• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DAMPAK KEHADIRAN PT AR MARTABE DI BATANG

3.3. Faktor Penyebab Terjadinya Konflik

4.1.4 Menghalangi Penanaman Pipa Tanggal 30 September 2012

Pertemuan dengan Bupati Tapanuli Selatan H.Syahrul Pasaribu masyarakat yang tidak mendapatkan hasil apa-apa merasa kecewa dan akan terus melakukan penolakan-penolakan agar limbah tidak dibuang ke Sungai Batang Toru. Penolakan-penolakan-penolakan yang dilakukan masyarakat tidak mendapat respon. Tanggal 30 September setelah adanya perjanjian dari PT AR Martabe pada tanggal 06 September 2012 tidak akan mengeluarkan alat berat, tapi kenyataannya masyarakat yang merasa tidak diacuhkan datang melakukan aksi untuk menghalangi penanaman pipa yang dilakukan di Kampung Telo, sepanjang jalan menuju Kecamatan Muara Hutaraja.

Masyarakat yang merasa dibohongi terutama perempuan mendesak agar alat berat untuk mengeruk tanah diberhentikan dan tidak dioperasikan. Polisi yang saat itu mengusir masyarakat dari lokasi kejadian menambah kemarahan masyarakat. Banyak perempuan yang ditarik paksa oleh polisi dan tentara membuat masyarakat semakin marah dan semakin melakukan pemberhentian penanaman pipa penyaluran sisa air limbah PT AR Martabe. Banyak perempuan yang pingsan karena penarikan paksa dan berdesak-desakan antara masyarakat dengan polisi yang terus menerus membubarkan masyarakat yang berdemo secara paksa.

Perempuan-perempuan yang ingin memberhentikan pengerukan tanah langsung menyerobot untuk mendekati alat berat agar tidak dilakukan operasi alat berat. Ratusan Polisi sudah dipersiapkan untuk mengawal penanaman pipa. Tapi karena masyarakat yang semakin menjadi-jadi dan semakin nekat membuat proses penanaman pipa diberhentikan dan penarikan pasukan keamanan dari lokasi. Setelah bersitegang dengan pihak keamanan yang mengawal ketat penanaman pipa tersebut akhirnya tidak sampai kericuhan besar terjadi. Dengan penarikan polisi dari lokasi penanaman pipa masyarakat berangsur-angsur pulang dan suasana di Kampung Telo tempat penanaman Pipa PT AR Martabe mulai aman, walaupun ada penjagaan dari beberapa aparat keamanan.

4.1.5. Pembakaran Kantor Polisi dan Kantor Camat

Kesepakatan antara PT AR Martabe dengan Masyarakat semakin tidak didapatkan karena pembuangan limbah tetap akan dilanjutkan walaupun masyarakat sudah melakukan aksi demo di depan PT AR Martabe dan di depan Kantor Bupati Tapanuli Selatan. Masyarakat melakukan aksi demo selama 4 bulan tapi tidak mendapatkan hasil yang di inginkan masyarakat. Masyarakat yang menuntut agar pembuangan limbah tidak dibuang ke Sungai Batang Toru tidak tercapai. PT AR Martabe mendesak limbah harus dibuang karena jika tidak segera dibuang produksi yang akan dilakukan PT AR Martabe tidak berjalan lancar. Selain itu jika limbah tidak dibuang secepatnya dikhawatirkan kolam penampungan limbah di dalam Lokasi PT AR Martabe akan jebol, menyebabkan kerusakan yang lebih parah lagi.

Setelah melakukan pertemuan dengan camat dan unsur muspida dan muspika daerah akhirnya penanaman pipa pembuangan PT AR Martabe akan dilanjutkan kembali pada tanggal 29 Oktober 2012 dengan dikawal banyak anggota keamaan terdiri dari polisi dan tentara. Pengawalan ini dilakukan karena atas Permintaan dari PT AR Martabe agar penanaman pipa berjalan lancar. Penanaman pipa dijadwalkan akan berlangsung selama 14 hari. Penanaman pipa High-Density Polyethylene (HDPE) dengan ketebalan 3,1cm dengan diameter 60 cm dan kedalaman pipa di taman sekitar 1 m lebih tidak ada ada mendapatkan gangguan dari yang berarti dari masyarakat. Masyarakat hanya melempari Polisi dan TNI yang menjaga ketat penanaman pipa PT AR Martabe. Penanaman pipa pembuagan pada hari pertama tidak ada hambatan sehingga berjalan lancar.

