Tabel 3.41 Pencapaian Kinerja Sasaran 41 Indikator kinerja Satuan
Target RPJM Tahun 2016 (Transisi) Target N as io n
al Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016
K at eg or i Koordinator SKPD Pengampu R ea lis as i C ap ai an R ea lis as i C ap ai an R ea lis as i C ap ai an R ea lis as i C ap ai an R ea lis as i C ap ai an Ta rg et R ea lis as i C ap ai an 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
1 Tingkat hunian (Bed
Occupancy Rate / BOR) % 80 - 76,57 102,09 77,13 101,22 78,38 100,49 74,84 94,73 69,00 86,25 80 70,08 87,60 B RSUD PandanArang 2 Tingkat hunian (Bed
Occupancy Rate / BOR) % 67 - 66,79 94,07 80,5 111,81 77,5 106,16 67,32 90,97 59,13 78,84 67 45,61 68,07 C BanyudonoRSUD 3 Tingkat hunian (Bed
Occupancy Rate / BOR) % 65 - 56,66 81,45 62,02 88,06 71,43 100,73 71,92 99,09 69,25 94,67 65 57,58 88,58 B RSUD Simo 4 Lama tinggal (Length Of Stay
/ LOS) hari 5 - 3,72 106,30 3,6 90,45 3,61 110 3,66 95,43 3,64 109 5 3,66 126,80 A RSUD PandanArang 5 Lama tinggal (Length Of Stay
/ LOS) hari 4,7 - 4,63 107,40 4,72 94,4 4,8 104 4,75 105,00 4,65 107 4,7 4,99 93,83 B BanyudonoRSUD 6 Lama tinggal (Length Of Stay
/ LOS) hari 4,33 - 3,74 122,08 4,02 84,45 4 119 4,70 103,49 4,87 92,02 4,33 3,87 110,62 A RSUD SIMO 7 Turn Over lnterval (TOl) hari 2 - 1,21 112,32 1,21 85,82 1,05 137 1,34 66,00 1,64 90,67 2 1,62 81 B RSUD Pandan
Arang 8 Turn Over lnterval (TOl) hari 2,3 - 2,3 85,00 1,14 57 1,4 130 2,31 84,50 3,21 39,50 2,30 5,95 258,70 A RSUD Banyudono 9 Turn Over lnterval (TOl) hari 2,33 - 2,86 63,81 2,46 77 1,6 121,88 2,73 51,63 2,68 60,42 2,33 2,85 122,32 A RSUD Simo 10 Bed Turn Over (BTO) hari 7 - 7,47 109,85 78,83 114,71 75,34 109,55 71,11 88,89 66,89 969,42 7 6,73 96,09 B RSUD Pandan
Arang 11 Bed Turn Over (BTO) hari 43 - 5,25 131,25 62 155 58,2 116,4 51,72 103,44 4,64 92,82 43 33,39 77,65 B RSUD Banyudono 12 Bed Turn Over (BTO) hari 54,85 - 55,2 126,90 52,7 87,26 65,21 141,15 36,24 78,44 3,69 80,09 54,85 54,40 99,18 B RSUD Simo 13 Menurunnya angka kematian
murni (Net Death Rate / NDR) di RSU Pandan Arang
% 1,5 - 1,58 145,14 1,39 200 11,75 23,00 1,27 153,82 1,44 142 2 1,49 100,67 A RSUD Pandan Arang 14 Menurunnya angka kematian
murni (Net Death Rate / NDR) di RSU Banyudono
% 1 - 0,01 88,89 0,008 112,5 0,0102 86,67 0,022 -47,78 0,012 70 1 0,99 101 A RSUD Banyudono 15 Menurunnya angka kematian
murni (Net Death Rate / NDR) di RSU Simo
% 0,29 - 0,48 47,67 0,5914 47,99 0,66 38,67 0,4950 -39,44 0,24 83,91 0,29 0,94 -124,14 D RSUD Simo
16 Gross Death Rate (GDR) % 2 - 2,87 26,06 2,6 61,92 2,072 7,5 2,27 70,29 2,47 35,33 2 2,57 71,50 C RSUD Pandan Arang 17 Gross Death Rate (GDR) % 2,5 - 0,019 -11,11 1.202 1 0,018 0 0,011 83,33 0,026 -91,11 2,5 2,54 98,40 B RSUD Banyudono
III-18 Gross Death Rate (GDR) % 0,726 - 1,29 83,36 13.799 72 1,4 64 0,995 62,94 0,83 85,67 0,73 1,8995 -61,64 D RSUD Simo 19 Pelayanan pasien
Jamkesmas - Jamkesda pasien 11351 - 6,201 89,92 29.561 390 7359 88,20 10.319 127,49 20566 203,70 11351 28366 249,90 A RSUD PandanArang 20 Pelayanan pasien
