• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN DAYA SAING BATIK TRUSMI DI CIREBON

Dalam dokumen Full Paper Prosiding Senapenmas 2017 (Halaman 196-200)

Muhammad Tony Nawawi1 ; Yusbardini2

1,2Program S-1 Manajemen, Fakultas Ekonomi Untar Jakarta. Email: [email protected]

Email: [email protected]

ABSTRAK

Kegiatan PKM ini dilakukan bertujuan untuk memberikan pelatihan kepada para pelaku UMKM Batik tentang manajemen pemasaran, sehingga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan mereka dan dapat meningkatkan daya saing di era globalisasi. Kegiatan pelatihan ini dilakukan dengan menggunakan metode pelatihan yang meliputi, wawancara, ceramah, sosialisasi dan dokumentasi. Subyek dalam kegiatan PKM ini adalah para pelaku UMKM Batik Trusmi yang berlokasi di desa trusmi pusat kerajinan batik trusmi kota Cirebon. Hasil kegiatan adalah peningkatan keterampilan manajemen pemasaran yang meliputi strategi produk, strategi penetapan harga, strategi promosi, strategi distribusi. Untuk itu, diperlukan pola hubungan yang bersinergi dari pihak pemda dan pihak UMKM yang berkepentingan serta pihak perguruan tinggi.

Kata kunci : pelatihan; manajemen pemasaran; batik trusmi. .

PENDAHULUAN

Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai peran yang strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga kerja serta berperan dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. Hal ini terbukti dalam krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia berapa tahun yang lalu, banyak usaha berskala besar yang mengalami stagnasi bahkan berhenti aktifitasnya, sedangkan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti lebih tangguh dalam menghadapi krisis tersebut. Salah satu Sektor UMKM itu adalah Usaha Batik merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Sehingga hampir setiap daerah di Indonesia memiliki seni dan motif batik sendiri. Tak terkecuali Kota Cirebon yang mempunyai ciri khas batik tersendiri.

Belum kokohnya fundamental perekonomian Indonesia, mendorong pemerintah untuk terus memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan memberi peluang bagi UMKM untuk berkembang dan bersaing dengan perusahaan yang lebih cenderung menggunakan modal besar (capital intensive). Eksistensi UMKM memang tidak dapat diragukan lagi karena terbukti mampu bertahan dan menjadi roda penggerak ekonomi, terutama pasca krisis ekonomi. Disisi lain, UMKM juga menghadapi banyak sekali permasalahan, yaitu terbatasnya modal kerja, Sumber Daya Manusia yang rendah, dan minimnya penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi (Ina,Primiana 2009). Kendala lain yang dihadapi UMKM adalah keterkaitan dengan prospek usaha yang kurang jelas serta perencanaan, visi dan misi yang belum mantap. Hal ini terjadi karena umumnya UMKM bersifat income gathering yaitu menaikkan pendapatan, dengan ciri-ciri sebagai berikut: merupakan usaha milik keluarga, menggunakan teknologi yang masih relatif sederhana, kurang memiliki akses permodalan (bankable), dan tidak ada pemisahan modal usaha dengan kebutuhan pribadi serta manajemen pemasaran yang terbatas.

Daerah penghasil produksi dan pengrajin batik Cirebonan terdapat di 5 wilayah desa yang berbeda, tepatnya daerah-daerah yang ada di sekitar desa Trusmi (pusat batik Cirebonan). Desa- desa yang berada di sekitar desa Trusmi diantaranya desa Gamel, Kaliwulu, Wotgali, Kalitengah dan Panembahan. Pertumbuhan batik Trusmi nampak bergerak dengan cepat mulai tahun 2000,

182

hal ini bisa dilihat dari banyaknya bermunculan UMKM batik dengan showroom-showroom batik yang berada di sekitar jalan utama desa Trusmi dan Panembahan. UMKM batik Trusmi hampir seluruhnya dimiliki oleh masyarakat Trusmi asli walaupun ada satu atau dua saja yang dimiliki oleh pemilik modal dari luar Trusmi.Meski demikian, produk batik di pasar domestik masih terkendala berbagai hal .Peningkatan nilai tambah di sentra batik Trusmi Kabupaten Cirebon masih terkendala masalah klasik yakni kekurangan modal usaha dan pemasaran. Pak Masnedi menuturkan perajin kecil juga kesulitan dalam pemasaran di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat. Saat ini, katanya, pasar showroom batik yang ada di Trusmi Kabupaten Cirebon hampir didominasi produk batik dari luar Cirebon seperti Pekalongan."Bahkan perbandingan peredaran batiknya hampir berimbang, karena batik Pekalongan seluruhnya kebanyakan diproduksi secara massal [batik printing], yang harga jualnya lebih murah dibandingkan batik tulis dan cetak yang diproduksi perajin batik Cirebon," tuturnya.Sedangkan untuk masalah pemasaran tambah Pak Supardi, pemerintah beserta asosiasi dan koperasi batik Cirebon, berusaha mencari segmen pasar baru pengguna batik tulis dan cetak Cirebon dengan motif khas mega mendung, yang tidak tersentuh produk batik daerah lain (Pekalongan)."Kalau batik tulis dan cetak tentu harga dan segmen penggunanya pun beda dengan pengguna batik printing, diharapkan ketika produk batik Cirebon memiliki semen pasar sendiri, tidak akan terimbas serbuan produk batik dari luar Cirebon.