Pada hari sebelumnya tanggal 28 Oktober 2012 sebanyak 850 orang aparat keamanan sudah diturunkan untuk mengamankan penanaman pipa yang akan dilakukan.

850 orang aparat keamanan ini terdiri dari 450 polisi sektor ,Polres Tapsel, 200 Sat Brimob Kompi C Sipirok dan 200 anggota Yonif 122 TNI AD. Selama 15 hari pengawalan polisi ini akan terus dilakukan mengantisipasi terjadinya aksi masyarakat yang tidak di inginkan.

Penanaman pipa dihari kedua kerusuhan mulai terjadi kembali, pada hari selasa 30 Oktober 2012 menjadi puncak kegeraman masyarakat. Pada hari itu masyarakat tidak melakukan aksi demo di tempat penanaman limbah tapi dengan melakukan aksi demo langsung ke PT AR Martabe, Kantor Camat dan Kantor Polisi. Menurut seorang informan saya pembuangan limbah dan penanaman limbah tidak bisa dihentikan lagi sehingga masyarakat yang sangat marah melampiaskan sasarannya langsung ke PT AR

Martabe. Demo yang dilakukan masyarakat tidak ada surat pemberitaan terlebih dahulu, masyarakat mengambil tindakannya sendiri karena merasa tidak ada gunanya meminta izin untuk melakukan demo pasti akan tidak diberikan, dan masyarakat juga tidak peduli lagi dengan larangan dari pemerintah.

Demonstrasi dimulai pada pukul 11 siang dari Desa Telo, mereka yang melakukan aksi demo terdiri dari masyarakat Kecamatan Muara Batang Toru dan Kecamatan Batang Toru tapi di dominasi oleh masyarakat Kecamatan Batang Toru karena masyarakat Kecamatan Muara Batang Toru lah yang paling mempunyai kepentingan pada sungai Batang Toru. masyarakat yang terdiri dari ratusan orang ini keluar dari Kampung Telo (Desa Telo) langsung memblokir jembatan Lintas Sumatera yang berada diperbatasan Wek IV dengan Desa Telo. Pemblokiran dilakukan agar Polisi tidak bisa lewat karena Masyarakat pada awalnya ingin menyerbu lokasi PT AR Martabe di Aek Pining.

Penuturan informan peneliti Ucok Tanjung (30) seorang warga dari Kampung Telo yang ikut memulai pemblokiran jalan bercerita mengenai aksi pemblokiran jalan yang bercerita dengan kesal, waktu saya temui dia sedang berada di Lopo Kopi Roni Sihombing,:

“ro sms sian dongan-dongan alak Hutaraja halai madung donok, hami pe dison marsiap ma hami, sampe halai di kampung telo hami palang ma jambatan na dijolo Wek IV ditutung ban, anso ulang bisa lewat Polisi sanga pe tentara naso marguna i mangalarang kami. Anggo rencana nami got tu tambang an do hami mambakar tambang i, inda adong pemerintah na ra malehen perhatian tu masyarakat on, i do dabo namambaen holas di rasa dongan-dongan termasuk au, tambang i sajo ma na dibela-bela halai aran na bahat i hepeng dapot kalai sian tambang i, naso marotak-otak do sude i, apalagi polisi-polisi naso mamboto uttung i.”(Datang Sms dari kawan-kawan orang Hutaraja kalau mereka sudah dekat, kami disini

bersiap-siap, mereka sampai di kampung telo kami langsung mempalang jembatan dan membakar ban yan di Wek IV, Polisi dan Tentara yang tidak berguna agar tidak bisa lewat melarang kami,. Rencana awal kami ingin membakar tambang (PT AR Martabe), tidak ada pemerintah yang mau memberikan perhatian kepada masyarakat, itu yang membuat panas hati kawan-kawan termasuk saya. Tambang itu aja yang selalu dibela pemerintah karena mereka banyak mendapatkan duit dari tambang, apalagi polisi-polisi yang tidak tau diri itu.

