STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI PULP
2. Kerjasama pembangunan HTI-pulp antara pemegang perijinan pengusahaan hutan tanaman pulp dengan masyarakat sekitar
5.3. Strategi Optimasi Penggunaan Biaya Produksi dan Pemanfaatan Kapasitas Produks
5.3.3. Meningkatkan skala produksi industri pulp
Berdasarkan analisa daya saing terhadap penggunaan faktor produksi dengan menggunakan metode DEA, tergambar bahwa dalam hal peningkatan kapasitas produksi, industri pulp di Indonesia masih memerlukan peningkatan kapasitas
produksi (increasing return to scale). Hal tersebut menunjukkan bahwa kapasitas
produksi pulp di Indonesia masih perlu ditingkatkan dibandingkan relatif terhadap industri pulp negara utama lainnya. Peningkatan produksi tersebut juga tergambar pada analisa mengenai pemanfaatan sumber bahan baku dengan metode APD, dimana dibandingkan relatif terhadap industri pulp negara utama lainnya, produksi pulp Indonesia masih dapat ditingkatkan hingga mencapai 10 juta ton pertahun.
Peningkatan skala produksi pulp dilakukan mengingat masih rendahnya pemanfaatan potensi pendukung industri tersebut. Peningkatan skala produksi dilakukan diantaranya dengan berbagai strategi, seperti meningkatkan utilitas produksi, meningkatkan kapasitas produksi dari pabrik yang telah ada, serta membangun pabrik baru di lokasi yang potensial.
5.3.3.1. Meningkatkan utilitas produksi
Utilitas produksi atau tingkat pemanfaatan kapasitas produksi pulp untuk menghasilkan pulp di Indonesia relatif masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari perbandingan dengan enam negara penghasil utama pulp lainnya. Pemanfaatan kapasitas produksi pulp Indonesia hanya mencapai 77,4% saja dari rata-rata tujuh negara penghasil utama pulp dunia yang mencapai 86,4% (tahun
2001). Hal tesebut berbeda misalnya dengan Chili yang sudah mencapai 99,8%, Brazil dengan 91,7%, Swedia dengan 91% bahkan Rusia dengan 81,9% (Tabel 34).
Tabel 34. Pemanfaatan kapasitas produksi pulp negara-negara utama dunia Produksi (ribu ton) Utilitas (%)
Negara Kapasitas Produksi
(ribu ton) 2000 2001 2000 2001 Chili 2,928 2,840 2,921 97.0 99.8 Brazil 8,075 7,463 7,405 92.4 91.7 Swedia 12,094 11,517 11,000 95.2 91.0 Kanada 28,500 26,871 24,918 94.3 87.4 Rusia 7,600 5,890 6,225 77.5 81.9 Finlandia 13,875 11,920 11,169 85.9 80.5 Indoneisa 5,587 4,089 4,326 73.2 77.4
Total tujuh produsen utama 78,659 70,590 67,964 89.7 86.4
Prosentase terhadap dunia (%) 45.02 37.73 37.89
Sumber: diolah dari Pulp and Paper International (PPI), 2002
Rendahnya utilitas produksi pulp di Indonesia, salah satunya disebabkan oleh pasokan bahan baku yang masih terbatas. Hal tersebut seperti telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya terjadi karena pembangunan HTI-pulp yang relatif lambat apabila dibandingkan dengan kebutuhan produksi pulp. Pabrik pulp dibangun, sementara realisasi penanaman HTI belum disiapkan dengan baik. Untuk itu supaya utilitas produksi pulp dapat ditingkatkan untuk mencapai angka yang lebih tinggi (di atas 90%), maka pemenuhan kebutuhan bahan baku, dengan pembangunan HTI-nya harus segera dilakukan.
