KAJIAN PUSTAKA
A. Salat Lima Waktu
4. Kapan dan bagaimana menerapkan disiplin
Kapan dan bagaimana menerapkan disiplin sangat bervariasi, bergantung pada tahap perkembangan dan temperamen masing-masing anak. Lingkungan sekolah, teman. dan saudara juga memberi pengaruh bagi bagi disiplin anak dengan semakin bertambahnya usia mereka. Meskipun demikian, ada penerapan disiplin yang berlaku umum, yang berlaku bagi semua usia dan kepribadian. Prioritas utama adalah mendidik anak secara positif; kedua, bersikap tegas jika sesekali anak memberontak.20
Akan lebih mudah menerapkan disiplin pada anak sedini mungkin daripada kepada orang dewasa, berawal dari keterpaksaan akan menjadi
19 Emile Durkheim, op.cit., hlm.35 20 Sylvia Rimm, op.cit., hlm.48
kebiasaan yang positif bagi anak, yang akan diterapkan juga dalam sikap dan perilakunya.
Disiplin lebih mudah jika anak diberlakukan rutinitas yang konsisten sepanjang vvaktu. Disiplin di sekolah hanya tercapai jikalau semua pendidik mengambil bagian di dalam menjaga disiplin, sesuai dengan fungsi yang di tentukan.20
Penerapan disiplin perlu kerjasama beberapa pihak di lingkungan sekitar si anak. Di lingkungan keluarga faktor yang dominan adalah keluarga, di masyarakat adalah orang-orang terdekat yang biasa bersosialisasi bersama, sedangkan di lingkungan sekolah adalah guru yang sangat berpengaruh dalam penerapan disiplin anak.
C. Pengaruh ketekunan Salat Lima Waktu terhadap Kedisiplinan Siswa di Sekolah
Salat adalah sarana untuk melatih sebuah kedisiplinan. Waktu telah ditentukan dengan pasti sehingga orang yang mampu melakukan salat secara disiplin, niscaya akan menghasilkan pula pribadi-pribadi yang memilki disiplin yang tinggi. Kemampuan untuk melakukan salat tepat waktu, adalah sebuah jaminan bahwa orang tersebut, disamping bisa dipercayajuga memiliki kesadaran akan arti pentingnya sebuah waktu yang harus ditepati. Isi dari salat juga harus tertib dan teratur, dimulai dari wudhu, niat, takbirotul ihram hingga salam.semua dilakukan secara berurutan dan sangat teratur. Ini menggambarkan betapa suatu keteraturan itu dimulai dari cara berpikir (do’a
menanamkan sikap disiplin, melatih cinta ketertiban dan konsisten menjalankan aturan-aturan dalam urusan-urusan kehidupan. Dari salat seseorang belajar tentang perilaku-perilaku santun, toleransi, tenang, dan rendah hati. Dengan salat, seseorang akan membiasakan diri dengan hal-hal yang bermanfaat saja, karena dia telah terbiasa melatih diri memperhatian waktu-vvaktu salat, syarat-syarat salat, memelihara kesucian badan, menghindari hal-hal yang membatalkan salat, dan melatih diri memperhatikan makna-makna Al-Qur'an Karim dan keagungan Allah SWT, serta makna- makna salat.