Masyarakat yang melakukan aksi demo merupakan masyarakat yang masih menolak pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru. Demonstrasi yang dilakukan masyarakat merupakan demonstrasi yang berlangsung secara spontan. Masyarakat yang melakukan aksi demo merupakan masyarakat yang datang dari kecamatan Muara Batang Toru dan Kecamatan Batang Toru. Masyarakat Kecamatan Batang Toru yang ikut aksi demo pada hari senin hanya terdiri dari desa-desa yang Wek 1, Wek 2, Wek 3, Wek 4 dan Desa Telo. Sedangkan untuk Kecamatan Muara Hutaraja rata-rata terdiri dari semua desa yang berada di Kecamatan Muara Hutaraja.

Masyarakat yang melakukan aksi demo pada hari selasa setelah melakukan pemblokiran jalan di jembatan Lintas Sumatera yang ada diantara Wek 4 dan Kampung Napa. Masyarakat yang saat itu hanya berjumlah sebanyak 200an orang mulai dibubarkan paksa oleh polisi yang datang untuk membubarkan masyarakat yang melakukan aksi demo. Karena adanya pembubaran paksa yang dilakukan oleh Polisi orang yang berdemo memlempari polisi yang melakukan pembubaran paksa, polisi langsung melemparkan gas air mata untuk menghalangi masyarakat yang melakukan aksi demo. Karena adanya pembuangan gas air mata masyarakat yang melakukan aksi demo langsung mengatakan

“Serbu” dan mereka yang melakukan aksi demo langsung menuju ke Kantor Polsek Batang Toru. Hal itu dilakukan karena merasa tidak senang polisi memihak kepada PT

AR Martabe dan tidak pernah mendukung masyarakat. Karena bertepatan hari selasa merupakan hari dimana pekan di Batang Toru sehingga terlihat sangat ramai. Informan saya mengatakan:

“na marjagal do au di pasar, ro halak na rame marlojong-lojong Serbu-serbu nihalai, au pe u tinggalkon parjagalan ki, halak na marjagal di pasar i bahat na marmonjapan, u ida halai mangaramban kantor polisi au pe dohot-dohotan do au, manyego-nyego kantor polisi dohot kantor camat. Manembaki ma polisi-polisi i, marlojong ma sude marmonjapan, tartembak muse ma pat ku i, anggo au inda u boto sanga aha-aha be marlojong monjap tu bagas, untung ma pasuo dohot kakak di onjapkon ia au, gari madung tartakkup au”(saya berjualan di pasar, banyak orang berlari-lari mengatakan serbu-serbu saya meninggalkan jualan saya, orang-orang yang berjualan di pasar banyak yang sembunyi, banyak orang saya lihat melempari kantor polisi saya pun ikut-ikutan, merusak kantor polisi dan kantor camat. Polisi mulai menembaki semua yang berdemo lari dan sembunyi, kaki saya kena tembak, kalau saya tidak tau apa-apa lagi dan langsung sembunyi kerumah, untung ada kakak saya yang menyembunyikan saya kalau tidak saya sudah tertangkap).

Di kantor Polisi masyarakat langsung merusak ruang kapolsek, ruang kanit reskrim, ruang kanit intel, ruang kanit lantas, ruang penjagaan, ruang SI UM, plang polsek, serta enam pintu rumah yang ada di asrama polsek dan merusak sejumlah mobil, yakni mobil dinas Polsek Batangtoru jenis Mitsubishi Kuda, Kijang Grand BK 446 US, Kijang Super BK 1557 LV, dan Colt Diesel BB 9022 FP. Setelah melakukan pengrusakan di Kantor Polisi masyarakat yang semakin banyak langsung menuju Kantor Camat Muara Batang Toru dan merusak kantor camat Batang Toru. Masyarakat yang merusak ruang tunggu kantor Camat dan rumah dinas camat batang toru. selain itu masyarakat merusak mobil Perpustakaan Keliling jenis Daihatsu Grand Max nomor polisi B 9607 FA, mobil milik Kesbang Linmas Tapsel jenis TS Terios BB 1034 G, mobil operasional Satpol PP Tapsel jenis L200 Hilux BB 8026 G, mobil Kijang Innova BB 668

FA. Sedangkan mobil yang dibakar massa adalah Suzuki Katana BK 1951 EV yang sedang parkir di halaman kantor camat Batang Toru.

