• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.3 Analisis Hasil Penelitian

4.3.1 Menetapkan Standar ( Standards )

Standar adalah target yang menjadi acuan perbandingan untuk kinerja di kemudian hari. Standar yang ditetapkan untuk tujuan pengawasan harus diekspresikan dalam acuan yang dapat diukur. Standar dibentuk dalam penetapan patokan (target) atau hasil yang diinginkan, untuk dapat dilakukan sebagai perbandingan hasil ketika berlangsungnya kegiatan organisasi. Standar

juga merupakan batasan tentang apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan dan target organisasi. Dalam penentuan standar, diperlukan pengidentifikasian indikator-indokator kerja. Indikator kerja adalah ukuran kinerja yang menyediakan informasi yang berhubungan langsung dengan objek yang diawasi.

Dalam suatu pengawasan program, untuk melaksanakan pengawasan itu sendiri harus berdasarkan dengan acuan yang ada. Maka harus ada suatu keputusan, peraturan, maupun perintah yang sah dari pihak yang mempunyai kuasa baik melalui data yang nyata maupun secara lisan. Pada organisasi Pemerintahan Daerah khususnya Perusahaan Daerah/PD Pasar Kota Tangerang terdapat peraturan yang menjadi acuan dan standar kinerja PD Pasar Kota Tangerang dalam menjalankan tugasnya yaitu melalui Keputusan Walikota Tangerang, seperti yang dikatakan oleh Kabid Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi Pasar PD Pasar Kota Tangerang bahwa:

“Dalam operasional kinerja PD Pasar Kota Tangerang kami mempunyai peraturan yang harus dipatuhi dalam menjalankan tugas sebagai pegawai PD Pasar Kota Tangerang, peraturan tersebut ada di dalam Keputusan Walikota Tangerang Nomor 9 Tahun 2003 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perusahaan Daerah Pasar Kota Tangerang” (Wawancara dengan Teguh Waluyo, SE sebagai Kepala Bidang Sub Divisi Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi PD Pasar Kota Tangerang, Rabu 16 Maret 2016).

Dari wawancara penelitian dengan I1-4 dapat kita ketahui bahwa mulai dari pembentukan sampai tata kerja seluruh pegawai di PD Pasar Kota Tangerang telah diatur lewat Keputusan Walikota Tangerang Nomor 9 Tahun 2003 yang berisi tentang susunan organisasi dan tata kerja Perusahaan Daerah Kota Tangerang. Dimana dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa terdapat

Badan Pengawas yang jabatannya di atas PD Pasar Kota Tangerang yakni bekerja untuk mengawasi seluruh kegiatan serta kinerja di PD Pasar Kota Tangerang dan bertanggungjawab kepada Walikota Tangerang. Hal tersebut dinyatakan oleh Kabid Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi PD Pasar Kota Tangerang yang mengatakan:

“Tidak hanya peraturan dan keputusan yang menjadi acuan sebagai target kami, tetapi kami juga mempunyai pengawas dimana bertugas untuk mengawasi seluruh pekerjaan dan kegiatan yang kami lakukan untuk mencapai tujuan yang dinamakan Badan Pengawas. Badan Pengawas sendiri bertanggungjawab kepada Walikota Tangerang yang notabene adalah pembuat keputusan dalam tata kerja pegawai di sini. Disinilah kami dituntut untuk bertanggungjawab dalam segala pekerjaan mengatur pasar milik PD Pasar Kota Tangerang dengan berusaha mentaati dan mengikuti peraturan yang ada” (Wawancara dengan Teguh Waluyo, SE sebagai Kepala Bidang Sub Divisi Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi PD Pasar Kota Tangerang, Rabu 16 Maret 2016).

Berdasarkan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja PD Pasar Kota Tangerang sendiri diawasi oleh Badan Pengawas yang menuntut para pegawai untuk bekerja sesuai aturan yang ada dimana aturan tersebut memudahkan mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Adanya Badan Pengawas tersebut juga menjadikan para pegawai bekerja dengan penuh tanggungjawab agar tidak menimbulkan penyimpangan/pelanggaran.