Jamkesmas - Jamkesda pasien 200 - 1,5 40,42 2,458 65,03 6974 181,00 174 4,43 143 47,67 200 86 43 D BanyudonoRSUD 21 Pelayanan pasien
Jamkesmas - Jamkesda pasien 8125 - 8,148 120,51 11,34 164,13 14119 199,97 18.120 251,11 13.179 178,70 8125 17610 216,74 A RSUD Simo
Rata-rata 89,21 123,52 99,30 82,28 126,51 95,52 B
Sumber : Pengukuran Kinerja Kabupaten Boyolali Tahun 2016
Capaian kinerja sasaran ini meliputi 21 (dua puluh satu) indikator kinerja dengan capaian kinerja secara keseluruhan (rata-rata) 95,52% (kategori baik) terdiri dari 8 (delapan) indikator kategori sangat baik (38,10%), 8 (delapan) indikator kategori baik (38,10%), 2 (dua) indikator kategori cukup (9,52%), dan 3 (tiga) indikator kategori kurang (14,29%). Berikut analisis capaian kinerja dari sasaran 41 (empat puluh satu) per indikator :
1) Tingkat hunian (Bed Occupancy Rate / BOR) (RSUD Pandan Arang)
a. Kegagalan capaian target indikator BOR disebabkan karena menurunnya jumlah kunjungan di rumah sakit;
Kendala dan hambatannya antara lain :
- Jumlah kunjungan pasien rawat inap menurun;
- Semakin berkembangnya RS swasta di wilayah Boyolali dan sekitarnya; - Fasilitas sarana dan prasarana RS swasta semakin meningkat;
- RS Swasta juga melayani pasien dengan penjaminan BPJS.
Alternatif solusi yang dilakukan untuk menghadapi kendala dalam pencapaian target kinerja adalah :
- Mengevaluasi kinerja pelayanan secara periodik; - Memantau pelaksanaan dari SIM RS;
- Mengoptimalkan tim promkes dengan inovasi-inovasi yang memfokuskan tentang nilai lebih yang dimiliki RS;
- Mengupayakan update informasi kepada publik tentang kegiatan-kegiatan RS lewat media cetak, web, dll.
Berikut grafik realisasi tingkat hunian dari tahun 2014 s/d 2016 :
Gambar 3.4 Grafik Tingkat Hunian dari tahun 2014 s/d 2016
Dari grafik yang ada tergambar bahwa realisasi trennya naik sedikit, walaupun demikian angkanya masih masuk katagori Standart Dep Kes 60% - 85%
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan :
- Mengoptimalkan kinerja petugas dalam membuat laporan sensus harian guna mengurangi kesalahan kesalahan penerapan dalam formulasi penghitungan BOR;
- Mengoptimalkan fungsi monitoring dan evaluasi kepala ruang, supervisi dan case manager kepada staf di ruangan;
- Mengoptimalkan pemeliharaan sarana prasarana;
- Memaksimalkan potensi sdm dalam memberikan pelayanan baik secara langsung maupun tak langsung.
c. Analisis program/kegiatan :
Program dan kegiatan secara umum telah sesuai dan dapat menunjukkan tingkat akuntabilitas kinerja yang baik terbukti bahwa hasil yang dicapai masih dalam kisaran Standart Dep Kes 60% - 85% , namun perlu upaya untuk :
- Meningkatkan kunjungan rawat inap;
- Menambah jumlah TT melalui produk layanan baru yang lebih inovatif yang belum dimiliki oleh faskes lain di Kabupaten Boyolali;
- Membuat telaah pelayanan secara lebih komprehensif sebagai bahan menentukan kebijakan supaya target yang sudah ditetapkan bisa maximal capaianya;
- Aplikasi SIM RS disempurnakan dan dioptimalkan penggunaannya untuk menampilkan data yang lebih falid dan Up to date sehingga bisa dimanfaatkan oleh semua lini.
