• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatkan Kesehatan Ibu…

Dalam dokumen SERIAL PEDOMAN TEKNIS (Halaman 12-35)

Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu hingga tiga per empat dalam kurun waktu 1990-2015

5.1 Angka Kematian Ibu per 100,000 kelahiran hidup 5.2 Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan

terlatih

Target 5B: Mewujudkan akses kesehatan reproduksi bagi semua pada tahun 2015

5.3 Angka pemakaian kontrasepsi /CPR bagi perempuan menikah usia 15-49, semua cara

5.4 Angka kelahiran remaja (perempuan usia 15-19 tahun) per 1000 perempuan usia 15-19 tahun

5.5 Cakupan pelayanan Antenatal (sedikitnya satu kali kunjungan dan empat kali kunjungan)

5.6 Unmet Need (kebutuhan keluarga berencana/KB yang tidak terpenuhi)

Tujuan dan Target Indikator capaian yang dimonitor Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya

Target 6A: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga tahun 2015

6.1 Prevalensi HIV/AIDS (persen) dari total populasi 6.2 Penggunaan kondom pada hubungan seks berisiko

tinggi terakhir

6.3 Proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS

Target 6B: Mewujudkan akses terhadap pengobatan HIV/AIDS bagi semua yang membutuhkan sampai dengan tahun 2010

6.5. Proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan antiretroviral

Target 6C: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru Malaria dan penyakit utama lainnya hingga tahun 2015

6.6. Angka kejadian dan tingkat kematian Malaria 6.7. Proporsi anak balita yang tidur dengan kelambu

berinsektisida

6.9. Angka kejadian, prevalensi dan tingkat kematian akibat Tuberkulosis

6.10.Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dan diobati dalam program DOTS

Tujuan 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan yang berkesinambungan dalam kebijakan dan program nasional serta mengurangi kerusakan pada sumber daya lingkungan Target 7.B: Menanggulangi kerusakan keanekaragaman hayati dan mencapai penurunan tingkat kerusakan yang signifikan pada tahun 2010

7.1. Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survei foto udara terhadap luas daratan

7.2. Jumlah emisi karbon dioksida (CO2) 7.3. Jumlah konsumsi bahan perusak ozon (BPO) 7.4. Proporsi tangkapan ikan yang berada dalam batasan

biologis yang aman

7.5. Rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati terhadap total luas kawasan hutan

7.6. Rasio kawasan lindung perairan terhadap total luas perairan territorial

7.7. Proporsi spesies yang hampir punah

Target 7C: Menurunkan hingga setengahnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi dasar hingga tahun 2015

7.8. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak, perkotaan dan perdesaan 7.9. Proporsi rumah tangga dengan akses berkelanjutan

terhadap sanitasi dasar, perkotaan dan perdesaan

Target 7D:Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh (minimal 100 juta) pada tahun 2020

7.10. Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan

Tujuan 8: Mengembangkan Kemitraan Global untuk Pembangunan Target 8A: Mengembangan sistem keuangan dan

perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat

8.6a. Rasio Ekspor + Impor terhadap PDB

8.6b. Rasio pinjaman terhadap simpanan di bank umum 8.6c. Rasio pinjaman terhadap simpanan di BPR

Tujuan dan Target Indikator capaian yang dimonitor

tingkat nasional maupun internasional

Target 8D: Menangani utang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional untuk dapat mengelola utang dalam jangka panjang

8.12.Rasio pembayaran pokok utang dan bunga utang luar negeri terhadap penerimaan hasil ekspor (DSR)

Target 8.F: Bekerjasama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi

8.14.Tingkat penetrasi telpon tetap 8.15.Tingkat penetrasi telpon bergerak 8.16.Tingat penetrasi pengguna internet