Terdapat standar lainnya yang ada di PD Pasar Kota Tangerang yakni standar dalam pengelolaan pasar yg dinaungi oleh PD Pasar Kota Tangerang itu sendiri, hal ini dibuktikan dengan pernyataan dari Kepala Pasar bahwa pasar bukan semata-mata dikelola tanpa adanya tujuan namun telah ada ketetapan yang mengatur agar pasar dikelola dengan baik demi meningkatkan PAD Kota Tangerang. Kepala Pasar Bandeng mengatakan:

“Dari PD Pasar itu sudah ada peraturan yang harus diikuti oleh pelaksana pengelola pasar yaitu Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pasar yang didalamnya mencakup segala hal yang harus dilakukan dan hal yang dilarang untuk pelaku usaha pasar serta sanksi yang telah ditetapkan bagi yang melanggar peraturan.” (Wawancara dengan Sugeng, SH sebagai Kepala Pasar Bandeng, Senin 8 Februari 2015).

Dari pernyataan dalam wawancara dengan I1-1 dapat dinyatakan bahwa dari awal berdirinya PD Pasar Kota Tangerang yakni pada tahun 2005 dibuat pula peraturan baru tentang Pengelolaan Pasar yang masuk dalam Peraturan Daerah sebagai acuan dan pedoman bagi PD Pasar Kota Tangerang dalam melaksanakan tugas sebagai pengelola pasar milik PD Pasar Kota Tangerang. Tidak hanya pernyataan dari Kepala Pasar, Kepala Kabid Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi Pasar pun membenarkan bahwa terdapat Perda yang mengatur pengelolaan pasar untuk PD Pasar Kota Tangerang. Hal tersebut dinyatakan oleh I1-4 sebagai berikut:

“Ya, jelas kami punya acuan untuk mengelola pasar dari dahulu sejak pasar di Kota Tangerang masih dibawah naungan Dinas Pasar Kota Tangerang hal itu sudah ada yaitu tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Tangerang Nomor 6 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Pasar, namun dikarenakan peraturan tersebut tidak lagi sesuai dengan kondisi seluruh pasar yang ada, maka direvisi menjadi Peraturan Daerah Nomor Kota Tangerang Nomor 6 tentang Pengelolaan Pasar yang didalamnya terdapat beberapa pasal yang ditambah atau diganti isinya” (Wawancara dengan Teguh Waluyo, SE sebagai Kepala Bidang Sub Divisi Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi PD Pasar Kota Tangerang, Rabu 16 Maret 2016).

Dari keterangan di atas kita mengetahui bahwa sebelum dibentuknya PD Pasar Kota Tangerang telah terdapat standar pengelolaan pasar untuk seluruh pasar di Kota Tangerang melalui Perda. Selain itu kita juga dapat lihat bahwa peraturan yang ada mengikuti dan mempertimbangkan segala kondisi yang ada yang berkaitan dengan pasar sehingga menimbulkan peraturan baru

yang lebih sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Namun, di sisi lain Kepala Pasar Bandeng merasa bahwa sudah perlu diadakan revisi peraturan daerah tentang pengelolaan pasar dimana pada Perda No 6 tersebut masih terdapat hal-hal yang kurang lengkap, rancu, dan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal tersebut diungkapkan oleh I1-1 yangmenyatakan bahwa:

“Kalau menurut saya sih standar tersebut harusnya lebih ditingkatkan lagi melalui proses revisi karena masanya sudah lewat dari 5 tahun yang imana bagusnya peraturan itu dievaluasi dan direvisi dalam jangka waktu 5 tahun untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi dan keadaan nyata yang ada pada Pasar Kota Tangerang. Di dalam Peraturan Daerah Nomor 6 tersebut saya sudah baik, tapi ada beberapa yang kurang seperti tidak adanya peraturan bagi Pedagang Kaki Lima/PKL padahal di setiap pasar tidak hanya pedagang di dalam pasar yang menjadi pelaku usaha tetapi pasti ada PKL di luar pasar. Di sisi lain ada juga poin yang rancu di dalam pasal 7 yang mengatakan bahwa dilarang bertempat tinggal atau tidur di pasar di luar jam buka pasar seharusnya hal tersebut lebih ditegaskan lagi, begitu juga sama sanksi yang ada di peraturan tersebut, belum tegas dan ditegakkan” (Wawancara dengan Sugeng, SH sebagai Kepala Pasar Bandeng, Senin 8 Februari 2015).