2) Tingkat hunian (Bed Occupancy Rate / BOR) (RSUD Banyudono)
a. Kegagalan capaian target indikator kinerja ini terdapat kekosongan pelayanan selama beberapa hari yang digunakan untuk proses kepindahan rumah sakit dari Kecamatan Banyudono ke Kecamatan Andong, sementara kunjungan pasien RSUD di Andong masih sangat rendah dikarenakan keberadaan Rumah Sakit di Andong baru mulai dikenal oleh masyarakat. Pasien BPJS dengan sistem pembayaran INA CBG's bukan dengan sistem klaim sehingga efektifitas hari perawatan lebih dipotimalkan;
Hambatan dalam pencapaian target kinerja indikator ini adalah :
- Pasien BPJS dengan sistem pembayaran INA CBG's bukan dengan sistem
klaim sehingga efektifitas hari perawatan lebih dipotimalkan;
- Penerapan BPJS pasien dirawat secara berjenjang sehingga pasien yang
dirawat di rumah sakit adalah pasien yang sudah tidak memungkinkan dirawat di PPK I, PPK I semakin dituntut untuk dapat merawat pasien dan membatasi rujukan ke RS.
Alternatif solusi yang sudah dilakukan adalah :
- Meningkatkan koordinasi dengan bangsal dan instalasi;
- Meningkatkan kualitas rumah sakit dengan pengadaan alat-alat kedokteran
yang sudah rusak dan yang belum dimiliki, pengadaan obat-obatan, pengadaan mami pasien dll;
III-- Meningkatkan kualitas SDM dengan mengirimkannya pelatihan/diklat sehingga bisa memberikan pelayanan secara optimal kepada pasien;
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Penerapan dan penyusunan laporan kinerja melibatkan seluruh satuan kerja. Efesiensi penggunaan sumber daya antara lain dilakukan dengan :
- Pengadaan alat-alat kedokteran yang sudah rusak dan yang belum dimiliki, pengadaan obat-obatan, pengadaan mami pasien dll;
- Mengirimkan petugas rumah sakit untuk mengikuti pelatihan/diklat sehingga bisa memberikan pelayanan secara optimal kepada pasien;
- Penggunaan sarana dan prasarana guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Banyudono seperti mengganti alat-alat yang sudah tidak bisa dipakai (rusak berat), menambah alat-alat baru yang belum dimiliki oleh RSUD Banyudono, pengadaan obat-obat yang berkualitas sesuai dengan formularium, serta kegiatan-kegiatan lain guna peningkatan kualitas pelayanan.
c. Secara umum program/kegiatan yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan indikator kinerja yang telah ditetapkan, dan dapat menunjukkan tingkat akuntabilitas kinerja yang sangat baik, walaupun belum berhasil memenuhi target kinerja.
3) Tingkat hunian (Bed Occupancy Rate / BOR) (RSUD Simo)
a. Kegagalan capaian indikator kinerja ini dikarenakan karena belum adanya dokter
tetap untuk spesialis anak dan dokter spesialis lainnya., sehingga mengurangi hunian tempat tidur;
b. Efesiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan melakukan koordinasi
dengan Badan Kepegawaian Daerah untuk mendatangkan dokter tamu dari Rumah Sakit lain dengan efisiensi jadwal kunjungan dokter sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan pasien;
c. Secara umum program/kegiatan yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan
indikator kinerja yang telah ditetapkan, dan dapat menunjukkan tingkat akuntabilitas kinerja yang sangat baik, walaupun belum berhasil memenuhi target kinerja. Perlu upaya untuk menaikkan Kuantitas pelayanan dengan penyediaan Dokter spesialis tetap dan pengadaan peralatan kedokteran untuk sarana prasarana kesehatan.
4) Lama tinggal (Length Of Stay / LOS) (RSUD Pandan Arang)
a. Keberhasilan capaian target indikator kinerja ini disebabkan sudah optimalnya pemanfaatan fasilitas pelayanan penunjang dan program pemeliharaan alkedok secara mantenent;
Berikut grafik realisasi Lama Tinggal dari tahun 2014 s/d 2016 :
Gambar 3.5 Grafik realisasi Lama Tinggal dari tahun 2014 s/d 2016
Dari grafik yang ada tergambar bahwa realisasi trennya meningkat, sementara target ditetapkan trennya naik mendekati Standart Dep Kes 6 – 9 hari
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah :
- Pelatihan penggunaan alat tersebut kepada SDM yang mengoperasionalkan; - Pembuatan SOP penggunaan alat;
- Program pemeliharaannya perlu dioptimalkan;
- Pelaksanaan diklat intern/ekstern perlu ditambah intensitasnya;
- Menambah jenis alat kedokteran yang lebih canggih sesuai standart RS.