5.3.3.2. Meningkatkan kapasitas produksi dari pabrik yang telah ada dan membangun pabrik baru di lokasi yang potensial
Sampai tahun 2003 terdapat sebanyak tiga belas buah pabrik pulp yang beroperasi di Indonesia (IPPA, 2003). Ke-13 pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi pertahun sebesar 6,3 juta ton. Pabrik-pabrik pulp tersebut tersebar di berbagai lokasi di Indonesia, terutama sebagian besar di Sumatera (Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan) dan sedikit di Kalimantan. Pada sisi lain, HTI-pulp sebagai pemasok bahan baku tersebar di berbagai wilayah Indonesia terutama Sumatera, Kalimantan dan Papua. Dengan memperhatikan
sebaran pabrik pulp dan HTI-pulp pendukungnya, tampak bahwa terdapat ketimpangan penyebaran pabrik pulp dengan HTI-pulp. Kapasitas produksi pabrik pulp relatif sudah jenuh untuk Sumatera (terutama Riau, Jambi dan Sumatera Selatan) dan masih relatif kurang untuk Kalimantan dan Papua terhadap potensi dukungan bahan bakunya. Oleh karena itu, perlu dirumuskan strategi yang memungkinkan peningkatan skala produksi pulp sesuai dengan ketersediaan bahan baku HTI (Tabel 35).
Tabel 35. Strategi peningkatan skala produksi pabrik pulp berdasarkan
kemampuan penyediaan bahan baku HTI dan kapasitas produksi pabrik pulp
Banyaknya kayu (ribu m3/th)
Daerah Luas HTI
(ha)
Kapasitas Pabrik
(ton/th) Pasokan Kebutuhan Selisih Strategi Sumatera
NAD 207,899 165,000 3,378.4 693.0 2,685.4 Memasok bahan baku
untuk Riau
Sumatera Utara 412,060 240,000 6,696.0 1,008.0 5,688.0 Memasok bahan baku
untuk Riau
Riau 550,190 3,781,000 8,940.6 15,880.2 (6,939.6) -
Jambi 78,240 1,205,000 1,271.4 5,061.0 (3,789.6) -
Sumatera Selatan 340,100 645,000 5,526.6 2,709.0 2,817.6 Meningkatkan kapasitas
produksi Kalimantan
Kalimantan Barat 735,306 120,500 11,948.7 506.1 11,442.6 Membangun pabrik pulp
baru
Kalimantan Tengah 185,511 72,000 3,014.6 302.4 2,712.2 Membangun pabrik pulp
baru
Kalimantan Timur 773,903 825,000 12,575.9 3,465.0 9,110.9
Meningkatkan kapasitas produksi dan Membangun pabrik pulp baru
Kalimantan Selatan 268,585 - 4,364.5 - 4,364.5 Membangun pabrik pulp
baru
Papua 1,389,200 - 22,574.5 - 22,574.5 Membangun pabrik pulp
baru Total 4,940,994 7,053,500 80,291.2 29,625 50,666.5
Sumber: Departemen Kehutanan dan APKI, 2001 yang telah diolah
Kekurangan bahan baku kayu di suatu daerah produksi pulp, karena tingginya permintaan kayu di daerah tersebut, dapat diatasi diantaranya dengan mengalihkan pasokan kayu dari daerah lain. Untuk kawasan Sumatera, daerah Riau dan Jambi merupakan daerah-daerah yang selalu kekurangan pasokan bahan baku, karena kebutuhan kayu untuk produksi pulp di Riau lebih banyak dari pasokan HTI yang ada di daerah tersebut. Luas lahan HTI-pulp di Riau sekitar
550,2 ribu ha, apabila 65% dari lahan tersebut yang dapat dikonversi sebagai lahan tanaman produktif, dan setiap ha lahan memiliki potensi kayu sebesar 200
m3 dengn siklus masa tanam selama delapan tahun, maka setiap tahun daerah
tersebut mampu menyediakan kayu sebanyak 8,9 juta m3. Apabila faktor konversi
dari kayu menjadi pulp rata-rata sebesar 4,2 (satu ton pulp dihasilkan dari 4,2 m3
kayu), maka dari 8,9 juta m3 kayu yang tersedia hanya mampu memenuhi
kebutuhan pabrik pulp untuk berproduksi sebanyak 2,1 juta ton pulp pertahun. Pasokan kayu tersebut relatif kurang apabila dibandingkan dengan kapasitas produksi yang ada di Riau yang mencapai 3,78 juta ton. Sehingga industri pulp di
Riau kekurangan bahan baku sebanyak 6,94 juta m3 kayu setiap tahunnya. oleh
karena itu, untuk mencukupi kebutuhan kayunya, industri pulp di Riau harus mendapatkan pasokan kayu dari daerah lainnya yang dekat, seperti NAD dan Sumatera Utara. Kondisi yang sama terjadi juga di Jambi, yang setiap tahun
potensial kekurangan bahan baku sebanyak 3,8 juta m3.