Berdasarkan keterangan dari I1-1 dapat dinyatakan bahwa Kepala Pasar Bandeng merasa bahwa peraturan yang ada harus dievaluasi dan direvisi karena masa berlakunya sudah terbilang lama dan harus disesuaikan lagi dengan kondisi yang ada di masa sekarang. Kepala Pasar juga menyebutkan terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan kondisi pasar yang ada di Kota Tangerang dari mulai Pedagang Kaki Lima yang tidak dimasukkan dalam Perda tersebut hingga sanksi yang belum ditegakkan secara nyata berdasarkan peraturan yang ada sehingga dapat diketahui bahwa masih ada pelaku usaha pasar maupun pihak yang berwajib yang tidak menaati dan mematuhi peraturan pengelolaan pasar di Perda Nomor 6 tentang Pengelolaan Pasar.

Standar atau peraturan yang ada pada PD Pasar Kota Tangerang bukan hanya praturan yang ditetapkan oleh pemerintah, melainkan ada pula peraturan yang dibuat atas kesepakatan dari pihak swasta, dimana yang dimaksud pihak swasta di sini adalah PT. Bangunbina Persada sebagai pihak pengelola Pasar Bandeng dengan PD Pasar Kota Tangerang sebagai pemilik dan pengawas Pasar Bandeng. Hal tersebut dinyatakan oleh Pegawai Bagian Humas Pengelola Pasar Bandeng yang bertugas di Kantor Pengelola Pasar Bandeng, beliau mengatakan:

“Pada awal kami membangun pasar ini sebagai program revitalisasi dari PD Pasar Kota Tangerang, kami membuat persetujuan dalam kesepakatan penjanjian MoU (Memorandum of Understanding) dengan PD Pasar Kota Tangerang. MoU itu sendiri disahkan diatas kertas dalam Addendum Perjanjian Kerjasama atas Perjanjian Kerjasama antara Perusahaan Daerah Pasar Kota Tangerang dengan PT. Bangunbina Persada Nomor Pihak Kesatu: 539.2/021.PD.PSR/2013 Nomor Pihak Kedua: 004/BBP/I/2013 Tentang Kerjasama Pengelolaan Pasar Bandeng dan dibuat per tanggal 20 Agustus 2013. Isi dari perjanjian ini adalah bahwa hak pengelolaan Pasar Bandeng telah diserahkan kepada PT. Bangunbina Persada dalam jangka waktu 5 tahun” (Wawancara dengan Yaman sebagai Humas Pengelola Pasar Bandeng dari pihak pengelola, Jumat 11 Maret 2016).

Dari pernyataan wawancara dengan I2-2 dapat kita nyatakan bahwa standar yang ada dibuat oleh beberapa pihak baik pihak pemerintah maupun pihak swasta. Bagi pihak swasta sebagai pengelola, peraturan yang ada adalah berupa perjanjian kontrak dengan PD Pasar Kota Tangerang yang berisi tentang segala perjanjian pengelolaan Pasar Bandeng dimana telah dikontrak selama 5 tahun. Dapat disimpulkan bahwa terdapat juga peran pengawasan dari PT. Bangunbina Persada dimana dalam hal pengelolaan di dalamnya juga terdapat hak pengawasan operasional pasar. hal tersebut juga dibenarkan dan dinyatakan oleh I1-1 yang mengatakan:

“Ya, pasti dimana ada kerjasama disitu ada perjanjian. Kerjasama kami sebagai PD Pasar Kota Tangerang yang memiliki lahan Pasar Bandeng berbentuk surat perjanjian MoU dengan PT. Bangunbina Persada dalam memberikan sepenuhnya hak pengelolaan Pasar Bandeng. Latar belakang diadakannya perjanjian tersebut adalah adanya perubahan jumlah sarana dagang yang didalamnya tentang bangunan dan fisik baru pasar serta kondisi lapangan yang mengalami perubahan semenjak diadakannya revitalisasi yang dilakukan oleh PT. Bangunbina Persada. Di dalam addendum tersebut berisi hal-hal yang mengenai maksud dan tujuan kerjasama, penempatan pedagang, lingkup perjanjian, jangka waktu perjanjian, denda keterlambatan, sanksi, serta hak dan kewajiban PT. Bangunbina persada selaku pengelola Pasar Bandeng yang di dalamnya termasuk kontribusi yang telah ditetapkan besarannya di dalam perjanjian tersebut. Addendum MoU juga disepakati dan disetujui oleh Ketua Badan Pengawas PD Pasar Kota Tangerang” (Wawancara dengan Sugeng, SH sebagai Kepala Pasar Bandeng, Senin 8 Februari 2015).

