• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan dan Menggunakan Model untuk Analisa

Dalam dokumen Analisis Kebijakan Publik lay out (Halaman 70-74)

Setelah diperkenalkan dan diajak memahami konsep model, dosen mengajak mahasiswa lebih mendalami praktek penggunaan dan pengembangan model untuk analisis kebijakan. Di sini, dosen bisa memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan modelnya sendiri.

Sebagai bagian dari usaha untuk mendorong mahasiswa membangun modelnya sendiri, dosen memaparkan model berikut ini sebagai contoh dari model kebijakan yang dikembangkan oleh seorang analis yang berkepentingan untuk menangkap berbagai dimensi kebijakan secara lebih komprehensif. Di sini model yang dibangun merupakan upaya untuk menyederhanakan realitas kebijakan yang multidimensional, tetapi tanpa harus kehilangan kemampuan model tersebut untuk membantu si analis untuk memahami berbagai dimensi secara komprehensif.

Salah satu bentuk penyederhanaan yang paling sering dilakukan untuk membangun model analisa kebijakan adalah dengan menyederhanakan proses kebijakan sebagai sebuah proses yang terdiri dari fase-fase atau bagian-bagian yang lebih kecil. Selain memecah proses kebijakan ke dalam berbagai bagian yang lebih kecil, modelling

juga mensyaratkan adanya penjelasan yang rasional tentang relasi antar bagian tersebut dalam membentuk sebuah proses kebijakan.

Purwo Santoso 57 Dengan membagi kebijakan ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, harapannya kompleksitas kebijakan bisa dipahami dalam bentuk yang lebih sederhana. Dengan demikian analisa juga lebih mudah dilakukan. Dengan membagi kebijakan ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, analis juga bisa memfokuskan perhatiannya pada bagian tertentu dari keseluruhan benda yang namanya kebijakan.6

Penyederhanaan kebijakan dalam proses yang lebih kecil tentunya cukup familiar bagi mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Analisa Kebijakan Publik. Terutama model stagist yang membayangkan proses kebijakan sebagai proses yang terdiri dari berbagai aktivitas yang lebih kecil yang berjalan dalam proses yang sekuensial. Model yang awalnya dipopulerkan oleh Harold Laswell ini memang banyak dipakai dalam analisa kebijakan.7

Namun demikian, mahasiswa perlu mengetahui dan memahami bahwa tidak semua model harus dibuat berdasarkan urutan sekuensial, seperti dalam model yang selama ini kita kenal.8 Penyederhanaan kebijakan

bisa dilakukan dengan membedah anatomi kebijakan seperti terdapat dalam salah satu contoh model analisa kebijakan berikut ini, misalnya seperti ditampilkan dalam Bagan IV.4. Model ini melihat bahwa dalam kebijakan apapun pasti melekat tiga hal, pertama, substansi atau persoalan yang hendak diatasi. Kedua, proses yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. Terakhir, konteks di mana upaya untuk mengatasi persoalan itu berlangsung. Dari modelling

sederhana ini bisa dihasilkan banyak sekali model-model turunannya.

6   Lihat   juga   Nugroho   Riant,   (2006),   Kebijakan   Publik   Untuk   Negara-­negara   Berkembang,  Jakarta:  Elex  Media  Komputindo,  Bab  3.

7   Lihat  Hupe  dan  Hill,  op.cit. 8   Ibid.

Bagan IV.4. DIMENSI KEBIJAKAN

58 Analisis Kebijakan Publik

Pada prakteknya, analis tidak selalu mengedepankan ketiga dimensi tersebut secara berimbang dan proporsional. Lebih sering, analis mengedepankan salah satu dari dimensi yang dianggapnya paling relevan dengan fenomena kebijakan yang dianalisisnya.

Sembari mengingatkan pada kapasitas diri analis yang sudah disampaikan di sesi sebelumnya, analis dengan tipe teknokrat biasanya cenderung terobsesi dengan substansi dan mengasumsikan bahwa dimensi proses dan konteks tidak problematik.

