BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil dan Pembahasan
3. Mengembangkan Rencana Aksi
Unit ini telah menitik beratkan pada upaya membangun keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam berbagai tahapan proses advokasi, yaitu merumuskan isu, menetapkan tujuan jangka panjang dan tujuan strategis, menjajagi dukungan dan oposisi dan meneliti berbagai pihak sasaran, serta mengembangkan dan menyampaikan pesan.
Selama proses mengembangkan rencana aksi ini pelaku advokasi telah menentukan berbagai pilihan dan mengambil tindakan-tindakan yang menyumbang pada pengembangan strategi advokasi mereka. Kerja yang telah dilalui memiliki aplikasi yang sangat nyata,bukan sekedar teoritis. Kini saat nya pelaku advokasi menyatukan semua ini kedalam suatu rencana implementasi yang akan memandu pelaksanaan kampanye advokasi. Rencana inplementasi ini juga akan menjadi fokus bagi pengembangan rencana monitoring dan evaluasi yang akan dikembangkan selanjutnya.
Rencana implementasi disajikan dalam bentuk yang sangat sederhana, dimana pelaku advokasi didasarkan pada suatu tujuan strategis advokasi yang telah dipilih, merancang berbagai kegiatan memberikan rincian mengenai sumber daya yang dibutuhkan, siapa yang bertanggung jawab dan batasan waktu yang sesuai untuk masing-masing aktifitas.
Mengembangkan rencana aksi, memberikan kesempatan yang sangat baik bagi para pelaku advokasi untuk berkerja dalam kelompok. Rencana aksi mesti dikembangkan berdasarkan input dan kesempatan seluruh pelaku advokasi dalam suatu organisasi/jaringan. Hal ini akan menciptakan rasa memiliki dan komitmen yang besar kepada rencana dan strategi yang telah dikembangkan. Ini penting, mengingat langkah berikutnya adalah meakukan aksi nyata untuk menjadikan rencana aksi suatu realitas.
D. Monitoring dan Evaluasi
Informasi sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan dalam bertindak. Informasi yang akurat pada waktu yang terlambat membantu kita untuk, belajar dari pengalaman orang lai, kemudian mengidentifikasi dan memanfaatkan kesimpulan, dan menghindari situasi-situasi yang terlalu beresiko atau berbahaya.
Monitoring dan evaluasi berarti mendapatkan dan memanfaatkan informasi, juga bisa digunakan sebagai alat monitoring untuk memperkuat kampanye advokasi dan tim pelaku advokasi. Dalam advokasi, kemampuan untuk mendapatkan dan memanfaatkan informasi yang relevan sangat diperlukan. Komponen monitoring dan evaluasi yang bagus akan membantu para pelaku advokasi untuk mencatat keberhasilan, membangun kreibilitas, dan memotivasi diri untuk menjaga momentum. Jika upaya advokasi suatu organisasi menghasilkan perubahan kebijakan yang diinginkan, maka suatu organisasi akan bisa menghubungkan keberhasilan ini secara sangat jelas dengan kegiatan advokasinya.
Monitoring, adalah proses pengumpulan informasi secara rutin untuk semua aspek dalam suatu kampanye advokasi, dan memanfaatkan informasi ini dalam pengelolaan organisasi dan proses pengambilan keputusan. Suatu rencana monitoring merupakan alat managemen yang mendasar dan sangat vital untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk merancang, melaksanakan, mengelola, dan mengevaluasi kegiatan advokasi.
Guna memenuhi fungsi monitoring, rencana kegiatan advokasi yang dibuat sebaiknya juga mencakup, system pengumpulan informasi dan data tentang kegiatan kunci, serta system untuk menyimpulkan, menganalisis, dan memanfaatkan informasi dalam proses pengambilan keputusan untuk bertindak. Kegiatan monitoring juga membantu untuk membuktikan strategi-strategi yang efektif dan inovatif, kemudian menghasilkan dukungan dana dan politis untuk kegiatan advokasi, dan terakhir adalah memasarkan gagasan organisasi.