Tidak puas hanya membakar kantor camat dan kantor polisi di Kecamatan Batang Toru masyarakat yang semakin banyak langsung menuju kantor camat Muara Batang Toru, masyarakat yang datang dengan mengendarai sepeda motor langsung membakar kantor camat Muara Batang Toru semua yang ada di kantor camat Muara Batang toru habis dibakar masyarakat yang melakukan aksi demo. Penuturan lurah Hutaraja:

“inda diboto sanga sian dia par ro ni halak i, oppot ro halai langsung mambakar sude kantor habis sude, inda adong na tinggal, ro langsung polisi marlojong an mahalai sude”(tidak tau dari mana datangnya orang-orang, datangnya tiba-tiba langsung membakar kantor sampai habis tidak ada yang tinggal, langsung datang polisi dan mereka lari tak tentu arah).

Setelah melakukan pembakaran dan pengrusakan polisi langsung manangkap semua orang laki-laki yang berada disekitar lokasi kerusuhan. Tidak peduli orang yang ditangkap semua laki-laki yang ada di Batang Toru yang basah bajunya ditangkap oleh Polisi yang mengamankan di sekitar Kecamatan Batang Toru. Pembakaran yang dilakukan masyarakat merupakan suatu aksi protes karena tuntutan masyarakat yang tidak dipenuhi agar limbah tidak dibuang ke Sungai Batang Toru.

Masyarakat yang melakukan aksi demo pada hari selasa tersebut pada awalnya hanya beberapa orang saja. Tapi karena hari itu bertepatan hari selasa pada saat itu merupakan hari pekan sehingga banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam aksi pembakaran dan pengrusakan tersebut. Partisipasi yang dikatakan partisipasi “manyego-nyego”(merusak) oleh sebagian masyarakat. Masyarakat yang semakin banyak bukan hanya kesal karena pembuangan limbah di Sungai Batang Toru karena sudah banyak

kesal terhadap PT AR Martabe. Permintaan tenaga kerja yang tidak dipenuhi, keadaan alam di Batang Toru yang sudah tidak stabil, sering terjadi peledakan, moral masyarakat yang semakin menurun dan masyarakat yang merasa tambah miskin dengan kehadiran PT AR Martabe menyebabkan ramainya masyarakat yang ikut dalam pengrusakan pada hari itu.

Kerusuhan yang terjadi pada hari selasa tersebut orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut tidak hanya karena pembuangan limbah ke Sungai Batang Toru, melainkan karena banyaknya Penipuan yang dilakukan PT AR Martabe pada setiap kegiatan pertambangan yang dilakukan PT AR Martabe. Penipuan yang dilakukan antara lain adalah lokasi tambang. Dari sepengetahuan masyarakat lokasi tambang harus lah jauh dari pemukiman masyarakat, tapi kenyataannya hanya berjarak tiga meter dari pemukiman masyarakat. Hal yang menjadi salah satu penyebab Kemarahan Masyarakat. Selain itu PT AR Martabe telah mengambil semua sumber air bersih masyarakat dan mengalirkannya ke Perusahaan mereka, sedangkan masyarakat mulai kekurangan air. Banyak penipuan-penipuan yang dilakukan PT AR Martabe dalam kegiatan pertambangannya.

4.2. Keadaan Batang Toru Setelah Terjadi Kerusuhan

Polisi yang membubarkan paksa dan menangkap semua orang yang terlibat dalam kerusuhan, pembakaran dan pengrusakan kantor camat dan kantor Polisi mulai menangkapi semua orang yang terlibat kerusuhan tersebut. Orang-orang mulai berlari untuk sembunyi ke semua tempat agar tidak di tangkap oleh Polisi. Polisi mengeluarkan

tembakan-tembakan agar masyarakat yang berdemo pada saat itu berhenti dan menyerahkan diri mereka. Tidak peduli siapapun polisi menangkap setiap laki-laki yang ada di Batang Toru pada saat itu. Banyak lak-laki yang yang sembunyi ke Hutan, melompat ke Sungai, menghindari penangkapan yang dilakukan oleh Polisi. Pada saat heboh penangkapan tersebut polisi terus menerus mengeluarkan tembakan-temabakan kepada orang-orang yang sudah berlari dan mencari tempat persembunyian.