Selain strategi pengalihan pasokan kayu dari daerah lain, strategi yang dapat diterapkan kedua daerah tersebut adalah dengan tidak membangun pabrik baru dan atau tidak menambah kapasitas produksi yang telah ada. PT. Riau Andalan P&P, PT. Indah Kiat P&P dan PT. Lontar Papyrus apabila akan memperbesar kapasitas produksinya, sebaiknya tidak dilakukan di Riau tetapi di daerah lainnya di Indonesia.
Untuk daerah Sumatera Selatan, dengan luas lahan HTI sebesar 340 ribu ha,
terdapat potensi pasokan bahan baku kayu setiap tahunnya sebanyak 5,5 juta m3.
Kayu tersebut mampu memenuhi kebutuhan bahan baku untuk memproduksi pulp sebanyak 1,3 juta ton pertahun. Kapasitas produksi dua pabrik yang ada yaitu PT. Tanjung Enim Lestari (PT TEL) dan PT Pakerin hanya sebesar 640 ribu ton, sehingga terdapat potensi untuk menambah kapasitas produksi sebanyak 670 ribu ton. Potensi peningkatan kapasitas produksi tersebut terutama untuk PT. TEL, karena dukungan bahan baku dari PT. MHP sebagai pengelola HTI untuk
kebutuhan PT. TEL mencapai 4,8 juta m3 pertahun, yang mampu memasok bahan
baku untuk produksi pulp sebanyak 1,15 juta ton pertahun.
Dengan memperhatikan kemampuan penyediaan HTI dan kapasitas pabrik pulp untuk setiap daerah, maka strategi peningkatan skala produksi untuk daerah
lainnya (terutama untuk Kalimantan dan Papua) pada umumnya adalah pembangunan pabrik pulp baru. Potensi pasokan bahan baku dari HTI di kedua pulau tersebut sangat besar, sementara kapasitas produksi pulp masih kurang bahkan di Papua belum ada sama sekali. Sebagai contoh di Kalimantan Barat, lahan HTI yang disediakan mencapai 735,3 ribu ha yang mampu memasok
kebutuhan kayu sebanyak 11,9 juta m3 pertahun. Pasokan bahan baku kayu
tersebut mampu memenuhi kebutuhan produksi pulp sebanyak 2,8 juta ton pulp pertahun. Padahal kapasitas pabrik pulp yang ada (PT. Kertas Bekasi Teguh) hanya sebesar 90 ribu ton petahun. Besarnya potensi pasokan bahan baku, memungkinkan di daerah tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi atau membangun pabrik pulp baru. Hal yang sama berlaku untuk daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Untuk Kalimantan Selatan dan Papua pembangunan pabrik pulp bahkan dapat menjadi hal penting, karena di kedua daerah tersebut belum ada pabrik pulp yang beroperasi, padahal potensi penyediaan bahan bakunya sangat tinggi.
Strategi pembangunan pabrik pulp di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara relatif berbeda dibandingkan dengan daerah lainnya. Secara umum, kedua daerah tersebut memiliki kelebihan pasokan bahan baku kayu dibandingkan dengan kapasitas produksi pabrik pulp yang ada. Tetapi sebaiknya di kedua daerah tersebut tidak dilakukan peningkatan kapasitas produksi pabrik dan atau pembangunan pabrik pulp baru, karena dengan kedekatan jarak maka kelebihan pasokan bahan baku akan lebih efektif apabila digunakan untuk memasok kebutuhan pabrik pulp yang ada di Riau. Apalagi hal tersebut ditunjang dengan kelompok kepemilikan saham pada pengelolaan HTI dan pabrik pulp. PT. Sumatera Sinar Plywood dan PT. Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara serta PT. Riau Andalan di Riau adalah pengelola HTI di bawah kelompok Raja Garuda Mas. Kelompok tersebut juga mengelola pabrik pulp PT. Toba Lestari di Sumatera Utara dan PT. RAPP di Riau, sehingga kelebihan pasokan bahan baku dari PT. Sumatera Sinar Plywood dan PT. Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara digunakan untuk kebutuhan bahan baku kayu bagi PT. RAPP di Riau.
5.4. Strategi Membangun Kepedulian Para Stakeholder Terhadap