Berdasarkan hasil Survey dan wawancara ditemukan permasalahan yang dihadapi UMKM batik trusmi di Cirebon adalah :

1. Belum terealisasikan potensi yang dimiliki UKM batik trusmi karena minimnya pengetahuan manajemen pemasaran, terutama berkaitan strategi produk, strategi harga, strategi distribusi dan strategi promosi sehingga batik trusmi kurang berkembang/dikenal.

2. Belum adanya kesadaran UKM batik trusmi untuk membenahi manajemen pemasaran sehingga dapat menyelesaikan permasalahan terutama berkaitan dengan strategi manajemen pemasaran sehingga dapat meningkatkan daya saing.

3. Belum adanya pihak yang memfasilitasi UMKM batik trusmi untuk dapat meningkatkan daya saing baik didalam negeri maupun di manca negara.

4. Belum adanya koordinasi yang baik antara pihak terkait dengan UMKM batik trusmi maupun antar UKM batik dan pengrajin batik dalam upaya meningkatkan pemasaran batik trusmi dan meningkatkan daya saing batik trusmi dengan batik batik lainya seperti batik pekalongan. Adapun tujuan dari kegiatan PKM ini adalah :

1. Untuk terealisasikan potensi yang dimiliki UMKM batik trusmi dengan meningkatkan pengetahuan tentang strategi pemasaran sehingga dapat meningkatkan penjualan dan daya saing.

2. Untuk menumbuh kesadaran pelaku UMKM untuk membenahi manajemen pemasaran sehingga dapat menyelesaikan permasalahan pemasaran terutama berkaitan dengan place (daerah pemasaran) dan strategi pemasaran.

3. Untuk memfasilitasi UMKM batik trusmi untuk merealisasikan potensi yang dimilki dengan menerapkan strategi manajemen pemasaran yg tepat sehingga dapat meningkatkan daya saing 4. Membantu dalam mengoordinasi antara pihak terkait dengan UMKM batik trusmi dalam upaya memasarkan dan memperkenalkan batik trusmi sehingga diminati masyarakat Indonesia dan bahkan kemanca Negara.

183

METODE PELAKSANAAN PKM

A.Solusi untuk Mengatasi Masalah Mitra

Berdasarkan analisis situasi dan permasalahan yang dihadapi UMKM batik trusmi dalam manajemen pemasaran produk batik berupa pelatihan manajemen pemasaran.

1. Pelatihan

Kegiatan pelatihan manajemen pemasaran dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang pengetahuan manajemen pemasaran bagi pelaku UMKM batik trusmi. Kegiatan ini juga berupaya untuk meningkatkan ketrampilan pengelolaan pemasaran produk dari mulai strategi penetapan produk ,strategi penetapan harga, sampai dengan strategi penentuan saluran distribusi dan daerah pemasaran produk.

Untuk melaksanakan kegiatan pelatihan ini, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan:

a. Tim PKM menghubungi pihak terkait : Mitra UKM Batik dan pengrajin batik untuk mendapatkan ijin kegiatan pelatihan.

b. Tim PKM berkoordinasi dengan para pelaku UMKM untuk diundang dalam mengikuti pelatihan.

c. Tim PKM menyampaikan materi pelatihan melalui ceramah, diskusi, dan Tanya jawab. d. Tim PKM menanggapi respon para pelaku UMKM tentang strategi manajemen pemasaran. 2. Langkah-langkah kegiatan pelatihan adalah :

a. Menjadwalkan kegiatan pelatihan sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditentukan antara para pelaku UMKM Batik Trusmi dangan Tim PKM.

b. Melaksanakan pelatihan sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan dengan materi pelatihan c. Melaksanakan pelatihan manajemen pemasaran dengan menjelaskan berbagai macam stategi

pemasaran kepada peserta pelatihan

d. Para peserta pelatihan menanyakan berbagai hal tentang penerapan manajemen pemasaran dan strategi pemasaran.