8.16a.Proporsi rumah tangga yang memiliki komputer pribadi

Tujuan 1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan

Target 1 A

Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah $1 (PPP) per

hari menjadi setengahnya antara 1990-2015

1.1. Proporsi penduduk dengan pendapatan kurang dari US$ 1,00 (PPP) per kapita per hari 1.2. Rasio kesenjangan kemiskinan

1.3. Proporsi kuintil termiskin dalam konsumsi nasional

Indikator 1.1

Proporsi penduduk dengan tingkat pendapatan kurang dari $1 (PPP) per hari

Konsep dan definisi Proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya kurang dari $1 per kapita per hari adalah persentase penduduk yang hidup dengan pendapatan di bawah $1 (PPP) per hari. Nilai dolar dimaksud adalah nilai dolar berdasarkan Paritas Daya Beli atau Purchasing Power Parity (PPP) yang konversinya denganmata uang lokal berdasarkan harga tahun 1993.

Manfaat Indikator ini dipakai untuk memonitor kemajuan upaya pengentasan kemiskinan setiap negara serta untuk memonitor tren kemiskinan pada tingkat global.

Metode Perhitungan Penghitungannya menggunakan rumus 1.1. sebagai berikut:

Po (dolar PPP) =

Banyaknya penduduk miskin dengan

pendapatan di bawah $ 1 PPP X 100%

Jumlah penduduk

Sumber data: Dihitung oleh Bank Dunia berdasarkan hasil survei dari setiap negara Catatan:

Indikator ini dapat dihitung di tingkat provinsi sesuai dengan metode perhitungan yang ditetapkan

Indikator 1.2.

Rasio kesenjangan kemiskinan

Konsep dan definisi Rasio kesenjangan kemiskinan adalah jumlah rasio antara selisih pendapatan orang miskin dengan garis kemiskinan terhadap garis kemiskinan itu sendiri, dibagi dengan jumlah penduduk.

Manfaat Indikator ini digunakan untuk mengukur "defisit kemiskinan" sehingga dapat diketahui besar dana per kapita yang diperlukan untuk mengangkat penduduk miskin ke garis kemiskinan.

Metode Perhitungan Rumus 1.2. Rasio kesenjangan kemiskinan:

Po = dimana:

PG = Rasio kesenjangan kemiskinan (proverty gap) Z = garis kemiskinan

q = jumlah penduduk miskin

Y1 = pendapatan individu penduduk miskin n = jumlah penduduk

Sumber data: BPS (Modul Susenas) Catatan:

Indikator ini dapat dihitung di tingkat provinsi sesuai dengan metode perhitungan yang ditetapkan

Indikator 1.3

Kontribusi kuantil termiskin terhadap konsumsi nasional

Konsep dan definisi Kontribusi penduduk kuantil termiskin (Km) adalah proporsi konsumsi dari 20 persen lapisan penduduk berpendapatan terendah terhadap konsumsi nasional

Manfaat Indikator ini memberikan informasi mengenai ketimpangan pendapatan dalam masyarakat, dan disebut juga "ukuran" ketimpangan relatif.

Metode Perhitungan Pendapatan (konsumsi) setiap rumah tangga diperoleh dari survei. Pendapatan ini dibagi dengan banyaknya anggota setiap rumah tangga untuk mendapatkan pendapatan (konsumsi) per kapita. Selanjutnya penduduk diurutkan menurut besarnya pendapatan per kapita. Pendapatan 20 persen penduduk paling rendah dijumlahkan dan dihitung persentasenya terhadap total pendapatan (konsumsi). Rumus 1.3. yang digunakan:

K m =

Jumlah pendapatan (konsumsi) penduduk kuantil termiskin (20 persen

terendah) X 100%

Total pendapatan (konsumsi) penduduk Sumber data: BPS (Susenas)

TARGET 1B

Menciptakan kesempatan kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk

semua, termasuk perempuan dan kaum muda

1.4. Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja

1.5. Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas

1.7 Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas keluarga terhadap total kesempatan kerja

Indikator 1.4

Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja

Konsep dan definisi Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja adalah rata-rata laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tenaga kerja dalam periode waktu tertentu.

