Sejarah Bermula
H. Setia Mendampingi Suami
I. Menjadi Guru Besar
Setiap dosen pastilah memiliki keinginan untuk dapat mencapai jabatan akademik tertinggi menjadi guru besar atau profesor.
Semakin tinggi jabatan akademik maka semakin sedikit orang yang dapat memperolehnya. Jabatan akademik dimulai dari asisten ahli, lektor, lektor kepala dan guru besar. Sampai tahun 2021, Guru Besar di UIN Sumatera Utara tidak lebih dari 30 orang. Padahal jumlah keseluruhan dosen UIN Sumatera Utara mencapai angka 700 orang.
Jika dipersentase, Guru Besar UIN Sumatera Utara hanya sekitar 4%
persen dari keseluruhan dosen. Jumlah yang sangat kecil. Hal ini tentu tidak sebanding dengan jumlah Program Studi di UIN Sumatera Utara yang mencapai 52 PS. Sejatinya paling tidak disetiap PS, terdapat 2 Guru Besar. Alih-Alih untuk strata satu, untuk strata 2 saja tidak semua PS memiliki Guru Besar. Oleh karena itulah, UIN Sumatera Utara Medan sejak alih status menjadi UIN Sumatera Utara berpacu untuk meningkatkan jumlah guru besarnya. Mau tidak mau, UIN Sumatera Utara harus mendorong dosen-dosennya untuk dapat mencapai jabatan akademik tertinggi tersebut. Kendatipun hari ke hari syarat menjadi Guru Besar semakin hari semakin berat, yaitu keharusan untuk menerbitkan artikel di jurnal bereputasi internasional.
Merujuk pada statistik pendidikan Tinggi Tahun 2020, mencatat hanya 6.635 (2,12 %) dari total 312.890 dosen di Indonesia yang bergelar Profesor. Syarat yang paling sulit ditaklukkan adalah kewajiban menulis jurnal internasional terindeks Scopus. Lebih dari
90% pengajuan guru besar dinyatakan gagal karena tidak memenuhi syarat tersebut. Bahkan ada dosen telah mengajukan yudicial review ke Mahkamah Konstitutusi untuk membatalkan salah satu syarat menjadi guru besar tersebut.
Seorang penulis berkebangsaan Prancis, Antoine de Saint-Exupéry mengatakan sebuah tujuan tanpa rencana hanyalah sebuah keinginan. Bagi Adek, menjadi seorang guru besar bukan keinginan yang baru muncul.
Adek telah merencanakannya dari jauh hari dan mempersiapkan segala sesuatunya, dari pembentukan tim penulis jurnal, tim pemberkasan yang selalu memantau kekurangan berkas dan angka kredit. Khususnya yang berkaitan dengan masa kerja Adek yang memasuki 18 tahun sehingga harus memenuhi syarat lain, yaitu menguji disertasi empat mahasiswa S3, atau mendapat dana hibah 100 juta atau menjadi reviewer dua jurnal internasional bereputasi yang berbeda dan dengan SJR jurnal Scopus yang akan terbit harus di atas 0,25.
Setelah syarat-syarat tersebut dinyatakan lengkap, tanggal 25 Oktober 2021 berkas pengajuan Guru Besar diupload ke Sistem Informasi Penilaian Angka Kredit (SIPAK) Kementerian Agama bagi Dosen Kemenag RI. Alhamdulillah proses penilaian berjalan dengan penuh keberkahan Allah dan cepat. Sekitar kurang dari dua bulan berkas sudah siap dinilai dan memenuhi syarat untuk diangkat menjadi guru besar dalam bidang rumpun agama yaitu Ilmu Fikih. Gelar profesor ini merupakan keberkahan dari Allah yang telah membuat semua proses menjadi mudan dan lancar. Ditambah dengan sahabat-sahabat Almarhum Bang Fadhil yang sungguh luar biasa memberikan semangat, motivasi dan bantuan.
Sejak tanggal 01 Desember 2021 Adek resmi menyandang gelar Profesor dalam bidang Ilmu Fiqh yang penetapannya dilaksanakan di Kementerian Agama. Penetapan guru besar oleh Menag diatur dalam Peraturan Menteri Agama No 7 Tahun 2021 tentang Penilaian Jabatan Fungsional Dosen Jenjang Lektor Kepala dan Profesor dalam Rumpun Ilmu Agama. PMA ini ditetapkan dan diundangkan sejak 14 April 2021 dalam pasal 12 di sebutkan bahwa Menteri menetapkan Angka Kredit Jabatan Akademik Dosen jenjang Lektor Kepala dan Profesor. Penetapan Angka Kredit dilakukan berdasarkan hasil penilaian Tim Penilai.
Adek merupakan salah satu 15 orang Guru besar pertama yang ditetapkan oleh kementerian agama yang SK Guru Besarnya di tandatangani oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Berita bahagia tersebut, diberitahukan melalui telepon bapak Kasi Ketenagaaan Kementerian Agama, Ruchman Basori, S.Ag, M.Ag di pagi hari awal tahun 2022 tepatnya tanggal 1 Januari 2022 yang memberitahukan untuk hadir secara langsung ke kementerian agama untuk menerima penyerahan SK Guru Besar dari Menteri Agama yang bertepatan dengan Hari Amal Bakti Kementerian Agama yang ke-76 di Jakarta tanggal 3 Januari 2022. Seakan tak percaya mendengar berita itu, siangnya surat resmi dikirimkan yang ditandatangani oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Prof. Dr. Suyitno, M. Ag.
Pengangkatan Prof. Dr. Nurhayati sebagai guru besar tentu menjadi berkah bagi UINSU Medan. Sebabnya UINSU Medan termasuk yang lambat dalam peningkatan jumlah guru besarnya. Alih-alih ada penambahan yang signifikan, justru jumlah guru besar UINSU Medan yang memasuki masa pensiun jauh lebih banyak ketimbang penambahan guru besar baru. Khusus FEBI UINSU, setelah Prof. Dr.
M. Yasir Nasution dan Prof. Dr. Amiur Nuruddin memasuki masa pensiun, belum ada penambahan guru besar di FEBI. Beberapa calon guru besar yang diminta untuk bergabung ke FEBI adalah Prof. Dr.
Faisar Ananda Arfa, MA, Prof. Asmuni dan Prof. Sukiman.
Kondisi inilah yang membuat Adek bersemangat untuk sesegera menjadi guru besar. Keberadaan guru besar bagi Program Studi sangat penting karena berkaitan dengan eksistensi PS yang ada khususnya untuk Strata 2 dan 3 di fakultas tersebut. Kehadiran Guru Besar baru di FEBI ini membawa angin segar dan menjadi semangat bagi dosen-dosen yang lain.
“Semoga perolehan Guru Besar ini dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman yang terus berjuang untuk memperoleh Guru Besar. Selalu ada jalan untuk memperoleh mimpi kita ketika kita mau berusaha dan akhirnya tawakkal terhadap ketentuan Allah… Barakallahu Lana Ya Allah”, ungkap Adek ketika ditanya kesannya dapat meraih jabatan akademik tertinggi tersebut.