• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengadakan pertemuan kemitraan secara rutin

Dalam dokumen Buku_PELP (Halaman 132-137)

Tujuan : Membangun kemitraan, meningkatkan pengalaman, dan mencapai sasaran-sasaran Rincian Kegiatan :

1. Menyetujui jadwal pertemuan rutin untuk Komite Pelaksana dan pertemuan seluruh anggota kemitraan

Dalam hal ini Komite Pelaksana akan melakukan pertemuan rutin lebih banyak (misalnya 1 x sebulan) dibandingkan pertemuan seluruh anggota kemitraan (milanya 1 x setiap 3

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

135

bulan). Jadwal pertemuan rutin ini sangat tergantung kebutuhan setiap anggota kemitraan.

2. Mengalokasikan sebagian waktu pertemuan untuk “pelatihan”, bagian lain untuk pengambilan keputusan

3. Memfokuskan setiap pertemuan

Setiap pertemuan diharapkan terfokus pada satu topik utama. Apabila terdapat beberapa topik pertemuan akan dibahas pada pertemuan-pertemuan yang berikutnya.

4. Mengarahkan untuk mencapai keputusan rencana tindakan.

Adapun tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam mencapai keputusan rencana tindakan terdiri dari:

- curah pendapat (brainstorm) setiap ide-ide yang dilontarkan oleh setiap anggota - mengembangkan satu atau dua ide yang menarik (promising) dari semua ide-ide

yang telah teridentifikasi pada tahapan pertama

- memutuskan APA, SIAPA, dan KAPAN dari setiap rencana tindakan

Cerita Menarik

Sekolah dan Perajin Bertemu di Wonosari

Siapa bilang dunia sekolah tak bisa berangkulan dengan sektor industri? Kalau masih ada yang berpendapat seperti itu, sebaiknya diajak saja ke Wonosari

Sudah sejak lama para perajin dan pengusaha mebel di Wonosari kekurangan alat produksi yang memadai. Kalaupun memilikinya, alat-alat yang dipakai cenderung masih tradisional, jauh dari sentuhan high technology. Minimnya peralatan ini jelas berpengaruh terhadap proses produksi.

Beberapa pengusaha dan perajin yang dihubungi mengakui, untuk peralatan seperti oven yang digunakan sebagai pengering atau untuk mengurangi kadar air dalam kayu,

mereka belum memilikinya. Banyak di antara mereka yang masih menggantungkan pengeringan pada alam, alias menjemurnya pada terik matahari.

Selain oven, peralatan seperti alat penyerut (planer), gergaji (chainsaw) pun masih menggunakan peralatan yang terkesan kuno. Mereka tidak mampu membeli peralatan canggih. “Kalau menggunakan alat yang canggih, investasinya mahal. Oven yang paling sederhana harganya sudah mencapai Rp 20 juta. Itu harga yang mahal bagi sebagian perajin di sini,”ujar Supoyo, seorang perajin di Wonosari.

Kondisi yang dialami para perajin dan pengusaha mebel itu sangat berbeda keadaannya dengan apa yang ada di SMK Negeri 2 Wonosari. Sebagai sebuah sekolah, SMK tersebut justru lebih “kaya” dibanding para pengusaha yang ada di sana. Di sekolah tersebut tersedia bengkel atau laboratorium produksi dengan peralatan produksi mebel yang lengkap dan canggih. Bahkan jauh lebih canggih dan lengkap dari peralatan yang dimiliki seluruh pengusaha dan perajin di Wonosari sekali pun.

Seorang perajin lain, Kamijan, mengakui, peralatan yang dimiliki sekolah yang beralamat di Jalan Agus Salim Wonosari itu memang sangat lengkap. Bahkan dia sempat heran dengan apa yang ada di sana. Pasalnya, selain lengkap, peralatannya juga sangat modern.

“Tapi sayangnya, kelengkapan dan kecanggihan peralatan itu tidak diimbangi dengan produksi. Ya namanya saja di sekolah, jadi seperti tidak dimanfaatkan. Jadinya sayang sekali,”kata pemilik CV Jati Alam itu.

Kepala SMK Negeri 2 Wonosari, Drs. H Musta’id MPd, mengatakan, lengkapnya peralatan yang dimiliki sekolahnya itu tidak terlepas dari obsesi bahwa sekolah kejuruan itu harus menjadi sekolah industri, khususnya industri mebel.

Dipilihnya mebel sebagai core business tidak terlepas dari kekayaan alam yang dimiliki Wonosari, yakni kayu jati. Sebagai sekolah industri, kata Musta’id, tentu tidak sekadar mengerjakan mebel pada tahap awal saja, tapi juga sekaligus memproduksi barang jadi dan memasarkannya.

Siapa tenaga yang melakukannya? “Ya, anak-anak dengan dibimbing para guru. Hasil produksi itu bisa dimanfaatkan para siswa. Sehingga mereka sekolah di sini dengan

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

137

gratis. Tanpa membayar uang sepeser pun. Biaya sekolah mereka dibayar dari hasil menjual barang-barang produksi mereka di sini,”jelas Musta’id.

Sebagai sekolah produksi, kata Musta’id, mereka tidak hanya memiliki bengkel dengan peralatan yang canggih dan lengkap, tapi juga telah memiliki perusahaan sendiri berbentuk CV dan UD. Menurutnya, inilah sekolah produksi di Indonesia yang paling lengkap. Sekadar contoh, nilai aset yang ada di bengkel saja miliaran rupiah.