c. Analisis program/kegiatan :
Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target indikator kinerja ini dilakukan dengan :
- Peningkatan mutu rs dimonitor dan dievaluasi secara kontinyu; - Akreditasi laksanakan sesuai jadwal yang disepakati;
- Penambahan SDM sesuai stadart RS type B;
- Meningkatkan program diklat untuk meningkatkan kwalitas SDM khususnya mengoperasionalkan alat canggih.
5) Lama tinggal (Length Of Stay / LOS) (RSUD Banyudono)
a.
Kegagalan indikator ini dikarenakan terdapat kekosongan pelayanan selamabeberapa hari yang digunakan untuk proses kepindahan rumah sakit dari Kecamatan Banyudono ke Kecamatan Andong. Akan tetapi secara umum nilai LOS yang ideal (depkes RI) antara 3-12 hari (Depkes, 2005). Sehingga nilai LOS RSUD Banyudono masih memenuhi standart.
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Penerapan dan penyusunan laporan kinerja melibatkan seluruh satuan kerja. Efesiensi penggunaan sumber daya antara lain dilakukan dengan menggunakan anggaran guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Banyudono seperti mengganti alat-alat yang sudah tidak bisa dipakai (rusak berat), menambah alat-alat baru yang belum dimiliki oleh RSUD Banyudono, pengadaan obat-obat yang berkualitas sesuai dengan formularium, serta kegiatan-kegiatan lain guna peningkatan kualitas pelayanan;
c. Secara umum program/kegiatan yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan indikator kinerja yang telah ditetapkan, dan dapat menunjukkan tingkat
III-akuntabilitas kinerja yang sangat baik, walaupun belum berhasil memenuhi target kinerja.
6) Lama tinggal (Length Of Stay / LOS) (RSUD Simo)
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan lama perawatan lebih pendek dari waktu yang ditargetkan.
b. Analisis penggunanaan sumber daya yang diakukan adalah :
- Dengan adanya sarpras yang mendukung terhadap pengelolaan penyakit
maka penyembuhan akan lebih cepat karena penyakit terdiagnosa lebih cepat sehingga pengobatan tepat sasaran;
- Efesiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan menggunakan
anggaran sebesar Rp. 96.500.000,00 dengan realisasi sebesar Rp. 94.255.000,00 sehingga terjadi efisiensi sebesar 2,33%.
c. Peningkatan keterampilan petugas akan menunjang keberhasilan pengobatan pasien. Untuk menunjang hal tersebut perlu adanya pelatihan bagi petugas medis dan penunjang medis RSUD Simo.
7) Turn Over lnterval (TOl) (RSUD Pandan Arang)
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan adanya distribusi pasien yang tidak merata pada bangsal-bangsal di rumah sakit;
Hambatan/permasalahan yang dihadapi dalam efisiensi penggunaan sumber daya adalah masih banyaknya rujukan yang sudah terlambat sampai ke IGD sehingga petugas harus dibekali ketrampilan yang memadai (ATLS, ACLS, PPGD, DLL) sedang sulosi yang dilakukan adalah dengan mengikutsertakan petugas dalam diklat intern / ekstern serta menjalin kerjasama dengan dinas terkait ( DKK , RS Sekitar , PPK1 , DLL ) dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat.
Berikut grafik realisasi TOI dari tahun 2014 s/d 2016 :
Gambar 3.6 Grafik realisasi TOI dari tahun 2014 s/d 2016
Dari grafik yang ada tergambar bahwa realisasi trennya menurun, walaupun demikian realisasinya masih sesuai Standart Dep Kes 1 - 3 Hari
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan mengikutsertakan petugas dalam diklat intern / ekstern serta menjalin kerjasama dengan dinas terkait (DKK, RS Sekitar, PPK1, DLL) dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat;
c. Analisis program/kegiatan :
Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target indikator kinerja ini dilakukan dengan menambah tempat tidur terutama rawat inap yang sering penuh dan menggunaka daftar waiting list sebagai solusii, terutama klas utama (arjuna, merapi dan merbabu), klas 1 penyakit dalam (cempaka), Klas 3 (Bedah & Syaraf).