Evaluasi, adalah kegiatan yang membutuhkan analsis objective terhadap hubungan kinerja, efesiensi, dan dampak kegiatan advokasi sehubungan dengan tujuan advokasi yang ingin dicapai. Manfaat evaluasi yaitu, menarik pelajaran dari pengalaman guna menyempurnakan kualitas suatu kampanye advokasi, memperbaiki rancangan kampanye advokasi di masa yang akan datang, terakhir dapat menunjukkan kekuatan organisasi pelaku advokasi kepada para pendukung, pembuat kebijakan, lembaga dana, dan sebagainya. Evaluasi bisa dianggap sebagai suatu penilaian pada tahap kritis atau proses mencermati dampak dan keberhasilan advokasi.19
Tabel dibawah berikut ini menunjukkan perbedaan antara advokasi dan sejumlah konsep lain yang sejenis. Advokasi biasanya bisa dibedakan dengan pendekatan lain dengan mencermati tujuannya yaitu perubahan kebijakan.
①②
Tabel 2.1. Perbedaan Advokasi dan Berbagai Konsep Sejenis20
Pendekatan Aktor Sasaran Tujuan Strategi
Advokasi Ornop/Jaringan Asosiasi. Profesi Asosiasi. Hobi Pimer : Institusi publik dan pembuat kebijakan Sekunder : Media massa dan pihak lain untuk menekan pihak pembuat kebijakan Perubahan kebijakan, program, dan alokasi dana atau sumberdaya Fokusnya pada upaya mempengaruhi penentu kebijakan yang memiliki kekuasaan Public Relations Lembaga Komersial Konsumen Meningkatkan image perusahaan dan penjualan Iklan (radio, tv, media cetak). Penyelenggara an peristiwa public. Menjadi sponsor Community Mobilization Lembaga Masyarakat Warga masyarakat dan Membangun kemampuan Musyawarah kampong, dan 20
Makalah pada Pelatihan Advokasi Konservasi dan Lingkungan Hidup Mapala UNILA, tanggal 18- 19Februari tahun 2004.
dan Warga pemimpin masyarakat untuk menyelesaikan masalah kunjungan rumah kerumah Information, Education, Community (IEC) Memberi pelayanan Individu, segmen masyarakat Meningkatkan kesadaran dan mengubah perilaku Kampanye melalui media massa, dan penyuluhan E. Kerangka Pikir
Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Permasalahannya adalah bagaimana menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan sumberdaya alam agar dapat berkelanjutan. Karena, sumberdaya alam secara umum memiliki batas kemampuan atau yang lebih dikenal daya dukung, baik hayati maupun non-hayati.
Kenyataan yang ada, kebijakan-kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang ditetapkan lebih ditekankan dan dipersiapkan untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi saja, sehingga berdampak pada mengeksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya.
Salah satu hal yang bisa diusahakan LSM dalam rangka mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa harus menjadi korban kepentingan ekonomi dari pihak pengeksploitasi alam dan kepentingan pemerintah adalah melalui jalan advokasi.
Advokasi adalah proses yang melibatkan serangkaian tindakan politis oleh warga negara yang terorganisir untuk mentransformasikan hubungan-hubungan kekuasaan. Tujuan advokasi adalah untuk mencapai perubahan-perubahan kebijakan spesifik yang bermanfaat untuk kelompok warga negara yang terlibat dalam proses advokasi ini. Perubahan ini bisa terjadi di sector swasta maupun publik. Advokasi yang efektif dilaksanakan sesuai dengan suatu rencana strategis dan dalam kurun waktu yang masuk akal.