Sementara, analis dengan tipe politisi biasanya cenderung berorientasi pada proses untuk menyiasati konteks tertentu untuk mencapai substansi yang dia kehendaki. Berbeda dengan teknokrat yang mengasumsikan bahwa proses kebijakan adalah proses yang berjalan dengan logika birokratik ala Weberian. Analis model politisi melihat proses kebijakan dijalankan dalam logika ‘everything is possible’ demi menyiasati konteks yang ada untuk mencapai substansi yang diinginkannya.

Dalam rangka menghayati model di atas, dosen bertanya pada mahasiswa, “Dalam melakukan analisis, dari tiga dimensi tersebut, dimensi apa yang ingin dikedepankan oleh mahasiswa?” Perlu juga diingatkan bahwa masing-masing pilihan memiliki kegunaan dan konsekuensi sendiri. Itu bisa kita petakan dalam Matriks IV.3.Beberapa Pilihan Orientasi Analisis dan Konsekuensinya.

Purwo Santoso 59

Tabel IV.3.Beberapa Pilihan Orientasi Analisis dan Konsekuensinya ORIENTASI ANALISIS PERHATIAN UTAMA KEUNTUNGAN POTENSI BIAS/ KERUGIAN

Substansi Akar persoalan Menjanjikan efektivitas kebijakan

Dalam hal akar persoalan tidak dipahami berbagai pihak, proses kebijakan yang diperlukan bisa mendapatkan resistensi

Proses

Prosedur teknokrasi dan birokrasi

Proses mudah dikelola

Tidak siap terhadap perubahan situasi, tidak kontekstual, tidak responssif Konversi dari input menjadi output dan outcome Proses kebijakan diserahkan kepada sistem yang dibakukan

Aktor yang terlibat merasa tidak bertanggung jawab

Kausalitas Mengarah pada pokok persoalan

Terjebak dalam kerumitan kausalitas Konflik Menggiring proses konsensus dan memudahkan tindak lanjut

Merepotkan penentu kebijakan

Pelibatan masyarakat

Mengantisipasi berbagai hal yang tidak sempat dipikirkan pemerintah Bertele-tele Konteks Situasi khusus dan mendesak yang ditemukan

Relevan bagi target group, menghasilkan kehati- hatian pemerintah (policy maker)

Mengacaukan aturan yang dibakukan,

terjebak dalam detail yang tidak selalu konsisten

Berkaca pada model di atas, dosen memaparkan bahwa dalam melakukan analisa kebijakan seorang analis memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan model apa yang akan digunakannya. Namun kebebasan ini harus disertai oleh kemampuan untuk memahami dan mengelola konsekuensi yang muncul dari pilihannya tersebut. Selanjutnya mahasiswa diajak untuk menghayati bagaimana melakukan modelling untuk tiap dimensi kebijakan, sekaligus menyiasati konsekuensi yang muncul dari keputusan untuk mengedepankan dimensi tertentu dan mengabaikan dimensi yang lain.

Dosen bisa memberikan penjelasan yang lebih empiris tentang perbedaan antara framework, teori, dan model dari paparan tentang model anatomi kebijakan di atas. Model tentang anatomi kebijakan

60 Analisis Kebijakan Publik

yang terdiri dari 3 (tiga) dimensi di atas adalah contoh sebuah framework. Ketika mahasiswa hendak berfokus pada salah satu elemen/dimensi dalam model tersebut, mahasiswa bisa menggunakan berbagai ‘model’ dan teori untuk mempertajam analisanya.

Selanjutnya, dosen memberikan pemaparan terkait langkah

focusing dalam melakukan analisa kebijakan berdasarkan ‘framework’ anatomi kebijakan di atas. Dengan demikian paparan ini akan memberikan contoh bagaimana menggunakan atau membangun ‘model’ dalam analisa yang berfokus pada dimensi substansi, proses, dan konteks dari kebijakan.

Dalam dokumen Analisis Kebijakan Publik lay out (Halaman 70-74)