8) Turn Over lnterval (TOl) (RSUD Banyudono)
a. Keberhasilan capaian target indikator ini dikarenakan RSUD Banyudono telah mengganti alat yang sudah tidak bisa dipakai (rusak berat), menambah alat-alat baru yang belum dimiliki oleh RSUD Banyudono, dan pengadaan obat-obat yang berkualitas sesuai dengan formularium. Angka realisasi tinggi namun idealnya tempat tidur kosong tidak terisi (TOI) pada kisaran 1-3 hari yang mempengaruhi indikator ini adalah jumlah tempat tidur, jumlah pasien dan lama hari perawatan;
b. Efesiensi penggunaan sumber daya antara lain dilakukan dengan menggunakan anggaran guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Banyudono seperti mengganti alat-alat yang sudah tidak bisa dipakai (rusak berat), menambah alat-alat baru yang belum dimiliki oleh RSUD Banyudono, pengadaan obat-obat yang berkualitas sesuai dengan formularium, serta kegiatan-kegiatan lain guna peningkatan kualitas pelayanan;
c. Secara umum program/kegiatan yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan indikator kinerja yang telah ditetapkan, dan dapat menunjukkan tingkat akuntabilitas kinerja yang sangat baik, walaupun belum berhasil memenuhi target kinerja.
9) Turn Over lnterval (TOl) (RSUD Simo)
a. Keberhasilan capaian target indikator ini dikarenakan jumlah tempat tidur yang dipakai sudah berfungsi sesuai yang diharapkan.
b. Efesiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan adanya pembagian bangsal sesuai dengan kelompok penyakit (dalam, bedah, anak, obsgyn) membuat perputaran penggunaan tempat tidur menjadi lebih baik;
c. Untuk mencapai Target perputaran tempat tidur atau Turn Over Interval (TOI) dengan pembuatan protap tentang indikasi rawat inap pasien yang seharusnya di rawat inap.
10) Bed Turn Over (BTO) (RSUD Pandan Arang)
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan kunjungan pasien rawat inap
yang menurun.
Berikut grafik realisasi BTO dari tahun 2014 s/d 2016 :
III-Gambar 3.7 Grafik realisasi BTO dari tahun 2014 s/d 2016
Dari grafik yang ada tergambar bahwa realisasi trennya meningkat , hal ini menunjukan hal positif karena walaupun target tidak terpenuhi , walaupun angka capaiannya masih jauh dari standart Dep Kes 40 – 50 kali
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan :
- SDM fungsional supaya lebih memahami dan melaksanakan program yang ada dengan sungguh – sungguh;
- Meningkatkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi / PPI,
- Survelens agar mencatat dan melaporkan data inos yang ditemukan,
- Tim PPI menindaklanjuti data yang ada ,mendokumentasikan , mengevaluasi dan mensosialisasikan secara kontinyu,
- Diklat tentang PPI baik itern / ekstern lebih ditingkatkan; c. Analisis program/kegiatan :
IndikaBentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target indikator kinerja ini dilakukan dengan :
- Perencanaan program dalam menetapkan target kinerja agar lebih memperhatikan rujukan yang sesuai standart depkes;
- Penambahan kapasitas TT dan mengupayakan safety pasien;
- Melaksanakan kegiatan TIM PPI yang mendapat dukungan dari pihak management supaya lebih optimal,
- Penambahan sarana dan prasarana SDM PPI dengan yang lebih baik.
11) Bed Turn Over (BTO) (RSUD Banyudono)
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan semakin banyaknya pasien yang datang ke RSUD Banyudono Kabupaten Boyolali maka diperlukan penambahan tempat tidur baru namun karena keterbatasan lahan maka tidak memungkinkan untuk penambahan tempat tidur baru. Alternatif solusi yang sudah dilakukan adalah pembangunan gedung rumah sakit baru dengan lahan yang lebih luas. Realisasi pada tahun 2016 adalah 33 kali, sedangkan ideal BTO 40-50 kali, sehingga masih memenuhi standart;
b. Efesiensi penggunaan sumber daya antara lain dilakukan dengan menggunakan anggaran guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di RSUD
Banyudono seperti mengganti alat-alat yang sudah tidak bisa dipakai (rusak berat), menambah alat-alat baru yang belum dimiliki oleh RSUD Banyudono, pengadaan obat-obat yang berkualitas sesuai dengan formularium, serta kegiatan-kegiatan lain guna peningkatan kualitas pelayanan;
c. Secara umum program/kegiatan yang dilakukan sesuai dengan sasaran dan indikator kinerja yang telah ditetapkan, dan dapat menunjukkan tingkat akuntabilitas kinerja yang sangat baik, walaupun belum berhasil memenuhi target kinerja.