PDB yang dipergunakan adalah PDB atas dasar harga konstan, sedangkan data tenaga kerja yang diperlukan adalah jumlah orang yang bekerja.

Manfaat Indikator ini dipergunakan untuk memonitor tingkat produktifitas tenaga kerja.

Metode Perhitungan Perhitungan menggunakan rumus 1.4. sebagai berikut : % 100 1 1 X PDBCAPTK PDBCAPTK r t t         Keterangan:

r : Laju pertumbuhan PDB per kapita Tenaga Kerja PDBCAPTKt : PDB per kapita Tenaga Kerja pada periode t PDBCAPTKt-1 : PDB per kapita Tenaga Kerja pada periode t-1 t : Periode waktu (tahun)

rumus awal PDBCPATK dimasukkan lagi

Sumber data: BPS (PDB ADHK dan Sakernas) Catatan:

1. Indikator dapat dihitung ditingkat provinsi dan kab/kota

2. Istilah PDB dalam provinsi dan kab/kota adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Indikator 1.5

Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas (penduduk Usia Kerja)

Konsep dan definisi Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas (penduduk usia kerja) adalah perbandingan kesempatan kerja penduduk terhadap total penduduk usia kerja (penduduk 15 tahun ke atas).

Pendekatan yang digunakan untuk menghitung kesempatan kerja adalah jumlah penduduk yang bekerja (supply side). Dengan asumsi bahwa jumlah penduduk yang bekerja sama dengan jumlah kesempatan kerja yang tersedia. Kelebihan dari sisi supply dikurangi dengan demmand adalah penganggur.

Manfaat Indikator ini dipergunakan untuk melihat tingkat penyerapan tenaga kerja terhadap total penduduk usia kerja.

Metode Perhitungan Rumus 1.5. yang digunakan adalah:

Rasio kesempatan =

kerja

Jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja

X 100% Jumlah penduduk usia kerja (15 tahun

keatas) Sumber data: BPS (Sakernas)

Catatan:

Indikator 1.6

Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri, pekerja bebas dan pekerja keluarga terhadap total kesempatan kerja

Konsep dan definisi Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri, pekerja bebas dan pekerja keluarga terhadap total kesempatan kerja adalah proporsi penduduk usia 15+ yang bekerja yang berstatus berusaha sendiri,pekerja bebas dan pekerja keluarga terhadap total penduduk 15+ yang bekerja, dinyatakan dalam persentase.

Manfaat Indikator ini dipergunakan untuk melihat proporsi penduduk bekerja yang memiliki pekerjaan pada kegiatan informal.

Metode Perhitungan Rumus 1.6. yang digunakan adalah:

Rasio Bekerja sendiri dan=

pekerja keluarga

Jumlah tenaga kerja BU+ PB + PK X 100% Jumlah penduduk 15 tahun keatas yang

bekerja

BU = Berusaha sendiri PB = Pekerja bebas PK = Pekerja keluarga

Sumber data: BPS (Sakernas) Catatan:

TARGET 1C

Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya

antara 1990-2015

Indikator 5

Prevalensi balita kurang gizi (BKG)

Konsep dan definisi BKG adalah perbandingan antara balita berstatus kurang gizi dengan balita seluruhnya. Prevalensi status gizi balita diperoleh melalui indeks berat badan, umur, dan jenis kelamin. Kategori status gizi ditentukan dengan menggunakan standar WHO Tahun 2005 yang telah diadopsi oleh kementerian kesehatan melalui KepMen No.1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang standar antropometri penilaian status gizi anak, yang dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan Z-score yaitu:

(1) gizi lebih (Z-score >= +2) (2) gizi baik (-2 < Z-score < +2) (3) gizi kurang (-3 < Z-score < -2) (4) gizi buruk (Z-score <= -3)

Manfaat Anak kurang gizi memiliki kemungkinan risiko kematian yang tinggi, menghambat pertumbuhan dan mempengaruhi status kesehatannya dikemudian hari. Prevalensi balita kurang gizi secara universal digunakan sebagai indikator untuk memonitor status ketahanan pangan dan kesehatan penduduk.