Dengan ketaatan beribadah seseorang akan ada keterpaduan dan keseimbangan antara ucapan dan perbuatan yang disertai keikhlasan dalam melaksanakannya. Orang yang mempunyai keimanan kuat akan terlihat pada tingkat ibadahnya, terutama ibadah salat. Karena telah kita ketahui bahvva salat adalah tiang agama, ketaatan seseorang dalam beribadah bisa dilihat dari ketaatan seseorang itu menjalankan ibadah salat lima waktu, karena bisa di ukur jika seseorang itu dengan taat dan rajin melaksanakan salat lima waktu maka ia kemungkinan besar juga akan taat dan rajin melaksanakan ibadah- ibadah yang lain. Begitu juga hubungannya dengan kedisiplinan, seseorang yang taat dan rajin melaksanakan salat lima waktu akan berpengaruh terhadap
kedisiplinan seseorang dalam aktifitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya. Apalagi yang terjadi pada anak khususnya siswa di sekolah. Semakin taat beribadah seseorang atau siswa khususnya ibadah salat lima waktu maka akan ada hubungannya dengan kedisiplinan seseorang atau siswa khususnya di sekolah, maka akan ada pengaruh positif antara ketekunan salat lima waktu dengan kedisiplinan siswa di sekolah. Karena di dalam salat terdapat hikmah dan pelajaran yang dapat di ambil, misalnya bagaimana kita melaksanakan salat di vvaktu-vvaktu yang sudah ditentukan, apa saja larangan- larangan yang tidak boleh di lakukan dalam melaksanakan salat lima waktu.
A. S ejarah , Ietak geografis, d an kondisi M Ts. Y akti Tegalrejo 1. Sejarah singkat berdirinya MTs. Yakti Tegalrejo
Sebagai embrio MTs. Yakti Tegalrejo adalah lembaga Pendidikan Guru Agama ( PGA ). Berdiri pada tanggal 16 Agustus 1965 untuk menjawab fakumnya pendidikan guru agama Islam dalam rangka mendidik generasi muslim akibat meletusnya peristiwa G 30 S/ PKI.
Lahimya pendidikan ini dibadani oleh para ulama seluruh Tegalrejo, antara lain K. Abdan, KH. Khudlori, KH. Idris Sidiq, KR. Hasyim, K. Kir’at, K.Zarkasi dan para kyai muda serta tokoh agama dan masyarakat antara lain K. Idris Abdan, K. Hasyim Abdan, K. Thoyib Nurhadi, K. Siradj Abdan, Moh. Hasyim, Muhammad AR, Dulkamen, Abdullah Hartanato, A. Supriatik, Sumarmo BA dll.
Pada tanggal 10 januari 1975 PGA ini dinyatakan syah dan tercatat dalam stambuk insapeda Perwakilan Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah sebagai lembaga Pendidikan swasta dengan nomor induk 170 dibawah yayasan Yakti bemomor 14 tanggal 22 Juni 1972. status ini berdasarkan pengesahan perwakilan Departemen Agama Propinsi Jawa Tengah nomor K/ 10/ Ill.d/ 75 tanggal 10 Januari 1975 yang ditanda tangani oleh kepala Inspenda (Azinar Ismail) dengan Kepala Sekolah Bapak Abdullah Hartanto, BA.
Sejak awal lembaga ini temyata mendapat respon yang sangat besar dad masyarakat. Terbukti lulusan SD / MI yang masuk tidak saja dari kecamatan Tegalrejo, tetapi juga dari Kecamatan sekitar yaitu Kecamatan Pakis, Candimulyo dan Ngablak. Hal ini mengingat PGA Tegalrejo adalah satu- satunya lembaga pendidikan menengah yang berada di Magelang Timur.
Perkembangan zaman serta kebijakan pemerintah lembaga ini dituntut untuk menyesuaikan keadaan, maka pada tahun 1987 PGA ini alili fungsi menjadi MTs dengan piagam madrasah nomor WK/5.C/22/Pgm/1987 tanggal 8 desember 1987 dengan nomor statistik 04/22/2/B. di tanda tangani oleh Kabid binrua Islam ( D. Sumaryo, SH ) dengan kepala madrasah Bapak Drs. A. Hartanto sampai dengan 30 Juni 1989.
Pada tahun 1989 MTs. Yakti diberikan hak menurut hukum untuk mengikuti Ujian Persamaan Madrasah Negeri berdasar piagam nomor WK/3.C/474/MTs/1981 dari Kakanwil Depag Propinsi Jawa Tengah oleh Kabid Pendais ( H. Midchal, BA ).
Sejak 1 Juli 1989 Kepala Madrasah diamanatkan kepada Bapak Prajitno