dalam mengatasi masalah anaknya yang sakit dan tau apa yang harus dilakukan pertama kali sebelum dibawa ke puskesmas”(Informan 4).

Berdasarkan wawancara mendalam tersebut dapat di ketahui bahwa untuk perisapan MTBS yang disiapkan yaitu tenaga kesehatan dan juga sarana dan prasarana, untuk petugas kesehatan yang dipersiapkan adalah petugas yang sudah dilatih, namun di Puskesmas Labuhan Deli ada yang belum di latih, hal ini disebabkan karena puskesmas labuhan deli belum mendapat perintah kembali dari dinas kesehatan untuk melakukan pelatihan kembali, sehingga pelaksanaan MTBS tidak sesuai dengan modul MTBS

Pernyataan tersebut didukung dengan hasil wawancara mendalam yang dilakukan peneliti kepada informan sebagai berikut :

“Kalau saya sudah dek waktu itu pelatihan dari dinkes ya itu pun sudah lama sekitar 5 tahun yang lalu, dan petugas satu laginya belum pernah, kalau penyebaran informasi di puskesmas terkait MTBS ada dek itu saya yang kasih informasi ke tenaga kesehatan lainnya tapi gak ada dihadiri dari pihak dinkesnya ” (Informan 2).

“Kalau saya ga pernah dilatih, yang dilatih kan hanya penanggung jawab MTBS nya saya sendiri dari program imunisasi, disini saya hanya membantu aja cuman waktu itu pernah ada pemberian informasi mengenai MTBS, ibu henny itulah dek yang ngasih informasi di puskesmas dia kan sudah dilatih”(Informan 3).

“Saya gak pernah dek, buk henny yang ikut pelatihan dari dinkes beliau sebagai penanggung jawab MTBS, tapi kalau dari dinkes sosialisasi ke puskesmasnya gak adak, paling buk henny lah yang sosialisasikan ke kita petugas kesehatan yang ada disini”

(Informan4).

Berdasarkan pernyataan informan dapat diketahui bahwa hanya 1 petugas yang sudah di latih sementara petugas yang satu lagi belum pernah.dan desiminasi informasi MTBS sudah dilakukan oleh petugas kesehatan yang dilatih kepada seluruh tenaga kesehatan di puskesmas namun tidak di hadiri pihak dari Dinas Kesehatan.

Analisis Komponen Input

Masukan (input). Masukan merupakan elemen penting yang diperlukan untuk berfungsinya sebuah sistem (Notoatmodjo, 2011). Terdapat beberapa aspek yang dikategorikan sebagai masukan (input) dalam implementasi MTBS yaitu SDM (tenaga kesehatan), sarana dan prasarana.

Sumber daya manusia. Sumber daya manusia sangat penting dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien. Suatu program akan berhasil jika didukung oleh sumber daya manusia yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dapat melingkupi seluruh kelompok sasaran.

Tanaga kesehatan merupakan sumber daya manusia dalam organisasi dan menjadi peran utama dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Tersedianya tenaga kesehatan yang cukup merupakan salah satu faktor keberhasilan suatu program. Manusia merupakan aset utama organisasi dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan. Tenaga kesehatan yang kurang terampil menjadi salah satu penyebab pekerjaan tidak terselesaikan secara optimal.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada informan di Puskesmas Labuhan Deli mengenai tenaga kesehatan diperoleh informasi :

“Tenaga kesehatan cukup, kita ada dokter, bidan, perawat utuk di MTBS, penanggung jawabnya juga udah ada dan sudah mendapatkan pelatihan, semua tenaga kesehatan udah ada tugasnya masing masing ya, dan di MTBS ini nanti ada laporannya”

(Informan 1).

“Kalau untuk tenaga kesehatan menurut saya masih kurang dek, karena petugas MTBS nya cuma 2 orang dan itu pun petugas satu lagi belum dilatih, jadi pengetahuan tentang MTBS masih kurang, dulu ada petugas MTBS yang sudah dilatih tapi udah pindah tugas dek, dan ada juga yang bantu kita disini dia dari program imunisasi” (Informan 2).

“Tenaga kesehatan masih kurang dek, karena saya sendiri pun

sebenarnya dari program imunisasi dan juga posyandu, disini saya hanya membantu aja dek karena pasien balita ispa banyak jadi kewalahan kalau cuman 2 orang petugas MTBS nya” (Informan 3).

“Petugas MTBS disini 2 orang, dengan banyaknya pasien ispa saya rasa masih kurang dek, saya disini dokter umum, dan saya bukan petugas MTBS jadi gak pernah dilatih saya pun sebenarnya belum begitu memahami MTBS, ya saya hanya menangani pasien, dan memberi resep obat (Informan 4).

“Tenaga kesehatan ada dokter yang meriksa dan ada perawat juga yang bantu nanya-nanya masalah anak, perawatnya juga ramah-ramah saya rasa cukuplah” (Informan 5).

“Tenaga kesehatan menurut saya udah cukup dek dokter dan pasiennya banyak, ngantrinya lama kalau mau pemeriksaan”

(Informan 8).

Berdasrkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa tenaga kesehatan masih kurang. petugas kesehatan cuman 3 orang, yaitu satu orang dokter, satu orang penanggung jawab yang sudah dilatih, dan satu orang tenaga kesehatan MTBS yang belum dilatih, informan dari ibu balita menyatakan pasien sangat banyak sehinga harus menunggu lama untuk mendapatkan pemeriksaan.

Menurut Undang-Undang Tenaga Kesehatan Nomor 36 Tahun 2014, tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga kesehatan yang kurang mampu dan tidak terlatih mengakibatkan pelayanan tidak dapat dilaksanakan secara optimal.

Menurut Undang-Undang Upaya Kesehatan Anak No 25 Tahun 2014, dalam upaya penyelanggaran MTBS, dilaksanakan oleh bidan dan perawat yang teralatih

Menurut Undang-Undang Upaya Kesehatan Anak No 25 Tahun 2014, dalam upaya penyelanggaran MTBS, dilaksanakan oleh bidan dan perawat yang teralatih

Dokumen terkait