PENGOLAHAN DATA
3.4 Menguji Validitas Model Regresi
Validitas model regresi dilakukan agar dapat mengetahui ketiadaan otokolelasi, linearitas, dan normalitas data.
A. Pengecekan otokorelasi
Pada tabel 3.5. Bagian Model Summary dapat dilihat nilai Durbin-Watson.
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .915a .837 .739 43209.069 1.275
a. Predictors: (Constant), rata kecepatan angin, rata suhu udara, rata-rata curah hujan, jumlah hari hujan, rata-rata-rata-rata kelembaban udara, luas panen
Nilai Durbin-Watson sebesar 1,232 dapat dilihat pada kolom paling kanan. Berdasarkan ketentuan, otokorelasi tidak akan terjadi jika:
1 < DW < 3
Perhitungan berdasarkan data observasi sebagai berikut: 1 < 1,275 < 3
Maka dapat disimpulkan tidak akan terjadi otokorelasi data dalam menganalisis data observasi.
B. Pengecekan ada atau tidaknya hubungan linear antara variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y).
1) Hubungan produksi jagung dengan luas panen
Gambar 3.11. grafik hubungan produksi jagung dengan luas panen
Gambar 3.12. grafik hubungan produksi jagung dengan rata-rata suhu udara
3) Hubungan produksi jagung dengan rata-rata kelembaban udara
4) Hubungan produksi jagung dengan rata-rata curah hujan
Gambar 3.14. grafik hubungan produksi jagung dengan rata-rata curah hujan
Gambar 3.15. grafik hubungan produksi jagung dengan jumlah hari hujan 6) Hubungan produksi jagung dengan rata-rata kecepatan angin
Gambar 3.16. grafik hubungan produksi jagung dengan rata-rata kecepatan angin
Semua gambar diatas menunjukkan adanya hubungan linear antara luas panen, rata-rata suhu udara, rata-rata-rata-rata kelembaban udara, rata-rata-rata-rata curah hujan, jumlah hari hujan dan rata-rata kecepatan angin dengan produksi jagung karena sebaran data mengikuti garis lurus dari bawah menuju atas.
C. Data harus berdistribusi normal
Berikut adalah histogram untuk masing-masing variabel tersebut. 1) Histogram produksi jagung dengan luas panen
Gambar 3.17. histogram produksi jagung dengan luas panen
Gambar 3.18. histogram produksi jagung dengan rata-rata suhu udara
3) Histogram produksi jagung dengan rata-rata kelembaban udara
Gambar 3.19. histogram produksi jagung dengan rata-rata kelembaban udara
Gambar 3.20. histogram produksi jagung dengan rata-rata curah hujan
5) Hubungan histogram produksi jagung dengan jumlah hari hujan
Gambar 3.21. Histogram produksi jagung dengan jumlah hari hujan
Gambar 3.22. Histogram produksi jagung dengan rata-rata kecepatan angin
Meskipun semua gafik histogram tidak sempurna, akan tetapi data sudah mendekati bentuk standar distribusi normal, yakni sebaran data berbentuk bel.
BAB 4
PENUTUP
4.1Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan penulis, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. Dari perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan software maka diperoleh hasil persamaan regresi linier berganda yaitu
Ini berarti jika dan bertambah maka akan cenderung bertambah,
sebaliknya jika dan mengalami kenaikan maka akan cenderung
menurun. Dan jika semua variabel bernilai 0 maka .
2. Melalui perhitungan koefisien korelasi antar variabal dependent dan
independent maka di peroleh,
a. Besarnya hubungan antar variabel produksi jagung dan luas panen adalah 0,844. Nilai ini menunjukan bahwa hubungan kedua variabel tersebut sangat kuat. Koefisien korelasi positif (0,844) menunjukan bahwa hubungan antara variabel produksi jagung dan luas panen searah. Artinya, jika variabel luas panen meningkat, maka produksi jagung juga akan meningkat.
b. Besarnya hubungan antar variabel produksi jagung dan rata-rata suhu udara adalah -0,422. Nilai ini menunjukan hubungan korelasi sedang yang negatif. Koefisien korelasi negative (-0,422) menunjukkan bahwa
hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata suhu udara tidak searah.
Artinya, jika variabel rata-rata suhu udara meningkat maka variabel produksi jagung menurun. Sebaliknya, jika variabel rata-rata suhu udara menurun maka variabel produksi jagung meningkat.
c. Besarnya hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata kelembaban udara 0,458. Nilai ini menunjukkan hubungan korelasi sedang positif. Koefisien korelasi positif (0,458) menunjukkan bahwa hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata kelembaban udara searah. Artinya, jika variabel kelembaban udara meningkat maka variabel produksi jagung juga akan meningkat.
d. Besarnya hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata curah hujan adalah -0,479. Nilai ini menunjukan hubungan korelasi sedang yang negatif. Koefisien korelasi negative (-0,479) menunjukkan bahwa hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata curah hujan tidak searah. Artinya, jika variabel rata-rata curah hujan meningkat maka variabel produksi jagung menurun. Sebaliknya, jika variabel rata-rata curah hujan menurun maka variabel produksi jagung meningkat.
e. Besarnya hubungan antara variabel produksi jagung dan jumlah hari hujan adalah 0,377. Nilai ini menunjukkan hubungan korelasi sedang positif. Koefisien korelasi positif (0,377) menunjukkan bahwa hubungan antara variabel produksi jagung dan jumlah hari hujan searah. Artinya, jika variabel jumlah hari hujan meningkat maka variabel produksi jagung juga akan meningkat.
f. Besarnya hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata kecepatan angin adalah 0,116. Nilai ini menunjukkan hubungan korelasi sedang positif. Koefisien korelasi positif (0,458) menunjukkan bahwa hubungan antara variabel produksi jagung dan rata-rata kelembaban udara searah. Artinya, jika variabel kecepatan angin meningkat maka variabel produksi jagung juga akan meningkat.
3. Dari tabel Coefficients diperoleh hanya satu variable nilai jatuh pada daerah penerimaan yaitu variable luas panen. Maka, yang berpengaruh terhadap produksi jagung adalah luas panen.
4.2Saran
1. Dalam melakukan usaha pertanian jagung petani agar
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung sehingga dapat mencapai efisiensi dalam memproduksi jagung. Hubungan faktor-faktor merupakan hubungan antara faktor produksi yang satu dengan faktor produksi yang lainnya. Untuk memperoleh suatu produksi petani dapat menggunakan bermacam-macam faktor produksi dalam berbagai kombinasinya.
2. Saat ini walaupun petani memperoleh produksi yang besar, namun
petani memperoleh pendapatan yang rendah karena mereka menjual hasil pada saat panen raya sehingga harga rendah. Petani perlu menyimpan dahulu menunggu harga baik. Akan tetapi permasalahan mereka adalah kebutuhan akan uang tunai yang sangat mendesak menyebabkan petani menjual saat panen. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan cara bekerjasama
membentuk kelompok atau koperasi pertanian atau bekerjasama dengan lembaga lain.
Dengan demikian petani dapat menunjukkan produksinya sebagai agunan maka petani memperoleh pinjaman uang tunai saat itu juga. Agunan petani pada lembaga tersebut dikelola menunggu saat yang tepat yaitu harga baik baru dijual. Saat ini pemerintah telah menerbitkan undang-undang tentang lembaga tersebut yaitu lembaga pembiayaan pertanian dengan sistem resi gudang.