Pada saat itu suasana sangat mencekam dan menakutkan, tidak peduli siapa laki-lakinya yang basah bajunya ditarik paksa oleh polisi. Setiap laki-laki yang ada di Batang Toru. Informan saya di Kelurahan Wek 2 mengatakan:

“wiii,,, nangerian pas kaluar ngen bagas madung marlojongi halak sude, polisi pe madung ro, tembak ditangan ni polisi i, au na saat i mabiar manyokkir-nyokkir au tu polisi i anso ulang ditembakkon ia tembak nia,…

jangan tembak disini pak, kami tidak tau apa-apa pak jangan tembak pak…, songoni ma udokkon manyokkir-nyokir au aso ulang ditembakkon polisi i tembak nia i, mabiar do iba da, nasadia honok maninggal ma dibelakang bagas on aran ni tarsonggot suara tembakan, inda jungada songonon kacauna bataktoruon oppot songonon tarsonggot”(wiii, sangat ngeri waktu saya keluar dari rumah orang-orang sudah berlari-lari, polisi datang dengan memegang Pistol ditanganny, saya yang saat itu sangat ketakutan menjerit-jerit kepada bapak polisi agar tidak ditembak, .. jangan ditembak disini pak, kami tidak tau apa-apa pak, jangan tembak pak..

seperti itu saya bilang dengan menjeriti agar polisi tidak menembakkan senjatanya, saya sangat takut, tidak berapa lama setelah kejadian tersebut meninggal tetangga belakang rumah karena terkejut mendengar suara tembakan, tidak pernah seperti ini, tiba-tiba terjadi membuat badan terkejut).

Keadaan semakin tidak di Batang Toru suasana di Batang Toru berubah dari sangat ramai dan kacau menjadi sepi dan tenang sangat mencekam. Orang-orang yang

berlarian muali dari lari ke Hutan, melompat ke Sungai, pergi ketempat saudara yang berada diluar kota agar tidak ditangkap oleh polisi-polisi yang mengejar. Polisi tidak peduli siapa saja yang mereka tangkap, seorang informan bercerita kalau polisi melihat seseorang masuk kerumah makan yang ada disamping kantor polisi dan menemukan seorang laki-laki yang sedang tidur dikamar dan terbangun karena mendengar suara rebut-ribut juga diangkat paksa dari rumahnya.

Orang-orang yang berdemo tidak hanya bersembunyi di Sekitar Pasar Batang Toru saja tapi menuju Kampung Telo. Masyarakat yang tenang-tenang dikejutkan dengan orang-orang yang berlari dengan panik menuju arah kampung Telo. Terdengar suara tembakan polisi berkali-kali dan mengenai rumah masyarakat. Istri ketua BPD Kampung Telo mengatakan:

“pas songon masa PKI doma waktu na marlojongan i halai tuson, waktu i nantulang marjagal dohot dongan-dongan piga halak alak nantulang i, pas ro polisi i nantulang tutup langsung lopo monjap doma hami sude, tarbege tembakan-tembakan ni polisi i, honi tu dinding bagas indi pas disamping, ditoko-toko polisi bagas anso dibuka tai mabiar nantulang inda nantulang buka, sampe kehe polisi-polisi dohot madung tenang inda adong tarbege suara-suara baru puluk alak nantulang kaluar”(persis seperti masa PKI waktu orang-orang berlari kearah sini, pada saat itu nantulang lagi jualan dengan kawana-kawan nantulang beberapa orang, datang polisi langsung nantulang tutup kedai nantulang, kami semua langsung sembunyi, terdengar suara tembakan-tembakan polisi kena ke dinding rumah yang sebelah samping, polisi mengetuk-ngetuk rumah agar dibuka, tapi nantulang takut, gak nantulang buka, sampai pigi polisinya dan keadaan mulai tenang baru berani nantulang buka pintu).