Kegiatan advokasi lingkungan yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia dalam kerangka pikir ini memiliki empat unsur kajian utama yang saling berhubungan satu sama yang lain (symbiosis), sebagai langkah efektifitas hasil dari kegiatan advokasi yang mereka lakukan.21
Unsur pertama adalah, manajemen isu-isu sentral seputar permasalahan masyarakat umum, pemerintah, dan lingkungan hidup diwilayah Kabupaten OKU, yang kemudian dapat menjadi dasar dari kegiatan advokasi yang akan dilakukan. Kemudian, setelah menetapkan isu lingkungan yang akan dipakai, selanjutnya, langkah yang kedua adalah
⑧⑨
menentukan sasaran atau target dari kegiatan advokasi yang dilakukan. Objek sasaran dari kegiatan advokasi ini bisa ditujukan kepada dinas instansi atau pemerintah daerah, DPRD, pihak perusahaan pengembang, ataupun para stakeholder lainnya yang memiliki kepentingan serta keterkaitannya terhadap masalah dari tindakan advokasi yang dilakukan. Langkah ketiga yaitu, memobilisasi massa guna kepentingan memperkuat isu yang telah dibangun dilangka yang pertama, sehingga kebermanfaatan dari kegiatan advokasi yang dilakukan benar-benar dapat mengakomodir seluruh kepentingan masyarakat secara umum dan lebih luas lagi jangkauannya. Serta, langkah keempat adalah melakukan monitoring dan evaluasi secara mendalam mengenai proses tiap rangkaian strategi advokasi yang telah dilaksanakan sampai dengan waktu melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi. Evaluasi bisa dianggap sebagai suatu penilaian pada tahap kritis atau proses mencermati dampak dan keberhasilan advokasi.
Keempat unsur kajian utama strategi yang digunakan dalam teori diatas harus dilaksanakan secara bertahap dan mengikuti alur proses tiap tahapan perkembangan kegiatan advokasinya. Dan harus dilakukan analisis yang sangat mendalam mengenai permasalahannya, termasuk juga mengenai tantangan dan hambatan yang dialami dilapangan, guna dapat mengoptimalkan perubahan kebijakan dan program sebagai akumulasi dari tujuan utama dari langkah advokasi yang dilakukan.
Secara singkat kerangka pikir ini dapat dilihat pada Bagan 2.1. berikut ini :
MANAJEMEN ISU DAN KAMPANYE ADVOKASI MENGEMBANGKAN RENCANA AKSI MONITORING DAN EVALUASI ADVOKASI LINGKUNGAN LSM JEJAK INDONESIA MENENTUKAN SASARAN, DUKUNGAN DAN OPOSISI PERUBAHAN KEBIJAKAN ATAU PROGRAM
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metodelogi Penelitian
Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah metode Penelitian kualitatif. Yaitu salah satu metode penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berpikir induktif.22Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistic atau bentuk hitungan lain.23
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan social dari perspektif partisipan.24 Menurut Bogdam dan Taylor mendefinisikan metodelogi penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati.25
Menurut teori Penelitian kualitatif, agar penelitiannya dapat betul-betul berkualitas, data yang dikumpulkan harus lengkap, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data dalam bentuk verbal atau kata-
22
Basrowi & Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Cet. 1; Jakarta: RIneka Cipta, 2008), hal. 1
23 ❹❺ ❻ ❼❽ 24 ❹❺ ❻ ❼❽ 25 ❹❺ ❻ ❼❽
kata yang diucapkan secara lisan, gerak-gerik atau perilaku yang dilakukan leh subyek yang dapat dipercaya, dalam hal ini adalah subyek penelitian (informant) yang berkenaan dengan variable yang diteliti. Kemudian, data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen- dokumen grafis (table, catatan, notulen rapat, SMS, BBM, dan lain-lain), foto-foto, film, rekaman video, benda-benda dan lain-lain yang dapat memperkaya data primer.26
B. Fokus Penelitian
Fokus Penelitian merupakan suatu masalah yang menjadi sasaran pokok atau tujuan yang akan diteliti. Fokus Penelitian yang dilakukan dalam penelitian tesis ini adalah, bagaimana upaya advokasi lingkungan yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia Kabupaten OKU melalui strategi advokasi-nya, yang meliputi : manajemen isu, menentukan sasaran, dukungan dan oposisi, program aksi, dan monitoring dan evaluasi, serta hasil perubahan kebijakan atau program yang menjadi tujuan dari kegiatan advokasi yang dilakukan.
C. Penentuan Informan
Informan adalah orang dalam latar penelitian. Fungsinya sebagai orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Pemanfaatan informan bagi penelitian ialah agar dalam durasi waktu yang relatif singkat banyak informasi yang bisa dijangkau.