Metode Perhitungan Rumus 1.7. yang digunakan:

BKG = Banyaknya balita kurang gizi Jumlah balita X 100% Sumber data: BPS (Susenas) dan Kemkes (Riskesdas)

Indikator 6

Proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum

Konsep dan definisi Konsumsi rata-rata energi yang dianjurkan 2000 kkal per kapita per hari (AKG=Angka kecukupan gizi ). Tingkat konsumsi minimum adalah tingkat konsumsi energi yang besarnya 70% dari angka yang dianjurkan (1400 kalori per kapita per hari).

Proporsi penduduk yang berada di bawah garis konsumsi minimum (PDKM) adalah perbandingan banyaknya penduduk yang tingkat konsumsinya berada di bawah tingkat konsumsi minimum nasional yang dinyatakan dalam persentase.

Manfaat Indikator ini digunakan untuk mengukur besarnya penduduk yang mempunyai konsumsi energy yang sangat rendah sehingga memerlukan prioritas di dalam upaya perbaikan pangan dan gizi. Pembangunan berkelanjutan memerlukan usaha konkrit untuk mengurangi kemiskinan serta mencari solusi menghilangkan kelaparan dan kekurangan gizi.

Metode Perhitungan Rumus 1.8. yang digunakan:

PAKG = Banyaknya penduduk yang tingkat konsumsi energinya 2000 kkal X 100% Jumlah penduduk

Tujuan 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

Target 2A

Memastikan pada 2015 semua anak-anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan

dapat menyelesaikan pendidikan dasar

2.1 Angka Partisipasi Murni (APM) sekolah dasar

2.2 Proporsi murid kelas 1 yang berhasil menamatkan sekolah dasar 2.3 Angka melek huruf penduduk usia 15-24 tahun, perempuan dan laki-laki

Indikator 2.1.

Angka partisipasi murni (APM) sekolah dasar

Konsep dan definisi Angka partisipasi murni sekolah dasar adalah perbandingan antara murid sekolah dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Salafiah Ula dan paket A setara SD, usia 7-12 tahun, dengan penduduk usia 7-12 tahun, dinyatakan dalam persentase.

Manfaat Indikator ini dipakai untuk memonitor pencapaian tujuan pendidikan dasar yang diidentifikasi oleh MDGs, meliputi pendidikan sekolah dasar, MI, Salafiah Ula dan paket A setara SD

Metode Perhitungan Rumus 2.1. yang digunakan:

APM-SD =

Banyaknya murid tingkat SD usia 7-12

tahun X 100% Banyaknya penduduk usia 7-12 tahun

Sumber data: BPS, Kemdiknas, Kemenag. Catatan:

1. Pemantauan indikator ini diikuti dengan pemantauan Angka Partisipasi Sekolah (APS) bersumber dari BPS, untuk melihat fenomena early entry

2. Laporan MDGs tahun 2010, indikator ini tidak termasuk Salafiah Ula. Tahun 2011 akan diperhitungkan

3. APM tingkat SD nasional bersumber dari Kemdiknas dan Kemenag, sedangkan APM tingkat SD provinsi bersumber dari BPS dan Kemenag.

Indikator 1.1.1

Angka partisipasi murni di sekolah menengah pertama (APM-SMP)

Konsep dan definisi APM di SMP adalah perbandingan antara murid SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), Salafiah Wustho, Paket B setara SMP, usia 13-15 tahun termasuk dengan penduduk usia 13-15 tahun, dinyatakan dalam persentase

Manfaat Indikator ini digunakan untuk memonitor pencapaian tujuan pendidikan dasar yang diidentifikasi dalam MDGs khususnya pendidikan tingkat SMP dalam program nasional (Indonesia).

