Illustrasi Ketaatan Abraham. Sumber gambar:
neocatechemunal.blogspot.com
Abraham dan Sara istrinya adalah sepasang suami istri yang memiliki hidup berkelimpahan. Namun hidup dengan berkelimpahan harta tersebut bukanlah harapan atau cita-cita yang mereka inginkan, sebab yang mereka inginkan adalah seorang anak. Berkat doa dan harapan mereka yang begitu besar, Allah mengabulkan permintaan mereka. Hal tersebut terlihat mustahil, sebab Abraham dan Sara pada waktu itu sudah lanjut usianya. Tetapi, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil di dunia ini. Maka, dari Abraham dan Sara lahirlah seorang putra yang diberi nama Ishak.
Kelahiran Ishak merupakan hal yang membuat Abraham dan Sara bersukacita dan sangat bersyukur kepada Allah.
Tuhan mempunyai maksud tertentu atas kelahiran Ishak di tengah-tengah Abraham dan Sara. Dalam mimpi Abraham, Tuhan meminta Ishak untuk dijadikan kurban persembahan bakaran. Keesokan harinya, Abraham menyuruh anaknya untuk ikut pergi bersamanya ke Tanah Moria. Sesampainya di sana Ishak bertanya kepada Abraham, di manakah anak lembu yang akan dikurbankan? Lalu Abraham menjawab bahwa Tuhanlah yang akan menyiapkannya. Setelah membuat mezbah persembahan, dipanggillah Ishak untuk dijadikan kurban bakaran oleh Abraham.
Namun, tiba-tiba munculah Malaikat Tuhan yang menyuruh Abraham berhenti dan mengganti Ishak dengan anak domba jantan sebagai kurban bakaran.
Dalam kisah tersebut dapat kita lihat bahwa “Roma” yang diinginkan oleh Abraham adalah untuk memiliki seorang anak. Namun, apakah “Roma” tersebut adalah “Roma” yang terbaik? Dalam cerita setelah Abraham dan Sara mendapat anak, Tuhan meminta kembali anak tersebut untuk dijadikan kurban persembahan.
Apabila dilihat dari sudut pandang orang modern saat ini, mungkin kita akan berpikir bahwa Tuhan melakukan hal yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin suatu hal atau benda yang telah lama kita impikan kemudian kita dapatkan, tetapi diminta kembali oleh Tuhan? Bisa jadi kita akan menolak.
Akan tetapi, Abraham tidak bertindak seperti apa yang mungkin kita lakukan. Abraham tetap melakukan kehendak Tuhan dengan menjadikan Ishak sebagai kurban persembahan, walaupun Ishak adalah anak tunggal yang sangat dikasihinya. Mari kita bayangkan bagaimana perasaan Abraham ketika Ishak bertanya, “Di mana anak lembu yang akan dikurbankan itu?” Padahal Abraham tahu betul bahwa Ishaklah yang akan dikurbankan. Dalam kisah tersebut tidak dikatakan apakah Abraham menangis atau tidak dan merasa sangat sedih atau tidak. Bisa jadi dalam perjalanan untuk melakukan kehendak Tuhan yang “tidak masuk akal” itu, Abraham berusaha menahan rasa sakit dan kesedihan yang amat mendalam di hatinya supaya Ishak tidak mengetahui. Bagaimana mungkin seorang ayah tega membunuh anak satu-satunya untuk dijadikan kurban persembahan?
Abraham bisa saja menolak permintaan Tuhan tersebut, atau menawarnya.
Namun, apakah Abraham menolak permintaan Tuhan? Jawabannya jelas tidak, sebab Abraham adalah hamba yang taat kepada Allah. Di balik pencobaan tersebut, Abraham tidak tahu apa maksud Tuhan meminta Ishak anaknya untuk dijadikan
kurban. Abraham tetap memilih untuk menaati perintah Tuhan yang tentu bertolak belakang dengan apa yang ia inginkan.
Dalam hidup kita, sering muncul berbagai hal, peristiwa, rintangan, dan tantangan yang tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Terkadang hal-hal tersebut membuat kita semakin jauh atau susah dari apa yang kita harapkan.
Pernahkan kita berpikir kembali bahwa “Roma” yang kita inginkan itu sesuai dengan “Roma” yang dimaksud Allah? Percayakah kita bahwa hal tersebut memiliki suatu maksud tersendiri yang diberikan Allah kepada kita?
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada saat kamu dicobai, Ia akan memberi kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (Kor 1:13). Ayat tersebut menjadi ayat favorit saya ketika ada berbagai hal, peristiwa, cobaan, rintangan, dan tantangan yang menghambat saya menuju “Roma” yang saya inginkan. Memang betul bahwa sulit untuk melihat bahwa pencobaan atau tragedi tersebut adalah sebuah tanda atau pemberian dari Allah. Akan tetapi percayalah bahwa Allah akan memberi yang terbaik bagi kita anak-anak-Nya. Lalu kalau Allah memberi yang terbaik, mengapa Ia membiarkan kita sengsara? Allah menginginkan kita mengerti bahwa “Quid iucundum est, non semper bonum est” apapun yang menyenangkan itu tidak selamanya baik, begitu pula sebaliknya).
Illustrasi Abraham Taat kepada Allah. Sumber : https://media.ascensionpress.com/
Sama seperti Abraham yang mempunyai “Roma” tersendiri dalam hiudpnya, tetapi di balik itu ada “Roma” yang jauh lebih besar yang telah disiapkan oleh Allah, yaitu berkat dan keturunan yang tiada pernah berakhir. Untuk mencapai “Roma”
Allah tersebut, pertama-tama kita harus mau merefleksikan berbagai hal, peristiwa, cobaan, rintangan, tantangan dan godaan yang datang sebagai tanda dari Allah.
Tahap tersebut mungkin menjadi hal yang paling sulit apabila itu menyangkut hal-hal besar, maka dari itu kita harus memiliki kepercayaan yang kuat bahwa Allah selalu memberi yang terbaik. Kedua, untuk mencapai “Roma” yang lebih besar itu dibutuhkan ketaatan akan segala perintah dan suara Tuhan. Sebab Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita dan tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan hal-hal tersebut. Hal ini sama seperti Abraham yang senantiasa taat dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan, meskipun sulit dan terlihat mustahil. Maka dari itu, mari kita refleksikan bersama: Maukah kita tetap percaya dan senantiasa taat kepada Tuhan seperti Abraham?