C. Pelaksanaan Kegiatan

Model yang digunakan untuk mengatasi permasalahan pada kegiatan ini berupa: 1. Pelatihan manajemen pemasaran.

Model yang ditawarkan dalam kegiatan pelatihan manajemen pemasaran adalah berupa komunikasi yang bersifat interaktif antara TIM PKM dengan peserta pelatihan

2. Pelatihan manajemen pemasaran

Pelatihan dalam buat perencanaan produk, harga,alat promosi yang digunakan dan saluran distribusi yg digunakan serta penetapan lokasi pemasaran.

3. Penyusunan aktivitas pelatihan manajemen pemasaran untuk meningkatkan daya saing.

4. Mensosialisasikan panduan mengenai langkah-langkah strategi pemasaran dan manajemen pemasaran baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, sehingga perusahaan memiliki daya saing yang tinggi.

5. Memberikan pemahaman pada para pelaku UMKM tentang pentingnya manajemen pemasaran dalam meningkatkan daya saing, akan menentukan keberhasilan UMKM batik trusmi.

B. Agenda Kegiatan

1. Waktu dan Lokasi Kegiatan

Kegiatan PKM dilakukan bulan Januari 2017 sampai dengan Juni 2017 selama 73 jam kegiatan. 2. Tahapan Kegiatan

Rencana kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada masyarakat pelaku UMKM Batik Trusmi Cirebon dapat disusun pada table berikut :

184

Tabel 1. Jadwal dan Kegiatan

No Kegiatan Jadwal dan Waktu Kegiatan Pelaksana

1 Penyusunan proposal/survey awal Januari –Februari 2017 (2 jam per minggu)= 8 jam

Ketua 2 Penyusunan model kegiatan, pembuatan

proposal yang akan diajukan ke DPPM

Maret 2017 ( 2 jam per minggu) = 8 jam

Ketua dan tim 3. Pemantapan proposal dan kunjungan ke

lapangan (pelatihan dan penyuluhan di Desa Trusmi Cirebon) untuk mendapatkan data yang dibutuhkan

April- Mei2017 = 45 jam Ketua dan tim

4. Entry data, Penyusunan laporan hasil Juni-Juli 2017 (3 jam per minggu)= 12 jam

Ketua dan tim

C.Jenis Luaran

Jenis luaran yang dihasilkan berupa: Modul pelatihan dan Publikasi ilmiah/Jurnal/Prosiding. Strategi Pemasaran yang tepat untuk UKM di Indonesia.

1.Melakukan STP (Segmenting, Targeting, dan Positioning)

Segmentasi pasar, strategi penentuan pasar, dan strategi penentuan posisi saling berhubungan satu dengan lainnya. Segmentasi pasar (segmenting) adalah proses menempatkan konsumen dalam subkelompok di pasar-produk, sehingga para pembeli memiliki tanggapan yang hampir sama dengan strategi pemasaran dalam penentuan posisi perusahaan. Oleh karenanya, segmentasi merupakan proses identifikasi yang bertujuan untuk mendapatkan pembeli dalam keseluruhan pasar.

Segmentasi mengidentifikasikan kelompok konsumen dalam pasar-produk, di mana setiap segmen terdiri dari pembeli dengan preferensi produk yang hampir sama. Setiap segmen merupakan pasar sasaran organisasi untuk bersaing di pasar. Segmentasi memberikan peluang bagi perusahaan untuk menyesuaikan produk atau jasanya dengan permintaan pembeli secara efektif. Kepuasan konsumen dapat ditingkatkan dengan pemfokusan segmen. Segmentasi dapat terjadi pada struktur pasar dengan berbagai produk generik, berbagai jenis produk, dan bentuk produk.

Penentuan pasar sasaran (targeting) merupakan proses pengevaluasian dan pemilihan setiap segmen yang akan dilayani oleh perusahaan. Perusahaan dapat saja menetapkan satu, sedikit, atau beberapa dari segmen pasar yang telah dilakukan.(Galeri UKM) Menentukan target pasar yang sudah tertentu merupakan strategi pemasaran agar tidak salah menjual produk pada orang yang tidak tepat. Salah satu permasalahan usaha kecil adalah kesulitan untuk untuk menentukan segmen pasar dari hasil produknya, apakah diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah atas atau untuk menengah bawah. Bisnis Usaha kecil sejak awal harus menentukan bisnisnya diarahkan untuk kelas mana. Dengan menentukan target pasar yang dituju, perusahaan bisa memberikan satu nilai tambah yang menjadi pembeda dibandingkan dengan para pesaingnya. Nilai tambah inilah yang disebut sebagai differensiasi.