Sejak dirintis sebagai sekolah industri pada tahun 1997, SMK Negeri 2 Wonosari tercatat pernah melakukan ekspor mebel. Produk yang diekspor murni produksi para siswa. Ketika itu ekspor tidak dilakukan sendiri, tetapi dititipkan pada eksportir mebel di Klaten, Jawa Tengah.

Tidak hanya pernah menjadi eksportir, lanjut Musta’id, siswa-siswa sekolahnya juga sudah langganan menjadi juara nasional Lomba Karya Siswa (LKS) bidang mebel antar sekolah kejuruan se Indonesia. Langganan juara itu sudah dimulai sejak tahun 1999 sampai sekarang. Jika tidak juara pertama, minimal meraih juara kedua.

Sebagai upaya pengembangan sekolahnya sebagai sekolah industri, Musta’id juga membenahi metode pengajaran di sekolahnya. Misalnya dengan memberikan kebebasan kepada para siswa untuk berkreasi.Siswa kemudian mempresentasikan rancangan karyanya. Lalu peran guru memberikan masukan untuk menyempurnakan karya tersebut. Rancangan karya itu lantas diproduksi di sekolah dan hasilnya dijual sendiri oleh siswa.

“Tapi sayangnya, apa yang saya rencanakan tidak bisa semuanya berjalan sesuai harapan. Terutama oleh kurang profesionalnya para guru,”keluhnya.

Pembenahan kurikulum juga disempurnakan dengan lebih memfokuskan materi permebelan. Karena itulah, jika sebelumnya pelajaran mebel masih dicantelkan pada Jurusan Bangunan, maka mulai tahun 2004 ini jurusan tersebut diubah menjadi Jurusan Permebelan.

Untuk ke depan, Mustai’d optimis sekolahnya bisa seperti yang dicita-citakannya. Bahkan dalam waktu dekat dia akan mengirim 12 siswa ke Malaysia. Mereka akan belajar mebel, khususnya desain di sekolah dan industri mebel di negeri jiran tersebut.

Tak hanya itu, untuk memperkuat team work, pihaknya juga akan menahan 3 siswanya yang meraih juara nasional untuk tetap berada di sekolah.

Lalu, di mana letak hubungan “kemiskinan” para pengusaha di Wonosari dan “kekayaan” sekolah yang memiliki 6 jurusan itu, dengan PERFORM? Ini yang menarik. Seperti diketahui, PERFORM sudah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Mebel di Wonosari. Sementara SMK Negeri 2 Wonosari adalah salah satu pengurus dari Pokja tersebut. Pada bagian lain, para pengusaha dan perajin mebel di sana juga sudah membentuk sebuah organisasi bernama Asosiasi Mebel Gunungkidul (AMG).

Nah, dalam kerangka Pokja Mebel inilah, dua dunia itu, yakni “kemiskinan” para pengusaha dan “kemewahan” yang dimiliki sekolah itu bertemu. Pertemuan “dua dunia” itu dimulai ketika Ketua Pokja Mebel Wonosari yang sekaligus Ketua AMG, berkunjung ke sekolah yang memiliki usaha warnet dan wartel itu.

Dalam kapasitas sebagai Ketua Pokja, Supoyo tak lupa mengutarakan kesulitan para anggotanya dalam bidang peralatan. Meski belum pernah melihat kelengkapan alat yang dimiliki, Supoyo sudah mendengar bahwa sekolah tersebut memiliki peralatan produksi mebel yang lengkap dan canggih.

Dari pertemuan itu muncullah kesepakatan, para pengusaha akan memanfaatkan bengkel mebel di sekolah itu, khususnya alat-alat yang tidak dimiliki pengusaha. Dalam kerjasama itu, para pengusaha akan membayar semacam uang sewa kepada pihak sekolah. Selain itu, untuk mengerjakan hal-hal yang ringan, para pengusaha juga akan menggunakan tenaga para siswa.

Sebagai Kepala Sekolah, Musta’id, menyambut baik kerjasama itu. Bahkan dalam benaknya, dia berkeinginan, kerjasama itu tidak hanya sebatas pada optimalisasi bengkel dan peralatan milik sekolahnya. Lebih jauh, dia akan membawa agenda persoalan krusial sekolahnya ke Pokja.

Persoalan itu, katanya, adalah soal dukungan tenaga ahli kepada para siswa. Sebab dia merasa para guru tidak cukup membantu perkembangan para siswa dalam usaha mebel itu. Nah, kepada para pengusahalah, hal itu akan dicarikan jalan keluar.

“Bisa saja para pengusaha melakukan bimbingan kepada siswa. Mereka kan selama ini

P e n g e m b a n g a n E k o n o m i L o k a l P a r t i s i p a t i f

139

yang terjun langsung dalam dunia permebelan,”kata Musta’id.

Di sisi lain, para perajin dan pengusaha juga tak kalah gembiranya dengan kerjasama itu. Kamijan bahkan menyatakan bahwa dia akan segera memanfaatkan bengkel milik sekolah untuk kelancaran usaha miliknya. Dia juga menyatakan, akan lebih baik kalau siswa juga dilibatkan, terutama dalam mengerjakan hal-hal yang dikuasai para siswa. (yud, Laporan: Soelarso-Wonosari)

Kegiatan 6

Dalam dokumen Buku_PELP (Halaman 132-137)