Dari hasil wawancara dengan I1-1 di atas dapat kita ketahui bahwa memang benar terdapat perjanjian MoU antara PD Pasar Kota Tangerang dengan PT. Bangunbina Persada selaku pengelola Pasar Bandeng. Standar yang dibuat antar pihak juga mempunyai alasan dan latar belakang yang jelas hingga dibuatnya perjanjian tersebut. Pihak PD Pasar mempertimbangkan revitalisasi dengan segala perubahan fisik yang lebih baik yang telah dikerjakan oleh PT. Bangunbina Persada dan PT. Bangunbina Persada juga wajib bertanggungjawab untuk mengelolanya serta mempertahankan kondisi pasar yang lebih baik untuk meningkatkan pemasukan PD Pasar Kota Tangerang serta PAD Kota Tangerang melalui kontribusi yang dditentukan. Seperti itulah kerjasama yang terjalin diantara kedua pihak dalam mengelola Pasar Bandeng.

Peraturan yang ada untuk dijadikan sebagai standar suatu pasar tidak hanya ada di dalam peraturan pemerintah dan swasta melalui Surat Perjanjian dan Peraturan Daerah atau Peraturan PD Pasar, tetapi terdapat juga

standar-standar yang ditetapkan berupa standar-standar fisik yang diberlakukan untuk pedagang. Standar tersebut ditetapkan untuk mengatur pola berjualan untuk para Pedagang Pasar Bandeng baik yang di dalam pasar maupun para Pedagang Kaki Lima yang berada di area pasar. hal tersebut dibuat untuk mewujudkan kondisi pasar yang aman, nyaman, dan tertib agar menarik perhatian konsumen. Hal ini dinyatakan oleh Bapak Yaman selaku Humas Pengelola Pasar Bandeng, dimana I2-2 mengatakan:

“Kami selaku pihak pengelola memberikan batasan-batasan juga untuk pedagang yang harus dipatuhi dengan tujuan suasana pasar ini dapat terkontrol dengan baik karena ketertiban pedagangnya. Bentuk dari peraturan ini kami buat secara nyata yang dapat dilihat langsung oleh pedagang yakni berupa bentuk fisik. Hal yang kami lakukan contohnya membuat garis batas jualan untuk pedagang. Garis ini ditandai dengan keramik merah yang telah dibuat di setiap los, kios, dan counter. Garis ini bertujuan untuk membatasi pedagang dalam menaruh setiap barang yang dijual di meja atau peti yang dimilikinya, tidak diperbolehkan untuk dilanggar dengan menambah tempat berjualan di luar garis pembatas karena hal tersebut menimbulkan penyempitan jalan bagi konsumen, tidak tertatanya los, kios, maupun counter dengan baik, menimbulkan kecemburuan sosial bagi pedagang lain, dan mengurangi keindahan pasar ini. Selain itu, kami juga membuat peraturan dimana tersedia plang yang digantung untuk menentukan lokasi produk yang dijual atau yang disebut juga zoning untuk pedagang. Hal ini bertujuan untuk meberikan tempat yang nyaman bagi pedagang dan konsumen dimana pedagang mempunyai tempat khusus dan sama dengan pedagang lain yang mempunyai produk serupa serta memudahkan pengunjung/konsumen yang datang untuk mencari dan menemukan barang yang mereka butuhkan. Hal tersebut juga dilakukan untuk menciptakan suasana yang tertib dan nyaman karena ada lokasi dan tempat yang rapi dalam memiliki kategori produk dagang yang dijual oleh pedagang di sini. Terdapat juga tetapan besaran kontribusi yang harus dibayarkan oleh pedagang berdasarkan kategori tempat (los, kios, dan counter) dengan bukti karcis yang ditarik perharinya oleh pengelola pasar” (Wawancara dengan Yaman sebagai Humas Pengelola Pasar Bandeng dari pihak pengelola, Jumat 11 Maret 2016). Berdasarkan hasil wawancara dengan I2-2 di atas, dapat kita ketahui bahwa PT. Bangunbina Persada selaku pihak pengembang revitalisasi Pasar