Polisi yang melakukan pencarian terhadap setiap laki-laki yang ada di Batang Toru tidak hanya berlangsung hari itu saja, tapi berlangsung beberapa hari. Pencarian

dilakukan polisi mulai dari menyusuri sungai Batang Toru dan hutan yang dianggap menjadi tempat persembunyian oleh masyarakat yang lari. Setelah penangkapan dan banyak laki-laki yang melarikan diri membuat keadaan di Batang Toru sang sepi dan mencekam. Banyak orang yang takut untuk keluar dan perempuan-perempuan juga merasa tidak nyaman berada diluar. Menurut beberapa informan kondisi di Batang Toru sangat mencekam dan sepi.

Paling menyedihkan karena tidak adanya laki-laki dewasa di Batang Toru pada saat ada orang meninggal setelah bentrok tersebut di Kampung Telo tidak ada satupun laki-laki dewasa yang hadir dari daerah Batang Toru.Dengan terpaksa yang menggali makam dan menguburkan adalah anak sekolah MTs N yang ada di Kampung Telo.

Begitu juga saat meninggal di Wek 2 tidak ada yang berani untuk melayat setelah beberapa jam meninggalnya orang-orang mulai berdatangan dan laki-laki tidak ada, sehingga yang mengerjakan penggalian makam adalah anak-anak remaja sampai melakukan pemakaman.

Penyusuran pencarian orang yang terlibat kerusuhan terjadi selama dua bulan.

Selama dua bulan keadaan di Batang Toru belum aman dan masyarakat belum merasa nyaman. Banyak laki-laki juga belum kembali dari tempat persembunyian mereka. Hal ini dikeluhkan oleh perempuan-perempuan yang harus ditinggalak keluarga mereka.

Bahkan ada yang tidak tahu keluarga mereka sembunyi dimana. Setelah melakukan penyisiran di berbagai tempat akhirnya polisi menangakap 32 orang yang dianggap sebagai tersangka. Dari 32 orang tersebut 20 orang dibebaskan dengan kondisi yang

sangat memprihatinkan karena disiksa oleh polisi selama dipenjara. 12 orang dipenjara selama 8 bulan. Selama dipenjara mereka tidak lepas dari siksaan polisi. 12 tersangka baru keluar dari penjara pada bulan juli 2013 dengan banyak luka bekas penyiksaan oleh polisi dibadannya.

Setelah terjadinya konflik tersebut hotel-hotel yang berada di Batang Toru mengalami penurunan. Dari semula banyak dari karyawan PT AR Martabe yang menginap di Hotel tapi setelah terjadi konflik tersebut banyak yang tidak berani untuk datang ke Hotel karena takut kepada masyarakat yang sudah pesimis terhadap kehadiran PT AR Martabe di Batang Toru.

4.3. Bentuk Penyelesaian Konflik Antara Masyarakat dengan PT AR Martabe

Setelah terjadi konflik yang besar dan aksi anarkis yang dilakukan masyarakat akhirnya dibuat perjanjian antara PT AR Martabe dan masyarakat. Perjanjian itu diharapkan bisa menenangkan masyarakat yang ada disekitar tambang dan orang-orang yang menolak pembuangan limbah PT AR Martabe ke Sungai Batangtoru. Perjanjian tersebut antara lain dalam jangka waktu 11 bulan penyambungan perpanjangan pipa penyaluran limbah ke Sungai Batang Toru akan selesai dibuang ke Tor Sibusuk Desa Bongal. Selain itu PT AR Martabe mengundang unsure masyarakat untuk hadir saat Pihak PT AR Martabe akan meminum sisa air limbah produksi PT AR Martabe.

masyarakat yang saat itu datang melihat langsung karyawan PT AR Martabe meminum air limbah tersebut. Tapi setelah meminum air limbah tersebut karyawan yang meminum

sisa air limbah hilang seminggu tidak pernah terlihat. Sehingga masyarakat menuduh itu merupakan suatu penipuan lagi yang dilakukan PT AR Martabe.

4.3.1. Pemberian Bantuan Kepada Daerah Lingkar Tambang

Pemberian bantuan merupakan kewajiban dari PT AR Martabe kepada masyarakat yang berada di daerah lingkar tambang. Pemberian bantuan tersebut

Pemberian bantuan merupakan kewajiban dari PT AR Martabe kepada masyarakat yang berada di daerah lingkar tambang. Pemberian bantuan tersebut