Metode Perhitungan Rumus 2.2. yang digunakan:

APM-SMP =

Banyaknya murid tingkat SMP usia

13-15 tahun X 100% Banyaknya penduduk usia

13-15 tahun Sumber data: BPS, Kemendiknas, Kemenag

Catatan:

1. Pemantauan indikator ini diikuti dengan pemantauan Angka Partisipasi Sekolah (APS) bersumber dari BPS, untuk melihat fenomena early entry

2. Laporan MDGs tahun 2010, indikator ini tidak termasuk Salafiah Wustho. Tahun 2011 akan diperhitungkan

3. APM tingkat SMP nasional bersumber dari Kemdiknas dan Kemenag, sedangkan APM tingkat SMP provinsi bersumber dari BPS dan Kemenag

Indikator 2.2.

Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas akhir (kelas 6) Sekolah Dasar

Konsep dan definisi Proporsi murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas akhir (kelas 6) tingkat Sekolah Dasar adalah banyaknya murid kelas 1 yang berhasil mencapai kelas akhir (kelas 6) pendidikannya di tingkat sekolah dasar pada tahun tertentu terhadap jumlah murid kelas 1 lima tahun sebelumnya, dinyatakan dalam persentase.

Manfaat Indikator ini digunakan untuk memonitor cakupan pendidikan dan kemajuan murid untuk mencapai kelas akhir (kelas 6) tingkat sekolah dasar tanpa memperhatikan apakah pernah mengulang di suatu kelas

Metode Perhitungan Rumus 2.3. yang digunakan:

PMT-SD =

Banyaknya murid kelas akhir (kelas 6)

tingkat SD X 100% Banyaknya murid kelas 1, lima tahun

Indikator 2.3.

Angka melek huruf (AMH) penduduk usia 15-24 tahun

Konsep dan definisi AMH penduduk usia 15-24 tahun adalah perbandingan jumlah penduduk berusia 15-24 tahun yang dapat membaca dan menulis kalimat sederhana dengan huruf latin dan atau huruf lainnya, dengan jumlah penduduk usia 15-24 tahun.

Manfaat AMH merefleksikan out come pendidikan dasar sejak 10 tahun terakhir sebagai ukuran efektifnya sistem pendidikan dasar. Indikator ini kerap dilihat sebagai proksi untuk mengukur kemajuan pembangunan sosial dan ekonomi

Metode Perhitungan Rumus 2.4. yang digunakan:

AMH 15-24 = Banyaknya penduduk usia 15-24 tahun yang melek huruf X 100% Jumlah penduduk usia 15-24 tahun

Tujuan 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan

Perempuan

Target 3A.

Menghilangkan Ketimpangan Gender di Tingkat Pendidikan Dasar dan Lanjutan pada

2005 dan di Semua Jenjang Pendidikan Tidak Lebih dari Tahun 2015

3.1.Rasio perempuan terhadap laki-laki di tingkat pendidikan dasar, menengah atas dan perguruan tinggi

3.2.Kontribusi perempuan dalam pekerjaan upahan di sektor non-pertanian 3.3.Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR

Indikator 3.1

Rasio perempuan terhadap laki-laki di tingkat pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi Konsep dan definisi Rasio Angka Partisipasi Murni (RAPM) anak perempuan terhadap anak

laki-laki di tingkat pendidikan dasar, menengah dan tinggi adalah perbandingan APM murid/mahasiswa perempuan terhadap APM murid/mahasiswa laki-laki pada setiap jenjang dan jalur pendidikan, dinyatakan dalam persentase.