Bandeng mempunyai strategi dan tujuan serta fungsi dalam jangka panjang dari setiap bagian fisik pasar yang dibuat, dimulai dari besaran los, kios, dan counter serta pembatas yang ditetapkan melalui garis merah yang bertujuan untuk mengatur pengelolaan pola dagang dari pedagang untuk menciptakan suasana yang tertata rapi demi kenyamanan pedagang maupun pengunjung pasar. Hal ini dapat memudahkan pihak pengelola dalam mencapai target karena peraturan seperti itu dapat dilihat dengan kasat mata. Ini adalah bukti fisik dari peraturan yang dibuat demi kemajuan pasar yang menimbulkan keuntungan fisik pula seperti contohnya apabila pedagang mentaati peraturan tersebut, kondisi pasar akan menjadi teratur dengan porsi yang sama dalam berdagang untuk semua pedagang pasar. mengingat buruknya kondisi dan bangunan serta tempat berjualan pedagang pada Pasar Bandeng sebelum direvitalisasi, hal ini membuktikan bahwa terdapat kemajuan di Pasar Bandeng dalam hal keteraturan pedagang. Begitu pula dengan zoning yang telah dibuat dari awal pembangunan pasar. Hal ini sangat menguntungkan pedagang dan pengunjung, dimana peraturan ini menjadikan Pasar Bandeng dengan kategori Pasar Tradisional yang memiliki bangunan dan lokasi seperti Pasar Modern dimana semua tempat dagang bagi pedagang telah di atur dalam zona lokasi per kategori produk yang dijual. Begitu banyak keuntungan yang didapat dari peraturan ini antara lain memudahkan pengunjung dalam berbelanja, mengurangi pencemaran lingkungan, menciptakan keteraturan di dalam pasar, dan mewujudkan persaingan yang sehat antarpedagang karena pembagian lokasi yang adil. Untuk kontribusi yang telah ditetapkan memang sesuai dengan perjanjian yang ada yaitu hak pengelolaan operasional Pasar Bandeng

yang ada di tangan PT. Bangunbina Persada yang didalamnya terdapat hak pengelolaan retribusi pedagang. Retribusi tersebut telah ditentukan dan ditarik berdasarkan prosedur yang ada dimana terdapat bukti pembayaran retribusi berupa karcis yang diterima oleh pedagang.

Dari beberapa peraturan yang ada, baik peraturan pemerintah daerah, peraturan dari pihak swasta, maupun peraturan atas perjanjian pihak PD Pasar Kota Tangerang dengan PT. Bangunbina Persada, belum terdapat aturan yang menjelaskan khusus dalam pelaksanaan pengawasan Pasar Tradisional Kota Tangerang. Belum terdapat uraian tentang proses pengawasan maupun intensitas pengawasan. Hal ini dinyatakan oleh Kepala Pasar Bandeng, dimana I1-2 mengatakan bahwa:

“Kalau untuk cara-cara pengawasan, jadwal pengawasan, sama proses pengawasan gitu sih secara khusus belum ada peraturan yang tertulisnya. Saya nggak megang data keputusan atau peraturan mengenai pengawasan pasar. Tapi pengawasan adalah tugas utama seorang Kepala Pasar di dalam tupoksi yang ada. Saya sebagai Kepala Pasar juga sudah mengerti bagaimana cara pengawasan yang saya lakukan, seberapa sering saya melakukan pengawasan, dan apa yang saya lakukan dalam mengontrol pasar. Semua itu didapat dari atasan saya yang mempunyai hak untuk memerintah yaitu Ibu Dirut PD Pasar Kota Tangerang, tetapi hal tersebut baru secara lisan saja” (Wawancara dengan Sanusi Endang Priyatna sebagai Kepala Pasar Bandeng, Jumat 11 Maret 2016).

Dari pernyataan yang telah dikatakan oleh I1-2 dapat disimpulkan bahwa hingga sekarang belum ada peraturan yang memuat khusus tentang pengawasan Pasar Tradisional di Kota Tangerang. Hal tersebut dapat dibuktikan dari pernyataan Kepala Pasar yang tidak mempunyai standar atau acuan yang berbentuk baku dalam melaksanakan tugas dan perannya dalam mengawasi Pasar Bandeng. Pengetahuan Kepala Pasar Bandeng hanya sebatas

rutinitas pengawasan yang biasanya telah ia lakukan, dari pengalaman Kepala Pasar terdahulu atau yang lainnya, dan atas intruksi lisan dari atasannya. Walaupun Kepala Pasar sudah mengetahui dan mengerti bagaimana proses pelaksanaan pengawasan yang dilakukannya, akan lebih baik lagi apabila semuanya itu mempuyai peraturan dan prosedur khusus agar pengawasan dapat dilakukan lebih maksimal lagi.