26
Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Edisi Revisi 2010.
Informan yang dijadikan sumber informasi dalam penelitian ini menggunakan teknikpurposive sampling; yaitu, teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan bahwa mereka lebih memahami permasalahan yang sedang peneliti lakukan. Dalam penelitian ini yang menjadi sebagai objek informan adalah pengurus dan anggota LSM Jejak Indonesia, serta para penggiat, praktisi, dan pemerhati lingkungan hidup yang ada di Kabupaten OKU, termasuk juga aparatur pemerintahan dan perusahaan yang terkait dalam penelitian ini.
Informasi yang diperoleh dari informan haruslah sesuai dengan apa yang ada dilapangan, untuk itu perlu adanya triangulasi dalam penelitian ini. Triangulasi pada hakikatnya merupakan pendekatan multimetode yang dilakukan peneliti saat mengumpulkan dan manganalisis data. Ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik, sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang. Triangulasi ialah usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari sudut pandang yang berbeda.27
Menurut Spreadley dan Faisal, agar memperoleh informasi yang lebih terbukti, terdapat beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan, antara lain28:
1) Subyek yang lama dan intensif dengan suatu kegiatan atau aktivitas yang menjadi sasaran atau perhatian peneliti;
27
http//www.mudjiraharjo.com/artikel, diakses tanggal 15 Januari 2013.
28
Yahnu Wiguno Sanyoto, Analisis Pola Kemitraan Pemerintah dengan Swasta, Tesis, Universitas Lampung, hal. 82, 2011.
2) Subyek yang masih terkait secara penuh dan aktif pada lingkungan atau kegiatan yang menjadi sasaran atau perhatian peneliti;
3) Subyek yang mempunyai cukup banyak informasi, banyak waktu dan kesempatan untuk dimintai keterangan;
4) Subyek yang berada atau tinggal pada sasaran yang mendapat perlakuan yang mengetahui kejadian tersebut.
Kriteria yang ditentukan peneliti dalam menentukan informan berdasarkan pertimbangan di atas, adalah :
1) Bekerja dan beraktifitas didalam lingkungan organisasi yang menjadi obyek penelitian, seperti Ketua dan Badan Kepengurusan LSM Jejak Indonesia Kabupaten OKU, serta para Pendiri, Pembina, Kader dan Simpatisan LSM Jejak Indonesia Kabupaten OKU.
2) Bekerja dan beraktifitas dalam lingkungan yang menjadi objek penelitian, seperti Kepala Tata Pemerintahan Kabupaten OKU, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten OKU, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten OKU, serta pihak perusahaan PT. Semen Baturaja yang memahami obyek dan permasalahan penelitian.
3) Masyarakat yang lokasi tempat tinggalnya berada disekitar wilayah produksi pabrik (Ring-I) PT. Semen Baturaja.
Adapun informan yang dimaksud adalah seperti tertera pada table 3.1. berikut : Tabel 3.1. Informan Penelitian
No. Informan Bidang/Keahlian
1. Akademisi Prof. Dr. Hj. Isnawijayani, M.Si (Pemerhati Lingkungan dan Ketua Dewan
Pembina LSM Jejak Indonesia) 2. Aktivis Lingkungan Hidup Rasyid Gustian, SH
(Koordinator Advokasi LSM Jejak Indonesia)
3. Penggiat Lingkungan Hidup Agung Sudrajat, SE
(Staff Sekretariat Panwaslu Kab. OKU) 4. Pembuat Kebijakan Indra Susanto, S.Sos., M.A.P
(Kabag Tata Pemerintahan Setda OKU)
5. Pelaksana Kebijakan Iwan Muslim
(Warga Masyarakat Ring I) 6. Sasaran Advokasi Wulan Oktaria, ST
(Asisten Ahli Perencanaan Program Diklat PT. Semen Baturaja) 7. Sarana/Media Advokasi Redo Saputra, S.I.Kom
(Reporter dan Marketing Baturaja Radio)
D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini didasarkan pada data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari Penelitian yang dilakukan dilapangan, termasuk wawancara dan observasi pada aktifitas kegiatan advokasi lingkungan LSM Jejak Indonesia.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan, seperti buku- buku mengenai advokasi lingkungan dan pengelolaannya, karya ilmiah,
jurnal, internet, dan informasi yang diperoleh dari surat kabar lokal yang berkaitan dengan permasalahan kerusakan lingkungan akibat dari eksploitasi alam yang dilakukan, serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan organisasi LSM dan kegiatan advokasi lingkungan, yang dapat menjadi sebagai dokumen resmi atau dasar peraturan dari kegiatan Penelitian.