12) Bed Turn Over (BTO) (RSUD Simo)
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan jumlah pasien yang meningkat dengan tingkat hunian juga meningkat dan penggunaan tempat tidur pasien belum memenuhi target. Pencapaian yang kurang dari angka standar yang ditetapkan departemen kesehatan sebesar 40 – 50 kali disebabkan kurangnya tempat tidur pasien yang bisa dipergunakan sehingga frekuensi pemakaian tiap tempat tidur pasien menjadi tinggi;
b. Efisiensi penggunanaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan penggunaan tempat tidur yang tidak merata sehingga ada tempat tidur yang hanya digunakan beberapa kali dalam sebulan atau bahkan sama sekali tidak digunakan;
c. Untuk mencapai Target Frekuensi pemakaian tempat tidur atau Bed Turn Over (BTO) dengan pengalihan pemanfaatan tempat tidur berdasarkan kelas dan bangsal.
13) Menurunnya angka kematian murni (Net Death Rate / NDR) di RSU Pandan Arang
a. Keberhasilan capaian target capaian indikator kinerja ini disebabkan telah ada
peningkatan kemampuan SDM dalam menangani kasus emergency dan pelayanan intensif dengan diklat khusus baik intern maupun ektern serta penyegaran melalui audit kasus (contoh : audit maternal perinatal ) dan menjalin kerjasama dengan dinas terkait, dalam merujuk pasien emergency sebelum 48 jam (KK, RS sekitar, PPK I). Namun jika dibandingkan dengan 2 tahun sebelumnya angka kematian murni RS Pandan Arang mengalami penurunan seperti ditunjukkan pada grafik dibawah ini, dari grafik tersebut terlihat bahwa tren NDR naik dalam 2 th terakhir. Hal ini disebabkan rujukan berjenjang yang menjadi syarat mutlak untuk pelayanan di PPK II ( RS ), dimana masih banyak pasien dari PPK I yang sudah terlambat pada saat dirujuk ke PPK II, terutama pasien emergency langsung ruang IGD.
Berikut grafik realiasi menurunnya angka kematian murni dari tahun 2014 s/d 2016 :
III-Gambar 3.8 Grafik realiasi menurunnya angka kematian murni dari tahun 2014 s/d 2016
Dari grafik yang ada tergambar bahwa realisasi trennya meningkat , hal ini
memberikan rambu2 “perhatian” , walaupun Stadart Dep Kes < 2,5%
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilkukan adalah dengan :
- Mengikutsertakan petugas dalam diklat khusus baik intern maupun ektern serta penyegaran melalui audit kasus;
- Menjalin kerjasama dengan dinas terkait, dalam merujuk pasien emergency sebelum 48 jam;
- Ruang ICU dioptimalkan; c. Analisis program/kegiatan :
Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target indikator kinerja ini dilakukan dengan :
- Meningkatan kinerja yang selama ini sudah dilaksanakan;
- Meningkatkan profesionalisme dalam penanganan pasien dengan kasus – kasus emergency di IGD terutama pasien KLL (CKB/ Cidera kepala berat, fraktur multiple), pasien jantung coroner (AMI, STEN, dll);
- Meminimalkan rujukan keluar.
.
14) Menurunnya angka kematian murni (Net Death Rate / NDR) di RSU Banyudono
a. Keberhasilan capaian target indikator ini dikarenakan sudah dilakukan
penambahan sarana peralatan dan pelatihan bagi petugas;
b.Efsiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan menambah sarana
peralatan dan pelatihan bagi petugas.
15) Menurunnya angka kematian murni (Net Death Rate / NDR) di RSU Simo
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan umumnya pasien terlambat dibawa ke rumah sakit dan sudah dalam kondisi yang buruk. Selain itu, untuk kasus-kasus tertentu pasien tidak bisa dilayani dengan maksimal karena minimnya sarana dan prasarana kesehatan (belum tersedia sarana HCU/Hight Unit Care yang memadai). Namun angka 0,94% ini masih dibawah angka yang ditolerir yaitu 2,5%;
b. Efsiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan pemanfaatan ruang rawat inap dengan sarana prasarana kesehatan secara efektif serta dengan menempatkan tenaga medis dan paramedis sesuai dengan keahliannya mampu mengurangi Angka kematian murni atau Net Death Rate (NDR);
c. Untuk menurunkan Angka kematian murni atau Net Death Rate (NDR) dengan menambah sarana peralatan dan pelatihan bagi petugas.