Strategi penentuan posisi (positioning) merupakan kombinasi kegiatan pemasaran yang dilakukan manajemen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan setiap pasar sasaran. Strategi ini terdiri dari komponen produk dan jasa pendukung, distribusi, harga, dan promosi.

2. Meningkatkan Mutu Produk

Penerapan peningkatan mutu sebagai strategi bisnis menekankan pada tiga persyaratan utama bagi manajemen dan para pekerja. Pertama, budaya perusahaan yang menyeluruh sangatlah diperlukan. Kedua, karena manajemen mutu total (total quality management) memerlukan adanya

185

kelompok kerja (teamwork) yang erat di antara fungsi-fungsi bisnis, pelaksanaan strategi seperti ini sangat memerlukan penyebaran falsafah manajemen kepada setiap tingkat organisasi. Ketiga, keberhasilan membutuhkan komitmen manajemen dan para pekerja secara kontinu.

3. Strategi Distribusi

Hubungan dengan pembeli di pasar sasaran akan terjadi dalam bentuk hubungan langsung yang dilakukan oleh wiraniaga, daripada melalui distribusi dan jaringan kerja para perantara pemasaran (seperti pedagang grosir, pengecer, atau dealer). Kebutuhan akan saluran distribusi semakin meningkat untuk menghubungkan produsen dengan pemakai akhir dan pasar bisnis. Pengambilan keputusahan untuk menggunakan saluran distribusi menyangkut masalah jenis organisasi saluran yang akan digunakan, peningkatan manajemen saluran peusahaan, dan intensitas distribusi sesuai dengan produk atas jasa. Pemilihan saluran distribusi mempengaruhi penentuan posisi merek di benak konsumen.

4. Strategi Penetapan Harga

Harga juga membantu penentuan posisi produk, reaksi konsumen terhadap alternatif harga, biaya produk, harga pesaing, serta faktor hukum dan etika lainnya meningkatkan fleksibilitas manajemen dalam penetapan harga. Strategi memilih peran dalam penentuan posisi, mencakup penentuan posisi produk atau merek yang diinginkan termasuk hambatan (margin) yang diperlukan untuk memuaskan dan memotivasi para penyalur. Harga mungkin digunakan sebagai komponen strategi pemasaran yang aktif (nyata) atau, malahan penakanan pemasaran mungkin pada komponen bauran pemasaran lainnya (seperti mutu produk).

Berdasarkan galeri ukm.web.id berpendapat setelah menentukan produk apa yang ingin ditawarkan, selanjutnya adalah menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh konsumen. Harga menjadi sesuatu yang cukup sensitif bagi pelanggan, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam membangun strategi pemasaran adalah menentukan harga yang pas. Prinsip utama dalam menentukan harga adalah menghitung keseluruhan biaya yang diperlukan.

5. Strategi Promosi

Strategi iklan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat (public relations/PR), semuanya digunakan untuk membantu organisasi berkomunikasi dengan konsumennya, menjalin kerjasama antarorganisasi, masyarakat, dan sasaran lainnya. Strategi promosi memainkan peran penting dalam menempatkan posisi produk di mata dan benak pembeli. Promosi memiliki tujuan yaitu memberitahukan, meningkatkan, dan membujuk pembeli serta pihak lain yang berpengaruh dalam proses pembelian.

Bentuk promosi yang paling tradisional adalah iklan. Iklan adalah pemasangan informasi produk di berbagai media dan penerbitan mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, dan juga radio. Iklan memang efektif menjangkau khalayak yang luas, tetapi dari sisi biaya memang membutuhkan anggaran yang besar. Jika terasa bahwa biaya iklan di media massa cukup besar, bisa dicoba bentuk lain yaitu dengan brosur, leaflet, dan juga spanduk yang dipasang di sekitar wilayah di mana konsumen berada. Cara lain yang efektif adalah melalui promosi dari mulut ke mulut (mouth of mouth) di mana satu orang memberikan penjelasan kepada orang lain karena merasa mendapatkan manfaat yang baik dari produk atau jasa yang digunakan. Promosi ini sangat efektif karena biasanya orang lebih percaya kepada apa yang dikatakan oleh saudara ataupun teman-teman yang sudah merasakan terlebih dahulu.

6. Penggunaan Teknologi Informasi

Sistem informasi mengurangi waktu proses, meningkatkan komunikasi, dan membantu pengambilan keputusan. Sistem informasi memberikan keunggulan teknologi yang penting, di mana banyak UKM tidak dapat menggunakan sepenuhnya. Sistem informasi akan menjadi hal yang penting di masa yang akan datang, menghubungkan kerjasama antar organisasi, pemasok, dan konsumen.

Dalam dokumen Full Paper Prosiding Senapenmas 2017 (Halaman 196-200)