E. Wawancara
Wawancara, merupakan percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu. Maksud diadakannya wawancara antara lain : mengonstruksi perihal orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, dan kepedulian.29
Wawancara adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka (face to face relationship) antara sipencari informasi (interviewer/information hunter) dengan sumber informasi (interviewee). Secara sederhana wawancara diartikan sebagai alat pengumpul data dengan mempergunakan Tanya jawab antara pencari informasi dan sumber informasi.30
29
Basrowi & Suwandi. Op. Cit., hal. 127.
30
Teknik wawancara yang perlu diperhatikan adalah bahwa kehadiran peneliti menghasilkan kenangan dalam responden, dan ini mempengaruhi hasil penenelitian. Wawancara yang diikuti menggunakan model diskusi sejajar, sebagai si belajar, dan bersikap tidak menjaga jarak yang diistilahkan dress down. Mengikuti model ini, hubungan baik antara si peneliti dan subjek Penelitian diharapkan dapat terbangun. Selanjutnya, hubungan kesejajaran antara peneliti dan subjek Penelitian dalam proses wawancara harus dilandasi oleh rasa saling percaya dan terbuka, atau diistilahkan berjalan bersama-sama(shared journey).31
Peneliti merumuskan beberapa permasalahan yang memerlukan teknik wawancara didalam Penelitian ini, diantaranya yaitu, pertama dengan warga masyarakat mengenai permasalahan kerusakan lingkungan akibat dampak dari kegiatan pembangunan dan eksploitasi alam yang dilakukan, kedua menyangkut dengan kegiatan atau strategi advokasi lingkungan yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia terhadap pihak pembuat kebijakan (Pemerintah Daerah/DPRD/Perusahaan) yang juga melibatkan beberapa unsur warga masyarakat, dan yang ketiga mengenai harapan atau solusi dari permasalahan lingkungan yang terjadi, baik informasi yang didapat dari pemeritah daerah, pihak perusahaan, penggiat LSM lingkungan dan juga warga masyarakat.
31
Burhan Bungin (Ed), Metodelogi penelitian kualitatif: aktualisasi Metodelogis kea rah Ragam Varian Kontemporer , PT Raja Grafindo Persada ,hal. 137, Jakarta, 2011.
F. Observasi
Observasi merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian kualitatif. Melalui tahap observasi, peneliti dapat mendokumentasikan dan merefleksi secara sistematis terhadap kegiatan dan interaksi subjek penelitian Observasi, ialah metode pengumpulan data dimana penelitian melihat mengamati secara visual sehingga validitas data sangat tergantung pada kemampuan observasi.32
Observasi ialah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis, mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung. Metode ini digunakan untuk melihat dan mengamati secra langsung keadaan dilapangan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas tentang permasalahan yang diteliti.33
Persoalan yang membutuhkan kegiatan observasi dalam Penelitian ini yaitu, kegiatan atau strategi advokasi lingkungan yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia, proses pembuatan suatu kebijakan yang dilakukan oleh pihak pemerintah daerah atau perusahaan terkait, kegiatan produksi dan eksploitasi alam yang dilakukan oleh pihak perusahaan, serta dampak positif/negatif yang dirasakan oleh masyarakat.
G. Dokumentasi
Dokumentasi, yaitu data-data yang diperoleh berbentuk surat-surat, catatan harian, foto, laporan dan sebagainya. Sifat utama data ini tak
32
Basrowi & Suwandi, op. Cit, hal. 94.