16) Gross Death Rate (GDR) (RSUD Pandan Arang)
a. Kegagalan capaian target indikator kinerja ini menunjukkan bahwa angka kematian dalam 2 tahun terakhir terus meningkat (terlihat pada grafik) walaupun masih dibawah angka ideal ≤ 4,5% (Dep Kes RI) tetapi hasil ini menunjukkan salah satu indikator mutu RS menurun. Upaya-upaya dilakukan untuk menghadapi kendala dalam pencapaian target kinerja adalah menyempurnakan program / kegiatan yang ada, melakukan evaluasi hasil kinerja secara terus menerus dan berkesinambungan;
Gambar 3.9 Realisasi GDR Tahun 2014 s/d 2016
Dari grafik yang ada tergambar bahwa realisasi trennya meningkat, hal ini
memberikan rambu2 “perhatian”, walaupun realisasinya masih dibawah
Standart Dep Kes < 4,5%
b. Analisis penggunaan sumber daya :
Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan :
- Mempertahankan potensi yang ada serta meningkatkan kemampuan SDM
dlm menangani kasus emergency dan pelayanan intensif dengan diklat khusus yang berkelanjutan baik intern maupun ektern serta penyegaran melalui audit kasus (contoh : audit maternal perinatal);
- Menjalin kerjasama dengan dinas terkait (DKK, RS Sekitar, PPK I, dll) dalam
merujuk pasien emergency sebelum 48 jam; c. Analisis
Bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mencapai target indikator kinerja ini dilakukan dengan :
- Meningkatkan ketrampilan dalam penanganan pasien dengan kasus – kasus
emergency di IGD terutama pasien KLL (CKB/ Cidera kepala berat ,fraktur multiple), pasien jantung coroner (AMI, STENI dll);
- Meminimalkan rujukan keluar, ruang ICU dioptimalkan, perlu disiapkan ruang
HCU untuk penanganan pasien kritis stabil , sehingga menekan dan menurunkan angka kematian.
17) Gross Death Rate (GDR) (RSUD Banyudono)
a. Kegagalan capaian target indikator ini dikarenakan semakin tinggi angka GDR
menunjukkan semakin banyak angka kematian yang lebih dari atau sama dengan 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar;
III-b. Analisis efisiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan pemanfaatan ruang perawatan intensif dengan sarana prasarana perawatan intensif secara efektif mampu mengurangi Angka kematian umum atau Gross Death Rate (GDR);
18) Gross Death Rate (GDR) (RSUD Simo)
a. Kegagalan capaian target indikator kinerja ini dikarenakan dampak angka NDR
yang tinggi, meskipun demikian masih dibawah angka yang ditolerir sebesar 4,5%;
b.Analisis efisiensi penggunaan sumber daya dilakukan dengan pemanfaatan
ruang perawatan intensif dengan sarana prasarana perawatan intensif secara efektif mampu mengurangi Angka kematian umum atau Gross Death Rate (GDR);
c. Untuk menurunkan Angka kematian umum atau Gross Death Rate (GDR)
dengan penambahan sarana dan prasarana peralatan kesehatan.
19) Pelayanan pasien Jamkesmas – Jamkesda (RSUD Pandan Arang)
a. Keberhasilan capaian target kinerja indikator ini disebabkan semakin meningkatnya kunjungan pasien dengan penyakit kronis baik di rawat jalan maupun rawat inap yang menggunakan penjaminan BPJS PBI dan pasien yang menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA) penjaminan oleh DKK, bahkan menjadi tujuan pasien BPJS PBI dari daerah sekitar, dikarenakan mudahnya mendapatkan pelayanan dan semakin lengkapnya sarana dan fasilitas penunjang serta SDM spesialis yang mulai disesuaikan dengan standart RS Type B, adanya kerjasama yang baik dengan pihak penjaminan (BPJS,DKK) melalui koordinasi dan komunikasi lebih intensif;
b. Efesiensi penggunaan sumber daya yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan kinerja sumber daya manusia untuk menunjang pelayanan