RAPM meliputi jenjang pendidikan:

a. Rasio perempuan terhadap laki-laki ditingkat pendidikan dasar: o RAPM-SD adalah perbandingan antara APM tingkat SD (SD, MI,

Salafiah Ula, dan paket A setara SD) perempuan terhadap APM tingkat SD laki-laki, dinyatakan dalam persentase

o RAPM-SMP adalah perbandingan antara APM tingkat SMP (SMP, MTs, Salafiah wustha, dan paket B setara SMP) perempuan terhadap APM tingkat SMP laki-laki, dinyatakan dalam persentase

b.Rasio perempuan terhadap laki-laki di tingkat pendidikan menengah (RAPM-SM) adalah perbandingan antara APM tingkat menengah (SMA, SMK, MA, Salafiah Ulya dan paket C setara SM) perempuan terhadap APM tingkat menengah laki-laki, dinyatakan dalam persentase

Manfaat Indikator kesempatan memperoleh pendidikan antara perempuan dan laki-laki diukur dari rasio APM yang menunjukkan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan. Pendidikan adalah salah satu aspek penting dari pembangunan manusia. Menghilangkan ketimpangan gender di semua jenjang pendidikan akan meningkatkan status dan kemampuan perempuan dan laki-laki. Jumlah penduduk perempuan adalah separuh dari seluruh jumlah penduduk, kesetaraan pendidikan perempuan akan memberikan peran aktif perempuan dalam pembangunan dan merupakan determinan yang penting dalam pembangunan ekonomi

Metode Perhitungan Rumus 3.1. yang digunakan:

RAPM-Tingkat SD = APM SD - PerempuanAPM SD- Laki-laki X 100% RAPM – Tingkat SMP = APM SMP -PerempuanAPM SMP- Laki-laki X 100% RAPM – Tingkat SM = APM SM - PerempuanAPM SM- Laki-laki X 100% RAPM – Tingkat PT = APM PT - PerempuanAPM PT- Laki-laki X 100% Sumber data: BPS , Kemendiknas, Kemenag

Indikator 3.2

Kontribusi perempuan dalam pekerja upahan di sektor non pertanian (KPPNP)

Konsep dan definisi KPPNP adalah perbandingan antara pekerja upahan perempuan di sektor non pertanian terhadap total pekerja upahan di sektor tersebut, dan dinyatakan dalam persentase. Sektor non pertanian adalah semua sektor kegiatan ekonomi di luar pertanian sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Sektor non pertanian yaitu pertambangan & penggalian, industri pengolahan, listrik & gas, konstruksi/bangunan, perdagangan, hotel & rumah makan, transportasi & pergudangan, informasi & komunikasi, keuangan & asuransi, jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa kemasyarakatan, pemerintahan & perorangan, dan lainnya (real estat, penyedia air, dll).

Manfaat Indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat keterbukaan pasar kerja bagi perempuan di sektor non pertanian, yang tidak hanya mengetahui pengaruh kesempatan kerja yang adil tetapi juga untuk mengetahui efisiensi ekonomi melalui fleksibelitas pasar kerja serta mengatur kemampuan ekonomi untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Indikator ini merupakan salah satu aspek partisipasi perempuan dalam kehidupan publik

Metode Perhitungan Rumus 3.2. yang digunakan:

KPPNP =

Banyaknya pekerja upahan perempuan di

sektor non pertanian X 100% Banyaknya pekerja upahan di sektor non

pertanian

Catatan:

Pekerja upahan disini adalah pekerja usia 15 tahun ke atas

Sumber data: BPS

Indikator 3.3.

Proporsi kursi yang diduduki perempuan di DPR

Konsep dan definisi Proporsi kursi DPR atau DPRD yang diduduki perempuan adalah perbandingan banyaknya kursi DPR atau DPRD yang diduduki perempuan terhadap total kursi DPR atau DPRD, dan dinyatakan dalam persentase

Manfaat Perwakilan perempuan di legislatif merupakan salah satu aspek kesempatan perempuan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik untuk mencapai persamaan dan keadilan

Metode Perhitungan Rumus 3.3. yang digunakan:

P Perempuan–Legislatif =

Banyaknya anggota

Legislatif perempuan X 100% Jumlah anggota Legislatif

P Perempuan– DPRD =

Banyaknya anggota DPRD

perempuan X 100% Jumlah anggota DPRD

Catatan:

Legislatif ditingkat pusat terdiri dari DPR dan DPD

Tujuan 4. Menurunkan Angka Kematian Anak

Target 4A

Menurunkan Angka Kematian Balita (AKBA) hingga Dua Pertiga, dalam kurun waktu

1990-2015

4.1. Angka Kematian Balita per 1000 kelahiran hidup 4.2. Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup 4.3. Persentase anak usia 1 tahun yang diimunisasi campak

Indikator 4.1.

Angka Kematian Balita (AKBA)

Konsep dan definisi Akaba adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1000 kelahiran hidup.

Nilai normatif Akaba adalah sebagai berikut: > 140 sangat tinggi,

antara 71 – 140 tinggi, 20-70 sedang, < 20 rendah.

Manfaat Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan anak-anak bertempat tinggal termasuk pemeliharaan kesehatannya. Akba kerap dipakai untuk mengidentifikasi kesulitan ekonomi penduduk. Mengingat kegiatan registrasi penduduk di Indonesia belum sempurna sumber data ini belum dapat dipakai untuk menghitung Akaba. Sebagai gantinya Akaba dihitung berdasarkan estimasi tidak langsung dari berbagai survei.

Metode Perhitungan Rumusan perkiraan Akaba berdasarkan hasil perkiraan dari BPS dengan menggunakan data SDKI, pemetaan dilakukan sampai tingkat provinsi Rumus 4.1. yang digunakan:

Akaba =

Banyaknya penduduk yang meninggal pada usia kurang dari 5 tahun dalam tahun

tertentu X 1000 Banyaknya kelahiran hidup pada periode

Sumber data: BPS (SDKI, Sensus, SUPAS), Kemkes Catatan:

Data nominal yang dikumpulkan Provinsi, dapat digunakan sebagai indikator provinsi tersebut, sepanjang metode perhitungan konsisten.

Indikator 4.2

Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup

Konsep dan definisi Angka Kematian Bayi atau AKB adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

Nilai normatif AKB adalah sebagai berikut: > 70 Sangat tinggi,

40 – 70 Tinggi, 20-39 sedang, dan <20 rendah,

Manfaat Indikator ini terkait langsung dengan target kelangsungan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat tinggal anak-anak, termasuk pemeliharaan kesehatannya. AKB cenderung lebih menggambarkan kesehatan reproduksi dari pada Akaba. Meskipun target program terkait khusus dengan kematian balita, AKB relevan dipakai untuk memonitor pencapaian target program karena mewakili komponen penting pada kematian balita. AKB terutama terjadi pada usia 0-28 hari, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada saat hamil, bersalin dan perawatan bayi baru lahir.

Metode Perhitungan Rumus 4.2. yang digunakan untuk perhitungan AKB:

AKB = Banyaknya kematian bayi (di bawah 1 tahun) selama tahun tertentu X 1000 Banyaknya kelahiran hidup pada tahun yang sama Sumber data: BPS (SP, SDKI, SUPAS) dan Kemkes (Riskesdas)

Catatan:

Data nominal yang dikumpulkan Provinsi, dapat digunakan sebagai indikator provinsi tersebut, sepanjang metode perhitungan konsisten.

Indikator 4.3

Persentase anak berusia 1 tahun yang di imunisasi campak

Konsep dan definisi Persentase Imunisasi Campak adalah perbandingan antara banyaknya anak berumur 1 tahun yang telah menerima minimal satu kali imunisasi campak terhadap jumlah anak berumur 1 tahun, dan dinyatakan dalam persentase.

Anak berumur usia 1 tahun adalah anak usia 12-23 bulan.

Dalam dokumen SERIAL PEDOMAN TEKNIS (Halaman 12-35)

Dokumen terkait