33
terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberikan peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi diwaktu lalu. Metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, seperti permasalahan kualitas sumber daya alam, proses dan dampak dari kegiatan pembangunan yang telah berlangsung selama ini diwilayah Kabupaten OKU, serta kualitas lingkungan hidup dan tingkat kesejahteraan masyarakat Kabupaten OKU, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, bukan berdasarkan pikiran. Dalam Penelitian sosial, fungsi data yang berasal dari dokumentasi lebih banyak digunakan sebagai data pendukung dan pelengkap bagi data primer yang diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam.34
H. Teknik Analisis Data
Pada perinsipnya analisis data kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Teknik analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberan, mencakup kegiatan bersamaan, yaitu.35
1) Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan, perhatian, pengabtraksian dan pentranformasian data kasar yang didapat dari lokasi lingkungan perusahaan yang berada diwilayah Kabupaten OKU. Proses ini berlangusng selama penelitian dilakukan, dari awal hingga akhir penelitian.
34
Ibid hal. 158.
35
2) Penyajian data, yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan, baik data yang diperolah dari LSM Jejak Indonesia, media (radio dan koran lokal), pemerintah daerah, akademisi, para penggiat LSM lingkungan dan pihak perusahaan terkait. Dalam proses ini peneliti mengelompokkan hal-hal yamg serupa menjadi kategori.
3) Menarik kesimpulan/verifikasi, penariakan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan- kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Makna- makna yang muncul dari data harus selalu diuji kebenaran dan keseuaian sehingga validitasnya terjamin.
Secara singkat teknik analisis data digambarkan dalam bagan 3.1. berikut ini : Bagan 3.1. Teknik Analisis Data
Pengumpulan Data Reduksi Data Penyajian Data Kesimpulan- Kesimpulan Penarikan/Verifikasi
Tabel 3.2 Konsep dan Metode Pengumpulan Data
No. Konsep Objek Metode
1. Manajemen Isu Dan Kampanye Advokasi
Persoalan yang membutuhkan adanya kebijakan 1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi 2. Menentukan Sasaran, Dukungan, dan Oposisi
Pembuat kebijakan yang dipengaruhi agar mendukung isu : DPRD, Pejabat Pemerintah Daerah 1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi 3. Mengembangkan Rencana Aksi
Membangun aliansi dengan kelompok, organisasi, atau individu lain yang
mempunyai komitmen untuk mendukung isu yang sama
1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi 4. Monitoring dan Evaluasi Monitoring : Proses
pengumpulan informasi untuk mengukur kemajuan ke arah tujuan strategis
Evaluasi : Proses mengumpulkan dan
menganalisis informasi untuk melihat apakah tujuan
strategis telah tercapai
1. Observasi 2. Wawancara 3. Dokumentasi
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Tahapan proses atau strategi yang dilakukan sering tidak sejalan dengan implementasi atau hasil yang diharapkan, begitu juga halnya dengan kegiatan advokasi yang digagas dan yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia dalam rangka meminimalisir dampak dari kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah Kabupaten OKU. Meskipun sangat sulit untuk dapat memaksimalkan hasil advokasi yang diharapkan, tetapi terdapat beberapa hasil positif yang bisa diraih dari kelima strategi advokasi yang digagas dan yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia. Berdasarkan hasil dan pembahasan serta pengamatan dan hasil studi lapangan yang telah dilakukan peneliti dalam penulisan tesis ini, maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut;
1. Manajemen Isu dan Kampanye Advokasi
Sebagai bentuk rasa keperihatinan melihat rusaknya kondisi lingkungan di Kabupaten OKU, mendorong LSM Jejak Indonesia untuk membangkitkan semangat bagi semua masyarakat agar lebih peduli menjaga kelestarian lingkungannya. Strategi memanajemen isu-isu sensitif mengenai kerusakan lingkungan yang terjadi
diwilayah Kabupaten OKU dan mengkampanyekan isu tersebut dalam kegiatan advokasi merupakan langkah awal yang efektif yang dilakukan oleh LSM Jejak Indonesia. Hasil minimal yang mampu