Hal yang sama juga dinyatakan pada pihak PD Pasar Kota Tangerang dimana peraturan dan prosedur khusus yang tertulis mengenai pelaksanaan pengawasan pasar belum ada. Yang menjadi acuan PD Pasar Kota Tangerang dalam melakukan pengawasan adalah Perda Kota Tangerang No 9 tentang Susunan Organisasi dan Tata Cara Kerja PD Pasar Kota Tangerang dan Perda Kota Tangerang No 6 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pasar yang dimana terdapat kewajiban dan peran pengawasan yang dilakukan PD Pasar Kota Tangerang dalam mengatur Pasar Tradisional milik PD Pasar Kota Tangerang. Namun, di dalamnya belum terdapat prosedur, tata cara, serta waktu pengawasan yang tersusun dan tertulis. Seperti yang dikatakan oleh I1-4 menyatakan bahwa:

“Peraturan yang kami pakai dalam melakukan pengawasan ke Pasar Tradisional milik PD Pasar adalah Perda No 9 dan Perda No 6. Untuk peraturan seperti prosedur khusus pengawasan memang belum ada. Tetapi kami mengikuti petunjuk dan arahan dari Kepala Kantor PD Pasar Kota Tangerang yakni Direktur Utama yang mempunyai wewenang untuk memberikan perintah kepada kami, yang mana segala informasi mengenai pengawasan diberikan kepada kami dari mulai proses pengawasan, tim pengawas, waktu pengawasan hingga prosedur yang ada dalam melakukan pengawasan sampai kepada pelaporan dan evaluasi. Hal tersebut sudah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan aturan dan perintah yang ada dari Dirut PD Pasar Kota Tangerang dan memang cara pengawasan tersebut kami rasa telah

efektif dan efisien dalam menjalankannya. Mungkin untuk kedepannya kan ada peraturan tertulis untuk itu” (Wawancara dengan Teguh Waluyo, SE sebagai Kepala Bidang Sub Divisi Pembangunan, Pemeliharaan, dan Rehabilitasi PD Pasar Kota Tangerang, Rabu 16 Maret 2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan I1-4 diatas, dapat dinyatakan bahwa belum ada peraturan atau acuan khusus yang tertulis mengenai tata cara pelaksanaan pengawasan PD Pasar Kota Tangerang. Pada dasarnya telah terdapat prosedur yang ada dalam menjalani pengawasan, dari mulai proses penngawasan, waktu pengawasan, tim pengawas, hingga bentuk hasil pengawasan yang telah diketahui dan dimengerti oleh seluruh pegawai PD Pasar Kota Tangerang, hanya saja semua itu baru berbentuk lisan. Hal ini sangat disayangkan karena apabila ada peraturan pengawasan yang tertulis, dapat lebih mendukung sepenuhnya dalam meningkatkan pengawasan Pasar Tradisional dimana terdapat hal-hal yang harus dipatuhi demi terciptanya pengawasan yang tegas. Peraturan yang tertulis akan membuat kinerja pengawasan tertata dengan lebih baik demi mencapai tujuan.

Melihat dari apa yang telah disampaikan oleh beberapa informan, dapat disimpulkan bahwa telah terdapat peraturan yang baik dalam mengelola dan mengawasi Pasar Bandeng, baik itu peraturan dari pihak Pemerintah Daerah Kota Tangerang, Perusahaan Daerah Pasar Kota Tangerang, PT. Bangunbina Persada, maupun Kerjasama antara pihak PD dengan pihak PT. Terdapat peran pengawasan yang menjadi hak dan kewajiban para stakehlders di dalam peraturan tersebut demi pengelolaan pasar yang baik. Hanya saja, belum ada peraturan khusus yang didalamnya memuat tentang tata cara, prosedur, dan jadwal pelaksanaan pengawasan Pasar Tradisional Kota Tangerang.